DR Kongo meninggalkan Piala Dunia 2026 dengan kepala tegak, tetapi juga dengan rasa sesal yang sulit disembunyikan. Mereka nyaris menciptakan salah satu kejutan terbesar turnamen saat menghadapi Inggris di babak 32 besar. Tim Afrika itu unggul lebih dulu, membuat Inggris panik, dan sempat terlihat sangat dekat dengan kemenangan bersejarah. Namun, dua gol Harry Kane di babak kedua membalikkan semua cerita. Inggris menang 2-1, sementara DR Kongo harus pulang dengan perasaan bahwa mereka sebenarnya punya kesempatan besar untuk menyelesaikan pertandingan jauh lebih awal. Reuters melaporkan bahwa Inggris lolos setelah bangkit dari ketertinggalan lewat dua gol Kane, sementara DR Kongo gagal mempertahankan keunggulan awal mereka.
Axel Tuanzebe menjadi salah satu pemain yang paling jujur menggambarkan kekecewaan tersebut. Bek DR Kongo itu mengakui bahwa timnya sangat menyesal karena tidak mampu “menghabisi” Inggris pada babak pertama. Menurut laporan GOAL, Tuanzebe mengatakan skuad DR Kongo merasa “kicking ourselves” karena seharusnya mereka bisa mempertahankan keunggulan dan bahkan menuntaskan laga sebelum Inggris menemukan momentum.
Pernyataan Tuanzebe terasa sangat masuk akal jika melihat jalannya pertandingan. DR Kongo bukan sekadar mencetak gol lalu bertahan total. Mereka benar-benar membuat Inggris tidak nyaman. Mereka berani menekan, cepat menyerang ruang, dan menunjukkan bahwa status underdog tidak membuat mereka takut menghadapi tim bertabur bintang. Justru karena itu, kekalahan ini terasa lebih menyakitkan. Mereka tidak kalah karena benar-benar inferior. Mereka kalah karena gagal memanfaatkan momen terbaik mereka.
Gol Cepat yang Mengubah Atmosfer Pertandingan
DR Kongo memulai pertandingan dengan cara yang hampir sempurna. Brian Cipenga membawa mereka unggul cepat pada menit ketujuh, sebuah gol yang langsung mengubah tekanan psikologis di lapangan. Inggris yang datang sebagai favorit tiba-tiba harus bermain mengejar. Dalam fase gugur, gol cepat seperti itu bisa menjadi senjata yang sangat besar, terutama jika tim yang unggul mampu menjaga ritme dan memaksa lawan bermain terburu-buru. The Sun juga mencatat bahwa Cipenga membuat DR Kongo unggul lebih dulu sebelum Kane menyelamatkan Inggris dengan dua gol pada babak kedua.
Gol itu memberi DR Kongo kepercayaan diri luar biasa. Mereka mulai bermain lebih berani, sementara Inggris terlihat kesulitan mendapatkan kontrol penuh. Dalam beberapa momen, tim asuhan Thomas Tuchel terlihat tidak nyaman menghadapi kecepatan dan fisik pemain DR Kongo. Setiap kali Inggris kehilangan bola, DR Kongo mencoba langsung menyerang area terbuka. Inilah yang membuat Tuanzebe merasa timnya seharusnya bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat.
Namun, dalam sepak bola level tertinggi, unggul cepat tidak cukup. Tim harus tahu kapan mempercepat tempo, kapan menahan bola, dan kapan menghukum lawan yang sedang goyah. DR Kongo punya peluang psikologis besar setelah mencetak gol, tetapi mereka tidak mampu mengubah tekanan awal itu menjadi keunggulan kedua. Pada akhirnya, kegagalan memperbesar skor menjadi titik balik yang sangat mahal.
Tuanzebe dan Rasa Sakit dari Peluang yang Hilang
Komentar Tuanzebe tidak terdengar seperti alasan. Itu lebih seperti refleksi dari pemain yang tahu timnya telah melewatkan kesempatan langka. Ia mengakui bahwa DR Kongo seharusnya bisa “finished it in the first half,” sebuah kalimat yang menunjukkan betapa kuatnya keyakinan mereka bahwa Inggris sebenarnya bisa dikalahkan. GOAL melaporkan bahwa Tuanzebe berbicara kepada BBC Radio 5 Live dan menilai DR Kongo punya peluang untuk mematikan pertandingan lebih awal, tetapi akhirnya harus menerima bahwa malam itu tidak berpihak kepada mereka.
Dalam konteks turnamen besar, rasa sesal seperti ini sangat wajar. DR Kongo tidak tersingkir setelah dihancurkan. Mereka tersingkir setelah hampir menang. Perbedaannya besar. Kekalahan telak biasanya memberi jawaban jelas bahwa lawan memang lebih kuat. Namun, kekalahan tipis setelah unggul lebih dulu meninggalkan banyak “seandainya”. Seandainya peluang babak pertama lebih tajam. Seandainya konsentrasi bertahan lebih panjang. Seandainya Kane tidak diberi ruang. Seandainya satu keputusan kecil diambil berbeda.
