1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP: Inggris Menggila Hancurkan Prancis 4-0 sebelum Turun Minum

Inggris memperlihatkan salah satu penampilan babak pertama paling eksplosif di Piala Dunia 2026 ketika menghadapi Prancis dalam pertandingan perebutan tempat ketiga. Dalam waktu 45 menit, The Three Lions mencetak empat gol tanpa balas melalui Declan Rice, Ezri Konsa, dan dua gol Bukayo Saka.

Tim asuhan Thomas Tuchel membuka keunggulan ketika pertandingan baru berjalan tiga menit. Konsa kemudian menggandakan skor pada menit ke-19, sebelum Saka mencetak gol pada menit ke-37 dan masa tambahan babak pertama. Inggris pun masuk ke ruang ganti dengan keunggulan 4-0 atas tim Prancis yang terlihat kesulitan mengendalikan tempo pertandingan.

Skor tersebut terasa mengejutkan mengingat kedua negara sama-sama berangkat ke turnamen sebagai kandidat juara. Inggris dan Prancis memang tampil dalam perebutan medali perunggu setelah gagal di semifinal, tetapi kualitas pemain di kedua kubu membuat pertandingan tetap diperkirakan berlangsung ketat.

Kenyataan di lapangan justru berbeda selama babak pertama. Inggris bermain tajam, langsung, dan efisien. Prancis memiliki pemain-pemain berbahaya seperti Kylian Mbappé, Ousmane Dembélé, dan Michael Olise, tetapi mereka tidak mampu mengimbangi kecepatan serangan lawan pada periode awal.

Empat gol dalam satu babak membuat Inggris berada di posisi yang sangat nyaman. Namun, pertandingan belum sepenuhnya selesai. Prancis bangkit setelah turun minum dan mengubah laga menjadi duel sepuluh gol yang akhirnya dimenangkan Inggris dengan skor 6-4.

Inggris Langsung Menekan sejak Menit Pertama

Inggris memasuki pertandingan dengan pendekatan agresif. Mereka tidak terlihat ingin menghabiskan waktu untuk membaca permainan Prancis. Sejak sepak mula, para pemain The Three Lions berusaha memindahkan bola ke depan secepat mungkin.

Pendekatan tersebut segera menghasilkan gol. Pada menit ketiga, Declan Rice membawa Inggris memimpin. Gol awal itu mengubah seluruh arah pertandingan karena memaksa Prancis keluar dari struktur awalnya lebih cepat dari yang direncanakan.

Keunggulan dini memberikan kepercayaan diri kepada para pemain Inggris. Mereka semakin berani menekan, menyerang ruang, dan mengirim lebih banyak pemain ke area lawan.

Sebaliknya, Prancis seperti belum sepenuhnya siap menghadapi intensitas tersebut. Jarak di antara lini tengah dan pertahanan mereka terlihat terlalu mudah dimanfaatkan. Ketika Inggris berhasil melewati tekanan pertama, ruang terbuka muncul di depan serta di belakang garis pertahanan Les Bleus.

Dalam pertandingan besar, gol cepat sering membawa pengaruh psikologis. Tim yang unggul merasa rencana mereka bekerja, sedangkan tim yang tertinggal mulai mempertanyakan organisasi sendiri. Kondisi itu tampak jelas dalam periode pembuka laga.

Inggris tidak puas dengan satu gol. Mereka mempertahankan tekanan dan terus mencari kesempatan memperbesar keunggulan sebelum Prancis menemukan ritme.

Declan Rice Membuka Pesta Gol

Gol Declan Rice pada menit ketiga menjadi fondasi dari dominasi Inggris. Sebagai gelandang, Rice tidak hanya bertanggung jawab melindungi lini pertahanan. Ia juga diberi kebebasan bergerak maju ketika kesempatan terbuka.

Keberhasilannya mencetak gol menunjukkan keberanian Inggris menyerang dengan banyak pemain. Rice membaca ruang dengan baik dan berada dalam posisi tepat ketika serangan berkembang.

