Perjalanan karier seorang pesepak bola profesional jarang berjalan mulus sejak awal. Hal itulah yang juga dialami oleh Asnawi Mangkualam Bahar, salah satu pemain penting Timnas Indonesia yang kini berkarier di kompetisi luar negeri. Kesuksesan yang diraihnya saat ini ternyata tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang yang penuh perjuangan, disiplin, serta didikan keras dari sang ayah.
Nama Asnawi Mangkualam saat ini dikenal sebagai salah satu bek kanan terbaik yang dimiliki Indonesia. Namun sebelum mencapai titik tersebut, ia harus melewati berbagai rintangan yang membentuk mental dan karakternya sebagai pemain profesional. Salah satu kisah menarik dari perjalanan awal kariernya adalah ketika ia bahkan tidak diloloskan dalam seleksi Timnas Indonesia U-16 oleh tim yang di dalamnya terdapat sang ayah sendiri.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen penting yang membentuk perjalanan karier Asnawi. Dari kegagalan itulah ia belajar tentang kerja keras, disiplin, dan arti dari proses panjang dalam mengejar mimpi di dunia sepak bola.
Didikan Keras dari Sang Ayah yang Legenda PSM
Asnawi Mangkualam lahir dalam keluarga yang sangat dekat dengan dunia sepak bola. Ayahnya, Bahar Muharram, merupakan salah satu legenda klub PSM Makassar yang pernah memperkuat tim berjuluk Juku Eja tersebut dalam waktu yang cukup lama.
Bahar Muharram tercatat membela PSM Makassar dari tahun 1990 hingga 2002. Selama periode tersebut, ia menjadi salah satu pemain yang dikenal memiliki dedikasi tinggi terhadap klub kebanggaan masyarakat Makassar itu.
Setelah memutuskan pensiun sebagai pemain, Bahar Muharram tidak meninggalkan dunia sepak bola begitu saja. Ia tetap terlibat di lingkungan PSM Makassar dengan berbagai peran, mulai dari asisten pelatih hingga pelatih fisik.
Sebagai mantan pemain profesional, Bahar Muharram tentu memiliki harapan besar agar putranya dapat mengikuti jejaknya di dunia sepak bola. Namun, perjalanan Asnawi menuju dunia profesional tidak pernah dimanjakan oleh nama besar sang ayah.
Sebaliknya, Asnawi justru mendapatkan tempaan yang sangat keras sejak usia muda. Disiplin tinggi dan evaluasi ketat menjadi bagian dari proses yang harus ia jalani setiap hari.
Sempat Bersitegang dengan Sang Ayah
Hubungan antara ayah dan anak dalam dunia olahraga tidak selalu berjalan mulus. Hal tersebut juga sempat dialami oleh Asnawi Mangkualam ketika ia masih berada di tahap awal kariernya sebagai pemain muda.
Sebelum bergabung dengan PSM Makassar, Asnawi sebenarnya sempat bermain untuk Persiba Balikpapan. Pada masa itu, sang ayah mendorongnya untuk kembali ke Makassar dan mengikuti seleksi di PSM.
Namun Asnawi sempat menolak ajakan tersebut. Ia merasa tekanan bermain di klub yang memiliki hubungan langsung dengan ayahnya akan jauh lebih besar.
Perbedaan pandangan tersebut bahkan membuat hubungan keduanya sempat memanas. Asnawi mengaku sempat tidak berbicara dengan ayahnya selama sekitar satu minggu.
Meski demikian, pada akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti seleksi PSM Makassar. Keputusan tersebut menjadi titik awal penting dalam perjalanan kariernya.
Pada seleksi tersebut, Asnawi berhasil menarik perhatian pelatih PSM Makassar saat itu, Robert Rene Alberts. Ia pun akhirnya lolos dan menjadi bagian dari skuad tim senior.
