1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP : Jacksen Tiago Soroti Kasus Tendangan Kungfu EPA U-20, Dorong Pembinaan Karakter Sejak Dini

Insiden kekerasan yang terjadi dalam ajang Elite Pro Academy (EPA) Super League U-20 2025/2026 kembali memicu perhatian serius dari berbagai pihak di dunia sepak bola Indonesia. Salah satu tokoh yang angkat bicara adalah Direktur Akademi Borneo FC Samarinda, Jacksen F. Tiago, yang menilai bahwa peristiwa tersebut harus menjadi bahan refleksi mendalam bagi seluruh ekosistem pembinaan sepak bola nasional.

Pelatih senior yang memiliki pengalaman panjang di Liga Indonesia ini menekankan bahwa sepak bola bukan hanya soal kemenangan, tetapi juga tentang nilai, karakter, dan pendidikan manusia di dalamnya.

Refleksi Jacksen Tiago: Sepak Bola sebagai Bahasa Universal

Jacksen F. Tiago membagikan pandangannya berdasarkan pengalaman pribadinya setelah kembali dari Spanyol. Ia mengamati bagaimana sepak bola di negara tersebut menjadi sebuah sarana pemersatu yang menjunjung tinggi sportivitas dan rasa hormat.

“Kita melihat langsung bagaimana sepak bola di sana menjadi sebuah hiburan yang luar biasa, sebuah bahasa universal yang menyatukan banyak orang dengan penuh rasa hormat, sportivitas, dan kebanggaan,” ujar Jacksen melalui akun Instagram pribadinya.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi kontras ketika melihat kondisi sepak bola di Indonesia, terutama setelah insiden yang terjadi di EPA U-20.

Evaluasi Menyeluruh Usai Insiden di EPA U-20

Jacksen menilai bahwa kejadian di EPA U-20 harus dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi pelanggaran di lapangan. Ia mengajak semua pihak untuk melakukan evaluasi bersama terhadap sistem pembinaan yang sedang berjalan.

Ia bahkan mempertanyakan arah kompetisi yang seharusnya menjadi ruang pengembangan pemain muda. “Apakah untuk menjadi yang terbaik, kita harus menghalalkan segala cara?” menjadi refleksi penting yang ia sampaikan.

Menurutnya, pertanyaan tersebut harus dijawab secara serius oleh seluruh pemangku kepentingan sepak bola Indonesia.

Kemajuan EPA, Namun Masih Ada Tantangan Besar

Meski mengkritisi insiden yang terjadi, Jacksen tetap mengakui bahwa penyelenggaraan EPA U-20 musim ini menunjukkan perkembangan positif. Ia menyoroti adanya peningkatan dari sisi struktur organisasi, kurikulum pembinaan, hingga konsep kepelatihan yang mulai lebih modern.

Namun, menurutnya, kemajuan tersebut belum cukup jika tidak disertai dengan fokus pada pengembangan manusia secara utuh.

“Ada satu aspek yang menurut saya harus menjadi fokus utama ke depan, yaitu investasi pada manusia,” tegasnya.

Pentingnya Pengembangan Karakter dan Psikologi Pemain

Dalam pandangannya, pembinaan pemain muda tidak boleh hanya berorientasi pada aspek teknis dan prestasi di lapangan. Jacksen menekankan pentingnya pengembangan karakter, mental, dan kemampuan komunikasi sebagai bagian dari pembentukan pemain profesional.

“Sepak bola dimainkan oleh manusia. Oleh karena itu, pengembangan aspek psikologis, karakter, serta kemampuan komunikasi harus menjadi prioritas kita,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pembinaan yang ideal bukan hanya menghasilkan pemain berbakat, tetapi juga individu yang memiliki kepribadian kuat dan siap menghadapi tekanan di dunia profesional.

Tantangan Era Digital dan Peran Pendampingan

Jacksen juga menyoroti tantangan baru yang dihadapi pemain muda di era modern, khususnya pengaruh media sosial. Menurutnya, tanpa pendampingan yang tepat, pemain muda berisiko kehilangan arah meskipun memiliki bakat besar.

“Tanpa pendampingan yang tepat, kita berisiko kehilangan banyak generasi muda kita, bukan karena kurang bakat, tetapi karena kurangnya arah dan karakter,” ungkapnya.

Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan saat ini tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga di luar lapangan, termasuk dalam penggunaan teknologi dan media sosial.

Momentum Perbaikan Sistem Pembinaan Nasional

Terkait insiden yang terjadi di EPA U-20, Jacksen memahami adanya tuntutan publik terhadap pemberian sanksi. Namun, ia mengingatkan agar fokus tidak hanya tertuju pada hukuman semata.

Menurutnya, sanksi memang penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana menjadikan peristiwa ini sebagai momentum perbaikan sistem pembinaan sepak bola nasional.

“Sebagai pembina dan juga sebagai seorang ayah, saya meyakini hukuman moral yang sedang dihadapi para pemain dan keluarga mereka sudah sangat berat,” ujarnya.

Ia berharap semua pihak dapat bersatu untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.

Sepak Bola dan Pembentukan Karakter Jangka Panjang

Jacksen menutup refleksinya dengan pesan kuat mengenai pentingnya karakter dalam sepak bola. Menurutnya, prestasi bisa hilang seiring waktu, tetapi karakter akan selalu melekat sepanjang hidup seorang pemain.

“Piala bisa berkarat oleh waktu, tetapi karakter akan bertahan seumur hidup,” tegasnya.

Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa tujuan utama pembinaan sepak bola usia muda bukan hanya mencetak juara, tetapi juga membentuk manusia yang berintegritas, disiplin, dan bertanggung jawab.

Kesimpulan

Insiden di EPA U-20 2025/2026 menjadi titik evaluasi penting bagi dunia sepak bola Indonesia. Pandangan Jacksen F. Tiago menegaskan bahwa pembinaan pemain muda tidak boleh hanya berfokus pada aspek teknis dan hasil pertandingan, tetapi juga harus memperhatikan aspek psikologis, karakter, dan komunikasi.

Dengan tantangan era modern yang semakin kompleks, terutama pengaruh media sosial, pendekatan pembinaan yang lebih holistik menjadi kebutuhan mendesak. Investasi pada manusia, seperti yang disampaikan Jacksen, menjadi kunci untuk memastikan bahwa sepak bola Indonesia tidak hanya melahirkan pemain berbakat, tetapi juga individu yang berkarakter kuat.

Jika hal ini dapat diterapkan secara konsisten, maka insiden serupa di masa depan dapat diminimalisir, dan sepak bola Indonesia dapat berkembang ke arah yang lebih sehat, profesional, dan berkelanjutan.

BACA JUGA :

TAGS:
CLOSE