Gol tersebut penting bukan hanya karena mengubah skor. Inggris mendapatkan pesan yang mereka butuhkan setelah kekecewaan besar di semifinal. Mereka membuktikan bahwa semangat tim belum hilang dan masih memiliki ambisi menutup turnamen dengan kemenangan.

Bagi Prancis, kebobolan pada menit ketiga menjadi awal dari rangkaian masalah. Mereka harus mengubah pendekatan, tetapi perubahan tersebut tidak langsung menghasilkan perbaikan.

Ketika sebuah tim tertinggal terlalu cepat, muncul godaan untuk segera membalas. Pemain mulai mengambil risiko lebih besar dan meninggalkan posisi. Apabila tidak dilakukan secara terkoordinasi, ruang bagi lawan justru semakin lebar.

Inggris memanfaatkan situasi itu dengan sangat baik. Mereka tidak terburu-buru, tetapi tetap menyerang setiap kali Prancis kehilangan keseimbangan.

Konsa Menggandakan Keunggulan

Gol kedua Inggris tercipta pada menit ke-19 melalui Ezri Konsa. Seorang bek ikut mencatatkan namanya di papan skor dan membuat Prancis menghadapi tekanan yang jauh lebih besar.

Ketika skor berubah menjadi 2-0, Les Bleus kehilangan kemewahan untuk bermain sabar. Mereka harus mulai mencari gol sebelum babak pertama berakhir.

Namun, kebutuhan menyerang itu membuat organisasi pertahanan Prancis semakin rentan. Inggris memiliki pemain cepat di sisi lapangan dan gelandang yang mampu bergerak ke ruang antarlini.

Konsa memberikan kontribusi yang menggambarkan karakter permainan Inggris pada malam tersebut. Gol tidak hanya datang dari satu penyerang utama. Ancaman hadir dari berbagai posisi.

Situasi semacam itu membuat pertahanan lawan sulit menentukan prioritas penjagaan. Apabila terlalu fokus kepada Saka, gelandang atau pemain belakang Inggris bisa memanfaatkan ruang. Apabila perhatian dialihkan kepada pemain lain, Saka memperoleh kesempatan menghadapi lawan secara langsung.

Setelah gol kedua, Inggris terlihat semakin nyaman. Mereka mampu menentukan kapan harus mempercepat serangan dan kapan perlu menjaga bola.

Prancis masih mempunyai waktu panjang untuk merespons, tetapi permainan mereka belum menunjukkan ketenangan yang diperlukan.

Bukayo Saka Menjadi Bintang Utama

Bukayo Saka muncul sebagai pemain paling berbahaya dalam pertandingan tersebut. Ia mencetak dua gol sebelum turun minum, lalu melengkapi hat-trick melalui penalti pada babak kedua.

Gol pertamanya tercipta pada menit ke-37. Gol tersebut membuat Inggris unggul 3-0 dan semakin mendekatkan Prancis kepada situasi yang hampir mustahil. Saka kemudian mencetak gol lagi pada menit pertama masa tambahan babak pertama untuk mengubah skor menjadi 4-0.

Dua gol itu menggambarkan ketajaman Saka. Ia tidak hanya aktif membawa bola, tetapi juga mampu menemukan posisi yang tepat untuk menyelesaikan serangan.

Saka bermain dengan kepercayaan diri tinggi. Setiap kali mendapatkan bola di area depan, ia memaksa pemain Prancis mundur dan berhati-hati. Kemampuan mengubah arah, masuk ke ruang berbahaya, serta menyelesaikan peluang membuatnya menjadi masalah utama bagi Les Bleus.

Keberhasilan mencetak gol menjelang turun minum juga memiliki dampak besar. Prancis mungkin masih dapat membangun sedikit optimisme apabila masuk ke ruang ganti dengan skor 0-3. Namun, gol keempat membuat tugas mereka menjadi jauh lebih berat.

Bagi Inggris, gol tersebut menjadi hadiah atas konsistensi menyerang hingga detik terakhir babak pertama. Mereka tidak mengendur meskipun telah memiliki keunggulan besar.

