Perjalanan karier Ivan Febrianto di dunia sepak bola Indonesia memasuki babak baru. Mantan penjaga gawang andalan PSIM Yogyakarta itu kini tidak lagi berdiri di bawah mistar, melainkan mulai menapaki jalur baru sebagai pelatih.
Setelah cukup lama dikenal sebagai kiper yang tampil konsisten bersama Laskar Mataram, Ivan kini memilih untuk fokus mengembangkan diri di dunia kepelatihan. Langkah ini menjadi awal dari perjalanan panjang yang ia yakini bisa membawanya kembali ke level tertinggi sepak bola Indonesia—kali ini dari sisi yang berbeda.
Awal Baru di Dunia Kepelatihan
Saat ini, Ivan Febrianto resmi bergabung dengan BNS Academy, sebuah akademi sepak bola yang berbasis di Magelang, Jawa Tengah. Di sana, ia dipercaya sebagai pelatih penjaga gawang untuk pemain-pemain muda.
Keputusan ini menandai transisi penting dalam kariernya. Dari seorang pemain profesional menjadi mentor bagi generasi berikutnya.
Menariknya, Ivan tidak hanya sekadar mencoba peruntungan di dunia coaching, tetapi benar-benar serius membangun fondasi karier kepelatihan sejak dini.
Modal Awal: Lisensi D PSSI
Sebagai langkah awal, Ivan Febrianto sudah mengantongi lisensi kepelatihan D PSSI. Lisensi ini menjadi pintu masuk bagi mantan pemain untuk mulai berkarier sebagai pelatih di level dasar.
Namun, Ivan menyadari bahwa perjalanan ini masih panjang. Ia tidak ingin berhenti di level awal dan sudah menyiapkan rencana untuk melanjutkan pendidikan kepelatihan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Saat ini lisensi saya masih D. Ada rencana juga mau ambil C tahun ini. Untuk mendapatkan lisensi harus punya modal sendiri, pakai uang pribadi,” jelas Ivan.
Pernyataan ini menunjukkan keseriusan Ivan dalam membangun karier baru, meskipun harus dimulai dari bawah.
Ambisi Menembus Level Profesional
Meski baru memulai, Ivan Febrianto tidak menutup mata terhadap ambisi jangka panjangnya. Ia memiliki target besar untuk bisa melatih di kompetisi profesional Indonesia.
Untuk mencapai itu, tentu ada banyak tahapan yang harus dilewati, termasuk peningkatan lisensi hingga Pro Licence yang menjadi syarat utama di level tertinggi.
Saat ini, fokus Ivan adalah membangun pengalaman di level akademi sambil terus meningkatkan kapasitas dirinya sebagai pelatih.
Baginya, proses adalah bagian terpenting dalam perjalanan ini.
Fokus Membentuk Kiper Berkarakter Kuat
Selain mengejar karier pribadi, Ivan juga membawa misi yang cukup mendalam dalam dunia kepelatihan. Ia ingin membentuk penjaga gawang muda yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga karakter yang kuat.
Menurutnya, mentalitas adalah aspek penting yang harus dimiliki seorang kiper modern. Bukan hanya soal refleks dan teknik, tetapi juga ketenangan dan keberanian dalam mengambil keputusan.
“Untuk saat ini saya fokus di usia dini, di level akademi. Saya ingin membentuk kiper-kiper dengan karakter yang kuat,” tegas Ivan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Ivan tidak sekadar melatih secara teknis, tetapi juga membangun fondasi mental para pemain muda.
Pengalaman dari Lapangan ke Ruang Latihan
Sebagai mantan pemain yang pernah membela PSIM Yogyakarta dan PSDS Deli Serdang, Ivan memiliki pengalaman langsung di kompetisi sepak bola Indonesia.
Pengalaman ini menjadi modal penting dalam proses kepelatihannya. Ia memahami tekanan pertandingan, dinamika ruang ganti, hingga tantangan yang dihadapi pemain muda saat naik ke level profesional.
Hal ini membuat Ivan lebih mudah beradaptasi dalam perannya sebagai pelatih, karena ia pernah merasakan langsung situasi yang kini ia ajarkan kepada anak didiknya.
Dukungan untuk PSIM Yogyakarta
Di tengah kesibukan barunya, Ivan tetap mengikuti perkembangan mantan klubnya, PSIM Yogyakarta. Ia mengaku senang melihat Laskar Mataram berhasil menembus kasta tertinggi sepak bola Indonesia dan tampil di BRI Super League 2025/2026.
“Saya ikut senang karena sekarang sudah di Super League, semoga tetap eksis di level tertinggi,” ungkapnya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa ikatan emosional antara Ivan dan PSIM masih tetap terjaga meskipun ia sudah tidak lagi menjadi bagian dari tim sebagai pemain.
Tantangan di Dunia Pelatih Muda
Menjadi pelatih di usia yang relatif masih muda, yakni 34 tahun, tentu bukan hal mudah. Ivan harus bersaing dengan banyak pelatih lain yang juga memiliki pengalaman dan lisensi lebih tinggi.
Selain itu, ia juga harus terus belajar dan mengikuti perkembangan metode kepelatihan modern yang semakin dinamis.
Namun, justru di usia ini Ivan memiliki keuntungan berupa energi, pengalaman sebagai pemain aktif, dan pemahaman langsung terhadap kebutuhan pemain di lapangan.
Perjalanan Masih Panjang
Ivan Febrianto menyadari bahwa karier kepelatihannya masih berada di tahap awal. Ia tidak terburu-buru ingin langsung berada di level tertinggi, melainkan ingin membangun fondasi yang kuat terlebih dahulu.
Dengan tekad untuk terus belajar dan meningkatkan lisensi kepelatihan, Ivan membuka peluang besar untuk bisa melatih di kompetisi profesional Indonesia di masa depan.
Perjalanannya dari kiper PSIM hingga pelatih akademi menjadi bukti bahwa karier sepak bola tidak berhenti ketika seorang pemain gantung sepatu.
Penutup: Babak Baru yang Penuh Harapan
Transformasi Ivan Febrianto dari penjaga gawang menjadi pelatih adalah kisah tentang adaptasi, ambisi, dan konsistensi.
Ia tidak hanya meninggalkan jejak sebagai pemain, tetapi juga mulai membangun warisan baru di dunia kepelatihan sepak bola Indonesia.
Dengan semangat untuk terus berkembang dan membentuk generasi kiper masa depan, Ivan kini memulai perjalanan baru yang mungkin akan lebih panjang, tetapi juga lebih bermakna.
Dari PSIM Yogyakarta hingga BNS Academy, satu hal yang pasti: Ivan Febrianto belum selesai dengan sepak bola—ia baru saja memulai babak yang berbeda.
BACA JUGA :












