Kehadiran pelatih asal Brasil, Marcos Santos, di kursi kepelatihan Arema FC menjadi salah satu cerita menarik di BRI Super League 2025/2026. Pada musim perdananya di Indonesia, Marcos Santos langsung mencuri perhatian berkat pengalaman panjang dan jaringan luasnya di dunia sepak bola Brasil. Menariknya, jejak kariernya juga terhubung dengan sejumlah pemain yang kini merumput di kompetisi kasta tertinggi Indonesia, membuka peluang reuni yang penuh cerita.
Pelatih berusia 46 tahun ini bukan sosok sembarangan. Ia telah menggeluti dunia kepelatihan selama lebih dari satu dekade sejak memulai karier sebagai pelatih kepala di Coritiba FC pada 2012. Dengan pengalaman menangani berbagai klub di Brasil, Marcos Santos membawa pendekatan taktik yang matang ke Arema FC, sekaligus menjadikannya salah satu pelatih asing yang diperhitungkan musim ini.
Awal Perjalanan Marcos Santos di Arema FC
Masuk ke dalam lingkungan sepak bola Indonesia, Marcos Santos langsung dipercaya untuk menangani Arema FC menggantikan pelatih sebelumnya. Dalam perjalanannya sejauh ini, ia telah memimpin tim dalam 24 pertandingan dengan catatan delapan kemenangan, enam hasil imbang, dan sepuluh kekalahan.
Meski hasil tersebut belum sepenuhnya konsisten, kehadiran Marcos Santos tetap memberikan warna baru bagi permainan Arema FC. Gaya bermain yang lebih terstruktur serta pendekatan taktis yang fleksibel menjadi ciri khas yang mulai terlihat di skuad Singo Edan.
Selain itu, kemampuannya beradaptasi dengan atmosfer sepak bola Indonesia juga patut diapresiasi. Dalam waktu relatif singkat, ia mampu memahami karakter pemain lokal serta tuntutan kompetisi yang berbeda dari Liga Brasil.
Termasuk Pelatih yang Bertahan Lama di Arema FC
Dalam beberapa musim terakhir, Arema FC dikenal cukup sering melakukan pergantian pelatih. Namun, Marcos Santos justru mencatatkan dirinya sebagai salah satu pelatih yang mampu bertahan lebih lama dibandingkan beberapa pendahulunya.
Sejak era Liga 1, hanya segelintir pelatih yang mampu bertahan cukup lama di kursi pelatih Arema FC. Nama-nama seperti Milan Petrovic, Milomir Seslija, dan Eduardo Almeida menjadi contoh pelatih yang pernah memiliki masa jabatan relatif stabil.
Sebaliknya, dalam tiga musim terakhir, Arema FC kerap berganti pelatih dalam waktu singkat. Situasi ini membuat kehadiran Marcos Santos menjadi angin segar karena mampu memberikan stabilitas yang sebelumnya sulit dicapai.
Jejak Karier dan Jaringan Luas di Brasil
Sebelum berkarier di Indonesia, Marcos Santos telah menangani sedikitnya 14 klub di Brasil. Pengalaman tersebut membuatnya terbiasa bekerja dengan berbagai tipe pemain, mulai dari pemain muda hingga pemain berpengalaman.
Selama perjalanan panjang itu, ia sempat menangani klub-klub seperti Fortaleza, Juventude, Nautico, dan Londrina. Di klub-klub tersebut, ia membangun hubungan profesional dengan banyak pemain yang kini tersebar di berbagai liga, termasuk Indonesia.
Jaringan luas inilah yang kini menjadi salah satu faktor menarik, karena sejumlah mantan anak asuhnya ternyata bermain di BRI Super League musim ini.
9 Eks Anak Asuh yang Kini Bermain di Indonesia
Dari sekian banyak pemain yang pernah dilatih Marcos Santos, terdapat sembilan nama yang kini berkarier di Indonesia. Kehadiran mereka semakin menambah daya tarik kompetisi, sekaligus membuka peluang reuni yang menarik.
Di posisi penjaga gawang, ada Alan Bernardon yang kini memperkuat Malut United. Sementara di lini belakang, terdapat nama Kleberson yang bermain untuk PSS Sleman, Igor Inocencio di Malut United, serta Viktor Luiz bersama PSM Makassar.
Di sektor gelandang, ada Moises Wolschick yang membela Bhayangkara FC, serta duet kreatif Van Basty Sousa dan Jean Motta di Persija Jakarta. Ketiganya dikenal memiliki kemampuan distribusi bola dan kreativitas yang tinggi.
Sementara di lini depan, terdapat Uilliam Barros yang kini berseragam Persib Bandung, serta Gustavo Tocantins yang memperkuat PSS Sleman. Kedua pemain ini dikenal memiliki naluri mencetak gol yang tajam dan kerap menjadi pembeda di lini serang.
Potensi Reuni yang Menarik di BRI Super League
Jika melihat komposisi tersebut, potensi reuni antara Marcos Santos dan para mantan anak asuhnya menjadi salah satu cerita menarik di BRI Super League musim ini. Meski kini mereka berada di klub berbeda, hubungan profesional yang pernah terjalin bisa menjadi faktor unik dalam setiap pertemuan di lapangan.
Bahkan, jika dikumpulkan, sembilan pemain tersebut cukup untuk memenuhi kuota pemain asing dalam satu tim. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Marcos Santos dalam membentuk karier para pemain tersebut.
Pertemuan antara Arema FC dan klub-klub yang diperkuat mantan anak asuhnya tentu akan menghadirkan nuansa emosional tersendiri. Selain adu taktik, laga-laga tersebut juga menjadi ajang pembuktian bagi para pemain yang pernah berada di bawah arahannya.
Kesimpulan
Kehadiran Marcos Santos di Arema FC tidak hanya membawa perubahan dari sisi taktik, tetapi juga menghadirkan cerita menarik di balik kompetisi BRI Super League 2025/2026. Dengan pengalaman panjang di Brasil dan jaringan pemain yang luas, ia menjadi salah satu pelatih yang patut diperhitungkan.
Keberadaan sembilan mantan anak asuhnya yang kini bermain di Indonesia semakin menambah daya tarik kompetisi. Potensi reuni antara pelatih dan pemain ini bukan hanya menghadirkan nostalgia, tetapi juga meningkatkan kualitas persaingan di lapangan.
Bagi Arema FC, stabilitas yang dibawa Marcos Santos menjadi modal penting untuk terus berkembang. Sementara bagi para pemain, pertemuan dengan mantan pelatih bisa menjadi motivasi tambahan untuk menunjukkan performa terbaik. Pada akhirnya, kisah ini menjadi bukti bahwa sepak bola bukan hanya soal pertandingan, tetapi juga tentang hubungan, perjalanan, dan cerita yang terus berlanjut di setiap musim.
BACA JUGA :