Prancis Tidak Menemukan Jawaban

Babak pertama menjadi periode yang sangat sulit bagi Prancis. Mereka gagal mengontrol lini tengah dan terlalu sering membiarkan Inggris membawa bola menuju area berbahaya.

Kehadiran Mbappé tetap menimbulkan ancaman, tetapi dukungan di sekitarnya tidak cukup konsisten. Ketika bola berhasil diarahkan kepadanya, Inggris dapat memusatkan penjagaan dan menutup jalur menuju gawang.

Prancis juga tidak mampu mempertahankan keseimbangan ketika kehilangan bola. Pemain-pemain mereka bergerak maju untuk mengejar gol, tetapi perlindungan terhadap lini belakang tidak selalu tersedia.

Situasi tersebut memungkinkan Inggris melakukan transisi dengan cepat. Setiap kehilangan penguasaan berpotensi berubah menjadi serangan baru.

Masalah Prancis bukan semata-mata tentang individu. Mereka kehilangan kendali secara kolektif. Jarak antarpemain melebar, tekanan tidak dilakukan bersamaan, dan pertahanan harus menghadapi gelombang serangan dengan perlindungan terbatas.

Didier Deschamps kemudian mengakui bahwa timnya tidak memperkirakan akan menjalani babak pertama seperti itu. Ia menilai Prancis tampil lebih baik setelah jeda, tetapi kerusakan yang terjadi dalam 45 menit awal sudah sangat besar.

Keunggulan 4-0 Menggambarkan Efisiensi Inggris

Inggris tidak harus mendominasi setiap detik untuk membangun keunggulan besar. Hal paling mengesankan adalah kemampuan mereka mengubah kesempatan menjadi gol.

Dalam pertandingan sepak bola, sebuah tim dapat menciptakan banyak peluang tanpa mencetak gol. Inggris menghindari masalah tersebut. Ketika ruang tersedia, mereka menyerang dengan keputusan yang jelas.

Pergerakan pemain di depan bola membantu menciptakan beberapa pilihan. Pembawa bola tidak harus memaksakan satu jalur karena rekan setim menawarkan dukungan di sisi, tengah, dan ruang belakang.

Efisiensi seperti itu sangat berharga dalam pertandingan internasional. Waktu persiapan lebih terbatas dibandingkan kompetisi klub, sehingga tim tidak selalu dapat membangun pola yang terlalu rumit.

Inggris memanfaatkan prinsip sederhana dengan baik: merebut bola, mencari ruang, mengalirkan serangan dengan cepat, dan menyelesaikannya tanpa ragu.

Keunggulan empat gol sebelum turun minum menjadi hasil dari keberanian serta ketepatan. Mereka tidak hanya bermain agresif, tetapi juga membuat keputusan yang efektif.

Respons Thomas Tuchel setelah Kegagalan Semifinal

Penampilan Inggris terasa lebih penting karena terjadi setelah kekalahan menyakitkan dari Argentina pada semifinal. The Three Lions kehilangan keunggulan dan akhirnya kalah 2-1, sehingga gagal mencapai final yang menjadi target utama mereka.

Thomas Tuchel menghadapi kritik atas keputusan taktis dalam pertandingan tersebut. Karena itu, laga melawan Prancis menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa timnya masih memiliki karakter.

Keunggulan 4-0 pada babak pertama memberikan jawaban kuat. Para pemain tidak menunjukkan bahasa tubuh tim yang sudah menyerah. Mereka tampil dengan energi tinggi meskipun hanya memperebutkan posisi ketiga.

Tuchel kemudian mengatakan bahwa para pemain tetap merasa sulit merayakan medali perunggu karena sejak awal mereka membidik gelar juara. Meski demikian, ia menilai kemenangan tersebut dapat membantu perkembangan Inggris dan menjadi langkah untuk memperkecil jarak dengan tim-tim terbaik.

Pernyataan itu mencerminkan dua perasaan sekaligus. Ada kebanggaan terhadap respons tim, tetapi juga kekecewaan karena kesempatan meraih trofi utama sudah hilang.

