Fiorentina mengambil keputusan mengejutkan dengan mengakhiri kerja sama bersama Fabio Grosso setelah awal musim Serie A 2026/2027 berjalan jauh dari harapan. Pelatih asal Italia tersebut resmi diberhentikan dari jabatannya pada Minggu, 6 September 2026, hanya beberapa pertandingan setelah dipercaya menjadi nahkoda La Viola.
Keputusan tersebut datang sehari setelah Fiorentina menelan kekalahan 1-2 dari Torino di Stadion Artemio Franchi. Hasil itu menjadi kekalahan ketiga secara beruntun bagi Fiorentina di Serie A musim ini. Sebelumnya, mereka juga harus mengakui keunggulan AS Roma dengan skor telak 0-4 dan takluk 0-3 dari tim promosi Frosinone.
Dengan demikian, Fiorentina mengawali kompetisi tanpa satu pun poin dari tiga pertandingan. Situasi tersebut membuat manajemen klub mengambil langkah cepat dengan mencopot Grosso dari kursi pelatih.
Pemecatan tersebut juga menjadikan Grosso sebagai pelatih pertama yang kehilangan pekerjaan di Serie A musim 2026/2027.
Masa Kerja Grosso Berakhir Sangat Singkat
Fabio Grosso sebenarnya datang ke Fiorentina dengan membawa reputasi yang cukup menjanjikan. Ia ditunjuk sebagai pelatih baru pada Juni 2026 setelah menjalani periode positif bersama Sassuolo.
Pada musim sebelumnya, Grosso berhasil membawa Sassuolo tampil cukup kompetitif setelah klub tersebut kembali ke Serie A. Performa itu menjadi salah satu alasan Fiorentina memberikan kepercayaan kepadanya untuk menangani proyek baru di Florence.
Namun, harapan tersebut tidak bertahan lama.
Grosso hanya menjalani beberapa pertandingan resmi bersama Fiorentina sebelum harus meninggalkan jabatannya. Ia sempat membawa tim meraih kemenangan di Coppa Italia atas Benevento, tetapi hasil tersebut tidak mampu menjadi fondasi untuk memulai kompetisi liga dengan baik.
Di Serie A, situasi justru berubah drastis.
Tiga pertandingan menghasilkan tiga kekalahan. Fiorentina juga mengalami kesulitan besar dalam mencetak gol dan menjaga pertahanan.
Laporan Reuters menyebut Fiorentina hanya mencetak satu gol dan kebobolan sembilan gol dalam tiga pertandingan liga pertama. Catatan tersebut menggambarkan betapa buruknya awal perjalanan Grosso bersama klub.
Kekalahan Beruntun Menjadi Titik Balik
Fiorentina sebenarnya sudah mendapatkan peringatan keras sejak pertandingan pertama Serie A.
Menghadapi AS Roma, mereka kalah dengan skor 0-4. Kekalahan tersebut memperlihatkan sejumlah kelemahan yang kemudian kembali muncul dalam pertandingan berikutnya.
Masalah Fiorentina tidak berhenti di sana.
Ketika menghadapi Frosinone di kandang sendiri, La Viola kembali mengalami kekalahan dengan skor 0-3. Hasil tersebut semakin meningkatkan tekanan terhadap Grosso karena lawan yang dihadapi merupakan tim promosi.
Harapan untuk bangkit kemudian kembali muncul ketika Fiorentina menghadapi Torino.
Namun, pertandingan tersebut justru menjadi akhir perjalanan Grosso.
Fiorentina sempat memiliki peluang untuk mendapatkan hasil positif, tetapi akhirnya kalah 1-2. Kekalahan tersebut menjadi pertandingan ketiga berturut-turut tanpa poin di Serie A.
Tidak lama setelah pertandingan, tekanan terhadap Grosso semakin besar.
Manajemen akhirnya mengambil keputusan untuk mengakhiri masa baktinya.
Keputusan Cepat dari Manajemen
Fiorentina mengumumkan pemecatan Grosso melalui pernyataan resmi yang singkat.
Klub menyatakan bahwa Fabio Grosso telah dibebastugaskan dari posisi pelatih tim utama putra pada 6 September 2026. Tidak ada penjelasan panjang mengenai alasan keputusan tersebut dalam pernyataan resmi, tetapi rentetan hasil buruk menjadi latar belakang yang sangat jelas.
