1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP: Lionel Scaloni Redam Rivalitas Panas Sebut Duel Inggris vs Argentina Hanya Pertandingan Sepak Bola

Semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina membawa lebih banyak cerita dibandingkan pertandingan biasa. Kedua negara mempunyai sejarah panjang di panggung sepak bola internasional, lengkap dengan momen kontroversial, gol legendaris, kartu merah, adu penalti, dan ketegangan yang kerap melampaui batas lapangan.

Namun, pelatih Argentina Lionel Scaloni memilih menurunkan suhu menjelang pertemuan tersebut. Alih-alih membakar semangat tim dengan kisah masa lalu, ia meminta seluruh pihak melihat laga Inggris melawan Argentina sebagai pertandingan sepak bola.

Scaloni mengakui Inggris merupakan lawan yang sangat kuat dan dilatih oleh pelatih berkualitas. Akan tetapi, ia tidak ingin sejarah politik ataupun kontroversi pertandingan terdahulu mengganggu persiapan La Albiceleste. Pesannya sederhana: para pemain harus fokus kepada bola, strategi, dan kesempatan mencapai final.

Sikap itu memperlihatkan pendekatan tenang yang selama ini menjadi ciri khas Scaloni. Di tengah besarnya perhatian media dan emosi para pendukung, pelatih Argentina tersebut berusaha menjaga ruang ganti agar tidak terbebani narasi yang berada di luar kendali pemain.

Semifinal yang Sarat Sejarah

Inggris dan Argentina akan bertemu di semifinal setelah melewati pertandingan perempat final yang menguras energi. Argentina menyingkirkan Swiss dengan skor 3-1 melalui babak tambahan, sedangkan Inggris mengalahkan Norwegia 2-1 setelah 120 menit permainan.

Pertemuan semifinal tersebut akan berlangsung di Atlanta pada 15 Juli 2026 waktu setempat. Pemenangnya akan menghadapi Prancis atau Spanyol pada partai final. Argentina datang sebagai juara bertahan, sementara Inggris berusaha mengakhiri penantian panjang sejak terakhir kali menjadi juara dunia pada 1966.

Secara kualitas, laga ini mempertemukan dua skuad dengan pemain elite di hampir semua posisi. Argentina mempunyai pengalaman, kematangan, dan kemampuan bertahan dalam situasi sulit. Inggris membawa kekuatan fisik, kedalaman skuad, serta pemain-pemain yang mampu mengubah pertandingan secara individual.

Namun, kualitas di atas lapangan bukan satu-satunya alasan duel ini menarik perhatian dunia. Pertemuan Inggris dan Argentina selalu membawa ingatan tentang pertandingan-pertandingan besar pada masa lalu.

Scaloni Tidak Ingin Pemain Terjebak Masa Lalu

Dalam konferensi pers setelah kemenangan atas Swiss, Scaloni tidak menerima ajakan untuk memperbesar ketegangan. Ia menekankan bahwa pertandingan tersebut tetap harus dipandang sebagai sebuah laga sepak bola.

Bagi Scaloni, membawa persoalan di luar lapangan ke dalam persiapan tim justru dapat menjadi gangguan. Pemain bisa kehilangan fokus, terlalu emosional, atau mengambil keputusan buruk karena merasa harus membalas sesuatu yang terjadi sebelum mereka lahir.

Pendekatan itu sangat relevan dalam pertandingan sistem gugur. Sebuah kartu merah, pelanggaran tidak perlu, atau perdebatan dengan wasit dapat mengubah jalannya semifinal. Argentina membutuhkan intensitas tinggi, tetapi intensitas tersebut harus dikendalikan.

Scaloni juga menunjukkan rasa hormat terhadap Inggris. Ia menggambarkan lawannya sebagai tim tangguh yang mempunyai pelatih hebat. Pernyataannya bukan sekadar bentuk kesopanan, melainkan upaya memastikan Argentina tidak meremehkan lawan atau menganggap sejarah otomatis memberikan mereka keunggulan.

Rivalitas yang Dibangun oleh Pertandingan Besar

Inggris dan Argentina pertama kali bertemu di Piala Dunia pada 1962. Inggris menang 3-1 pada fase grup sebelum kembali mengalahkan Argentina 1-0 di perempat final Piala Dunia 1966.