Ruang Ganti Prancis Menghadapi Tugas Berat

Ketika wasit mengakhiri babak pertama, staf pelatih Prancis menghadapi pekerjaan yang sangat sulit. Mereka tidak hanya harus memperbaiki taktik, tetapi juga memulihkan kepercayaan diri pemain.

Dalam kondisi tertinggal 0-4, sebuah tim dapat kehilangan keyakinan dan menjalani babak kedua sekadar untuk menyelesaikan pertandingan. Namun, Prancis memilih memberikan respons.

Pesan di ruang ganti kemungkinan tidak berfokus pada membalikkan skor secara langsung. Les Bleus terlebih dahulu harus memenangkan duel, memperbaiki tekanan, dan mencetak satu gol untuk mengubah momentum.

Mereka juga perlu bermain lebih berani. Tidak ada lagi alasan mempertahankan pendekatan hati-hati karena posisi sudah sangat tertinggal.

Perubahan mental itu terlihat segera setelah pertandingan dilanjutkan. Prancis tampil dengan energi berbeda dan mulai memberikan tekanan besar kepada pertahanan Inggris.

Mbappé Memulai Kebangkitan Prancis

Kylian Mbappé mencetak gol pada menit ke-48, hanya beberapa menit setelah babak kedua dimulai. Gol cepat tersebut membawa Prancis memperkecil ketertinggalan menjadi 1-4 dan memberikan harapan baru.

Mbappé menunjukkan mengapa ia tetap menjadi salah satu penyerang paling berbahaya di dunia. Meskipun tidak banyak mendapatkan ruang pada babak pertama, ia membutuhkan sedikit waktu untuk membuat pengaruh setelah jeda.

Gol tersebut juga mengubah atmosfer pertandingan. Inggris yang sebelumnya sangat nyaman mulai menghadapi tekanan. Prancis meningkatkan tempo dan mengirim lebih banyak pemain ke depan.

Bradley Barcola kemudian mencetak gol pada menit ke-54. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit setelah babak kedua dimulai, skor berubah dari 0-4 menjadi 2-4.

Tiba-tiba, pertandingan yang tampak selesai kembali terbuka. Inggris harus memilih antara terus menyerang atau menurunkan tempo untuk melindungi keunggulan.

Mbappé Membuat Skor Menjadi 3-4

Kebangkitan Prancis berlanjut ketika Mbappé mencetak gol keduanya sekitar menit ke-67. Gol itu membuat skor menjadi 3-4 dan menempatkan Inggris di bawah tekanan besar.

Dalam waktu sekitar 20 menit, keunggulan empat gol Inggris menyusut menjadi hanya satu. Les Bleus memperlihatkan karakter luar biasa setelah menjalani babak pertama yang sangat buruk.

Dua gol Mbappé juga membawanya mencapai 22 gol sepanjang karier di Piala Dunia. Ia melewati catatan Lionel Messi yang saat itu berada di angka 21 dan memimpin persaingan Sepatu Emas Piala Dunia 2026 dengan sepuluh gol.

Namun, bagi Prancis, prioritas utama tetap mengejar skor. Mbappé terus mendorong timnya menyerang dan membuat Inggris kesulitan keluar dari tekanan.

Pertandingan kemudian berubah menjadi ujian mental bagi The Three Lions. Mereka harus menemukan kembali keberanian menyerang setelah cukup lama berada dalam tekanan.

Inggris Tidak Membiarkan Keunggulan Menghilang

Ketika Prancis mendekat menjadi 3-4, Inggris membutuhkan satu momen untuk menghentikan momentum lawan. Kesempatan itu datang pada menit ke-85 ketika Djed Spence dilanggar Malo Gusto di kotak penalti.

Saka mengambil tanggung jawab dan mengeksekusi penalti pada menit ke-86. Ia mengarahkan bola dengan tenang untuk melengkapi hat-trick serta membawa Inggris unggul 5-3.

