Tim nasional Belanda harus puas berbagi poin dengan Jepang setelah pertandingan sengit Grup F Piala Dunia 2026 berakhir imbang 2-2. Hasil ini menjadi sinyal bahwa skuad asuhan Ronald Koeman masih memiliki pekerjaan rumah besar, terutama dalam menghadapi tim dengan organisasi pertahanan yang sangat disiplin.
Belanda sebenarnya sempat berada dalam posisi unggul, namun gagal mempertahankan keunggulan hingga akhir laga. Jepang menunjukkan karakter kuat sebagai tim yang sangat terstruktur dan sulit ditembus, membuat laga berjalan tidak sesuai ekspektasi banyak pihak.
Jepang Tampil Disiplin, Pertahanan Lima Bek Jadi Kunci
Sebelum laga dimulai, Jepang sudah dikenal sebagai salah satu tim dengan pertahanan terbaik di Asia. Statistik mereka di babak kualifikasi menunjukkan hanya kebobolan tiga gol dari 10 pertandingan, bukti solidnya lini belakang Samurai Biru.
Dalam pertandingan ini, Jepang kembali mengandalkan sistem lima bek saat bertahan, yang membuat ruang di area pertahanan sangat rapat. Struktur ini membuat Belanda kesulitan menciptakan peluang bersih sepanjang sebagian besar babak pertama.
Belanda Kesulitan Bongkar Pertahanan Jepang di Babak Pertama
Pada 45 menit pertama, serangan Belanda banyak diarahkan ke sisi kiri lapangan. Cody Gakpo menjadi pusat permainan, sering menerima bola di area sayap untuk mencoba menembus blok pertahanan Jepang.
Namun, strategi Jepang yang melakukan double marking membuat Gakpo tidak memiliki ruang untuk berkembang. Ia beberapa kali terpaksa mengembalikan bola ke lini tengah karena tekanan ketat dari lawan.
Masalah Belanda semakin terlihat karena Micky van de Ven yang dimainkan sebagai bek kiri tidak banyak membantu serangan. Alih-alih memberikan variasi, ia lebih sering mengalirkan bola ke Gakpo yang sudah dalam tekanan.
Baru pada menit ke-27 Belanda mulai menemukan solusi. Van de Ven melakukan pergerakan tanpa bola, melakukan kombinasi cepat dengan Gakpo, lalu menusuk ke ruang kosong sebelum mengirim umpan silang berbahaya ke kotak penalti. Ini menjadi salah satu momen terbaik Belanda di babak pertama.
Babak Kedua Lebih Dinamis, Serangan Belanda Lebih Variatif
Memasuki babak kedua, permainan Belanda terlihat jauh lebih hidup. Pergerakan tanpa bola meningkat dan membuat serangan mereka lebih sulit ditebak oleh pertahanan Jepang.
Salah satu momen penting terjadi ketika Ryan Gravenberch melakukan penetrasi dari lini kedua dan berhasil menembus garis pertahanan Jepang. Aksi ini menunjukkan bahwa variasi serangan Belanda mulai berkembang.
Gol kedua Belanda juga lahir dari pola serupa. Ketika Crysencio Summerville menguasai bola, Denzel Dumfries melakukan overlap cepat yang memaksa bek Jepang, Keito Nakamura, melebar keluar dari posisi idealnya.
Ruang yang tercipta dimanfaatkan Summerville untuk masuk ke dalam dan melepaskan tembakan kaki kiri yang berbuah gol. Proses ini menunjukkan pentingnya pergerakan kolektif dalam membongkar pertahanan rapat.
Koeman Lakukan Penyesuaian, Tapi Hasil Tak Sesuai Harapan
Selain meningkatkan intensitas serangan, Belanda juga mencoba pendekatan lebih aman dalam membangun permainan. Kiper Bart Verbruggen beberapa kali mengirim umpan panjang ke depan untuk memanfaatkan duel udara Cody Gakpo.
Di lini tengah, Frenkie de Jong memainkan peran krusial dengan turun lebih dalam membantu build-up. Bahkan dalam fase bertahan, Belanda sering berubah menjadi formasi lima pemain di belakang untuk menjaga keseimbangan.
Namun keputusan Ronald Koeman di akhir pertandingan justru menjadi sorotan. Saat unggul 2-1, ia memasukkan Nathan Aké untuk memperkuat lini belakang dengan menggantikan Gravenberch.
Sayangnya, perubahan itu tidak mampu menjaga keunggulan. Belanda justru kebobolan melalui situasi bola mati di menit-menit akhir, yang membuat kemenangan lepas dari genggaman.
Catatan Negatif: Belanda Gagal Pertahankan Keunggulan Dua Kali
Hasil imbang ini menjadi catatan penting bagi Belanda. Untuk pertama kalinya di ajang Piala Dunia, mereka dua kali unggul namun gagal meraih kemenangan dalam satu pertandingan.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi dan efektivitas taktik Koeman, terutama dalam menjaga ritme permainan di menit-menit krusial.
Meski demikian, peluang Belanda untuk lolos ke babak berikutnya masih terbuka lebar. Namun mereka harus segera menemukan solusi, terutama dalam menghadapi tim dengan pertahanan rapat seperti Jepang.
Tantangan Berikutnya: Swedia Menanti Belanda
Laga selanjutnya melawan Swedia akan menjadi ujian penting bagi Belanda. Koeman dituntut untuk melakukan evaluasi cepat, terutama dalam hal:
- Efektivitas serangan melawan low block
- Konsistensi pertahanan di menit akhir
- Pengambilan keputusan saat unggul
Jika tidak segera diperbaiki, masalah yang sama bisa kembali muncul dan menghambat perjalanan Belanda di Piala Dunia 2026.
BACA JUGA :












