Persija Jakarta tengah memasuki babak baru yang penuh harapan sekaligus tanda tanya. Menjelang usia ke-500 Kota Jakarta pada 22 Juni 2027, Macan Kemayoran ingin memberikan hadiah spesial bagi ibu kota dengan meraih gelar juara BRI Super League 2026/2027.
Ambisi besar tersebut membuat manajemen Persija mengambil keputusan penting. Mauricio Souza yang baru satu musim menangani tim resmi digantikan oleh mantan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong.
Keputusan ini langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan suporter dan pengamat sepak bola nasional. Salah satu yang mengaku terkejut adalah mantan Ketua Umum The Jakmania, Tauhid Indrasjarief atau yang akrab disapa Bung Ferry.
Menurutnya, pergantian pelatih memang hak penuh manajemen. Namun, ia berharap keputusan tersebut benar-benar menjadi bagian dari rencana besar untuk membawa Persija ke level yang lebih tinggi.
Persija Ingin Hadiahkan Gelar Juara untuk Jakarta
Tahun 2027 akan menjadi momen bersejarah bagi Jakarta. Pada 22 Juni 2027, ibu kota Indonesia genap berusia 500 tahun. Momen spesial tersebut tentu ingin dirayakan Persija Jakarta dengan cara yang paling membanggakan, yaitu mempersembahkan trofi juara BRI Super League 2026/2027.
Target besar itu menunjukkan bahwa Persija tidak hanya ingin menjadi tim kompetitif, tetapi juga ingin kembali menjadi kekuatan utama sepak bola nasional. Karena itulah manajemen berani mengambil langkah besar dengan melakukan pergantian pelatih meskipun tim tampil cukup baik musim lalu.
Keputusan Mengganti Mauricio Souza Bikin Kaget
Jika melihat pencapaian di lapangan, Mauricio Souza sebenarnya berhasil membawa Persija tampil lebih baik dibandingkan musim sebelumnya. Pelatih asal Brasil itu sukses mengantar Macan Kemayoran finis di posisi ketiga klasemen akhir BRI Super League 2025/2026.
Hasil tersebut jauh lebih baik dibandingkan musim sebelumnya saat Persija masih ditangani Carlos Pena yang hanya mampu membawa tim finis di peringkat ketujuh.
Karena itulah Bung Ferry mengaku cukup terkejut ketika mendengar kabar bahwa kontrak Souza tidak diperpanjang.
Apalagi sebelum keputusan tersebut diumumkan, ia sempat memperoleh informasi bahwa kerja sama antara Persija dan Souza akan berlanjut. Selain itu, beberapa pemain pilihan Souza seperti Van Basty Sousa dan Fabio Calonego juga telah mendapatkan perpanjangan kontrak.
Situasi tersebut membuat banyak pihak yakin Souza masih akan memimpin Persija musim depan.
Shin Tae-yong Jadi Harapan Baru Macan Kemayoran
Di tengah berbagai spekulasi yang berkembang, nama Shin Tae-yong memang menjadi kandidat terkuat untuk menggantikan Mauricio Souza. Tidak lama kemudian, pelatih asal Korea Selatan itu resmi diumumkan sebagai pelatih baru Persija Jakarta.
Kehadiran Shin Tae-yong langsung memunculkan optimisme baru. Pengalamannya bersama Timnas Indonesia membuat banyak suporter berharap Persija bisa tampil lebih kompetitif dan memiliki mental juara yang kuat.
Meski begitu, Bung Ferry menegaskan bahwa pergantian pelatih harus memiliki tujuan yang jelas.
Menurutnya, jika Persija memutuskan mengganti Souza, maka manajemen harus sudah memiliki skenario yang lebih besar untuk memperbaiki berbagai kekurangan yang terlihat musim lalu.
Beberapa harapan Bung Ferry kepada manajemen Persija antara lain:
- Memiliki rencana jangka panjang yang jelas.
- Menutupi kekurangan yang masih terlihat musim lalu.
- Membentuk identitas permainan yang lebih kuat.
- Menyiapkan tim yang benar-benar siap bersaing memperebutkan gelar juara.
Tiga Kelemahan Mauricio Souza Menurut Bung Ferry
Meski mengapresiasi kinerja Souza, Bung Ferry menilai ada beberapa aspek yang perlu dievaluasi.