Pertandingan pada 1966 menjadi salah satu awal ketegangan sepak bola kedua negara. Kapten Argentina Antonio Rattín dikeluarkan dari lapangan dalam situasi yang diwarnai masalah komunikasi dengan wasit. Insiden tersebut kemudian menjadi salah satu peristiwa yang ikut mendorong penggunaan sistem kartu kuning dan kartu merah pada turnamen berikutnya.

Sejak saat itu, pertemuan keduanya jarang berlangsung tanpa cerita besar. Setiap pertandingan membawa generasi baru, tetapi narasi lama terus mengikuti.

Bagi pendukung Argentina, laga melawan Inggris mengingatkan mereka pada Diego Maradona, keberanian, dan kemenangan dalam tekanan besar. Bagi pendukung Inggris, pertandingan tersebut menghidupkan kembali kenangan mengenai kontroversi, kegagalan dalam adu penalti, serta momen penebusan.

Meksiko 1986 yang Tidak Pernah Dilupakan

Pertemuan paling terkenal terjadi pada perempat final Piala Dunia 1986 di Stadion Azteca. Argentina menang 2-1 melalui dua gol Diego Maradona yang menjadi bagian dari sejarah sepak bola dunia.

Gol pertama terjadi ketika Maradona menggunakan tangannya untuk mengarahkan bola melewati penjaga gawang Inggris Peter Shilton. Wasit tidak melihat pelanggaran tersebut dan tetap mengesahkan gol. Peristiwa itu kemudian dikenal luas sebagai gol “Tangan Tuhan”.

Beberapa menit kemudian, Maradona mencetak gol dengan cara yang sangat berbeda. Ia membawa bola dari area tengah, melewati beberapa pemain Inggris, lalu menaklukkan Shilton. Aksi tersebut kerap disebut sebagai salah satu gol individu terbaik dalam sejarah Piala Dunia.

Inggris memperkecil ketertinggalan melalui Gary Lineker, tetapi Argentina mempertahankan kemenangan dan kemudian menjadi juara dunia. Satu pertandingan itu menghadirkan kontroversi sekaligus kejeniusan dalam rentang waktu yang sangat singkat.

Latar Politik yang Membuat Rivalitas Lebih Sensitif

Pertandingan 1986 berlangsung empat tahun setelah perang antara Inggris dan Argentina terkait Kepulauan Falkland, yang di Argentina disebut Islas Malvinas. Konflik tersebut membuat pertemuan sepak bola kedua negara memperoleh makna emosional yang jauh lebih besar.

Scaloni memahami sensitivitas tersebut. Ia juga menyadari bahwa kata-kata seorang pelatih dapat memperbesar ketegangan jika tidak disampaikan secara hati-hati.

Karena itu, ia memilih memisahkan sepak bola dari persoalan politik. Pendekatan ini tidak menghapus sejarah ataupun perasaan masyarakat kedua negara. Namun, Scaloni ingin menegaskan bahwa para pemain yang berada di lapangan harus bertindak sebagai olahragawan.

Pembicaraan mengenai Falklands atau Malvinas tetap muncul menjelang semifinal. Lagu dan nyanyian mengenai isu tersebut juga terdengar dari sebagian pendukung Argentina selama turnamen. Meski demikian, pihak tim menekankan sikap profesional serta penghormatan terhadap lawan.

Drama Saint-Étienne pada 1998

Inggris dan Argentina kembali berhadapan pada babak 16 besar Piala Dunia 1998. Pertandingan berakhir 2-2 sebelum Argentina menang melalui adu penalti.

Laga itu dipenuhi momen bersejarah. Gabriel Batistuta dan Alan Shearer sama-sama mencetak gol melalui penalti pada awal pertandingan. Michael Owen kemudian menghasilkan gol individu luar biasa setelah berlari melewati pertahanan Argentina.

Argentina menyamakan skor melalui skema tendangan bebas yang diselesaikan Javier Zanetti. Pada babak kedua, David Beckham mendapat kartu merah setelah menendang Diego Simeone ketika keduanya berada di tanah.

Meski bermain dengan sepuluh orang, Inggris bertahan hingga adu penalti. Argentina akhirnya keluar sebagai pemenang, sementara Beckham menjadi sasaran kritik besar di negaranya.

Bagi Inggris, pertandingan tersebut meninggalkan luka mendalam. Bagi Argentina, itu menjadi contoh kemampuan mereka bertahan menghadapi tekanan dan memanfaatkan emosi lawan.

Beckham Membalas pada 2002

Empat tahun kemudian, Inggris mendapat kesempatan membalas kekalahan tersebut pada fase grup Piala Dunia 2002.