Itulah yang membuat kekalahan ini terasa berat. DR Kongo bisa bangga, tetapi kebanggaan itu bercampur dengan frustrasi. Mereka membuktikan diri di panggung dunia, tetapi juga sadar bahwa kesempatan emas telah lepas dari tangan.
Inggris Selamat karena Kualitas Individu Kane
Jika DR Kongo adalah cerita tentang peluang yang terbuang, Inggris adalah cerita tentang kekuatan individu yang menyelamatkan tim. Harry Kane kembali menjadi tokoh utama. Ketika Inggris terlihat kesulitan dan waktu mulai menipis, kapten mereka muncul dengan dua gol yang mengubah nasib pertandingan. Bavarian Football Works mencatat bahwa Kane mencetak brace pada babak kedua untuk membawa Inggris menang 2-1 setelah sempat tertinggal oleh gol cepat Cipenga.
Kane mencetak gol pada menit-menit krusial, dan itu menunjukkan kualitas seorang striker elite. Ia tidak harus tampil dominan sepanjang pertandingan untuk menjadi pembeda. Ia hanya butuh satu atau dua momen, lalu mengubahnya menjadi gol. Bagi DR Kongo, inilah hukuman paling kejam. Mereka bermain bagus dalam banyak fase, tetapi tidak mampu mematikan pemain yang paling berbahaya.
Di level Piala Dunia, perbedaan antara tim besar dan tim yang sedang naik sering terlihat dalam efisiensi. DR Kongo punya momentum, energi, dan keberanian. Inggris punya Kane. Ketika pertandingan masuk fase akhir dan tekanan semakin tinggi, pengalaman serta ketajaman Kane menjadi faktor yang menentukan.
Mengapa Babak Pertama Begitu Penting
Tuanzebe benar ketika menyoroti babak pertama. Saat itu adalah periode ketika DR Kongo terlihat paling mampu mengganggu Inggris. Mereka unggul cepat, Inggris belum stabil, dan tekanan mental berada di pihak favorit. Dalam situasi seperti ini, gol kedua bisa menjadi pukulan besar. Jika DR Kongo masuk jeda dengan keunggulan dua gol, cerita pertandingan mungkin sangat berbeda.
Babak pertama dalam laga fase gugur sering menjadi pondasi mental. Tim yang unggul lebih dulu bisa mengontrol emosi pertandingan. Tim yang tertinggal harus mengambil risiko lebih besar. Jika DR Kongo mampu memperbesar keunggulan, Inggris akan dipaksa membuka ruang lebih lebar. Itu bisa memberi DR Kongo peluang serangan balik yang lebih banyak.
Namun, sepak bola tidak hanya menghargai niat. Sepak bola menghargai eksekusi. DR Kongo punya momen, tetapi tidak cukup klinis. Mereka membuat Inggris goyah, tetapi tidak menjatuhkannya. Dan ketika sebuah tim besar diberi kesempatan untuk bertahan hidup, mereka sering menemukan cara untuk kembali.
DR Kongo Tidak Takut Nama Besar Inggris
Salah satu hal paling menarik dari pertandingan ini adalah sikap DR Kongo. Mereka tidak terlihat gentar. Mereka menghadapi Inggris dengan keberanian, bukan dengan rasa rendah diri. Tuanzebe sendiri merupakan pemain yang memahami sepak bola Inggris dengan baik, setelah pernah berada dalam sistem Manchester United dan bermain di level Inggris. The Guardian sebelum laga mencatat bahwa DR Kongo memiliki beberapa pemain berpengalaman di sepak bola Inggris, termasuk Axel Tuanzebe, Aaron Wan-Bissaka, dan Yoane Wissa.
Pengalaman seperti itu penting. Pemain-pemain DR Kongo tidak melihat Inggris sebagai lawan yang tidak tersentuh. Mereka tahu banyak pemain Inggris secara karakter, tempo, dan kebiasaan permainan. Itu membuat mereka lebih percaya diri dalam duel. Mereka tidak datang hanya untuk bertahan selama mungkin, tetapi benar-benar mencoba mengejutkan lawan.
Keberanian inilah yang membuat penyesalan mereka semakin besar. DR Kongo tidak hanya hampir menang karena keberuntungan. Mereka hampir menang karena rencana mereka bekerja dalam waktu yang cukup lama. Mereka bisa memaksa Inggris keluar dari zona nyaman, dan itu bukan pencapaian kecil.
Kekuatan Mental Inggris Teruji
Dari sisi Inggris, pertandingan ini menunjukkan dua hal sekaligus: kelemahan dan kekuatan. Kelemahannya jelas. Mereka memulai laga dengan buruk, terlalu mudah tertekan, dan tidak langsung mampu mengontrol pertandingan. Namun, kekuatannya juga nyata. Mereka tidak hancur setelah tertinggal. Mereka tetap mencari jalan, tetap percaya, dan akhirnya menemukan penyelesaian lewat Kane.
