1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP: Perpisahan Deschamps dan Ambisi Rekor Mbappe Panaskan Duel Perebutan Tempat Ketiga

Pertandingan perebutan tempat ketiga biasanya menjadi laga yang paling sulit dijelaskan dalam sebuah Piala Dunia. Dua tim yang baru saja kehilangan kesempatan tampil di final harus kembali turun ke lapangan, meskipun kondisi fisik dan emosi mereka belum sepenuhnya pulih. Medali perunggu tentu tetap memiliki nilai, tetapi tidak ada pemain yang datang ke turnamen terbesar sepak bola dunia dengan impian finis di posisi ketiga.

Situasi tersebut akan dihadapi Prancis dan Inggris dalam Piala Dunia 2026. Prancis gagal melangkah ke partai puncak setelah dikalahkan Spanyol 2-0, sedangkan Inggris tersingkir secara dramatis seusai kalah 1-2 dari Argentina. Kedua tim kini harus bertemu di Miami untuk menentukan siapa yang menutup turnamen sebagai peringkat ketiga.

Namun, laga yang awalnya terlihat seperti kewajiban setelah kegagalan di semifinal memiliki beberapa cerita besar. Pertandingan ini akan menjadi penampilan terakhir Didier Deschamps sebagai pelatih tim nasional Prancis setelah memimpin Les Bleus selama 14 tahun. Pada saat bersamaan, Kylian Mbappe masih memburu Sepatu Emas dan berpeluang mendekati rekor gol sepanjang sejarah Piala Dunia.

Dua kepentingan tersebut membuat pertandingan Prancis melawan Inggris memiliki daya tarik tersendiri. Bagi Deschamps, ini adalah kesempatan terakhir meninggalkan tim dengan kemenangan. Bagi Mbappe, laga tersebut dapat menjadi panggung untuk menambahkan pencapaian individual dalam karier yang sejak awal sudah sangat erat dengan Piala Dunia.

Pertandingan yang Tidak Diinginkan Kedua Tim

Prancis dan Inggris sama-sama memasuki turnamen dengan target menjadi juara. Kualitas skuad, pengalaman pemain, serta kedalaman tim membuat keduanya dipandang sebagai kandidat kuat untuk mencapai final.

Prancis bahkan memiliki kesempatan tampil dalam tiga final Piala Dunia secara beruntun. Setelah menjadi juara pada 2018 dan finis sebagai runner-up pada 2022, Les Bleus kembali mencapai semifinal pada 2026. Perjalanan itu menunjukkan konsistensi luar biasa, tetapi Spanyol menghentikan langkah mereka melalui kemenangan meyakinkan 2-0.

Inggris mengalami kekecewaan yang berbeda. Pasukan Thomas Tuchel sempat unggul atas Argentina melalui Anthony Gordon dan berada sangat dekat dengan tiket final. Namun, Enzo Fernandez menyamakan kedudukan pada menit ke-85 sebelum Lautaro Martinez mencetak gol kemenangan Argentina pada pengujung laga.

Kedua tim harus segera mengalihkan perhatian dari rasa kehilangan menuju pertandingan berikutnya. Tuchel secara terbuka mengakui bahwa tidak ada pemain Inggris maupun Prancis yang sejak awal ingin tampil dalam laga perebutan tempat ketiga. Semua pemain datang dengan tujuan mencapai final dan mengangkat trofi.

Komentar itu menggambarkan dilema yang selalu menyertai pertandingan ini. Pemain harus menunjukkan profesionalisme, tetapi secara emosional mereka masih memikirkan kegagalan beberapa hari sebelumnya. Mereka harus mengejar kemenangan dalam laga yang baru menjadi tujuan setelah impian utama berakhir.

Perpisahan Terakhir Didier Deschamps

Bagi Prancis, pertandingan di Miami memiliki makna yang jauh lebih personal. Laga tersebut akan menutup masa kepemimpinan Didier Deschamps yang dimulai pada 2012.

Selama 14 tahun, Deschamps membentuk Prancis menjadi salah satu tim nasional paling konsisten di dunia. Ia mengambil alih tim yang masih berusaha memperbaiki citra setelah masalah internal pada Piala Dunia 2010. Langkah awalnya bukan sekadar menyusun taktik, tetapi mengembalikan disiplin, kepercayaan, dan rasa kebersamaan.

Proses itu menghasilkan periode kesuksesan panjang. Prancis mencapai perempat final Piala Dunia 2014, kemudian melaju ke final Euro 2016. Dua tahun setelah kekalahan dari Portugal dalam final kompetisi Eropa tersebut, Deschamps membawa Les Bleus menjadi juara Piala Dunia 2018 dengan mengalahkan Kroasia.

Prancis juga memenangkan UEFA Nations League 2021 dan nyaris mempertahankan gelar dunia pada 2022. Mereka kalah dari Argentina melalui adu penalti setelah memainkan salah satu final Piala Dunia paling dramatis sepanjang sejarah. Deschamps kemudian membawa negaranya mencapai semifinal untuk edisi ketiga secara berturut-turut pada 2026.

Catatan tersebut menjadikan Deschamps lebih dari sekadar pelatih sukses. Ia merupakan salah satu tokoh terpenting dalam sejarah sepak bola Prancis.

Warisan yang Tidak Terhapus oleh Kekalahan

Kekalahan dari Spanyol memang menggagalkan skenario perpisahan ideal. Deschamps berharap meninggalkan jabatannya dengan gelar dunia kedua sebagai pelatih. Sebaliknya, timnya justru kalah secara teknik, taktik, dan intensitas dalam semifinal.

Namun, satu hasil buruk tidak dapat menghapus pencapaian selama lebih dari satu dekade. Di bawah Deschamps, Prancis mencatatkan 20 kemenangan Piala Dunia dan mencapai semifinal dalam tiga edisi berturut-turut. Ia juga menjadi salah satu dari sedikit sosok yang memenangkan Piala Dunia sebagai pemain sekaligus pelatih.

Sebagai kapten, Deschamps mengangkat trofi pada 1998 ketika Prancis menjadi juara dunia untuk pertama kalinya. Sebagai pelatih, ia mengulangi pencapaian itu pada 2018.

Gaya bermainnya tidak selalu disukai. Kritikus kerap menilai Prancis seharusnya tampil lebih menyerang karena memiliki banyak pemain berbakat. Deschamps lebih mengutamakan keseimbangan, organisasi, kedisiplinan, dan kemampuan beradaptasi.

Pendekatan tersebut mungkin tidak selalu menghasilkan sepak bola yang menghibur, tetapi secara konsisten membawa Prancis ke fase akhir turnamen besar. Deschamps memahami bahwa kompetisi internasional sering ditentukan oleh detail kecil, bukan hanya dominasi atau keindahan permainan.

Pertandingan melawan Inggris menjadi kesempatan terakhir bagi para pemain memberikan penghormatan di lapangan. Kemenangan tidak akan menggantikan tiket final yang hilang, tetapi dapat memberikan penutup lebih pantas bagi pelatih yang mengubah standar tim nasional Prancis.

Mbappe Memiliki Target Berbeda

Apabila Deschamps mengejar perpisahan manis, Kylian Mbappe memiliki alasan lain untuk tampil serius. Kapten Prancis tersebut masih terlibat dalam persaingan Sepatu Emas dan perburuan rekor gol Piala Dunia.

Mbappe telah mencetak delapan gol selama Piala Dunia 2026 dan mengoleksi 20 gol sepanjang penampilannya dalam turnamen tersebut. Pada usia 27 tahun, jumlah itu menempatkannya sangat dekat dengan puncak daftar pencetak gol sepanjang masa.

Yang membuat pencapaiannya semakin luar biasa adalah kecepatan Mbappe mencapai angka tersebut. Ia tampil pertama kali di Piala Dunia pada 2018 dan langsung menjadi bagian penting dari tim juara. Empat tahun kemudian, ia mencetak hat-trick dalam final melawan Argentina serta meraih Sepatu Emas.

Piala Dunia 2026 kembali memperlihatkan bahwa turnamen ini seperti dirancang untuk kualitasnya. Kecepatan, ketajaman, dan kemampuannya menyerang ruang sangat efektif dalam pertandingan internasional, ketika tim lawan tidak memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan sistem pertahanan khusus.

Mbappe belum mampu membawa Prancis ke final ketiga secara berturut-turut. Namun, satu pertandingan tambahan memberinya kesempatan memperkuat catatan personal serta mengakhiri turnamen dengan nada positif.

Persaingan Sepatu Emas Belum Selesai

Gol yang dicetak dalam perebutan tempat ketiga tetap dihitung dalam persaingan Sepatu Emas karena laga itu merupakan pertandingan resmi Piala Dunia.

Menjelang duel di Miami, Lionel Messi dan Mbappe sama-sama mengoleksi delapan gol. Messi berada dalam posisi lebih menguntungkan karena memiliki jumlah assist yang lebih banyak, sementara Mbappe membutuhkan tambahan gol atau kontribusi lain untuk mengambil alih posisi teratas. Harry Kane dan Jude Bellingham juga masih memiliki peluang dengan koleksi enam gol.

Kondisi ini menciptakan lapisan kompetisi yang menarik. Mbappe bukan hanya menghadapi pertahanan Inggris, tetapi secara tidak langsung juga bersaing dengan Messi yang masih akan tampil bersama Argentina dalam final melawan Spanyol.

Apabila Mbappe mencetak satu atau dua gol, tekanan berpindah kepada Messi. Sebaliknya, kegagalan menambah koleksi akan membuat peluangnya merebut Sepatu Emas bergantung pada hasil final.

Perebutan tempat ketiga pernah memberikan dampak besar terhadap rekor pencetak gol. Pada Piala Dunia 1958, Just Fontaine mencetak empat gol ketika Prancis mengalahkan Jerman Barat 6-3. Tambahan tersebut membuatnya mengakhiri turnamen dengan 13 gol, rekor gol terbanyak dalam satu edisi yang masih bertahan.

Sejarah itu memberikan bukti bahwa pertandingan perebutan peringkat ketiga tidak selalu menjadi catatan kecil. Bagi seorang penyerang, laga tersebut bisa menjadi panggung pencapaian besar.

Akankah Mbappe Dimainkan Sejak Awal

Pertanyaan penting menjelang pertandingan adalah apakah Deschamps akan menurunkan Mbappe sejak menit pertama.

Prancis diperkirakan melakukan rotasi besar. Para pemain telah melewati perjalanan panjang dalam format Piala Dunia 48 tim, sementara kondisi fisik dan emosional mereka terkuras setelah gagal di semifinal. Sejumlah pemain yang jarang tampil kemungkinan mendapatkan kesempatan.

Deschamps harus menyeimbangkan dua kepentingan. Ia perlu melindungi kebugaran pemain, tetapi juga memahami keinginan Mbappe mengejar sejarah. Sebagai kapten, Mbappe mungkin ingin memimpin tim pada pertandingan terakhir sang pelatih.

Apabila dimainkan, perannya tidak hanya berkaitan dengan gol. Prancis membutuhkan seseorang yang mampu mengangkat semangat tim setelah kekalahan menyakitkan. Kehadiran pemain terbaik dapat menunjukkan bahwa Les Bleus tetap menghormati pertandingan.

Namun, ada pula risiko. Mbappe telah memainkan banyak menit dan menanggung beban besar sepanjang turnamen. Pertandingan yang tidak menentukan gelar mungkin tidak sebanding dengan kemungkinan cedera atau kelelahan lebih lanjut.

Keputusan akhir akan memperlihatkan bagaimana Deschamps memandang laga terakhirnya: sebagai kesempatan memberikan pengalaman kepada pemain pelapis atau sebagai pertandingan yang tetap harus dimenangkan menggunakan kekuatan terbaik.

Inggris Juga Membawa Ambisi Individual

Mbappe bukan satu-satunya pemain yang memiliki target pribadi. Harry Kane dan Jude Bellingham sama-sama mencatatkan enam gol pada turnamen ini dan secara matematis masih berada dalam persaingan Sepatu Emas.

Kane memahami pentingnya penghargaan individual tersebut. Sebagai pemenang Sepatu Emas Piala Dunia 2018, ia mengetahui bahwa satu pertandingan dapat mengubah posisi dalam daftar pencetak gol.

