Sebuah foto lama memperlihatkan Lionel Messi duduk di samping bak plastik berwarna biru. Tangannya tampak berhati-hati menopang seorang bayi yang sedang dimandikan. Di dekat mereka, ibu sang bayi ikut membantu sambil tersenyum. Tidak ada lapangan sepak bola, sorakan penonton, trofi, atau seragam pertandingan dalam gambar tersebut. Pemandangannya sederhana, bahkan terkesan seperti potret keluarga biasa.
Namun, foto itu kemudian menjadi salah satu gambar paling menarik dalam sejarah sepak bola modern. Bayi yang berada di dalam bak tersebut ternyata adalah Lamine Yamal, pemain muda yang bertahun-tahun kemudian berkembang menjadi salah satu bintang terbesar Barcelona dan tim nasional Spanyol.
Foto tersebut diambil pada 2007 ketika Messi berusia 20 tahun dan baru memasuki tahap awal perjalanannya menuju status legenda. Yamal saat itu baru berusia sekitar lima bulan. Keduanya dipertemukan bukan karena hubungan keluarga atau rencana khusus Barcelona untuk memperkenalkan calon penerus Messi, melainkan melalui sebuah kegiatan amal yang melibatkan UNICEF, harian olahraga Catalonia Sport, pemain Barcelona, serta keluarga-keluarga setempat.
Hampir dua dekade kemudian, foto itu terlihat seperti adegan yang disusun oleh penulis film. Seorang calon legenda sedang memandikan bayi yang kelak tumbuh menjadi pemain fenomenal dari klub yang sama. Padahal, ketika tombol kamera ditekan, tidak seorang pun di ruangan tersebut mengetahui bahwa gambar sederhana itu akan memperoleh makna begitu besar.
Berawal dari Kalender Amal
Pemotretan tersebut merupakan bagian dari proyek kalender amal yang diselenggarakan oleh Sport bersama UNICEF. Konsepnya mempertemukan pemain-pemain Barcelona dengan anak-anak dan keluarga mereka untuk menghasilkan rangkaian foto yang nantinya digunakan dalam kegiatan penggalangan dana.
Joan Monfort, fotografer lepas yang bekerja untuk Associated Press, mendapat tugas mengambil foto-foto tersebut. Ia memotret sejumlah pemain Barcelona dalam berbagai adegan bersama anak-anak. Pada hari yang mempertemukan Messi dan keluarga Yamal, tim produksi menyiapkan sebuah bak bayi, air, sabun, handuk, serta beberapa mainan kecil.
Keluarga Lamine tidak dipilih karena mempunyai hubungan khusus dengan Barcelona. Menurut penuturan Monfort, UNICEF mengadakan undian di kawasan Rocafonda, Mataró, tempat keluarga Yamal tinggal. Keluarga yang berpartisipasi berkesempatan menjalani sesi foto dengan pemain Barcelona. Keluarga Yamal menjadi salah satu pemenangnya.
Keberuntungan tersebut membawa Lamine kecil dan ibunya, Sheila Ebana, ke lokasi pemotretan. Mereka belum mengetahui siapa pemain yang akan dipasangkan dengan mereka. Pada akhirnya, pemain yang datang adalah Messi.
Saat itu Messi memang telah dikenal sebagai talenta luar biasa, tetapi ia belum memiliki sederet pencapaian yang kemudian menjadikannya salah satu pemain terbaik sepanjang masa. Ia belum memenangkan delapan Ballon d’Or, belum menjadi pencetak gol terbanyak Barcelona, dan belum membawa Argentina menjuarai Piala Dunia. Ia masih seorang pemain muda yang sedang menapaki perjalanan panjangnya.
Dengan kata lain, sesi tersebut mempertemukan dua sosok yang sama-sama belum mencapai puncak. Messi sudah menunjukkan tanda-tanda kebesaran, sedangkan Yamal bahkan belum bisa berjalan.
Messi Sempat Canggung Menggendong Yamal
Foto yang beredar memberikan kesan seolah-olah Messi sangat nyaman merawat bayi. Kenyataannya, proses pemotretan tidak langsung berjalan mulus. Joan Monfort mengenang Messi sebagai pribadi yang pendiam dan cenderung pemalu. Setelah keluar dari ruang ganti, pemain Argentina itu mendapati dirinya berada di ruangan lain dengan bak plastik berisi air serta seorang bayi yang harus digendong dan dimandikan untuk kebutuhan kamera.
Messi disebut sempat tidak mengetahui cara memegang sang bayi dengan benar. Situasi tersebut dapat dimaklumi karena ia baru berusia 20 tahun dan kemungkinan tidak terbiasa menjalani sesi foto seperti itu. Sheila Ebana kemudian membantu mengarahkan tangannya agar Yamal tetap aman dan nyaman.
