Timnas Indonesia menutup kiprah di ajang FIFA Series 2026 dengan status runner-up setelah melalui dua pertandingan yang penuh dinamika di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta. Skuad Garuda mencatatkan satu kemenangan meyakinkan dan satu kekalahan tipis di partai final. Namun di balik hasil tersebut, muncul satu sorotan menarik yang layak diperbincangkan, yakni perubahan peran Ole Romeny di lini depan. Penyerang berusia 25 tahun itu tampil dengan dimensi baru yang membuatnya tak lagi sekadar menjadi targetman, tetapi juga mampu berperan sebagai pembagi bola dan kreator serangan.
Perjalanan Timnas Indonesia di FIFA Series 2026
Langkah Timnas Indonesia di FIFA Series 2026 dimulai dengan gemilang. Menghadapi St. Kitts and Nevis pada laga pembuka, tim asuhan John Herdman tampil dominan dan menang telak 4-0. Kemenangan tersebut ditentukan oleh dua gol Beckham Putra Nugraha serta masing-masing satu gol dari Ole Romeny dan Mauro Zijlstra.
Performa impresif itu membawa Indonesia melangkah ke final menghadapi Bulgaria, tim kuat asal Eropa. Namun, di partai puncak, Tim Merah-Putih harus mengakui keunggulan lawan setelah kalah tipis 0-1. Gol tunggal Bulgaria dicetak oleh Marin Petkov melalui titik penalti di babak pertama.
Meski gagal menjadi juara, performa Indonesia secara keseluruhan menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan, terutama dalam hal variasi serangan dan fleksibilitas taktik.
Peran Baru Ole Romeny di Era John Herdman
Salah satu perubahan paling mencolok terlihat pada peran Ole Romeny. Jika sebelumnya ia dikenal sebagai targetman klasik yang beroperasi di lini paling depan, kini ia tampil lebih fleksibel. Dalam dua pertandingan di FIFA Series, Ole sering dimainkan sedikit lebih ke belakang, tepat di belakang striker utama, Ramadhan Sananta.
Peran ini membuatnya memiliki ruang gerak yang lebih luas. Sananta bertugas sebagai targetman yang memantulkan bola dan menarik perhatian bek lawan, sementara Ole Romeny memanfaatkan ruang yang tercipta untuk bergerak bebas, baik di tengah maupun melebar ke sisi lapangan.
Dengan kemampuan dribel yang baik, kontrol bola yang kuat, serta kecerdasan membaca ruang, Ole mampu menjadi penghubung antar lini. Ia tidak hanya menunggu bola di kotak penalti, tetapi aktif menjemput bola dan membangun serangan dari lini kedua.
Performa Menonjol Saat Hadapi St. Kitts and Nevis
Peran baru Ole Romeny langsung terlihat efektif saat menghadapi St. Kitts and Nevis. Dalam pertandingan tersebut, ia tampil luar biasa dengan mencatatkan dua assist dan satu gol. Statistik ini menjadi bukti nyata kontribusinya yang lebih dari sekadar penyelesai akhir.
Dua assist yang ia ciptakan lahir dari umpan terobosan akurat yang berhasil dimaksimalkan oleh Beckham Putra. Selain itu, Ole juga mencetak gol melalui situasi bola mati di babak kedua, menunjukkan bahwa insting mencetak golnya tetap terjaga.
Penampilan ini menegaskan bahwa perubahan peran tidak mengurangi ketajamannya, justru menambah variasi kontribusinya dalam tim.
Tetap Berbahaya di Laga Final Kontra Bulgaria
Saat menghadapi Bulgaria, Ole Romeny kembali menunjukkan kualitasnya meski tim harus menelan kekalahan. Ia beberapa kali terlibat aktif dalam membongkar pertahanan lawan melalui kombinasi tusukan dan umpan-umpan kunci.
Bersama Ragnar Oratmangoen dan Ramadhan Sananta, Ole menjadi bagian penting dalam upaya menyerang Indonesia. Bahkan, ia sempat menciptakan peluang emas melalui sontekan kaki kiri yang sayangnya masih membentur mistar gawang.
Pergerakannya juga cukup merepotkan lini belakang Bulgaria hingga memaksa salah satu bek lawan melakukan pelanggaran keras yang berujung kartu kuning. Hal ini menunjukkan bahwa kehadirannya tetap menjadi ancaman nyata bagi pertahanan lawan.
Kembali Menemukan Ketajaman Setelah Cedera
Performa apik Ole Romeny di FIFA Series 2026 juga menandai kebangkitannya setelah sempat mengalami masa sulit akibat cedera serius. Sebelumnya, ia dikenal tajam bersama Timnas Indonesia dengan catatan tiga gol dalam empat pertandingan.
Namun cedera yang memaksanya menjalani operasi sempat membuat performanya menurun drastis. Ia bahkan mengalami periode tanpa gol baik di level tim nasional maupun klub bersama Oxford United.
Gol ke gawang St. Kitts and Nevis menjadi momen penting yang mengakhiri puasa gol tersebut. Lebih dari itu, kontribusi assist dan permainan aktifnya menunjukkan bahwa ia tidak hanya kembali tajam, tetapi juga berkembang sebagai pemain yang lebih komplet.
Kesimpulan
Peran baru Ole Romeny di Timnas Indonesia menjadi salah satu temuan menarik dari ajang FIFA Series 2026. Di bawah arahan John Herdman, ia berhasil bertransformasi dari sekadar targetman menjadi pemain yang mampu mengatur alur serangan sekaligus tetap tajam di depan gawang.
Meski Timnas Indonesia harus puas sebagai runner-up, performa Ole Romeny memberikan harapan besar bagi masa depan lini serang Garuda. Dengan kombinasi kemampuan mencetak gol dan visi bermain yang semakin matang, ia berpotensi menjadi kunci penting dalam skema permainan Indonesia ke depan. Kini, publik sepak bola nasional layak menantikan kelanjutan performa impresifnya di laga-laga berikutnya.
BACA JUGA :