Reuters melaporkan bahwa Inggris memang masih belum sepenuhnya meyakinkan, dengan harapan mereka terlihat terlalu bertumpu pada Kane. Namun, kemenangan atas DR Kongo tetap memperlihatkan bahwa tim ini punya kapasitas untuk bertahan dalam tekanan.
Dalam turnamen besar, tidak semua kemenangan datang dengan permainan indah. Kadang, tim harus menang secara jelek, sulit, dan penuh kecemasan. Inggris melakukan itu. Bagi Tuchel, hasil ini mungkin menjadi peringatan sekaligus modal mental. Mereka harus memperbaiki performa, tetapi mereka juga tahu bahwa mereka bisa bangkit dari situasi buruk.
Pelajaran Mahal untuk DR Kongo
Bagi DR Kongo, kekalahan ini harus menjadi bahan pembelajaran besar. Mereka sudah membuktikan bahwa mereka bisa bersaing di level tinggi. Mereka bisa melukai tim besar, membuat favorit panik, dan tampil dengan identitas kuat. Namun, mereka juga belajar bahwa pertandingan besar membutuhkan ketajaman selama 90 menit, bukan hanya satu babak.
Tuanzebe mengatakan DR Kongo akan melihat kembali pertandingan ini dan mencari cara untuk membangun masa depan dari pengalaman tersebut. GOAL melaporkan bahwa ia tetap melihat kekalahan ini sebagai bagian dari proses menuju turnamen-turnamen berikutnya, meskipun rasa kecewa setelah tersingkir begitu kuat.
Itu sikap yang penting. Kekalahan menyakitkan bisa menghancurkan tim, tetapi juga bisa menjadi fondasi pertumbuhan. Jika DR Kongo mampu memanfaatkan pengalaman ini, mereka bisa menjadi tim yang lebih matang. Mereka sudah memiliki atletisme, semangat, dan kepercayaan diri. Yang perlu ditingkatkan adalah efisiensi, manajemen pertandingan, dan kemampuan mempertahankan keunggulan dalam tekanan ekstrem.
Performa Kiper dan Pertahanan yang Layak Diapresiasi
Meski kalah, DR Kongo tidak boleh hanya dinilai dari hasil akhir. Mereka bertahan dengan keberanian dan menghadapi tekanan Inggris dalam waktu panjang. Kiper Lionel Mpasi-Nzau juga menjadi salah satu pemain yang mendapat perhatian karena beberapa kali membuat Inggris frustrasi. Beberapa laporan pascalaga menyebut penampilan kiper DR Kongo sebagai salah satu alasan Inggris harus menunggu lama sebelum menemukan gol balasan.
Pertahanan DR Kongo memang akhirnya kebobolan dua kali, tetapi selama sebagian besar laga mereka membuat Inggris bekerja keras. Tuanzebe dan rekan-rekannya berusaha menutup ruang, memblok umpan silang, dan menjaga Kane dari posisi nyaman. Masalahnya, melawan striker seperti Kane, satu celah kecil sudah cukup.
Inilah perbedaan kualitas di fase akhir. DR Kongo hampir sempurna, tetapi “hampir” tidak cukup untuk mengalahkan tim seperti Inggris. Ketika konsentrasi sedikit menurun, hukuman datang. Kane tidak membutuhkan banyak peluang. Ia hanya membutuhkan momen.
Desabre Tetap Punya Alasan untuk Bangga
Pelatih DR Kongo, Sebastien Desabre, tetap dapat mengambil banyak hal positif dari pertandingan ini. GOAL melaporkan bahwa Desabre memuji keberanian para pemainnya setelah laga di Mercedes-Benz Stadium, meskipun hasil akhirnya sangat menyakitkan.
Pujian itu pantas. DR Kongo tidak tampil seperti tim yang hanya puas sampai babak 32 besar. Mereka memperlihatkan ambisi. Mereka bermain dengan emosi, organisasi, dan rasa percaya diri. Banyak tim underdog memilih bertahan total melawan favorit besar, tetapi DR Kongo berani mengambil inisiatif pada momen tertentu.
Desabre kini memiliki tugas penting: menjaga energi positif dari turnamen ini. Kekalahan dari Inggris memang menyakitkan, tetapi performa mereka bisa menjadi dasar proyek jangka panjang. Jika federasi, pelatih, dan pemain bisa bergerak dalam arah yang sama, DR Kongo bisa kembali ke turnamen besar dengan target yang lebih tinggi.
Baca Juga:
- SBOTOP: Neuer Tak Menyesal Kembali Bela Jerman Meski Tersingkir Menyakitkan dari Piala Dunia Usai Dikalahkan Paraguay
- SBOTOP: Marc Cucurella Tampil Gemilang, Jadi Aktor Penting di Balik Kemenangan Spanyol atas Austria
- SBOTOP: Declan Rice Puji Harry Kane Luar Biasa Inggris Beruntung Punya Pemimpin Sejati Usai Dua Gol Krusial Lawan DR Kongo