Keputusan itu menunjukkan bahwa manajemen Fiorentina tidak ingin membiarkan krisis berkembang lebih jauh.
Dalam kompetisi dengan tuntutan tinggi seperti Serie A, start buruk dapat memberikan efek berantai. Kekalahan beruntun bisa memengaruhi kepercayaan diri pemain, hubungan di ruang ganti, serta tekanan dari suporter.
Fiorentina tampaknya memilih untuk melakukan perubahan sebelum situasi menjadi semakin sulit dikendalikan.
Ekspektasi Tinggi Setelah Bursa Transfer
Salah satu alasan mengapa start buruk Fiorentina terasa semakin mengecewakan adalah besarnya ekspektasi yang muncul sebelum musim dimulai.
Klub melakukan aktivitas transfer yang cukup agresif untuk memperkuat skuad.
Sejumlah pemain baru didatangkan untuk meningkatkan kualitas di berbagai posisi. Marco Brescianini, Giovanni Fabbian, dan Arthur Atta termasuk pemain yang bergabung, sementara klub juga memperkuat tim melalui beberapa pemain pinjaman.
Dengan investasi tersebut, Fiorentina diharapkan mampu tampil lebih kompetitif.
Namun, banyaknya pemain baru juga menghadirkan tantangan tersendiri.
Membangun tim yang solid tidak dapat dilakukan hanya dengan mendatangkan pemain berkualitas. Para pemain harus memahami sistem, karakter permainan, serta tuntutan pelatih.
Grosso mendapatkan tugas untuk menyatukan berbagai elemen tersebut.
Sayangnya, waktu yang tersedia ternyata sangat singkat.
Masalah Integrasi Skuad
Salah satu tantangan terbesar bagi pelatih baru adalah menyatukan pemain yang berasal dari berbagai latar belakang.
Setiap pemain memiliki karakter, pengalaman, serta kebiasaan bermain berbeda.
Ketika perubahan skuad dilakukan dalam jumlah besar, proses adaptasi menjadi semakin kompleks.
Pelatih membutuhkan waktu untuk menentukan kombinasi terbaik. Pemain juga membutuhkan kesempatan untuk memahami bagaimana rekan setim bergerak dalam sistem yang sama.
Dalam kasus Fiorentina, proses tersebut belum menghasilkan perkembangan yang diharapkan.
Tim terlihat kesulitan menemukan keseimbangan antara menyerang dan bertahan. Jumlah kebobolan yang tinggi menjadi salah satu indikator paling jelas.
Pada saat yang sama, produktivitas di lini depan juga belum memadai.
Situasi ini membuat tekanan terhadap Grosso semakin besar.
Pertahanan Menjadi Persoalan Besar
Sembilan gol kebobolan dalam tiga pertandingan liga merupakan catatan yang sulit diabaikan.
Pertahanan Fiorentina gagal memberikan fondasi yang cukup kuat untuk membangun hasil positif.
Ketika sebuah tim sering kebobolan, tekanan otomatis berpindah kepada lini depan. Para pemain menyerang harus mencetak lebih banyak gol hanya untuk mendapatkan hasil imbang.
Sebaliknya, ketika lini depan kesulitan mencetak gol, kesalahan kecil di pertahanan bisa langsung menghasilkan kekalahan.
Fiorentina mengalami kedua persoalan tersebut pada awal musim.
Melawan Roma, mereka kebobolan empat gol. Ketika menghadapi Frosinone, tiga gol kembali bersarang di gawang. Lalu, Torino mencetak dua gol di Artemio Franchi.
Rentetan tersebut menunjukkan bahwa persoalan Fiorentina bersifat menyeluruh dan bukan hanya mengenai satu sektor.
Produktivitas Serangan Juga Tidak Memuaskan
Selain pertahanan, lini serang Fiorentina juga belum menemukan bentuk terbaik.
Dari tiga pertandingan Serie A, mereka hanya mampu mencetak satu gol.
Angka tersebut memperlihatkan betapa sulitnya Fiorentina menghasilkan ancaman secara konsisten.
Sepak bola modern membutuhkan keseimbangan. Sebuah tim tidak cukup hanya memiliki pertahanan kuat, begitu pula tidak cukup mengandalkan serangan.
