Temuan koroner mengenai kematian Nobby Stiles kembali membuka perdebatan besar tentang keselamatan pemain sepak bola. Mantan gelandang Manchester United dan anggota skuad Inggris yang menjuarai Piala Dunia 1966 itu dinyatakan menderita cedera otak kronis yang berkaitan dengan kebiasaannya menyundul bola berulang kali selama berkarier.
Dalam pemeriksaan di Stockport Coroner’s Court, koroner mencatat penyakit Alzheimer sebagai penyebab utama kematian Stiles. Namun, kondisinya juga diperburuk oleh chronic traumatic encephalopathy atau CTE stadium lanjut, penyakit degeneratif yang berhubungan dengan paparan benturan kepala berulang. Berdasarkan bukti yang diperiksa, koroner menyimpulkan bahwa CTE tersebut muncul akibat aktivitas menyundul bola selama karier profesionalnya.
Keputusan itu penting karena tidak sekadar menghubungkan riwayat bermain sepak bola dengan gangguan kesehatan secara umum. Dalam kasus Stiles, koroner secara khusus menerima penjelasan ahli neuropatologi bahwa kebiasaan menyundul bola berulang kemungkinan besar menyebabkan CTE yang kemudian turut memperburuk kondisi otaknya.
Stiles meninggal pada Oktober 2020 dalam usia 78 tahun setelah hidup dengan demensia berat. Selama bertahun-tahun sebelum kematiannya, keluarganya telah mendesak otoritas sepak bola agar memberikan perhatian lebih besar kepada mantan pemain yang menghadapi penyakit neurodegeneratif.
Temuan terbaru ini membuat kisah Stiles bukan lagi hanya cerita mengenai kejayaan seorang juara dunia. Ia juga menjadi simbol tentang harga kesehatan yang mungkin dibayar pemain setelah puluhan tahun menjalani olahraga yang mereka cintai.
Sosok Penting dalam Sejarah Sepak Bola Inggris
Nobby Stiles dikenal sebagai gelandang bertahan yang tidak takut menghadapi pemain terbaik dunia. Posturnya tidak besar, tetapi kemampuan membaca permainan, keberanian melakukan tekel, dan kedisiplinannya membuat ia menjadi bagian penting dari Manchester United serta tim nasional Inggris.
Ia memainkan setiap menit dalam perjalanan Inggris menjuarai Piala Dunia 1966. Salah satu tugas terbesarnya pada turnamen tersebut adalah membatasi pergerakan bintang Portugal, Eusebio, dalam pertandingan semifinal. Inggris kemudian mengalahkan Jerman Barat di final dan meraih satu-satunya gelar Piala Dunia mereka hingga saat ini.
Perayaan Stiles setelah final menjadi salah satu gambar paling terkenal dalam sejarah sepak bola Inggris. Ia menari di lapangan Wembley sambil membawa trofi di satu tangan dan gigi palsunya di tangan lainnya. Momen tersebut menggambarkan karakter sederhana sekaligus penuh kegembiraan dari seorang pemain yang sebelumnya jarang menjadi pusat perhatian.
Bersama Manchester United, Stiles menjalani karier selama 11 musim dan mencatatkan 395 penampilan. Ia memenangkan dua gelar liga pada 1965 dan 1967, kemudian membantu klub menjadi tim Inggris pertama yang mengangkat Piala Champions Eropa pada 1968. Stiles dan Bobby Charlton tercatat sebagai dua pemain Inggris yang memenangkan final Piala Dunia serta final Piala Champions Eropa.
Di lapangan, ia dikenal keras dan kompetitif. Di luar pertandingan, keluarga menggambarkannya sebagai pribadi rendah hati yang jarang membicarakan pencapaiannya. Menurut putranya, John Stiles, kehidupan keluarga selalu menjadi prioritas dan identitas sebagai pesepak bola hampir tidak pernah dibawa ke rumah.