David Beckham menjadi tokoh utama dengan mencetak gol kemenangan melalui tendangan penalti. Momen itu terasa seperti penebusan pribadi setelah kartu merahnya pada 1998.

Inggris menang 1-0, sementara Argentina akhirnya gagal melaju dari fase grup. Meskipun bukan pertandingan fase gugur, kemenangan tersebut mempunyai nilai emosional yang besar bagi The Three Lions.

Sejak pertemuan itu, kedua tim belum lagi saling berhadapan dalam pertandingan resmi Piala Dunia sampai semifinal 2026. Jeda panjang tersebut justru menambah rasa penasaran.

Generasi Beckham, Owen, Batistuta, dan Simeone telah berganti. Kini, panggung dimiliki Lionel Messi, Julián Álvarez, Alexis Mac Allister, Jude Bellingham, Harry Kane, dan pemain-pemain baru lainnya. Namun, bayang-bayang pertandingan lama masih menjadi bagian dari pembicaraan.

Lionel Messi Akhirnya Menghadapi Inggris

Semifinal ini juga mempunyai arti khusus bagi Lionel Messi. Setelah menjalani karier internasional lebih dari dua dekade, kapten Argentina tersebut belum pernah menghadapi Inggris bersama tim nasional senior.

Messi telah melawan hampir semua kekuatan besar sepak bola dunia, tetapi Inggris menjadi satu nama yang belum pernah muncul sebagai lawannya dalam pertandingan internasional.

Pada usia 39 tahun, kesempatan itu akhirnya hadir di panggung terbesar. Bukan dalam laga persahabatan atau fase grup, melainkan semifinal Piala Dunia.

Messi tidak mencetak gol saat Argentina mengalahkan Swiss, tetapi ia tetap memberikan kontribusi melalui assist. Pengalaman dan kemampuannya membaca permainan akan menjadi salah satu ancaman terbesar bagi pertahanan Inggris.

Bagi Argentina, pertandingan tersebut bukan hanya kesempatan mempertahankan gelar. Ini juga dapat menjadi salah satu bab terakhir dalam perjalanan Piala Dunia Messi.

Jalan Sulit Argentina Menuju Semifinal

Status juara bertahan tidak membuat perjalanan Argentina berjalan mudah. Mereka harus menghadapi tekanan dan pertandingan yang menuntut kemampuan beradaptasi.

Pada babak 16 besar, Argentina bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk menyingkirkan Mesir 3-2. Scaloni bahkan mengaku terbawa emosi setelah kemenangan tersebut karena timnya harus berjuang dalam situasi yang sangat sulit.

Pada perempat final, Swiss kembali memaksa Argentina bermain hingga babak tambahan. La Albiceleste akhirnya menang 3-1 setelah pertandingan yang keras dan menegangkan.

Scaloni mengatakan penderitaan merupakan bagian dari karakter Argentina. Menurutnya, mencapai semifinal Piala Dunia tidak mungkin dilakukan tanpa melalui periode sulit.

Pengalaman melewati pertandingan ketat dapat menjadi kekuatan bagi Argentina. Para pemain telah beberapa kali berada dalam posisi tertekan, tetapi tetap menemukan cara untuk menang.

Inggris Membawa Mentalitas Pantang Menyerah

Inggris juga tidak mencapai semifinal dengan permainan sempurna. Tim asuhan Thomas Tuchel harus bekerja keras melewati fase gugur.

Pada babak 16 besar, Inggris bangkit untuk mengalahkan Meksiko 3-2. Di perempat final, mereka kembali tertinggal sebelum menundukkan Norwegia 2-1 melalui babak tambahan.

Jude Bellingham mencetak dua gol dan menjadi pemain paling menentukan. Penampilannya memperlihatkan bahwa Inggris mempunyai pemain yang tidak takut mengambil tanggung jawab ketika pertandingan memasuki momen kritis.

Namun, Tuchel mengakui performa timnya masih memiliki banyak kekurangan. Ia menyoroti sejumlah kesalahan teknis dan menilai Inggris harus bermain jauh lebih baik ketika menghadapi Argentina.

Kekuatan utama Inggris sejauh ini adalah ketahanan mental. Mereka belum selalu tampil dominan, tetapi mampu bertahan, merespons ketertinggalan, dan memanfaatkan peluang penting.

