Kemenangan Brasil atas Jepang di babak 32 besar Piala Dunia 2026 bukan hanya soal comeback dramatis di Houston Stadium, tetapi juga aksi panas Matheus Cunha yang langsung viral. Striker Timnas Brasil itu menjadi pusat perhatian setelah melayangkan gestur lima jari ke arah pemain Jepang usai laga berakhir.
Selecao menang 2-1 dalam pertandingan penuh tensi tersebut, namun momen di luar skor justru mencuri panggung utama.
Brasil Comeback Dramatis Singkirkan Jepang
Pertandingan antara Brasil vs Jepang berlangsung sengit sejak awal. Jepang sempat mengejutkan publik lewat gol Kaishu Shano di babak pertama, membuat Selecao berada dalam tekanan.
Namun, tim asuhan Carlo Ancelotti menunjukkan mental juara mereka dengan membalikkan keadaan di babak kedua.
Beberapa momen penting pertandingan:
- Jepang unggul lebih dulu lewat Kaishu Shano
- Casemiro menyamakan kedudukan di menit ke-56
- Gabriel Martinelli mencetak gol kemenangan di menit akhir
- Brasil menang 2-1 dan lolos ke babak 16 besar
Dengan hasil ini, Brasil akan menghadapi pemenang antara Norwegia atau Pantai Gading di fase berikutnya.
Gestur 5 Jari Matheus Cunha Jadi Sorotan
Usai peluit panjang berbunyi, Matheus Cunha langsung melakukan aksi yang memicu perdebatan. Ia menghampiri pemain Jepang dan mengangkat lima jari ke arah mereka.
Gestur tersebut bukan tanpa makna. Cunha merujuk pada lima gelar juara Piala Dunia yang dimiliki Brasil, sebuah simbol dominasi sejarah sepak bola dunia.
Dengan nada emosional, Cunha disebut berteriak:
“Lima Piala Dunia… kalian masih kecil!”
Aksi ini langsung menjadi viral dan memicu reaksi keras di media sosial.
Awal Ketegangan: Komentar Kento Shiogai
Drama ini ternyata sudah dimulai sebelum pertandingan. Penyerang Jepang, Kento Shiogai, sempat melontarkan pernyataan kontroversial yang menyebut era kejayaan Brasil sudah berakhir.
Ia bahkan menilai bahwa hanya Prancis dan Argentina yang layak disebut sebagai tim elite dunia saat ini.
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras di kubu Brasil, meskipun Shiogai sendiri hanya bermain sekitar enam menit sebagai pemain pengganti dalam laga tersebut.
Ketegangan ini menjadi bahan bakar utama emosi di lapangan.
Makna di Balik Lima Gelar Piala Dunia Brasil
Gestur Matheus Cunha merujuk pada sejarah panjang kejayaan Brasil di Piala Dunia. Selecao merupakan negara tersukses dalam sejarah turnamen ini.
Berikut daftar gelar Brasil:
- 1958 – Juara di Swedia
- 1962 – Juara di Chili
- 1970 – Juara di Meksiko
- 1994 – Juara di Amerika Serikat
- 2002 – Juara di Korea-Jepang
Dengan lima trofi tersebut, Brasil masih menjadi negara dengan koleksi Piala Dunia terbanyak hingga saat ini.
Reaksi Dunia: Antara Pujian dan Kritik
Aksi Matheus Cunha langsung memicu reaksi beragam dari publik sepak bola dunia. Di media sosial, terutama platform X, perdebatan berlangsung panas.
Reaksi positif:
- Banyak fans Brasil memuji mentalitas dan keberanian Cunha
- Dianggap sebagai “jawaban tegas” atas provokasi Jepang
- Dinilai menunjukkan kebanggaan terhadap sejarah Brasil
Beberapa komentar netizen menyebut:
- “Dia menempatkan mereka pada posisi yang sebenarnya”
- “Inilah mental juara Brasil yang sesungguhnya”
Reaksi negatif:
Namun tidak sedikit juga yang mengkritik sikap Cunha, dengan alasan:
- Ia tidak ikut memenangkan lima gelar tersebut
- Gestur dianggap berlebihan untuk situasi pertandingan
- Dinilai kurang menghormati lawan
Salah satu komentar menyebut bahwa Cunha seharusnya lebih fokus pada performa ketimbang selebrasi emosional.
Marquinhos Ikut Buka Suara
Kapten Brasil, Marquinhos, juga menanggapi situasi panas tersebut. Ia mengakui bahwa komentar dari pemain Jepang memang bernuansa arogan, tetapi Brasil berhasil menjawabnya di atas lapangan.
Menurutnya, kemenangan adalah jawaban terbaik atas semua provokasi yang terjadi sebelum laga.
Brasil Lolos, Tapi Drama Belum Selesai
Meski sukses melaju ke babak 16 besar, Brasil tampaknya masih akan menjadi sorotan bukan hanya karena performa, tetapi juga karena emosi dan drama yang mengiringi mereka.
Dengan lawan berikutnya yang bisa saja lebih berat, Selecao harus memastikan fokus tetap terjaga.
Hal penting yang perlu diperhatikan Brasil ke depan:
- Mengontrol emosi pemain di laga besar
- Menjaga konsistensi setelah comeback
- Menghindari provokasi berlebihan
- Fokus pada target juara dunia
Penutup: Kemenangan, Emosi, dan Pesan Sejarah
Kemenangan Brasil atas Jepang di Piala Dunia 2026 bukan hanya soal skor 2-1, tetapi juga tentang emosi, sejarah, dan harga diri. Matheus Cunha mungkin menjadi pusat kontroversi, namun gesturnya mencerminkan kebanggaan besar terhadap warisan sepak bola Brasil.
Di tengah pro dan kontra, satu hal jelas: Brasil tetap menjadi kekuatan besar, bukan hanya di lapangan, tetapi juga dalam narasi emosional Piala Dunia.
BACA JUGA :
- SBOTOP: Kapten Brasil Marquinhos Balas Sindiran Bintang Jepang untuk Neymar Jelang Duel Panas Piala Dunia
- SBOTOP Paul Scholes Beri Saran Mengejutkan untuk Tuchel: Inggris Harus Cadangkan Declan Rice Demi Menyamai Level Prancis dan Argentina di Piala Dunia
- SBOTOP Jesse Marsch Tegaskan Mentalitas Kanada Usai Lolos Bersejarah di Piala Dunia: Tak Peduli Gaya Yang Penting Jadi Pahlawan Nyata di Lapangan