Fiorentina harus menemukan cara untuk menciptakan peluang sekaligus mengonversinya menjadi gol.
Grosso belum mendapatkan kesempatan panjang untuk menyelesaikan proses tersebut.
Keputusan pemecatan datang ketika kompetisi baru berjalan tiga pekan.
Tekanan Suporter Semakin Besar
Hasil buruk tentu berdampak langsung terhadap hubungan antara tim dan pendukung.
Suporter Fiorentina memiliki ekspektasi tinggi terhadap klub, terutama setelah manajemen melakukan investasi besar pada musim panas.
Kekalahan di kandang sendiri dari Frosinone menjadi salah satu momen yang memperbesar rasa frustrasi.
Setelah kekalahan dari Torino, tekanan semakin meningkat. Laporan media Italia menyebut para pendukung menyuarakan tuntutan agar posisi Grosso segera dievaluasi.
Situasi tersebut memperlihatkan betapa cepat suasana dapat berubah dalam sepak bola.
Ketika hasil positif tidak kunjung datang, dukungan yang sebelumnya diberikan kepada pelatih dapat berubah menjadi tekanan.
Manajemen kemudian harus mengambil keputusan sulit.
Grosso Menjadi Korban Start Buruk
Fabio Grosso tentu menjadi pihak yang paling terdampak oleh keputusan tersebut.
Ia datang ke Fiorentina dengan harapan membangun proyek jangka menengah. Namun, hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan setelah penunjukannya, perjalanan tersebut berakhir.
Padahal, Grosso memiliki pengalaman yang cukup beragam.
Ia pernah menangani sejumlah klub Italia dan juga memiliki pengalaman di luar negeri. Sebelum Fiorentina, periode terbaiknya datang bersama Sassuolo ketika ia membantu klub tersebut kembali ke Serie A dan kemudian menyelesaikan musim di posisi yang cukup baik.
Pengalaman tersebut membuat Fiorentina percaya bahwa Grosso dapat menjadi bagian penting dari proyek klub.
Namun, sepak bola tidak selalu memberikan waktu kepada pelatih untuk membuktikan rencana jangka panjang.
Hasil buruk dapat mengubah semuanya dalam waktu singkat.
Kursi Pelatih Segera Menjadi Fokus
Setelah Grosso pergi, perhatian langsung beralih kepada siapa yang akan menggantikannya.
Fiorentina tidak memiliki banyak waktu untuk menentukan arah baru. Jadwal kompetisi terus berjalan dan pertandingan berikutnya sudah menanti.
Beberapa laporan menyebut Paolo Vanoli menjadi kandidat kuat untuk kembali menangani Fiorentina. Bahkan, proses untuk mengembalikan mantan pelatih tersebut dilaporkan sudah berjalan.
Jika Vanoli benar-benar kembali, Fiorentina akan memilih pendekatan yang berbeda.
Vanoli sebelumnya menangani tim sebelum Grosso datang. Ia memiliki pengetahuan mengenai skuad dan lingkungan klub sehingga proses adaptasinya berpotensi lebih cepat dibandingkan pelatih yang benar-benar baru.
Namun, keputusan tersebut tetap membawa tantangan.
Vanoli harus segera mengubah suasana ruang ganti sekaligus memperbaiki performa di lapangan.
Pergantian Pelatih Tidak Otomatis Menyelesaikan Masalah
Fiorentina harus berhati-hati agar tidak menganggap pergantian pelatih sebagai solusi tunggal.
Memang, kehadiran pelatih baru dapat memberikan energi positif. Pemain mungkin mendapatkan motivasi baru dan sistem permainan bisa berubah.
Namun, persoalan yang dihadapi Fiorentina cukup kompleks.
Skuad baru membutuhkan waktu untuk menyatu. Para pemain perlu membangun pemahaman dan kepercayaan satu sama lain.
Pelatih berikutnya harus menemukan cara untuk memperbaiki pertahanan tanpa mengorbankan kreativitas di lini depan.
Ia juga harus mengembalikan keyakinan para pemain yang telah mengalami tiga kekalahan beruntun.
Tugas tersebut tidak mudah.
Baca Juga:












