Inggris berhasil melaju dari babak 32 besar Piala Dunia 2026, tetapi kemenangan 2-1 atas DR Kongo tidak datang tanpa perdebatan besar. Di balik comeback yang akhirnya ditentukan oleh dua gol Harry Kane, ada satu momen kontroversial yang langsung menjadi bahan diskusi panas: insiden ketika Kane terjatuh di kotak penalti menjelang akhir babak pertama dan Inggris tidak mendapat hadiah penalti.
Situasinya terjadi ketika Inggris sedang tertinggal 0-1. Kane mengejar bola ke area penalti, melewati kiper DR Kongo Lionel Mpasi-Nzau, lalu jatuh setelah terjadi kontak. Para pemain Inggris mengira penalti akan diberikan, tetapi wasit Adham Makhadmeh justru tidak menunjuk titik putih. VAR ikut meninjau insiden itu, namun keputusan di lapangan tetap dipertahankan. Sports Illustrated melaporkan bahwa Kane tampak sangat yakin dirinya dilanggar, sementara wasit memberi keputusan yang menguntungkan DR Kongo, bukan Inggris.
Keputusan tersebut langsung memecah opini. Banyak pendukung Inggris menilai Kane jelas dijatuhkan. Sebaliknya, sebagian pengamat melihat Kane terlalu mencari kontak. Perdebatan makin panas ketika dua legenda Inggris, Alan Shearer dan Wayne Rooney, memberikan pandangan yang berbeda. Shearer menilai Inggris seharusnya mendapat penalti, sementara Rooney justru menganggap keputusan wasit sudah tepat.
Awal Masalah Kane Jatuh Wasit Tak Tertipu
Insiden ini menjadi besar karena terjadi di fase krusial pertandingan. Inggris tidak sedang unggul nyaman, melainkan tertinggal dan membutuhkan momentum. DR Kongo unggul cepat melalui Brian Cipenga pada menit ketujuh, membuat Inggris harus mengejar sejak awal laga. The Sun melaporkan bahwa Kane kemudian mencetak dua gol di babak kedua, masing-masing lewat sundulan pada menit ke-75 dan tembakan keras pada menit ke-86, untuk memastikan kemenangan 2-1.
Namun sebelum comeback itu terjadi, momen di kotak penalti menjadi titik panas. Kane berhasil masuk ke ruang berbahaya dan berhadapan dengan Mpasi-Nzau. Ketika kiper keluar menutup sudut, Kane bergerak melewati bola dan jatuh setelah kontak. Dari sudut pandang Inggris, itu terlihat seperti pelanggaran. Dari sudut pandang wasit, Kane dianggap terlalu mudah jatuh.
Yang membuat situasi lebih rumit adalah keputusan wasit yang tampak mengarah pada dugaan simulasi. Sports Illustrated menulis bahwa Kane tidak mendapat kartu kuning, tetapi ia terlihat marah karena merasa benar-benar dijatuhkan. Ini menciptakan pertanyaan besar: jika wasit menganggap Kane diving, mengapa tidak ada kartu? Jika ada kontak nyata, mengapa tidak penalti?
Shearer Inggris Seharusnya Dapat Penalti
Alan Shearer menjadi salah satu suara paling tegas yang membela Kane. Mantan kapten Inggris itu menilai kontak dari kiper DR Kongo sudah cukup untuk membuat penalti diberikan. Menurut laporan Bavarian Football Works, Shearer mengatakan bahwa DR Kongo “lolos” dari keputusan yang seharusnya merugikan mereka, dan ia menilai kontak tersebut jelas terjadi.
Bagi Shearer, seorang striker punya hak untuk memanfaatkan posisi kiper yang keluar terlalu jauh. Dalam pandangannya, ketika penjaga gawang maju dengan tangan dan badan terbuka, lalu terjadi kontak dengan penyerang yang sedang mengontrol situasi, risiko pelanggaran ada pada kiper. Karena itu, Shearer tidak melihat Kane sebagai pemain yang melakukan diving murni.
Pandangan Shearer cukup mudah dipahami. Ia adalah mantan penyerang tengah elite yang tahu bagaimana duel di kotak penalti berjalan. Striker sering berada dalam situasi sepersekian detik, di mana sedikit kontak bisa mengubah keseimbangan. Bagi penyerang, ketika bola sudah didorong melewati kiper dan tubuh lawan menghalangi laju, penalti sering dianggap sebagai keputusan wajar.
Rooney Kane Terlihat Mencari Kontak
Wayne Rooney mengambil posisi berbeda. Mantan penyerang Manchester United dan timnas Inggris itu justru mendukung keputusan wasit. Menurut Rooney, Kane terlihat melompat ke arah kiper dan membuat insiden itu tampak seperti upaya mencari pelanggaran. The Sun melaporkan bahwa Rooney menyebut keputusan wasit sebagai keputusan tepat karena ia merasa Kane bergerak ke arah penjaga gawang, bukan sepenuhnya dijatuhkan oleh lawan.
