1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP: Air Mata Kiper 40 Tahun, Vozinha Jadi Pahlawan Cape Verde dan Bikin Spanyol Frustrasi

Nama Vozinha mendadak menjadi pusat perhatian dunia sepak bola setelah tampil luar biasa dan membantu Cape Verde menahan imbang Spanyol 0-0 pada Piala Dunia 2026. Hasil tersebut langsung menjadi salah satu kejutan terbesar di turnamen, mengingat Spanyol datang sebagai favorit juara.

Namun bagi masyarakat Cape Verde, performa ini bukanlah kejutan. Sosok berusia 40 tahun itu sudah lama dianggap sebagai ikon dan legenda sepak bola nasional, yang akhirnya membuktikan kualitasnya di panggung terbesar dunia.

Di balik penampilan gemilang tersebut, tersimpan kisah panjang penuh perjuangan, kegigihan, serta emosi yang mengharukan.

Tujuh Penyelamatan Krusial dan Tangis Haru di Akhir Laga

Dalam pertandingan melawan Spanyol, Vozinha tampil sebagai bintang utama dengan mencatatkan tujuh penyelamatan penting yang menggagalkan berbagai peluang emas lawan.

Meski Spanyol mendominasi penguasaan bola dan terus menekan sepanjang laga, lini pertahanan Cape Verde tetap kokoh berkat ketenangan, refleks, dan kepemimpinan sang kiper veteran.

Tidak hanya menjadi tembok terakhir, Vozinha juga berperan sebagai pemimpin yang menjaga organisasi tim tetap disiplin di bawah tekanan besar.

Menariknya, hanya beberapa minggu sebelum turnamen dimulai, ia baru saja menginjak usia 40 tahun, menjadikannya salah satu pemain tertua yang pernah debut di Piala Dunia, sekaligus yang tertua dalam sejarah negara debutan.

Usai peluit panjang dibunyikan, suasana emosional langsung pecah. Vozinha tak mampu menahan air mata di lapangan dan langsung dipeluk rekan setimnya, Stopira, yang bahkan kembali dari masa pensiun demi mendukung perjalanan bersejarah ini.

Dalam wawancara penuh emosi, ia mengungkapkan alasan di balik tangisannya:

“Saya menangis karena saya dibesarkan oleh kakek dan nenek saya, dan mereka tidak ada untuk menyaksikan momen ini. Mereka sudah meninggal,” ujarnya.
“Ibu saya juga tidak bisa datang karena masalah visa dan biaya. Kami tidak sempat menyelesaikannya.”

Momen ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap sepak bola dunia, selalu ada kisah manusia yang menyentuh hati.

Asal Usul Nama “Vozinha” yang Penuh Makna

Nama asli sang penjaga gawang adalah Josimar José Évora Dias. Nama “Josimar” diberikan oleh ayahnya sebagai penghormatan kepada bek kanan Brasil yang bersinar di Piala Dunia 1986.

Sejak kecil di Pulau São Vicente, Cape Verde, Josimar muda tidak langsung dianggap sebagai talenta besar. Banyak pelatih meragukannya karena tubuhnya yang kecil dan dianggap kurang ideal sebagai penjaga gawang.

Namun, perubahan besar terjadi saat masa remajanya ketika ia mengalami pertumbuhan fisik yang signifikan, membuka jalan menuju dunia sepak bola profesional.

Karier profesionalnya justru dimulai cukup terlambat, ketika ia berusia pertengahan 20-an. Ia meninggalkan tanah kelahirannya untuk bergabung dengan Progresso di Angola, sebelum melanjutkan karier ke berbagai negara seperti Siprus, Slovakia, Moldova, hingga Portugal.

Perjalanan panjang ini membentuknya menjadi kiper yang matang, tangguh, dan berpengalaman.

Perjalanan Panjang Menuju Tim Nasional Cape Verde

Debut internasional Vozinha terjadi pada 2012, yang menjadi awal dari pengabdiannya bersama tim nasional Cape Verde.

Seiring waktu, ia menjelma menjadi salah satu pemain paling berpengalaman dalam sejarah sepak bola negara tersebut. Hanya Ryan Mendes yang mencatatkan penampilan lebih banyak untuk tim nasional.

Keduanya menjadi bagian penting dalam berbagai turnamen besar, termasuk Piala Afrika dan kini Piala Dunia 2026.

Namun, perjalanan menuju panggung dunia ini tidak pernah mudah.

Dari Hampir Pensiun hingga Jadi Pahlawan Dunia

Dalam fase kualifikasi terbaru, Vozinha bahkan sempat kehilangan tempat di tim nasional. Situasi tersebut membuatnya hampir mengakhiri karier internasionalnya.

Ia mengakui bahwa masa itu adalah titik terendah dalam kariernya.

“Itu masa yang sangat sulit. Saya sempat berpikir untuk berhenti dari tim nasional,” ungkapnya kepada Goalkeeper.com.
“Tapi rekan-rekan saya meyakinkan saya untuk bertahan karena ada Piala Dunia. Saya bertahan demi mimpi itu—mimpi kami semua.”

Keputusan untuk tetap bertahan akhirnya menjadi titik balik besar dalam hidupnya.

Alih-alih mengakhiri perjalanan, ia justru kembali lebih kuat dan menjadi salah satu kunci sukses Cape Verde lolos ke Piala Dunia pertama dalam sejarah mereka.

Simbol Kebangkitan Cape Verde di Panggung Dunia

Keberhasilan Cape Verde tampil di Piala Dunia sudah menjadi sejarah besar. Namun, performa heroik melawan Spanyol membuat dunia kini mulai memandang mereka dengan cara berbeda.

Menghadapi salah satu favorit juara, Cape Verde menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar tim pelengkap. Disiplin, kerja keras, dan keyakinan menjadi fondasi utama yang membuat mereka mampu bertahan menghadapi tekanan besar.

Dan di tengah semua itu, berdirilah seorang kiper berusia 40 tahun yang menolak menyerah pada waktu.

Lebih dari Sekadar Hasil Imbang

Hasil 0-0 melawan Spanyol bukan hanya angka di papan skor. Itu adalah pernyataan besar dari Cape Verde kepada dunia sepak bola.

Bahwa negara kecil pun bisa berdiri sejajar dengan raksasa, selama memiliki keyakinan, kerja sama, dan mental baja.

Bagi Cape Verde, ini adalah awal dari perjalanan baru di panggung dunia.

Dan bagi Vozinha, ini adalah puncak emosional dari sebuah perjalanan panjang—dari anak kecil yang diremehkan, menjadi kiper veteran yang menahan raksasa Eropa di panggung terbesar sepak bola dunia.

BACA JUGA :

CLOSE