1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP Dari Masa ke Masa: Perjalanan Jersey Timnas Indonesia Sebelum Kelme

Peluncuran jersey baru Timnas Indonesia menjadi momen yang selalu dinantikan para penggemar sepak bola Tanah Air. Kali ini, perhatian publik tertuju pada apparel asal Spanyol, Kelme, yang akan memperkenalkan seragam terbaru Skuad Garuda dalam sebuah acara resmi di Plaza Utara Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Acara peluncuran tersebut rencananya akan dihadiri sejumlah tokoh penting, mulai dari CEO Kelme Indonesia Kevin Wijaya, Chairman dan CEO Kelme Global Clinton K.E., hingga Ketua PSSI, Erick Thohir. Selain itu, brand ambassador Kelme Indonesia, Shayne Pattynama, juga dijadwalkan hadir dalam acara tersebut.

Menjelang peluncuran, akun media sosial resmi Garuda Store sempat memberikan bocoran singkat mengenai desain jersey terbaru Timnas Indonesia. Dalam video teaser yang diunggah, detail desain memang belum terlihat jelas, namun pola kerah jersey tampak menjadi salah satu elemen yang ditonjolkan.

Peluncuran ini sekaligus mengingatkan publik pada perjalanan panjang jersey Timnas Indonesia dari masa ke masa sebelum era kerja sama dengan Kelme.

Era Awal: Apparel Lokal Mengisi Kekosongan

Dalam sejarah sepak bola Indonesia, perjalanan jersey Timnas Indonesia tidak selalu melibatkan merek internasional. Pada rentang waktu 1960-an hingga 1990-an, PSSI lebih banyak bekerja sama dengan produsen garmen lokal untuk memenuhi kebutuhan seragam tim nasional.

Pada masa itu, perusahaan apparel global seperti Adidas atau Nike belum tertarik menjadikan Indonesia sebagai mitra bisnis resmi. Fokus mereka lebih tertuju pada negara-negara dengan prestasi sepak bola yang lebih mapan di level internasional.

Akibatnya, PSSI harus mencari solusi alternatif agar kebutuhan kostum Timnas tetap terpenuhi. Salah satu caranya adalah dengan memproduksi jersey melalui perusahaan garmen lokal yang meniru desain kostum brand internasional.

Menurut sejumlah mantan pemain, jersey produksi lokal tersebut memiliki kualitas bahan yang berbeda dibandingkan produk asli. Bahannya cenderung lebih tebal dan berat sehingga terasa panas ketika digunakan bertanding.

Meski demikian, para pemain tetap mengenang jersey tersebut dengan penuh kebanggaan. Bagi mereka, yang terpenting bukanlah merek atau kualitas bahan, melainkan kehormatan mengenakan lambang Garuda di dada.

Kisah “Adidas Made in Bangcip”

Salah satu cerita unik dalam sejarah jersey Timnas Indonesia muncul pada era 1990-an. Saat itu, seorang pengusaha garmen yang juga pengurus sepak bola lokal, Bambang Sucipto, membantu menyediakan jersey replika bagi Timnas Indonesia.

Di kalangan pemain, muncul guyonan yang menyebut kostum tersebut sebagai “Adidas Made in Bangcip”, merujuk pada singkatan nama Bambang Sucipto. Dari kejauhan, jersey tersebut memang tampak mirip dengan produk Adidas asli.

Namun ketika dipakai, perbedaan kualitas bahan langsung terasa. Meski demikian, momen mengenakan jersey tersebut tetap menjadi kenangan berharga bagi para pemain Timnas Indonesia di masa itu.

Bagi generasi pesepak bola era 1990-an, jersey tersebut menjadi simbol perjuangan dan kebanggaan membela negara di tengah keterbatasan fasilitas yang ada.

Awal 2000-an: Kerja Sama Barter dengan Brand Besar

Memasuki awal 2000-an, situasi mulai berubah. Timnas Indonesia mulai dilirik oleh beberapa perusahaan apparel internasional. Namun bentuk kerja sama yang terjalin masih sebatas barter produk.

Pada periode ini, Timnas Indonesia sempat menggunakan jersey bermerek Nike dan Adidas dalam beberapa turnamen internasional. Meski begitu, PSSI tidak menerima keuntungan finansial dari kerja sama tersebut.