Gol tersebut sangat penting. Inggris tidak hanya mendapatkan jarak dua gol, tetapi juga kembali memperoleh kepercayaan diri.

Hat-trick Saka menempatkannya dalam kelompok kecil pemain Inggris yang mencetak tiga gol dalam satu pertandingan Piala Dunia. AP mencatat bahwa itu merupakan hat-trick keduanya bersama tim nasional.

Penampilan tersebut menjadi penutup turnamen yang mengesankan bagi Saka. Ia menunjukkan ketajaman, ketenangan, dan keberanian ketika timnya membutuhkan gol.

Drama Berlanjut hingga Masa Tambahan

Pertandingan belum berhenti menghasilkan gol. Ousmane Dembélé mencetak gol untuk Prancis pada menit keenam masa tambahan waktu, membuat skor kembali menjadi 4-5.

Les Bleus sekali lagi mendekat dan memiliki sedikit waktu untuk mengejar gol penyeimbang. Inggris harus bertahan menghadapi tekanan terakhir.

Namun, Jude Bellingham memastikan kemenangan dengan mencetak gol pada menit kedelapan masa tambahan. Ia membawa bola melewati pertahanan Prancis sebelum menyelesaikan serangan untuk mengubah skor menjadi 6-4.

Gol tersebut menjadi gol ketujuh Bellingham di turnamen. Jumlah itu merupakan catatan terbanyak yang pernah dibuat seorang pemain Inggris dalam satu edisi Piala Dunia, melewati koleksi enam gol Harry Kane dan Gary Lineker.

Peluit akhir kemudian mengonfirmasi kemenangan Inggris dalam salah satu pertandingan perebutan tempat ketiga paling dramatis sepanjang sejarah turnamen.

Laga Sepuluh Gol yang Memecahkan Rekor

Kemenangan 6-4 menjadi hasil yang sangat tidak biasa untuk pertandingan Piala Dunia. Sepuluh gol yang tercipta merupakan jumlah terbanyak dalam sejarah laga perebutan tempat ketiga.

Pertandingan tersebut juga menjadi laga Piala Dunia dengan skor tertinggi sejak Hungaria mengalahkan El Salvador 10-1 pada 1982.

Sebelum pertandingan, laga perebutan tempat ketiga kerap dianggap kurang menarik karena kedua tim baru saja kehilangan kesempatan bermain di final. Namun, Inggris dan Prancis mengubah anggapan tersebut.

Mereka menghasilkan pertandingan yang penuh gol, perubahan momentum, rekor individu, dan tekanan hingga menit terakhir.

Sebanyak 64.478 penonton hadir di Hard Rock Stadium, Miami Gardens, untuk menyaksikan pertandingan terakhir di stadion tersebut dalam Piala Dunia 2026. Mereka mendapatkan pertunjukan yang jauh lebih dramatis daripada perkiraan awal.

Akhir Era Didier Deschamps

Kekalahan tersebut menjadi pertandingan terakhir Didier Deschamps sebagai pelatih Prancis setelah memimpin tim selama 14 tahun.

Deschamps meninggalkan jabatan dengan warisan besar. Ia membawa Prancis menjuarai Piala Dunia 2018, mencapai final Piala Dunia 2022, dan mencatatkan 20 kemenangan sebagai pelatih dalam pertandingan Piala Dunia.

Namun, laga terakhirnya berlangsung dalam cara yang sulit diperkirakan. Prancis kebobolan empat gol pada babak pertama, kemudian hampir melakukan kebangkitan luar biasa setelah jeda.

Deschamps mengatakan bahwa ia tidak ingin seluruh karier kepelatihannya dinilai hanya berdasarkan pertandingan terakhir tersebut. Pernyataan itu dapat dimengerti karena kontribusinya terhadap sepak bola Prancis jauh lebih besar daripada satu hasil.

Meski gagal membawa pulang medali, respons Prancis pada babak kedua setidaknya memperlihatkan semangat yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu ciri utama tim di bawah kepemimpinannya.

Baca Juga:

TAGS:
CLOSE