Pertarungan Lini Tengah Menjadi Kunci

Di luar narasi sejarah, pertandingan kemungkinan akan ditentukan oleh pertarungan lini tengah.

Argentina memiliki pemain-pemain yang nyaman menguasai bola dan mampu menjaga struktur dalam tekanan. Alexis Mac Allister, Enzo Fernández, dan rekan-rekannya dapat memainkan umpan pendek sekaligus bergerak agresif ketika kehilangan bola.

Inggris mengandalkan energi Jude Bellingham, kemampuan Declan Rice menjaga keseimbangan, serta kreativitas pemain yang bergerak di belakang Harry Kane.

Bellingham akan menjadi perhatian utama Argentina. Ia mencetak gol-gol penting dan sering muncul dari lini kedua ketika lawan terlalu fokus kepada penyerang.

Sebaliknya, Inggris harus memutus aliran bola menuju Messi. Membiarkan kapten Argentina menerima bola dengan ruang di sekitar kotak penalti dapat menciptakan masalah besar.

Scaloni dan Tuchel sama-sama dikenal fleksibel dalam pendekatan taktik. Keduanya dapat mengubah susunan pemain, pola tekanan, atau bentuk pertahanan sesuai jalannya pertandingan.

Scaloni Berusaha Mengendalikan Emosi

Pernyataan Scaloni bahwa pertandingan tersebut “hanya sepak bola” tidak berarti Argentina akan tampil tanpa semangat. Justru sebaliknya, ia ingin emosi para pemain digunakan secara produktif.

Argentina mempunyai tradisi bermain dengan gairah tinggi. Para pemain tidak takut melakukan duel, mempertahankan rekan setim, atau menunjukkan keberanian di bawah tekanan.

Namun, semangat yang berlebihan dapat menimbulkan masalah. Sejarah pertemuan dengan Inggris sudah memperlihatkan bagaimana satu kartu merah mampu menentukan arah pertandingan.

Scaloni ingin timnya agresif tanpa kehilangan disiplin. Ia membutuhkan para pemain untuk tetap tenang ketika terjadi provokasi, keputusan wasit yang tidak disukai, atau tekanan dari pendukung lawan.

Dalam laga semifinal, kemampuan mengendalikan diri sama pentingnya dengan teknik dan kondisi fisik.

Penghormatan terhadap Thomas Tuchel

Scaloni secara terbuka memberikan penghormatan kepada Thomas Tuchel. Pelatih asal Jerman itu mempunyai pengalaman besar di kompetisi klub dan dikenal mampu menyiapkan tim untuk pertandingan sistem gugur.

Tuchel membawa Inggris ke semifinal dengan pendekatan yang memadukan penguasaan bola, kekuatan fisik, dan kemampuan beradaptasi. Meski penampilan timnya belum selalu meyakinkan, hasil yang diperoleh menunjukkan mereka mempunyai karakter.

Scaloni memahami bahwa Inggris dapat menyerang dengan berbagai cara. Mereka memiliki ancaman melalui bola mati, permainan sayap, umpan silang, tembakan jarak jauh, dan pergerakan dari lini kedua.

Memberikan penghormatan kepada lawan juga menjadi cara Scaloni menjaga kewaspadaan. Argentina tidak boleh merasa lebih unggul hanya karena menjadi juara bertahan atau memiliki catatan sejarah yang kuat.

Beban Besar bagi Kedua Negara

Argentina mengejar kesempatan mempertahankan gelar Piala Dunia. Keberhasilan melakukannya akan memperkuat posisi generasi Scaloni sebagai salah satu tim terbaik dalam sejarah negara tersebut.

Inggris membawa beban berbeda. Mereka belum pernah mencapai final Piala Dunia sejak menjadi juara pada 1966. Semifinal ini menjadi kesempatan untuk mendekati akhir penantian selama enam dekade.

Tekanan dari pendukung dan media akan sangat besar. Setiap keputusan susunan pemain, pergantian, serta kesalahan akan dianalisis secara mendalam.

Karena itu, pesan Scaloni mengenai kesederhanaan pertandingan mempunyai tujuan psikologis. Dengan menyebutnya sebagai laga sepak bola, ia mencoba mengurangi beban yang tidak perlu.

Pada akhirnya, sejarah tidak dapat mencetak gol. Nama besar tidak dapat melakukan tekel. Hanya keputusan para pemain selama pertandingan yang akan menentukan siapa yang melaju ke final.

Baca Juga:

TAGS:
CLOSE