Kualitas pengambilan keputusan wasit di liga sepak bola profesional Indonesia kembali menjadi sorotan. Komite Wasit PSSI menilai bahwa salah satu faktor penting yang masih perlu ditingkatkan adalah jumlah kamera pendukung Video Assistant Referee (VAR). Minimnya sudut pandang dinilai dapat memengaruhi akurasi keputusan, terutama dalam momen-momen krusial pertandingan di BRI Super League 2025/2026.
Latar Belakang: Peran VAR dan Keterbatasan Teknologi
Sejak diterapkannya VAR di kompetisi sepak bola Indonesia, harapan akan meningkatnya kualitas keputusan wasit semakin besar. Teknologi ini dirancang untuk membantu wasit utama dalam meninjau kembali insiden penting, seperti gol, pelanggaran penalti, kartu merah, hingga kesalahan identitas pemain.
Namun dalam praktiknya, efektivitas VAR tidak hanya bergantung pada sistem teknologi, tetapi juga pada jumlah dan kualitas kamera yang digunakan. Ketua Komite Wasit PSSI, Yoshimi Ogawa, menegaskan bahwa keterbatasan jumlah kamera menjadi salah satu kendala utama dalam optimalisasi penggunaan VAR di Indonesia.
Menurutnya, semakin banyak kamera yang digunakan, maka semakin beragam sudut pandang yang bisa dianalisis. Hal ini penting untuk memastikan setiap keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan bukti visual yang kuat dan akurat.
Kondisi di Indonesia saat ini masih jauh dari ideal. Dalam beberapa pertandingan, VAR belum mampu memberikan gambaran menyeluruh terhadap sebuah insiden karena keterbatasan sudut pengambilan gambar. Situasi ini berpotensi memicu perdebatan dan ketidakpuasan dari berbagai pihak, termasuk klub dan suporter.
Analisis: Minim Kamera dan Dampaknya pada Keputusan Wasit
Salah satu contoh yang menjadi perhatian terjadi dalam laga antara Dewa United Banten FC melawan Persib Bandung. Dalam pertandingan tersebut, muncul kontroversi terkait apakah bola yang dikuasai Alexis Messidoro sudah keluar lapangan atau belum sebelum terjadinya sebuah momen penting.
Perdebatan itu muncul karena tidak adanya sudut kamera yang benar-benar mampu memastikan posisi bola secara jelas. Dalam situasi seperti ini, keputusan wasit menjadi sangat sulit, bahkan dengan bantuan VAR sekalipun.
Yoshimi Ogawa menjelaskan bahwa penambahan kamera, terutama di garis gawang, dapat menjadi solusi untuk mengurangi kontroversi serupa. Dengan adanya kamera tambahan, setiap insiden bisa dilihat dari berbagai sudut, sehingga meningkatkan tingkat akurasi keputusan.
Meski demikian, ia juga menegaskan bahwa penggunaan kamera garis gawang sebenarnya tidak bersifat wajib dalam sistem VAR. Namun, keberadaannya akan sangat membantu dalam menciptakan keputusan yang lebih adil dan transparan.
Ogawa juga menyoroti perbedaan signifikan antara kompetisi di Indonesia dengan ajang internasional. Ia mencontohkan penggunaan VAR di Piala Dunia 2022 yang didukung oleh sekitar 50 kamera. Jumlah tersebut memungkinkan setiap insiden dianalisis secara detail dari berbagai sudut.
Salah satu momen ikonik adalah gol Jepang ke gawang Spanyol yang sempat diragukan. Dari satu sudut kamera, bola terlihat sudah keluar lapangan. Namun, dari sudut lain, terbukti bahwa sebagian bola masih menyentuh garis, sehingga gol tetap sah. Keputusan tersebut tidak lepas dari dukungan teknologi kamera yang memadai.
Dampak dan Prospek: Dorongan Modernisasi Liga Indonesia
Pernyataan Komite Wasit PSSI ini menjadi sinyal kuat bagi operator liga dan pemegang hak siar untuk melakukan evaluasi. Penambahan kamera bukan hanya soal teknologi, tetapi juga bagian dari upaya meningkatkan profesionalisme kompetisi.
Jika jumlah kamera dapat ditingkatkan, maka kualitas pertandingan secara keseluruhan juga berpotensi meningkat. Keputusan wasit yang lebih akurat akan mengurangi kontroversi, meningkatkan kepercayaan publik, serta menjaga integritas kompetisi.
Namun, di sisi lain, penambahan kamera tentu membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Operator liga harus mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk biaya produksi, infrastruktur stadion, serta kerja sama dengan pihak penyiaran.
Ogawa sendiri menyadari bahwa kondisi saat ini belum memungkinkan untuk langsung menyamai standar internasional. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pengelolaan yang realistis, sambil tetap mendorong peningkatan secara bertahap.
Ke depan, BRI Super League musim 2026/2027 bisa menjadi momentum untuk melakukan inovasi. Dengan meningkatnya perhatian terhadap kualitas liga, peluang untuk menghadirkan teknologi yang lebih baik semakin terbuka.
Langkah ini juga sejalan dengan upaya menjadikan liga Indonesia lebih kompetitif dan profesional, baik di tingkat regional maupun internasional.
Kesimpulan
Minimnya jumlah kamera dalam penerapan VAR di liga sepak bola profesional Indonesia menjadi tantangan yang perlu segera diatasi. Komite Wasit PSSI menilai bahwa penambahan kamera dapat meningkatkan akurasi keputusan dan mengurangi potensi kontroversi di lapangan.
Meski tidak bersifat wajib, keberadaan kamera tambahan, khususnya di area krusial seperti garis gawang, akan memberikan dampak signifikan terhadap kualitas pertandingan. Perbandingan dengan ajang internasional menunjukkan bahwa teknologi memegang peran penting dalam mendukung keputusan wasit.
Kini, keputusan ada di tangan operator liga dan pemegang hak siar. Apakah mereka akan merespons dorongan ini dengan langkah konkret atau tetap bertahan dengan kondisi saat ini, akan menjadi penentu arah perkembangan sepak bola profesional Indonesia ke depan.
BACA JUGA :