Monfort harus membangun suasana perlahan. Ia tidak hanya memikirkan komposisi gambar, tetapi juga memastikan bayi tidak menangis, Messi merasa lebih santai, dan interaksi di antara mereka terlihat alami.
Kesulitan teknis tersebut justru membuat hasil akhirnya terasa hangat. Messi terlihat memusatkan perhatian kepada bayi di depannya. Dalam salah satu foto, ia memegang Yamal di dalam bak. Pada gambar lainnya, Messi menggendong bayi tersebut setelah tubuhnya dibungkus handuk. Sheila berada di samping mereka dalam beberapa pengambilan gambar.
Tidak ada pose kemenangan atau ekspresi dramatis. Daya tarik foto itu berasal dari kesederhanaannya. Messi bukan ditampilkan sebagai superstar, melainkan sebagai pemuda yang berusaha membantu seorang ibu memandikan anaknya.
Identitas Bayi Lama Tidak Diketahui Publik
Setelah proyek kalender selesai, foto Messi dan Yamal tidak langsung menjadi fenomena. Gambar itu tersimpan sebagai bagian dari arsip pemotretan amal dan hanya dikenal dalam lingkup terbatas.
Bahkan Joan Monfort sendiri tidak menyadari bahwa bayi yang pernah dipotretnya telah berkembang menjadi pemain Barcelona. Selama bertahun-tahun, gambar tersebut tidak memiliki hubungan dengan cerita sepak bola Yamal karena identitas bayi di dalamnya belum diketahui secara luas.
Situasinya berubah pada Juli 2024. Ayah Lamine, Mounir Nasraoui, mengunggah salah satu foto lama tersebut ke media sosial. Ia menyertakan keterangan yang kurang lebih berarti “awal dari dua legenda.”
Unggahan itu muncul ketika Yamal sedang mencuri perhatian bersama Spanyol di Euro 2024. Publik segera menyadari bahwa bayi yang dimandikan Messi adalah pemain remaja yang sedang memecahkan berbagai rekor di turnamen Eropa. Foto tersebut kemudian tersebar dengan cepat melalui media sosial, portal berita, program televisi, dan komunitas sepak bola.
Monfort baru memahami identitas bayi itu setelah foto hasil karyanya menjadi viral. Ia mengaku terkejut sekaligus bahagia karena sebuah gambar yang diambil bertahun-tahun sebelumnya memperoleh kehidupan baru.
Seorang fotografer menghasilkan ribuan bahkan jutaan gambar selama kariernya. Sebagian besar mungkin hanya digunakan sekali lalu tersimpan di arsip. Namun, beberapa foto mendapatkan makna yang tidak pernah dapat direncanakan pada saat pemotretan. Foto Messi dan Yamal termasuk dalam kategori langka tersebut.
Bukan Ritual atau Ramalan Sepak Bola
Popularitas gambar itu melahirkan berbagai lelucon. Sebagian penggemar mengatakan Messi sedang “memberikan berkah” kepada Yamal. Ada pula yang menyebut sang bayi memperoleh kemampuan bermain sepak bola setelah dimandikan oleh legenda Argentina.
Narasi tersebut tentu hanya humor. Pemotretan itu tidak mempunyai unsur ramalan, ritual, atau upaya Barcelona memperkenalkan penerus Messi. Yamal dipertemukan dengan Messi secara kebetulan melalui kegiatan amal. Tidak ada seorang pun yang mengetahui masa depan bayi tersebut.
Justru ketidaksengajaan itulah yang membuat kisahnya terasa istimewa. Apabila foto tersebut sengaja dirancang setelah Yamal menjadi bintang, daya tariknya tidak akan sama. Keajaibannya muncul karena hubungan antara masa lalu dan masa depan baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
Foto itu memperlihatkan bagaimana sebuah momen biasa dapat berubah menjadi simbol besar setelah waktu memberikan konteks baru. Pada 2007, gambarnya adalah potret seorang pemain Barcelona bersama sebuah keluarga. Pada 2024 dan setelahnya, foto yang sama dianggap sebagai pertemuan dua generasi sepak bola.
Publik senang membangun cerita dari kebetulan. Dalam kasus ini, ceritanya terlalu sempurna untuk diabaikan: Messi, pemain kidal Barcelona yang menyerang dari sisi kanan, menggendong seorang bayi yang kemudian menjadi pemain kidal Barcelona dengan kemampuan menggiring bola dan menciptakan peluang dari area serupa.
Walaupun perjalanan mereka tidak ditentukan oleh foto tersebut, kesamaan itu membuat gambar Monfort terasa seperti halaman pembuka dari kisah yang baru dipahami setelah bab-bab berikutnya selesai ditulis.