Kontras tersebut membuat akhir hidup Stiles terasa semakin menyedihkan. Seorang pemain yang pernah berdiri di puncak sepak bola dunia harus menghabiskan tahun-tahun terakhirnya dengan kehilangan ingatan, mengalami kecemasan, dan membutuhkan perawatan penuh.
Apa yang Diputuskan Koroner
Judul yang menyatakan kematian Stiles berkaitan dengan menyundul bola perlu dipahami secara tepat. Koroner tidak menyebut sundulan sebagai satu-satunya penyebab kematian. Penyebab utama yang dicatat adalah penyakit Alzheimer, tetapi CTE stadium lanjut dinilai turut berkontribusi terhadap kematiannya.
Koroner senior Alison Mutch menyatakan dirinya puas, berdasarkan keseimbangan bukti dalam pemeriksaan, bahwa Stiles mengembangkan CTE karena berulang kali menyundul bola selama berkarier. Menurut kesimpulan tersebut, tanpa paparan sundulan berulang, kecil kemungkinan ia mengalami kondisi yang sama.
Ahli neuropatologi Dr Daniel Du Plessis memeriksa sampel jaringan otak dan catatan medis Stiles. Ia menyampaikan keyakinannya bahwa tingginya jumlah sundulan yang dilakukan Stiles menjadi penyebab CTE. Ketika ditanya langsung apakah sundulan berulang menyebabkan kondisi tersebut, ia memberikan jawaban tegas.
Selain Alzheimer dan CTE, catatan medis Stiles juga menyebut kondisi neurologis serta penyakit pembuluh darah otak lainnya. Artinya, penurunan kesehatannya tidak dapat dipandang sebagai proses yang hanya melibatkan satu penyakit. Namun, keputusan koroner menempatkan cedera terkait karier sepak bolanya sebagai bagian penting dalam rangkaian tersebut.
Temuan ini merupakan keputusan hukum dan medis yang berfokus pada kasus individual Stiles. Ia tidak secara otomatis membuktikan bahwa setiap pemain yang menyundul bola akan mengalami demensia. Akan tetapi, keputusan tersebut menambah bukti kasus bahwa paparan kepala berulang dalam sepak bola dapat membawa konsekuensi serius bagi sebagian pemain.
Sekitar 140.000 Sundulan Selama Berkarier
Salah satu fakta paling mengejutkan dalam pemeriksaan adalah perkiraan jumlah sundulan yang dilakukan Stiles. Putranya menghitung bahwa sang ayah mungkin menyundul bola sekitar 40 kali per hari, lima hari setiap pekan, selama kurang lebih 17 tahun terlibat dalam latihan dan pertandingan.
Berdasarkan hitungan tersebut, jumlah keseluruhannya diperkirakan mencapai lebih dari 136.000 sundulan dan sering dibulatkan menjadi sekitar 140.000. Perkiraan itu mencakup aktivitas latihan, bukan hanya kejadian dalam pertandingan resmi.
Pada masa itu, latihan sundulan dilakukan secara rutin. Di Manchester United, pemain bahkan disebut berlatih menggunakan bola yang digantung pada tali dari langit-langit. Bola tersebut dapat disundul berulang kali untuk memperbaiki teknik, kekuatan, serta penempatan arah.
Latihan semacam itu dahulu dianggap normal. Tidak ada pemahaman luas mengenai kemungkinan efek jangka panjang dari benturan kepala ringan yang terjadi ribuan kali. Pemain juga dibesarkan dalam budaya olahraga yang menilai ketangguhan sebagai kemampuan untuk terus bermain tanpa mengeluhkan rasa sakit.
Bola yang digunakan pada era Stiles berbeda dari bola modern. Berat resminya berada di kisaran 16 ons dan permukaan kulitnya dapat menyerap air ketika dimainkan dalam cuaca basah. Kondisi tersebut dapat membuat pengalaman menyundul terasa lebih berat, meskipun penelitian modern menunjukkan risiko tidak hanya terbatas pada jenis bola lama.
