1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP : Evaluasi Tajam Eks Bomber Timnas Indonesia soal Tersingkirnya Persib dari AFC Champions League 2

Kegagalan Persib Bandung di ajang AFC Champions League 2 2025/2026 masih menjadi perbincangan hangat. Tak hanya Bobotoh yang larut dalam kekecewaan, tetapi juga pencinta sepak bola nasional yang berharap Maung Bandung mampu melangkah lebih jauh di kompetisi level Asia tersebut.

Langkah Pangeran Biru resmi terhenti di babak 16 besar setelah kalah agregat 1-3 dari wakil Thailand, Ratchaburi FC. Meski menang tipis 1-0 pada leg kedua di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, hasil tersebut tak cukup membalikkan keadaan usai kekalahan telak 0-3 di leg pertama.

Mentalitas Jadi Catatan Besar Persib Bandung

Sorotan tajam datang dari mantan striker Timnas Indonesia, Indriyanto Nugroho. Dalam pernyataannya di kanal YouTube Nusantara TV, ia menilai faktor mentalitas menjadi salah satu penyebab utama tersingkirnya Persib Bandung dari AFC Champions League 2 2025/2026.

Menurut Indriyanto, kekalahan tiga gol tanpa balas di leg pertama menjadi beban psikologis yang berat. “Kalau kalah 1-0 atau 1-2 masih bisa membalikkan keadaan. Tapi kalau sudah 3-0, motivasi untuk bangkit pasti terganggu,” ujarnya.

Mentalitas dalam kompetisi Asia memang berbeda dengan atmosfer liga domestik. Tekanan, intensitas, serta kualitas lawan menuntut kesiapan mental yang lebih matang. Dalam konteks ini, Persib dinilai belum sepenuhnya siap menghadapi tantangan tersebut.

Leg Kedua yang Penuh Tekanan

Pada leg kedua yang digelar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Persib Bandung sebenarnya tampil lebih agresif. Dukungan penuh suporter memberi energi tambahan bagi skuad asuhan Bojan Hodak.

Namun situasi semakin sulit ketika Persib harus bermain dengan 10 pemain akibat kartu merah. Kondisi itu membuat ritme permainan terganggu dan memaksa tim lebih berhati-hati.

Meski demikian, Maung Bandung tetap mampu mencetak satu gol kemenangan. Sayangnya, agregat 1-3 tetap mengantarkan Ratchaburi FC ke babak berikutnya. Secara keseluruhan, tekanan besar sejak awal pertandingan membuat beban mengejar defisit tiga gol terasa nyaris mustahil.

Evaluasi Lini Tengah dan Belakang

Kegagalan Persib Bandung di AFC Champions League 2 2025/2026 juga tak lepas dari performa lini tengah dan belakang yang dinilai rapuh. Bojan Hodak secara terbuka mengakui timnya tampil jauh dari performa terbaik, terutama saat leg pertama di Thailand.

Lini tengah yang biasanya menjadi motor serangan tidak mampu mendominasi permainan. Distribusi bola terputus, kreativitas minim, dan transisi bertahan berjalan lambat. Situasi ini dimanfaatkan dengan cerdik oleh Ratchaburi FC.

Indriyanto Nugroho menilai lawan bermain sangat pintar dengan mematikan pergerakan gelandang Persib. Permainan dari kaki ke kaki yang biasa menjadi ciri khas Maung Bandung tidak berkembang. Akibatnya, aliran bola ke lini depan tersendat dan peluang sulit tercipta.

Di sisi lain, lini belakang kerap kehilangan konsentrasi. Tiga gol yang bersarang di leg pertama menjadi bukti bahwa organisasi pertahanan belum solid saat menghadapi tekanan tinggi di level Asia.

Strategi Cerdas Ratchaburi FC

Keberhasilan Ratchaburi FC melaju ke babak berikutnya bukan tanpa alasan. Wakil Thailand tersebut menunjukkan disiplin taktik yang tinggi, baik saat menyerang maupun bertahan.

Pada leg pertama, mereka agresif dan efektif memanfaatkan celah di lini tengah Persib. Sementara di leg kedua, strategi berubah menjadi lebih defensif dengan mengandalkan serangan balik cepat.

Pendekatan ini terbukti efektif. Ratchaburi FC fokus menjaga keunggulan agregat dan tidak terpancing bermain terbuka. Skema bertahan rapat serta counter attack yang terorganisir membuat Persib kesulitan menembus pertahanan lawan.

Pelajaran Penting untuk BRI Super League 2025/2026

Tersingkirnya Persib Bandung dari AFC Champions League 2 2025/2026 harus menjadi pelajaran penting. Fokus kini beralih ke kompetisi domestik, yakni BRI Super League musim 2025/2026.

Evaluasi menyeluruh perlu dilakukan, terutama pada sektor gelandang yang dianggap tidak berjalan maksimal. Konsistensi performa di liga domestik harus dijaga, apalagi Persib saat ini berada dalam persaingan papan atas.

Mentalitas bertanding di level Asia juga menjadi pekerjaan rumah. Jika ingin kembali tampil dan bersaing di kompetisi internasional, Maung Bandung harus meningkatkan kedalaman skuad, kualitas taktik, serta ketahanan mental pemain.

Selain itu, rotasi dan adaptasi strategi saat menghadapi lawan dengan karakter berbeda harus menjadi perhatian. Pengalaman pahit ini dapat menjadi modal berharga untuk membangun tim yang lebih tangguh di masa depan.

Kesimpulan: Saatnya Bangkit dan Berbenah

Kegagalan Persib Bandung di AFC Champions League 2 2025/2026 memang menyisakan kekecewaan. Namun di balik hasil tersebut, tersimpan pelajaran penting tentang mentalitas, konsistensi, dan kesiapan menghadapi kompetisi level Asia.

Maung Bandung telah menunjukkan semangat juang di leg kedua, tetapi defisit besar di leg pertama menjadi batu sandungan yang sulit diatasi. Evaluasi menyeluruh, terutama di lini tengah dan pertahanan, menjadi langkah krusial untuk memperbaiki performa.

Kini, dengan fokus penuh pada BRI Super League 2025/2026, Persib memiliki kesempatan membuktikan bahwa kegagalan ini hanyalah bagian dari proses menuju tim yang lebih matang dan kompetitif. Dukungan Bobotoh serta pembenahan internal yang tepat bisa menjadi fondasi kebangkitan Pangeran Biru di pentas nasional maupun Asia.

BACA JUGA :

TAGS:
CLOSE