Messi pada Awal Perjalanan Menuju Puncak
Untuk memahami kekuatan simbolis foto tersebut, penting melihat posisi Messi pada 2007. Ia bukan pemain yang tidak dikenal. Talenta dan kemampuannya telah menarik perhatian, tetapi sebagian besar pencapaian terbesar dalam kariernya masih berada di masa depan.
Messi kemudian menjadi bagian utama dari era keemasan Barcelona. Ia memenangkan sepuluh gelar La Liga, empat Liga Champions, tujuh Copa del Rey, dan berbagai trofi lainnya bersama klub Catalonia tersebut. Ia juga berkembang menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Barcelona.
Perjalanannya bersama Argentina membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai kesempurnaan. Setelah menghadapi kritik dan beberapa kekalahan di final, Messi akhirnya memenangkan Copa América dan mengangkat trofi Piala Dunia.
Semua pencapaian itu belum terjadi ketika ia duduk di sebelah bak biru bersama Yamal. Foto tersebut menangkap Messi sebelum dunia mengetahui seberapa jauh ia akan melangkah.
Hal ini menciptakan paralel menarik. Ketika foto itu kembali beredar, Yamal juga masih berada pada bagian awal kariernya. Ia telah menunjukkan kemampuan luar biasa, tetapi perjalanan profesionalnya masih sangat panjang.
Messi dalam foto itu mengingatkan publik bahwa setiap legenda pernah menjadi pemain muda dengan masa depan yang belum pasti. Yamal yang kini dibandingkan dengannya juga harus melewati proses, tekanan, perubahan performa, dan berbagai tantangan sebelum warisannya dapat dinilai secara lengkap.
Perjalanan Yamal dari Rocafonda ke Barcelona
Lamine Yamal lahir pada 13 Juli 2007 dan tumbuh di lingkungan Rocafonda, Mataró. Kawasan tersebut memiliki arti penting dalam identitasnya. Ia sering menggunakan gestur angka 304 saat merayakan gol, merujuk kepada bagian dari kode pos lingkungan tempat ia dibesarkan.
Yamal kemudian masuk ke sistem pembinaan Barcelona dan berkembang di La Masia. Kemampuannya membuat ia naik melalui berbagai kelompok usia dengan sangat cepat.
Pada April 2023, ia menjalani debut bersama tim utama Barcelona ketika usianya masih 15 tahun. Kehadirannya segera menarik perhatian karena keberaniannya menghadapi lawan, kontrol bola yang matang, visi bermain, serta ketenangan yang tidak lazim untuk pemain seusianya.
Yamal juga menembus tim nasional senior Spanyol dan menjadi pemain termuda yang tampil serta mencetak gol bagi negaranya. Pada Euro 2024, ia memainkan peran besar dalam keberhasilan Spanyol menjadi juara dan menerima penghargaan Pemain Muda Terbaik turnamen.
Lonjakan karier itu membuat foto bersama Messi terasa semakin luar biasa. Bayi yang secara kebetulan dipasangkan dengan bintang Barcelona benar-benar tumbuh menjadi pemain Barcelona dan Spanyol.
Namun, penting untuk tidak mengurangi kisah Yamal menjadi sekadar “penerus Messi.” Ia mempunyai latar belakang, identitas, gaya, dan perjalanan sendiri. Foto tersebut menghubungkan mereka secara visual, tetapi tidak berarti Yamal harus mengulang seluruh karier Messi untuk dianggap sukses.
Mengapa Yamal Sering Dibandingkan dengan Messi?
Perbandingan muncul bukan hanya karena foto viral. Keduanya sama-sama berkembang di Barcelona, dominan menggunakan kaki kiri, dan sering memulai pergerakan dari sisi kanan sebelum masuk ke area tengah.
Messi dikenal karena kontrol bolanya yang sangat rapat, perubahan arah, visi, kemampuan mengirim umpan, dan penyelesaian akhir. Yamal menunjukkan sejumlah karakteristik serupa, terutama dalam keberaniannya menghadapi bek serta kemampuannya menciptakan peluang dari ruang sempit.
Meski demikian, kesamaan tidak berarti identik. Yamal memiliki tubuh, ritme, kebiasaan mengambil keputusan, dan lingkungan taktik yang berbeda. Ia berkembang dalam generasi sepak bola baru, ketika analisis data, struktur tekanan, dan tuntutan fisik terus berubah.
Perbandingan dengan Messi dapat menjadi bentuk pujian, tetapi juga membawa beban besar. Hampir tidak ada pemain yang dapat memenuhi standar karier Messi. Menuntut Yamal mengulangi semua pencapaian tersebut bukan hanya tidak realistis, tetapi juga dapat menghalangi publik menikmati perkembangan uniknya sendiri.
