Nama Ngon A Djam mungkin sudah lama tidak terdengar di kancah sepak bola Indonesia. Namun, bagi pencinta Liga Indonesia era 2000-an, sosok striker asal Kamerun ini adalah salah satu penyerang paling mematikan yang pernah merumput. Baru-baru ini, legenda Sriwijaya FC tersebut kembali menjadi sorotan setelah memberikan pernyataan blak-blakan soal perbandingan kualitas Liga Indonesia dulu dan sekarang.
Latar Belakang: Sosok Ngon A Djam dan Masa Keemasan Liga Indonesia
Claude Parfait Ngon A Djam merupakan salah satu striker asing yang pernah meninggalkan jejak kuat di Liga Indonesia. Ia dikenal luas saat memperkuat Sriwijaya FC pada musim 2008/2009. Meski hanya semusim, kontribusinya sangat signifikan dengan torehan 24 gol yang membuat namanya melambung tinggi.
Selain Sriwijaya FC, Ngon A Djam juga sempat memperkuat sejumlah klub lain seperti Persebaya Surabaya, Persema Malang, Persidafon Dafonsoro, hingga Persiba Bantul. Kariernya di Indonesia diwarnai dengan performa konsisten sebagai penyerang tajam yang sulit dihentikan.
Kini, di usia 46 tahun, Ngon A Djam sudah tidak lagi aktif bermain. Ia juga mengaku sudah cukup lama tidak mengikuti perkembangan Liga Indonesia secara intens. Namun, pernyataannya yang jujur justru memicu perbincangan, terutama ketika ia membandingkan kualitas liga di masanya dengan kondisi saat ini.
Menurutnya, ada sesuatu yang membuatnya enggan menonton kompetisi saat ini. Bukan karena kehilangan minat, tetapi lebih kepada ekspektasi terhadap kualitas permainan yang ia rasakan berbeda dibanding era ketika ia masih aktif.
Analisis: Perbandingan Level Liga Indonesia Dulu dan Sekarang
Ngon A Djam secara tegas menyebut bahwa level Liga Indonesia pada masanya jauh lebih tinggi dibanding sekarang. Ia bahkan menilai kualitas kompetisi masih sangat kuat hingga sekitar tahun 2020, sebelum kemudian mengalami penurunan.
Salah satu faktor utama yang ia soroti adalah pemerataan kualitas antar tim. Pada era ketika ia bermain, hampir semua klub memiliki kekuatan yang seimbang. Tidak ada tim yang benar-benar dominan, dan setiap pertandingan berlangsung ketat.
Menurutnya, setiap tim saat itu memiliki pemain bintang yang mampu membuat pertandingan lebih menarik. Ia mencontohkan bagaimana Sriwijaya FC harus menghadapi Persipura Jayapura yang diperkuat pemain-pemain berkualitas seperti Boaz Solossa, Zah Rahan, hingga Victor Igbonefo. Di sisi lain, Sriwijaya FC juga memiliki pemain top seperti Keith Kayamba Gumbs.
Kondisi tersebut menciptakan kompetisi yang sehat dan kompetitif. Setiap pertandingan menjadi tontonan menarik karena kualitas individu pemain yang merata di berbagai tim.
Berbeda dengan kondisi saat ini, Ngon A Djam melihat adanya kesenjangan kualitas yang cukup mencolok. Ia menilai hanya ada beberapa tim yang benar-benar kuat, sementara tim lainnya cenderung tertinggal.
Selain itu, ia juga menyoroti perubahan dinamika pertandingan, khususnya dalam laga tandang. Pada masa lalu, bermain di kandang lawan adalah tantangan besar. Kemenangan tandang sangat sulit diraih, bahkan tim juara biasanya ditentukan dari kemampuan mencuri poin di luar kandang.
Kini, menurutnya, situasi tersebut sudah berubah. Tidak jarang tim tamu mampu meraih kemenangan telak, sesuatu yang jarang terjadi di era sebelumnya. Hal ini menjadi indikasi bahwa tingkat kompetitif liga mengalami penurunan.
Dampak dan Faktor Penyebab: Finansial hingga Struktur Kompetisi
Ngon A Djam juga menyinggung faktor finansial sebagai salah satu aspek yang memengaruhi kualitas liga. Ia menilai bahwa pada masanya, kondisi keuangan klub relatif merata. Tidak ada kesenjangan besar antara klub besar dan klub lainnya.
Kondisi tersebut memungkinkan setiap tim untuk merekrut pemain berkualitas, sehingga kompetisi menjadi lebih seimbang. Berbeda dengan sekarang, di mana beberapa klub memiliki kekuatan finansial lebih besar dibanding yang lain.
Akibatnya, distribusi pemain berkualitas menjadi tidak merata. Klub dengan finansial kuat cenderung mendominasi, sementara tim lain kesulitan bersaing di level yang sama.
Selain faktor finansial, perubahan dalam manajemen dan struktur kompetisi juga diduga turut memengaruhi kualitas liga. Modernisasi memang membawa sejumlah peningkatan, namun di sisi lain juga menghadirkan tantangan baru, termasuk dalam menjaga keseimbangan kompetisi.
Pernyataan Ngon A Djam ini tentu memunculkan beragam respons. Ada yang sepakat bahwa kualitas liga memang mengalami penurunan, namun tidak sedikit pula yang menilai bahwa liga saat ini justru mengalami perkembangan dalam aspek lain, seperti profesionalisme dan infrastruktur.
Terlepas dari perdebatan tersebut, pandangan dari mantan pemain seperti Ngon A Djam tetap menjadi perspektif penting. Sebagai pelaku yang pernah merasakan langsung atmosfer kompetisi di masa lalu, ia memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menilai perkembangan sepak bola Indonesia.
Kesimpulan
Pernyataan Ngon A Djam tentang kualitas Liga Indonesia dulu yang dinilai lebih baik dibanding sekarang menjadi bahan refleksi bagi perkembangan sepak bola nasional. Ia menyoroti pentingnya pemerataan kualitas tim, kehadiran pemain bintang, serta tingkat kompetitif yang tinggi di setiap pertandingan.
Meski kondisi saat ini memiliki tantangan tersendiri, pandangan tersebut bisa menjadi masukan berharga bagi pengelola liga untuk terus melakukan evaluasi. Tujuannya jelas, yaitu menghadirkan kompetisi yang tidak hanya profesional, tetapi juga menarik dan kompetitif.
Pada akhirnya, perbandingan antara masa lalu dan sekarang bukan sekadar nostalgia, melainkan dorongan untuk membawa Liga Indonesia kembali ke level terbaiknya di masa depan.
BACA JUGA :