Sosok Ayah yang Keras dan Disiplin
Asnawi tidak menampik bahwa sang ayah merupakan sosok yang sangat disiplin dan keras dalam mendidiknya. Setiap selesai menjalani latihan, ia hampir selalu mendapatkan evaluasi langsung dari ayahnya.
Bahkan, ia mengaku terkadang merasa takut untuk pulang ke rumah setelah latihan jika merasa tidak tampil maksimal di lapangan.
Situasi tersebut membuat Asnawi sering memilih untuk tetap berada di mess tim sebelum akhirnya pulang ke rumah. Ia tahu bahwa sang ayah akan menanyakan secara detail mengenai performanya di sesi latihan.
Meski terasa berat pada masa itu, Asnawi kini menyadari bahwa metode tersebut merupakan bentuk perhatian dan dukungan dari orang tua yang ingin melihat anaknya berkembang.
Pernah Gagal Seleksi Timnas Indonesia U-16
Salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan karier Asnawi terjadi ketika ia mengikuti seleksi Timnas Indonesia U-16. Seleksi tersebut dilakukan dengan sistem regional sebelum pemain yang terpilih melanjutkan ke tahap nasional.
Pada tahap seleksi di Makassar, sang ayah ternyata menjadi salah satu anggota tim penilai yang bertugas mencari talenta muda dari wilayah tersebut.
Namun, hasil yang didapatkan justru mengejutkan bagi Asnawi. Ia tidak dinyatakan lolos dalam seleksi tersebut.
Keputusan itu tentu membuatnya sangat kecewa. Bahkan ia sempat pulang ke rumah dalam keadaan menangis karena merasa tidak mendapatkan kesempatan.
Sang ibu sempat mempertanyakan keputusan tersebut kepada Bahar Muharram. Namun sang ayah menjelaskan bahwa kemampuan Asnawi saat itu memang belum berada pada level yang dibutuhkan.
Alih-alih memberikan jalan mudah, Bahar Muharram justru meminta anaknya untuk kembali berlatih dan meningkatkan kemampuannya terlebih dahulu.
Kegagalan yang Menjadi Titik Balik
Kegagalan dalam seleksi Timnas Indonesia U-16 ternyata menjadi salah satu titik balik penting dalam kehidupan Asnawi Mangkualam. Setelah melewati masa kekecewaan, ia kembali bangkit dengan semangat baru.
Di bawah pengawasan langsung sang ayah, ia mulai menjalani latihan dengan intensitas yang lebih tinggi. Bahkan rutinitas latihan tambahan dilakukan setiap pagi sebelum ia berangkat ke sekolah.
Ayah dan anak tersebut sering pergi ke lapangan bersama untuk menjalani sesi latihan pribadi. Setelah latihan selesai, Asnawi baru kemudian melanjutkan aktivitasnya sebagai pelajar.
Latihan yang konsisten serta dukungan keluarga membuat semangatnya kembali tumbuh. Ia mulai menyadari bahwa semua proses yang dijalani merupakan bagian dari perjalanan menuju kesuksesan.
Kesimpulan
Kisah perjalanan awal karier Asnawi Mangkualam menunjukkan bahwa kesuksesan seorang atlet tidak datang secara instan. Di balik pencapaian yang ia raih saat ini, terdapat proses panjang yang dipenuhi disiplin, kerja keras, serta kegagalan yang harus dihadapi.
Didikan keras dari sang ayah, Bahar Muharram, justru menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter dan mentalitas Asnawi sebagai pesepak bola profesional. Bahkan keputusan ayahnya yang tidak meloloskannya dalam seleksi Timnas Indonesia U-16 menjadi pelajaran berharga yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras.
Kini, Asnawi Mangkualam telah berkembang menjadi salah satu pemain penting bagi Timnas Indonesia dan juga sukses berkarier di kompetisi luar negeri. Kisahnya menjadi inspirasi bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari proses menuju kesuksesan yang lebih besar.
BACA JUGA :