Perbedaan pandangan Rooney menarik karena ia juga mantan striker. Artinya, debat ini bukan sekadar antara pihak yang paham sepak bola dan yang tidak. Dua mantan penyerang besar Inggris melihat insiden yang sama, tetapi menafsirkannya secara berbeda. Itulah yang membuat kontroversi ini semakin kuat.
Dalam kacamata Rooney, striker modern sering berusaha “mengundang” kontak. Hal seperti itu bukan hal baru dalam sepak bola. Pemain menyerang kerap mengarahkan langkah agar kiper atau bek melakukan kontak, lalu berharap wasit memberi penalti. Rooney tampaknya menilai Kane melakukan hal tersebut terlalu jelas, sehingga wasit benar untuk tidak terpengaruh.
VAR Kembali Jadi Sorotan
Seperti biasa, kontroversi besar di Piala Dunia tidak hanya menyeret wasit utama, tetapi juga VAR. Dalam insiden ini, VAR meninjau kejadian tersebut, tetapi tidak menyarankan perubahan keputusan. Artinya, tim VAR tidak melihat adanya kesalahan jelas dan nyata yang cukup untuk membatalkan keputusan wasit di lapangan. Sports Illustrated mencatat bahwa setelah tinjauan VAR, penalti tetap tidak diberikan dan para pendukung Inggris bereaksi keras.
Keputusan ini kembali membuka perdebatan tentang standar intervensi VAR. Apakah VAR hanya boleh masuk jika keputusan benar-benar salah? Atau dalam kasus kontak di kotak penalti, seharusnya VAR membantu wasit melihat detail yang terlewat? Masalahnya, sepak bola tidak selalu hitam-putih. Ada kontak yang cukup untuk menjatuhkan pemain, ada kontak yang tidak cukup, dan ada kontak yang sengaja dicari.
Mantan wasit Premier League Mark Halsey termasuk pihak yang mengkritik keras keputusan tersebut. The Sun melaporkan bahwa Halsey menilai ada kontak jelas dari kiper DR Kongo dan menyebut VAR seharusnya ikut campur karena keputusan itu menurutnya merupakan kesalahan nyata.
Mengapa Keputusan Ini Begitu Sulit
Insiden Kane menjadi sulit karena beberapa elemen terjadi bersamaan. Pertama, ada kontak. Hampir semua pihak sepakat bahwa Kane dan Mpasi-Nzau bersentuhan. Kedua, Kane memang bergerak ke arah kiper setelah mendorong bola. Ketiga, kiper keluar dari posisinya untuk menutup ruang. Keempat, Kane jatuh dengan cara yang bagi sebagian orang terlihat berlebihan.
Dalam sepak bola modern, keberadaan kontak tidak otomatis berarti penalti. Wasit harus menilai apakah kontak tersebut cukup signifikan, apakah pemain bertahan melakukan pelanggaran, dan apakah penyerang sengaja membuat kontak. Inilah yang membuat kasus Kane sangat subjektif.
Jika Anda mendukung Inggris, Anda mungkin melihatnya sebagai penalti jelas. Jika Anda melihatnya dari sisi DR Kongo, Anda mungkin menilai Kane terlalu pintar mencari momen. Jika Anda berdiri sebagai wasit, Anda harus membuat keputusan dalam hitungan detik, lalu berharap VAR mendukung atau memperbaiki keputusan itu.
Inggris Merasa Dirugikan tetapi Tetap Bangkit
Yang membuat cerita ini lebih dramatis adalah bagaimana Inggris merespons. Mereka bisa saja kehilangan fokus karena merasa dirugikan. Mereka tertinggal, gagal mendapat penalti, dan memasuki jeda babak pertama dengan emosi tinggi. The Sun melaporkan bahwa Kane dan Marc Guehi terlihat mengeluh kepada wasit saat turun minum, sementara pemain Inggris tampak frustrasi.
Namun, di babak kedua, Inggris menunjukkan karakter. Kane yang sebelumnya menjadi pusat kontroversi justru berubah menjadi pahlawan. Ia menyamakan kedudukan lewat sundulan pada menit ke-75, lalu mencetak gol kemenangan pada menit ke-86. Dari pemain yang dianggap melakukan diving oleh sebagian pihak, Kane akhirnya menjadi penentu kelolosan Inggris.
Ini adalah bagian paling menarik dari narasi pertandingan. Kane tidak membiarkan kontroversi menghancurkan fokusnya. Ia tetap berada di area berbahaya, tetap mencari peluang, dan akhirnya membawa Inggris lolos. Bagi kapten tim, respons seperti itu sangat penting.
Kane dan Reputasi Sebagai Striker Cerdas
Harry Kane sudah lama dikenal sebagai penyerang yang sangat cerdas. Ia bukan hanya pencetak gol, tetapi juga pemain yang ahli membaca situasi. Ia tahu kapan harus turun menjemput bola, kapan menahan permainan, kapan menyerang ruang, dan kapan memancing kontak. Kecerdasan seperti itu membuatnya menjadi salah satu striker terbaik generasinya.