Hal yang menjadi perhatian utama bukan semata-mata satu sundulan keras. Risiko mungkin muncul dari akumulasi paparan yang terjadi berkali-kali selama latihan dan pertandingan. Seorang pemain dapat tidak pernah mengalami gegar otak yang jelas, tetapi tetap menerima ribuan benturan kecil sepanjang karier.
Mengenal CTE dan Hubungannya dengan Trauma Kepala
CTE merupakan penyakit degeneratif pada otak yang dikaitkan dengan paparan benturan kepala berulang. Kondisi ini paling sering dibahas dalam olahraga kontak seperti tinju, American football, rugby, dan sepak bola.
CTE dapat berkaitan dengan perubahan perilaku, gangguan suasana hati, kehilangan ingatan, kesulitan berpikir, serta penurunan fungsi neurologis secara progresif. Namun, gejalanya dapat menyerupai penyakit lain dan diagnosis definitif biasanya membutuhkan pemeriksaan jaringan otak setelah seseorang meninggal.
Dalam kasus Stiles, pemeriksaan setelah kematiannya menunjukkan CTE stadium lanjut bersama Alzheimer. Kombinasi kedua penyakit tersebut dinilai menjelaskan demensia berat yang dialaminya.
Penting untuk membedakan antara gegar otak dan paparan kepala berulang. Gegar otak adalah cedera yang biasanya menimbulkan gejala langsung seperti pusing, kebingungan, sakit kepala, gangguan keseimbangan, atau kehilangan kesadaran. Sementara itu, seorang pemain dapat mengalami banyak benturan yang tidak menimbulkan gejala gegar otak tetapi tetap memberikan beban mekanis kepada otak.
Perdebatan ilmiah saat ini berusaha memahami seberapa besar peran setiap faktor. Jumlah sundulan, kecepatan bola, teknik, usia ketika paparan dimulai, posisi pemain, riwayat gegar otak, genetika, serta kondisi kesehatan lain mungkin sama-sama memengaruhi risiko.
Karena itu, temuan koroner tentang Stiles sangat kuat untuk menjelaskan kasus pribadinya, tetapi penelitian populasi tetap dibutuhkan untuk menentukan tingkat risiko pada kelompok pemain yang berbeda.
Bukti dari Penelitian Mantan Pesepak Bola
Kekhawatiran terhadap kesehatan otak mantan pemain semakin meningkat setelah publikasi studi FIELD pada 2019. Penelitian tersebut membandingkan catatan kesehatan 7.676 mantan pemain profesional di Skotlandia dengan lebih dari 23.000 orang dari populasi pembanding.
Studi itu menemukan bahwa mantan pemain profesional sekitar 3,5 kali lebih mungkin meninggal karena penyakit neurodegeneratif dibandingkan kelompok yang memiliki karakteristik sosial dan usia serupa. Sebanyak 11 persen mantan pemain yang meninggal memiliki demensia dalam catatan penyebab kematian, dibandingkan sekitar 3 persen dalam kelompok pembanding.
Temuan itu sangat penting, tetapi penelitian FIELD tidak dapat menentukan penyebab pasti peningkatan risiko tersebut. Studi tersebut tidak bisa memastikan apakah penyebabnya adalah sundulan, gegar otak, cara cedera ditangani, karakter bola, posisi bermain, gaya hidup, atau kombinasi beberapa faktor.
Perbedaan ini sering menjadi pusat perdebatan. Keluarga mantan pemain menilai pola penyakit yang muncul sudah cukup kuat untuk mendorong tindakan cepat. Otoritas sepak bola menekankan bahwa hubungan sebab-akibat pada seluruh populasi masih membutuhkan penelitian lebih jauh.
Keputusan dalam kasus Stiles memberi bobot tambahan kepada pihak keluarga karena seorang koroner, setelah mendengar bukti ahli, menerima sundulan berulang sebagai penyebab CTE dalam kasus tersebut. Namun, posisi ilmiah yang lebih luas tetap berkembang dan tidak seluruh pertanyaan telah terjawab.