1. Komunikasi dengan Pemain
Menurut Ferry, salah satu kendala yang terlihat adalah masalah komunikasi. Souza lebih banyak menggunakan bahasa Portugis saat memberikan instruksi kepada pemain.
Namun menariknya, Ferry menilai persoalan ini belum tentu langsung teratasi dengan hadirnya Shin Tae-yong karena pelatih asal Korea Selatan tersebut juga tidak dikenal menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama.
2. Faktor Emosi yang Tinggi
Aspek kedua yang menjadi sorotan adalah faktor emosi.
Ferry menilai Souza memiliki karakter yang cukup emosional saat mendampingi tim di pinggir lapangan. Ketika pelatih menunjukkan emosi berlebihan, suasana tersebut terkadang ikut memengaruhi para pemain.
Di sisi lain, Shin Tae-yong juga dikenal memiliki karakter tegas dan temperamen tinggi. Karena itu, Ferry melihat ada kemiripan dalam aspek ini.
3. Keluhan Mengenai Lapangan JIS
Poin terakhir yang disoroti adalah seringnya keluhan terkait kondisi lapangan Jakarta International Stadium (JIS).
Menurut Ferry, kondisi lapangan seharusnya tidak menjadi alasan utama ketika tim gagal meraih kemenangan. Sebab lawan yang datang ke JIS juga bermain di lapangan yang sama.
Ia bahkan ingin mengetahui lebih jauh apakah gaya bermain yang diterapkan Souza memang kurang cocok dengan kondisi lapangan yang tersedia.
Polemik Lapangan JIS Masih Menjadi Perdebatan
Bung Ferry menilai citra JIS sebagai stadion dengan masalah rumput sudah terlanjur melekat di benak banyak orang.
Akibatnya, ketika Persija gagal meraih hasil maksimal di kandang, kondisi lapangan sering kali menjadi alasan yang muncul pertama kali.
Padahal menurutnya, kualitas lapangan di berbagai stadion Indonesia tidak jauh berbeda. Banyak stadion yang masih memiliki permukaan tidak sempurna, namun tetap digunakan untuk pertandingan kompetitif.
Karena itu, kemampuan pelatih dalam menyesuaikan strategi dengan kondisi lapangan menjadi faktor penting dalam perjalanan sebuah tim.
Era Souza Tetap Mendapat Banyak Apresiasi
Terlepas dari berbagai kritik yang muncul, Bung Ferry mengakui bahwa permainan Persija di era Mauricio Souza cukup menarik untuk disaksikan.
Bahkan, ia mengaku banyak menerima komentar positif dari pecinta sepak bola di luar Jakarta yang menyukai gaya bermain Macan Kemayoran.
Persija dikenal tampil berani dan agresif sepanjang pertandingan.
Beberapa kelebihan permainan Persija musim lalu antara lain:
- Tetap menyerang meski sedang unggul.
- Bermain terbuka dan menghibur.
- Berani mengambil risiko saat membangun serangan.
- Tidak mudah mengubah filosofi permainan ketika tertinggal.
Karakter tersebut membuat Persija memiliki identitas yang berbeda dibandingkan beberapa musim sebelumnya.
Harapan Besar untuk Masa Depan Persija
Bagi Bung Ferry, pergantian pelatih bukan sekadar perubahan nama di kursi pelatih kepala. Keputusan itu harus menjadi bagian dari proyek besar untuk membawa Persija kembali menjadi juara.
Ia berharap manajemen tidak hanya mencari pelatih baru, tetapi juga memastikan filosofi permainan yang diterapkan sesuai dengan karakter pemain yang ada saat ini.
Dengan target mempersembahkan gelar juara pada perayaan 500 tahun Jakarta, tekanan terhadap Shin Tae-yong tentu tidak akan ringan. Namun di sisi lain, kesempatan untuk mencatat sejarah bersama Persija juga terbuka lebar.
Kini para Jakmania menunggu jawaban di lapangan. Apakah kedatangan Shin Tae-yong benar-benar menjadi bagian dari skenario yang lebih dahsyat dan mampu membawa Persija kembali mengangkat trofi juara? Musim 2026/2027 akan menjadi pembuktiannya.
BACA JUGA :