Namun, kecerdasan juga bisa menimbulkan persepsi negatif. Ketika seorang pemain terlalu ahli mendapatkan keuntungan dari duel fisik, lawan dan sebagian pengamat bisa menganggapnya terlalu mencari pelanggaran. Itulah yang terjadi dalam insiden ini. Bagi pendukung Kane, ia memanfaatkan posisi yang sah. Bagi pengkritiknya, ia mencoba menjual kontak kepada wasit.
Dalam pertandingan besar, reputasi pemain sering ikut memengaruhi opini publik. Kane adalah kapten Inggris dan salah satu striker paling terkenal di dunia. Karena itu, setiap insiden yang melibatkannya tidak pernah kecil. Apalagi di Piala Dunia, ketika satu keputusan bisa mengubah nasib satu negara.
Wasit Adham Makhadmeh di Bawah Tekanan
Nama Adham Makhadmeh juga ikut menjadi sorotan. Wasit asal Yordania itu mengambil keputusan berani dengan tidak memberikan penalti kepada Inggris. Dalam laga sebesar babak gugur Piala Dunia, keputusan seperti itu membutuhkan keyakinan kuat. Ia tahu bahwa setiap tindakan akan ditinjau ulang oleh kamera, media, dan jutaan penonton.
The Sun melaporkan bahwa wasit awalnya memberi sinyal seolah Kane melakukan diving, sebelum VAR meninjau kejadian tersebut dan tetap tidak mengubah keputusan. Keputusan ini tentu tidak populer di kalangan pendukung Inggris, tetapi dari sudut pandang wasit, konsistensi dengan penilaiannya sendiri menjadi penting.
Masalahnya, ketika ada VAR, publik sering berharap semua kontroversi selesai. Kenyataannya, VAR tidak menghapus subjektivitas. VAR hanya memberi sudut pandang tambahan. Keputusan akhir tetap bergantung pada interpretasi: apakah kontak itu pelanggaran, apakah Kane mencari kontak, dan apakah keputusan awal cukup salah untuk dibalik.
Media Sosial Membuat Kontroversi Makin Panas
Di era digital, kontroversi seperti ini tidak berhenti di lapangan. Dalam hitungan menit, potongan video insiden Kane beredar luas. Pendukung Inggris menyebut keputusan itu memalukan. Pendukung netral membandingkan sudut kamera. Pengamat memberikan analisis bingkai demi bingkai. Perdebatan pun berubah menjadi perang opini.
Bavarian Football Works mencatat bahwa insiden ini langsung memicu reaksi dari mantan pemain, pundit, fans, dan dunia sepak bola secara umum. Hal ini menunjukkan bagaimana satu keputusan wasit bisa menjadi cerita besar, bahkan ketika pertandingan akhirnya dimenangkan oleh tim yang merasa dirugikan.
Media sosial juga membuat opini Shearer dan Rooney semakin cepat menyebar. Dalam dunia sepak bola modern, komentar pundit tidak lagi hanya menjadi bagian dari siaran. Komentar itu menjadi kutipan, meme, headline, dan bahan diskusi publik.
Apakah Kane Benar-Benar Diving
Pertanyaan utama tetap sama: apakah Harry Kane diving? Jawabannya tergantung pada definisi yang digunakan. Jika diving berarti tidak ada kontak sama sekali dan pemain pura-pura jatuh, maka kasus Kane sulit disebut diving murni karena ada kontak dengan kiper. Namun jika diving dimaknai sebagai tindakan melebih-lebihkan kontak atau sengaja mencari benturan, maka argumen Rooney menjadi lebih kuat.
Sports Illustrated menjelaskan bahwa tidak ada perdebatan besar soal adanya kontak, tetapi menyoroti bahwa Kane sudah mulai kehilangan keseimbangan ketika bergerak cepat melewati kiper. Ini membuat insiden tersebut berada di area abu-abu. Kontak ada, tetapi apakah kontak itu penyebab utama Kane jatuh? Itulah pertanyaan yang memecah opini.
Dalam sepak bola, area abu-abu seperti ini sering menjadi sumber kontroversi terbesar. Jika pelanggaran terlalu jelas, semua orang cepat sepakat. Jika tidak ada kontak sama sekali, semua orang juga cepat sepakat. Tetapi ketika ada sedikit kontak, gerakan tubuh yang ambigu, dan keputusan wasit yang kontroversial, perdebatan bisa berlangsung berhari-hari.
Baca Juga:
- SBOTOP: Cerita Kucing Hilang Danny Murphy Curi Perhatian Saat Eks Bintang Inggris dan Liverpool Jadi Komentator Piala Dunia
- SBOTOP: Haaland Akui Peluang Norwegia Sangat Tipis untuk Singkirkan Brasil di 16 Besar Piala Dunia
- SBOTOP: Brasil Terancam Kehilangan Lucas Paqueta di Sisa Piala Dunia Usai Diagnosis Cedera Pahit Dikonfirmasi