Pendekatan yang masuk akal bukan memilih antara penelitian dan tindakan pencegahan. Keduanya dapat berjalan bersamaan. Sepak bola bisa terus mendukung penelitian sambil mengurangi paparan yang tidak diperlukan, memperbaiki protokol cedera, serta memberikan bantuan kepada pemain yang sudah terdampak.
Perjuangan Keluarga Stiles
Keluarga Stiles telah lama menyatakan bahwa sepak bola berperan besar dalam penurunan kesehatan sang legenda. John Stiles menjadi salah satu suara paling keras yang menuntut perubahan dan mendirikan kelompok Football Families for Justice.
Kelompok tersebut mewakili pemain dan keluarga yang menghadapi demensia atau penyakit neurologis setelah karier di sepak bola. Mereka meminta dukungan perawatan, pengakuan terhadap risiko pekerjaan, dan tanggung jawab lebih besar dari badan pengelola.
John menyebut ayahnya mengalami penurunan ingatan sejak akhir usia 50-an atau awal 60-an. Stiles mulai melupakan percakapan, mengulang pertanyaan, dan mengalami kecemasan berat. Pada tahap lanjut, ia membutuhkan perawatan penuh dan tidak lagi mampu menjalani kehidupan secara mandiri.
Kondisi finansial keluarga juga menjadi bagian dari cerita. Stiles menjual koleksi medalinya pada 2010 ketika biaya perawatan terus meningkat. Medali tersebut kemudian dibeli Manchester United, tetapi fakta bahwa seorang juara dunia harus menjual benda bersejarah untuk membantu kebutuhan keluarga memicu kritik terhadap sistem dukungan bagi mantan pemain.
John dan sejumlah keluarga lain juga terlibat dalam gugatan terhadap FA, Football Association of Wales, dan English Football League. Mereka menuduh badan-badan tersebut lalai dalam menjalankan tanggung jawab melindungi pemain dari risiko cedera otak.
Pihak FA sebelumnya menyatakan bahwa ilmu pengetahuan belum secara konklusif membuktikan bahwa sundulan atau gegar otak sesekali menyebabkan kerusakan otak permanen. Gugatan tersebut merupakan proses hukum terpisah, sehingga keputusan koroner dalam kasus Stiles tidak dengan sendirinya menentukan hasilnya.
Respons dan Perubahan Aturan Sepak Bola
Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai bukti ilmiah, aturan serta pedoman sundulan di Inggris sudah mengalami perubahan. FA memperkenalkan panduan untuk mengurangi atau menghapus latihan sundulan pada kelompok usia anak-anak sejak 2020.
Pada 2024, FA mengumumkan penghapusan sundulan yang disengaja secara bertahap dalam pertandingan sepak bola akar rumput kelompok U7 sampai U11. Aturan tersebut diterapkan mulai dari U7–U9 pada musim 2024/25, diperluas ke U10 pada 2025/26, dan mencakup U11 pada 2026/27.
Tujuannya adalah mengurangi potensi faktor risiko dan memberi anak lebih banyak kesempatan mengembangkan teknik menggunakan kaki. Sundulan baru diperkenalkan ketika pemain memasuki fase U12, dengan proses latihan yang seharusnya dilakukan secara bertahap.
Selain aturan usia muda, sepak bola profesional juga menerapkan batas latihan sundulan dengan kekuatan tinggi serta protokol gegar otak. Namun, para aktivis menilai pelaksanaan dan pengawasan masih perlu diperkuat.
Perubahan tidak cukup hanya melalui aturan tertulis. Pelatih harus memahami alasan di balik pembatasan, staf medis perlu memiliki wewenang menarik pemain dari lapangan, dan pemain tidak boleh merasa kariernya terancam karena melaporkan gejala cedera kepala.
Tekanan budaya juga perlu berubah. Selama puluhan tahun, pemain yang tetap bertanding setelah benturan sering dipuji sebagai sosok pemberani. Dalam perspektif keselamatan modern, keberanian seharusnya tidak diukur dari kesediaan mengabaikan gejala neurologis.
Baca Juga:












