Malut United kembali menjadi sorotan dalam persaingan BRI Super League 2025/2026. Setelah tampil impresif pada musim debut, Laskar Kie Raha kini kembali bertarung di papan atas klasemen. Namun, situasi yang mereka hadapi saat ini memunculkan nuansa deja vu Malut United, mengingat pola yang terjadi hampir identik dengan musim sebelumnya. Pertanyaannya, apakah mereka mampu bangkit dan mengulang kesuksesan, atau justru terjebak dalam tren penurunan di putaran kedua?
Posisi Stabil, Tapi Penuh Tekanan
Hingga pekan ke-29, Malut United masih bertahan di posisi lima besar dengan raihan 46 poin. Pencapaian ini menjaga asa mereka untuk tetap bersaing di papan atas hingga akhir musim. Konsistensi di awal kompetisi menjadi fondasi penting yang membuat tim ini tetap relevan dalam perebutan posisi elite.
Menariknya, kondisi ini hampir sama dengan musim lalu. Pada periode yang sama, Malut United juga menempati posisi kelima, bahkan dengan koleksi poin sedikit lebih tinggi, yakni 47 poin. Kala itu, mereka berhasil menutup musim di posisi tiga besar, sebuah pencapaian yang melampaui ekspektasi banyak pihak.
Kesamaan ini membuat banyak pengamat melihat adanya peluang sekaligus ancaman. Jika mampu menjaga performa, sejarah bisa terulang. Namun jika tidak, mereka berisiko kehilangan momentum di fase krusial kompetisi.
Tren Menurun di Putaran Kedua
Performa Malut United di paruh pertama musim sebenarnya cukup solid. Mereka sempat berada di posisi keempat klasemen dengan torehan 34 poin dari 17 pertandingan. Catatan tersebut terdiri dari sepuluh kemenangan, empat hasil imbang, dan hanya tiga kekalahan.
Namun, grafik performa mulai menurun drastis saat memasuki putaran kedua. Dalam 12 pertandingan terakhir, Malut United hanya mampu mengoleksi 12 poin. Rinciannya, tiga kemenangan, tiga hasil imbang, dan enam kekalahan.
Kemenangan yang diraih pun cenderung datang saat menghadapi tim papan bawah seperti Persik, Persijap, dan Madura United. Sebaliknya, ketika menghadapi tim papan tengah hingga atas, Malut United justru kesulitan menunjukkan konsistensi permainan.
Kekalahan dari Bhayangkara FC, Persib, Persija, Dewa United, Bali United, hingga Persebaya menjadi bukti nyata adanya penurunan performa. Bahkan, tiga pertandingan terakhir harus dilalui dengan hasil negatif secara beruntun, mempertegas bahwa tim ini sedang dalam fase sulit.
Tekanan di Kandang Sendiri
Salah satu faktor yang memperparah situasi adalah hasil buruk di kandang sendiri. Stadion Gelora Kie Raha yang sebelumnya menjadi benteng kuat, kini justru tak lagi memberikan jaminan kemenangan.
Kekalahan di hadapan pendukung sendiri tentu menjadi pukulan psikologis bagi para pemain. Selain itu, kondisi ini juga berpengaruh terhadap kepercayaan diri tim secara keseluruhan.
Dalam kompetisi yang ketat seperti BRI Super League, kehilangan poin di kandang bisa menjadi faktor penentu dalam perebutan posisi akhir klasemen. Hal inilah yang kini menjadi perhatian serius bagi tim pelatih Malut United.
Peluang Bangkit Masih Terbuka
Meski berada dalam tren negatif, peluang Malut United untuk bangkit masih terbuka lebar. Lima pertandingan tersisa akan menjadi penentu nasib mereka di akhir musim.
Dua laga kandang melawan PSBS dan Persita menjadi kesempatan emas untuk kembali meraih poin penuh. Sementara itu, tiga laga tandang melawan Persis, PSIM, dan Borneo FC akan menjadi ujian sesungguhnya bagi mental dan konsistensi tim.
Gelandang Malut United, Wbeynar Angulo, mengakui bahwa timnya saat ini sedang berada dalam situasi sulit. Ia menilai rentetan hasil buruk memberikan dampak besar terhadap kondisi tim.
“Deretan kekalahan dan hasil negatif membawa kami ke situasi sulit. Tentu kondisi ini juga sulit bagi semua pemain, fans, dan semua orang yang mendukung Malut United,” ujarnya.
Meski demikian, Angulo tetap optimistis. Ia menegaskan bahwa pengalaman musim lalu bisa menjadi modal penting untuk keluar dari tekanan.
“Kami perlu bangkit bersama dan berusaha memenangi pertandingan. Malut United memiliki pengalaman keluar dari masa sulit dan kami harus melakukannya lagi sekarang,” tambahnya.
Evaluasi Total Jadi Kunci
Untuk menghadapi lima laga sisa, evaluasi menyeluruh menjadi langkah yang tidak bisa ditunda. Pelatih Hendri Susilo menyadari bahwa timnya perlu melakukan perbaikan di berbagai aspek, baik dari segi taktik, mental, maupun konsistensi permainan.
Menurutnya, kemenangan di laga terdekat akan sangat penting untuk mengembalikan kepercayaan diri tim. Ia juga menegaskan bahwa seluruh elemen tim harus tetap percaya pada potensi yang dimiliki.
“Kami akan melakukan evaluasi total. Menurut saya, banyak aspek yang perlu diperbaiki untuk menatap lima laga sisa ke depan,” ujarnya.
Semangat untuk bangkit juga disampaikan oleh para pemain. Mereka menyadari bahwa situasi sulit ini bukan akhir, melainkan tantangan yang harus dihadapi bersama.
Kesimpulan: Ujian Mental di Fase Penentuan
Deja vu Malut United di musim ini menjadi ujian nyata bagi mental dan kualitas tim. Posisi di lima besar memang masih memberi harapan, tetapi tren negatif di putaran kedua menjadi sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan.
Dengan lima pertandingan tersisa, peluang untuk bangkit masih ada. Namun, semua akan bergantung pada kemampuan tim untuk memperbaiki performa dan menjaga konsistensi hingga akhir musim.
Jika mampu melewati fase sulit ini, Malut United berpeluang mengulang bahkan melampaui pencapaian musim lalu. Sebaliknya, jika gagal bangkit, mereka berisiko kehilangan posisi strategis di klasemen.
Kini, seluruh mata tertuju pada Laskar Kie Raha. Akankah mereka kembali bangkit dan menepis deja vu, atau justru kembali terjebak dalam pola yang sama? Waktu yang akan menjawab.
BACA JUGA :