Foto bayi itu sebaiknya dipandang sebagai hubungan sejarah yang menyenangkan, bukan sebagai kontrak yang mewajibkan Yamal menjadi “Messi berikutnya.”
Yamal tidak perlu menjadi salinan siapa pun. Ia hanya perlu mengembangkan kemampuannya, menjaga kesehatan, dan membangun karier berdasarkan identitasnya sendiri.
Peran Sheila Ebana dalam Foto Ikonis
Dalam berbagai pembicaraan di media sosial, perhatian sering hanya diarahkan kepada Messi dan Yamal. Padahal, Sheila Ebana merupakan bagian penting dari foto serta cerita di baliknya.
Ia hadir mendampingi anaknya selama pemotretan, membantu Messi memegang Yamal, dan memastikan sang bayi tetap aman. Tanpa kehadirannya, adegan tersebut mungkin tidak akan menghasilkan interaksi yang sama. UNICEF USA mengidentifikasi Sheila sebagai ibu yang membantu memandikan Yamal bersama Messi dalam sesi itu.
Foto tersebut bukan hanya pertemuan dua pesepak bola dari generasi berbeda. Gambar itu juga merupakan potret seorang ibu muda yang membawa anaknya mengikuti kegiatan komunitas tanpa mengetahui bahwa momen tersebut kelak dilihat oleh jutaan orang.
Kisah Sheila mengingatkan bahwa di balik perjalanan atlet besar selalu terdapat keluarga dan lingkungan yang memainkan peran penting. Sebelum seorang pemain memasuki akademi, tampil di stadion, atau menjadi sorotan media, ada orang-orang yang merawat, mendampingi, dan mendukungnya.
Dalam foto itu, Messi mungkin menjadi nama paling terkenal. Namun, Sheila merupakan sosok yang memberikan rasa alami dan kehangatan pada adegan tersebut.
Kekuatan Fotografi dalam Menyimpan Waktu
Nilai terbesar dari karya Joan Monfort bukan hanya kualitas visualnya, melainkan kemampuan foto tersebut menghubungkan dua titik waktu.
Fotografi membekukan satu pecahan detik. Orang-orang di dalam gambar tidak mengetahui apa yang akan terjadi satu tahun, sepuluh tahun, atau dua dekade kemudian. Namun, ketika masa depan tiba, publik dapat kembali melihat gambar lama dengan pemahaman baru.
Pada saat pemotretan, Messi belum menjadi legenda dengan seluruh trofinya. Yamal belum menjadi pesepak bola. Monfort hanya berusaha menyelesaikan tugas untuk kalender amal.
Kini, setiap unsur kecil dalam foto terasa penting: bak plastik berwarna biru, mainan bebek di dekatnya, posisi tangan Messi, tatapan Yamal, dan kehadiran Sheila.
Tidak satu pun detail itu dirancang sebagai simbol. Waktulah yang mengubahnya menjadi simbol.
Itulah perbedaan antara foto viral biasa dan foto yang mempunyai nilai sejarah. Gambar viral dapat menarik perhatian selama beberapa hari, sedangkan foto bersejarah terus memperoleh lapisan makna baru seiring perkembangan orang, tempat, dan peristiwa yang direkamnya.
Monfort mengungkapkan kebahagiaan karena fotonya dikaitkan dengan cerita yang membawa kegembiraan di tengah dunia sepak bola yang sering didominasi pembicaraan mengenai uang dan kekuasaan.
Dari Kegiatan Sosial Menjadi Bagian Sejarah Sepak Bola
Asal-usul foto tersebut juga memperlihatkan sisi lain dari hubungan Barcelona dengan UNICEF. Kegiatan itu awalnya mempunyai tujuan sosial, bukan menciptakan materi promosi pemain masa depan.
Anak-anak dan keluarga menjadi pusat proyek kalender. Para pemain menggunakan popularitas mereka untuk mendukung kegiatan amal, sedangkan hasil pemotretan membantu menarik perhatian terhadap program yang dijalankan.
Pertemuan Messi dan Yamal menunjukkan bahwa proyek sosial terkadang menghasilkan warisan yang tidak terduga. Dampaknya tidak hanya diukur melalui dana yang terkumpul, tetapi juga melalui kenangan dan hubungan manusia yang tercipta.
Foto itu kini membuat generasi baru mengenal kembali proyek tersebut. Banyak orang yang awalnya hanya tertarik kepada hubungan Messi dan Yamal akhirnya mengetahui bahwa gambar tersebut lahir dari kegiatan bersama UNICEF.
Dengan demikian, viralnya foto tersebut membawa cerita kembali kepada tujuan awalnya: menempatkan anak-anak, keluarga, dan kepedulian sosial di tengah perhatian publik.
Baca Juga:












