Menjelang laga penting antara Timnas Indonesia melawan Bulgaria di final FIFA Series 2026, sorotan publik tidak hanya tertuju pada persiapan tim di lapangan, tetapi juga pada sosok pelatih kepala, John Herdman. Sejak ditunjuk pada Januari 2025, Herdman mulai menuai banyak pujian berkat pendekatan kepelatihannya yang dinilai berhasil membangun kekompakan di dalam skuad Garuda.
Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji, menjadi salah satu pihak yang secara terbuka mengapresiasi kinerja Herdman. Ia menilai keputusan federasi yang dipimpin Erick Thohir untuk menunjuk Herdman sebagai pengganti Patrick Kluivert merupakan langkah tepat.
Pilihan Tepat untuk Timnas Indonesia
Penunjukan John Herdman tidak lepas dari rekam jejaknya yang dianggap menjanjikan dalam membangun tim nasional. Sejak awal, PSSI menginginkan pelatih yang tidak hanya kuat secara taktik, tetapi juga mampu membangun hubungan yang baik dengan pemain.
Menurut Sumardji, harapan tersebut mulai terlihat sejak Herdman resmi bergabung. Ia mengaku sering berkomunikasi langsung dengan pelatih asal Kanada tersebut dan melihat adanya keseriusan dalam membangun fondasi tim yang kuat.
“Sosok John memang tepat menangani Timnas Indonesia. Dari komunikasi yang terjalin, terlihat jelas bahwa dia memiliki visi yang sejalan dengan federasi,” ujar Sumardji.
Pendekatan Humanis Jadi Kunci
Salah satu faktor utama yang membuat Herdman mendapatkan banyak pujian adalah pendekatan humanis yang ia terapkan kepada para pemain. Dalam dunia sepak bola modern, hubungan antara pelatih dan pemain menjadi elemen krusial dalam menciptakan tim yang solid.
Sumardji menilai Herdman berhasil melakukan hal yang sebelumnya menjadi tantangan di Timnas Indonesia, yakni menyatukan pemain dari latar belakang berbeda, baik diaspora maupun lokal.
Menurutnya, Herdman tidak hanya fokus pada strategi di lapangan, tetapi juga membangun kedekatan emosional dengan para pemain. Ia secara aktif menciptakan suasana yang nyaman dan saling percaya di dalam tim.
“Satu yang paling penting, dia bisa mengambil hati para pemain. Itu terbukti. Chemistry antara pelatih, asisten, dan pemain terjalin dengan sangat baik,” jelas Sumardji.
Membangun Chemistry dalam Waktu Singkat
Momentum FIFA Series 2026 dimanfaatkan Herdman untuk membangun chemistry tim secara maksimal. Menariknya, ini menjadi momen pertama bagi sebagian besar pemain untuk berkumpul secara lengkap di bawah arahan sang pelatih.
Meski waktu persiapan tergolong singkat, Herdman mampu memaksimalkan setiap sesi latihan dan interaksi dengan pemain. Ia diketahui telah lebih dulu menjalin komunikasi dengan beberapa pemain inti sebelum turnamen berlangsung.
Hasilnya mulai terlihat di lapangan. Pada laga debutnya, Timnas Indonesia tampil impresif dengan kemenangan telak 4-0 atas Saint Kitts and Nevis di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Performa tersebut menjadi indikasi awal bahwa pendekatan Herdman mulai memberikan dampak positif. Para pemain terlihat lebih kompak, percaya diri, dan memiliki pemahaman taktik yang lebih baik.
Dukungan Penuh untuk Proses Jangka Panjang
Di balik hasil positif yang mulai terlihat, Sumardji mengingatkan bahwa pembangunan tim nasional adalah proses jangka panjang. Ia menegaskan bahwa publik perlu memberikan waktu dan dukungan kepada Herdman untuk mewujudkan visinya.
Menurutnya, chemistry yang saat ini mulai terbentuk masih dalam tahap awal. Dengan waktu yang lebih panjang, diharapkan performa Timnas Indonesia akan terus meningkat secara signifikan.
Sumardji juga mengajak seluruh pihak, termasuk media dan suporter, untuk memberikan dukungan penuh kepada Herdman. Ia percaya bahwa dengan dukungan tersebut, pelatih asal Kanada itu dapat membawa Timnas Indonesia ke level yang lebih tinggi.
“Kalau berbicara chemistry, ini proses. Baru seminggu berkumpul, tapi hasilnya sudah terlihat. Ke depan, kita harapkan performanya semakin meningkat,” ujarnya.
Target Besar Menuju Piala Dunia 2030
Selain fokus pada turnamen jangka pendek, Herdman juga memiliki mandat besar dalam proyek jangka panjang Timnas Indonesia. Salah satu target utama adalah membawa Indonesia tampil di Piala Dunia 2030.
Program ini dirancang secara bertahap, dengan target perkembangan yang jelas setiap tahunnya. Mulai dari peningkatan kualitas permainan, konsistensi performa, hingga kesiapan mental bertanding di level internasional.
Sumardji menegaskan bahwa federasi telah memberikan roadmap yang jelas kepada Herdman. Oleh karena itu, dukungan dari semua pihak menjadi sangat penting agar program tersebut dapat berjalan sesuai rencana.
“Ini proyek jangka panjang menuju 2030. Kita harus bersama-sama mendukung agar target tersebut bisa tercapai,” kata Sumardji.
Tantangan dan Harapan di Laga Final
Menghadapi Bulgaria di final FIFA Series 2026 menjadi ujian berikutnya bagi Herdman dan Timnas Indonesia. Laga ini tidak hanya penting dari sisi hasil, tetapi juga sebagai tolok ukur perkembangan tim.
Dengan pendekatan yang telah dibangun, Herdman diharapkan mampu membawa tim tampil disiplin, berani, dan percaya diri. Dukungan suporter di Stadion Utama Gelora Bung Karno juga diyakini akan menjadi faktor tambahan yang menguntungkan.
Jika mampu meraih hasil positif, bukan tidak mungkin kepercayaan publik terhadap proyek Herdman akan semakin meningkat.
Kesimpulan
Pujian yang mengalir untuk John Herdman jelang laga Indonesia vs Bulgaria di FIFA Series 2026 bukan tanpa alasan. Pendekatan humanis, kemampuan membangun chemistry, serta visi jangka panjang menjadi faktor utama yang membuatnya dipercaya mampu membawa perubahan.
Meski perjalanan masih panjang, tanda-tanda positif sudah mulai terlihat. Dengan dukungan penuh dari federasi, pemain, dan suporter, Herdman memiliki peluang besar untuk membawa Timnas Indonesia ke arah yang lebih baik.
Kini, tantangan berikutnya menanti di final. Mampukah Herdman melanjutkan tren positif dan membawa Indonesia meraih hasil bersejarah? Semua akan terjawab di lapangan.
BACA JUGA :