Namun, Thomas Tuchel kemungkinan juga melakukan rotasi. Inggris baru saja melewati kekalahan emosional melawan Argentina, dan beberapa pemain mengalami kelelahan setelah perjalanan panjang menuju semifinal.

Pemain pelapis dapat memperoleh kesempatan memperlihatkan kualitas. Pertandingan ini mungkin tidak menentukan masa depan Tuchel, tetapi penampilan yang kuat dapat memengaruhi persaingan posisi menjelang Euro 2028.

Bagi pemain muda, menghadapi Prancis tetap menjadi pengalaman berharga. Nama besar lawan, stadion Piala Dunia, serta tekanan mengenakan seragam nasional membuat laga tersebut memiliki nilai meskipun trofi utama sudah tidak dapat diraih.

Inggris juga ingin menghindari pengulangan hasil 2018. Saat itu, mereka kalah 0-2 dari Belgia dalam perebutan tempat ketiga. Sebelumnya, Inggris juga kalah 1-2 dari Italia dalam pertandingan serupa pada 1990. Dengan demikian, The Three Lions belum pernah memenangkan duel perebutan peringkat ketiga.

Kesempatan Memulihkan Harga Diri

Prancis dan Inggris sama-sama harus menemukan alasan kolektif untuk tampil maksimal. Alasan itu dapat berupa harga diri.

Kekalahan pada semifinal meninggalkan kesan terakhir yang buruk. Prancis dinilai gagal menampilkan level terbaiknya saat melawan Spanyol. Inggris dikritik karena terlalu defensif setelah unggul atas Argentina dan kehilangan kendali pada menit-menit akhir.

Kemenangan di Miami tidak akan mengubah penilaian bahwa kedua tim gagal mencapai target utama. Namun, kemenangan dapat mencegah turnamen berakhir dengan dua kekalahan berturut-turut.

Dalam kompetisi internasional, momentum terakhir sering memengaruhi cara sebuah perjalanan dikenang. Tim yang finis ketiga dapat pulang dengan perasaan telah memberikan respons. Tim yang finis keempat harus membawa kekecewaan tambahan setelah sebelumnya begitu dekat dengan final.

Pertandingan ini juga menjadi ujian karakter. Bermain ketika motivasi tinggi relatif mudah. Tantangan sesungguhnya adalah tetap profesional ketika hasil yang diperebutkan bukanlah sesuatu yang sejak awal diinginkan.

Deschamps telah membangun Prancis dengan prinsip disiplin dan tanggung jawab. Ia tentu berharap prinsip tersebut terlihat sekali lagi. Tuchel juga membutuhkan respons dari Inggris setelah keputusan taktisnya dalam semifinal mendapatkan banyak kritik.

Potensi Pertandingan Lebih Terbuka

Laga perebutan tempat ketiga sering menghasilkan permainan menyerang. Beban hasil tidak sebesar semifinal atau final, sehingga para pemain cenderung mengambil lebih banyak risiko.

Rotasi juga dapat mengubah dinamika. Pemain yang baru mendapatkan kesempatan biasanya ingin membuktikan kemampuan. Mereka berlari lebih agresif, menyerang lebih langsung, dan tidak terlalu takut melakukan kesalahan.

Prancis memiliki banyak pilihan ofensif. Selain Mbappe, Deschamps dapat menggunakan Ousmane Dembele serta sejumlah penyerang muda yang membutuhkan menit bermain. Inggris juga mempunyai kecepatan di sisi lapangan dan pemain tengah yang mampu tiba di kotak penalti.

Apabila kedua tim menurunkan susunan berbeda, organisasi pertahanan mungkin tidak sekuat biasanya. Hal ini dapat menciptakan lebih banyak ruang dan peluang.

Kondisi tersebut menguntungkan Mbappe. Pertandingan terbuka memungkinkan dirinya menggunakan kecepatan dalam transisi. Inggris harus berhati-hati ketika kehilangan bola, terutama apabila bek mereka bergerak tinggi.

Sebaliknya, pertahanan Prancis juga tidak selalu terlihat nyaman ketika ditekan. Inggris dapat menggunakan pertandingan ini untuk kembali memainkan sepak bola lebih berani setelah terlalu pasif melawan Argentina.

Baca Juga:

TAGS:
CLOSE