Jelang laga pekan ke-30 BRI Super League 2025/2026, suasana di kubu PSBS Biak justru dipenuhi nada pesimistis. Alih-alih membangkitkan semangat juang untuk keluar dari zona degradasi, pelatih Marian Mihail justru melontarkan pernyataan yang cukup mengejutkan publik sepak bola Indonesia.
Dalam konferensi jelang pertandingan melawan Malut United, pelatih asal Rumania itu secara terbuka menyebut bahwa peluang timnya untuk bertahan di kasta tertinggi nyaris tertutup.
Pernyataan ini langsung menjadi sorotan karena datang di saat PSBS masih memiliki beberapa laga tersisa di musim ini.
PSBS Biak di Ujung Jurang Klasemen
Saat ini, PSBS Biak berada di posisi paling bawah klasemen atau peringkat ke-18 dengan koleksi 18 poin dari 29 pertandingan. Catatan mereka cukup mengkhawatirkan:
- 4 kemenangan
- 6 hasil imbang
- 19 kekalahan
Lebih buruk lagi, PSBS menjadi satu-satunya tim yang belum mampu tampil konsisten sepanjang musim dan terus terjebak di zona merah sejak awal kompetisi.
Situasi ini membuat tekanan semakin besar menjelang laga melawan Malut United di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Selasa (28/4/2026) malam WIB.
Marian Mihail: “Kami Sudah Kehilangan Peluang”
Dalam pernyataannya, Marian Mihail tidak menutupi kondisi sulit yang dihadapi timnya. Ia menilai secara realistis bahwa peluang PSBS untuk bertahan sudah sangat kecil.
“Saya sudah katakan, kami yakin bahwa kami telah kehilangan peluang untuk tetap berada di divisi pertama,” ujar Mihail.
Pelatih berusia 55 tahun itu menegaskan bahwa penilaiannya bukan tanpa dasar. Dengan pengalaman panjang di dunia sepak bola, ia merasa situasi yang dialami PSBS sudah berada di titik yang sangat sulit untuk dibalikkan.
“Saya orang yang sangat realistis dan berpengalaman. Saya tahu itu mustahil, bahkan keajaiban pun tidak bisa menolong kami,” tambahnya.
Pernyataan ini sontak memunculkan berbagai reaksi, baik dari penggemar PSBS maupun pecinta sepak bola nasional.
Nada Pesimis di Tengah Perjuangan
Biasanya, menjelang akhir musim, pelatih akan mendorong motivasi pemain untuk berjuang hingga titik terakhir. Namun, pendekatan berbeda justru ditunjukkan Mihail.
Alih-alih membakar semangat, ia memilih berbicara secara terbuka mengenai kemungkinan terburuk.
Langkah ini bisa dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, ini adalah bentuk kejujuran terhadap kondisi tim. Namun di sisi lain, hal ini bisa berdampak pada mental pemain yang masih berjuang di sisa musim.
Tiga Tim Lain Disebut Berpotensi Terdegradasi
Tak hanya membahas PSBS Biak, Marian Mihail juga menyebut beberapa tim lain yang menurutnya berada dalam situasi serupa.
Ia menyinggung nama-nama seperti:
- Semen Padang
- Madura United
- Persis Solo
Menurutnya, dua atau tiga dari tim tersebut kemungkinan besar akan menyusul PSBS turun ke kasta kedua musim depan.
“Masih ada Semen Padang, Madura United, Persis Solo. Dua dari tiga atau empat tim itu akan bersama kami di divisi kedua,” ungkapnya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa persaingan di papan bawah masih sangat ketat meski musim sudah mendekati akhir.
Fokus Evaluasi dan Regenerasi Tim
Dengan lima pertandingan tersisa, Mihail menegaskan bahwa fokus utama PSBS bukan lagi hanya mengejar hasil, tetapi juga melakukan evaluasi menyeluruh.
Ia menyebut bahwa momen ini akan dimanfaatkan untuk menilai pemain dan menyiapkan fondasi tim untuk musim depan jika harus turun kasta.
“Kami harus menganalisis dengan baik apa yang terjadi. Kami harus melihat kesalahan teknis dan administratif,” jelasnya.
Lebih jauh, ia juga menyebut bahwa sisa laga akan digunakan untuk memberikan kesempatan kepada pemain yang minim menit bermain.
“Kami akan menggunakan lima pertandingan terakhir untuk memberi kesempatan kepada pemain yang kurang mendapatkan menit bermain,” tambah Mihail.
Dampak Psikologis di Ruang Ganti PSBS
Pernyataan pelatih tentu tidak hanya berdampak di luar lapangan, tetapi juga bisa mempengaruhi atmosfer ruang ganti.
Dalam situasi seperti ini, peran pemain senior dan kapten tim menjadi sangat penting untuk menjaga semangat juang tetap hidup, meski peluang bertahan di liga semakin menipis.
Jika tidak dikelola dengan baik, situasi ini bisa membuat performa tim semakin menurun di sisa pertandingan.
Laga Kontra Malut United Jadi Ujian Terakhir Mental
Pertandingan melawan Malut United bisa menjadi ujian penting bagi PSBS Biak, bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga mental.
Menghadapi tim papan atas di tengah situasi sulit jelas bukan hal mudah. Namun di sepak bola, kejutan selalu mungkin terjadi.
Meski peluang sudah dinilai kecil, PSBS masih memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka belum menyerah.
Penutup: Realisme atau Alarm Bahaya?
Pernyataan Marian Mihail tentang hampir pastinya PSBS Biak terdegradasi menimbulkan perdebatan. Apakah ini bentuk kejujuran realistis seorang pelatih, atau justru sinyal bahaya bagi mental tim yang masih berjuang?
Yang jelas, lima laga tersisa akan menjadi penentu bukan hanya nasib PSBS Biak, tetapi juga evaluasi besar terhadap perjalanan mereka di BRI Super League 2025/2026.
Apapun hasil akhirnya, musim ini akan menjadi pelajaran penting bagi klub asal Papua tersebut dalam membangun kembali kekuatan untuk masa depan.
BACA JUGA :