Perusahaan apparel hanya menyediakan perlengkapan pertandingan, sementara federasi tidak mendapatkan kompensasi dalam bentuk uang. Kondisi ini mencerminkan bahwa nilai komersial sepak bola Indonesia saat itu masih belum dianggap terlalu besar oleh brand global.

Salah satu momen unik terjadi pada ajang Piala Asia 2004. Saat itu, Timnas Indonesia menggunakan jersey dari brand lokal Ghazali Sports milik Muhammad Ghazali.

Awalnya desain jersey tersebut sempat menuai kritik karena dianggap kurang menarik. Namun para pemain dan pelatih saat itu tidak terlalu mempermasalahkan kualitas desain maupun bahan.

Bagi mereka, yang terpenting adalah kenyamanan saat bermain dan kebanggaan membawa nama Indonesia di panggung internasional.

Era Adidas dan Nike: Kontrak Komersial Besar

Perubahan besar terjadi pada Piala AFF 2004. Untuk pertama kalinya, Timnas Indonesia menggunakan jersey brand global dengan kontrak bisnis resmi yang menguntungkan federasi.

Pada saat itu, Timnas Indonesia yang dilatih Peter Withe mengenakan jersey Adidas dalam turnamen tersebut. Kerja sama antara PSSI dan perusahaan asal Jerman itu berlangsung selama dua tahun.

Selain memberikan dukungan perlengkapan, Adidas juga mensponsori beberapa pemain Timnas secara individu, termasuk Boaz Solossa dan Ilham Jaya Kesuma.

Kerja sama tersebut terbukti sukses secara komersial. Jersey Timnas Indonesia laris di pasaran, bahkan para penggemar rela mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah untuk memiliki kostum resmi Skuad Garuda.

Kesuksesan Adidas kemudian menarik perhatian Nike. Setelah kontrak Adidas berakhir, perusahaan asal Amerika Serikat itu langsung menjalin kerja sama jangka panjang dengan PSSI.

Nike kabarnya memberikan nilai kontrak yang cukup besar dan menjadi pemasok jersey Timnas Indonesia hingga 2019. Mereka melihat potensi pasar Indonesia yang sangat besar, terutama karena jumlah penggemar sepak bola yang terus berkembang.

Kebangkitan Brand Lokal: Mills dan Erspo

Setelah era dominasi brand global, perusahaan apparel lokal kembali mendapatkan kesempatan untuk menyuplai jersey Timnas Indonesia. Pada tahun 2020, PSSI resmi menunjuk Mills sebagai apparel resmi tim nasional.

Brand lokal tersebut tidak hanya menyediakan jersey untuk tim senior, tetapi juga untuk tim kelompok usia dan tim nasional wanita. Selain itu, Mills juga mendukung berbagai kegiatan PSSI seperti kursus pelatih dan pengembangan sepak bola daerah.

Beberapa tahun kemudian, kerja sama tersebut beralih kepada brand lokal lainnya, yaitu Erspo. Kontrak antara PSSI dan Erspo berlangsung selama dua tahun dengan nilai yang cukup signifikan.

Kehadiran brand lokal menunjukkan bahwa industri apparel olahraga dalam negeri mulai berkembang dan mampu bersaing dalam menyediakan perlengkapan bagi tim nasional.

Kesimpulan

Perjalanan jersey Timnas Indonesia mencerminkan dinamika perkembangan sepak bola nasional. Dari masa ketika federasi harus mengandalkan garmen lokal, hingga era kerja sama komersial dengan brand global, setiap periode memiliki cerita tersendiri.

Kini, dengan hadirnya Kelme sebagai apparel baru Timnas Indonesia, publik kembali menantikan desain jersey yang tidak hanya menarik secara visual tetapi juga mampu menjadi simbol kebanggaan nasional.

Apa pun mereknya, satu hal yang tidak pernah berubah adalah makna jersey tersebut bagi para pemain dan suporter. Lambang Garuda di dada tetap menjadi simbol kehormatan dan semangat perjuangan bagi siapa pun yang mengenakannya di lapangan hijau.

BACA JUGA :

TAGS:
CLOSE