Empat musim sudah Persipura Jayapura berjuang untuk kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Sejak terdegradasi pada musim 2021/2022, Mutiara Hitam berusaha bangkit dari keterpurukan yang tak hanya menyentuh aspek teknis, tetapi juga fondasi finansial klub. Di balik proses kebangkitan itu, ada peran penting manajer anyar, Owen Rahadiyan, yang datang membawa optimisme sekaligus menghadapi tantangan besar.
Kini, Persipura berada di jalur persaingan papan atas Pegadaian Championship 2025/2026. Di bawah arahan pelatih berpengalaman Rahmad Darmawan dan dengan kepemimpinan kapten karismatik Boaz Solossa, tim asal Papua itu bercokol di posisi kedua klasemen sementara Grup Timur. Namun, perjalanan menuju titik ini tidaklah mudah.
Krisis Finansial Jadi Akar Masalah
Menurut Owen Rahadiyan, persoalan finansial menjadi penyebab utama merosotnya performa dan stabilitas Persipura dalam beberapa musim terakhir. Ia mengakui bahwa tantangan keberlanjutan finansial bukan hanya dialami Persipura, melainkan banyak klub di Indonesia.
“Banyak klub mencari prestasi satu atau dua musim. Tapi tantangan terbesarnya adalah bagaimana klub bisa sustainable, mendanai dirinya sendiri,” ujar Owen dalam sebuah wawancara.
Ia menekankan bahwa ketergantungan penuh terhadap sponsor bukan solusi jangka panjang. Bagi Owen, komposisi pendanaan ideal tidak sepenuhnya bertumpu pada sponsor. Klub harus mampu menciptakan nilai komersial sendiri agar tetap bertahan ketika sponsor datang dan pergi.
Owen menyebut, idealnya sponsor hanya menyumbang sekitar 30 hingga 40 persen dari total kebutuhan operasional klub. Sisanya harus dihasilkan melalui komersialisasi, pengelolaan aset, hingga pengembangan basis suporter.
Tantangan Sulitnya Mendatangkan Pemain
Meski Persipura memiliki sejarah besar dan reputasi mentereng di sepak bola nasional, bukan berarti proses perekrutan pemain berjalan mulus. Owen mengakui, salah satu tantangan terbesarnya adalah meyakinkan pemain untuk bergabung, terutama mereka yang berasal dari luar Papua.
“Banyak yang berpikir Papua itu jauh. Keluhannya pasti soal jarak,” ungkapnya.
Padahal, menurut Owen, Jayapura memiliki infrastruktur dan fasilitas yang memadai. Ia percaya bahwa persepsi negatif sering kali muncul dari ketidaktahuan. Namun tetap saja, ketika kondisi finansial belum sepenuhnya stabil, klub harus bekerja ekstra keras untuk bersaing dalam perebutan tanda tangan pemain.
Ironisnya, sejumlah talenta Papua yang bersinar di masa lalu kini memilih berkarier di klub lain. Situasi ini membuat manajemen harus lebih kreatif dalam membangun komposisi tim yang kompetitif, tanpa membebani keuangan klub secara berlebihan.
Keputusan Berani di Tengah Tekanan
Keputusan Owen menerima tawaran menjadi manajer Persipura pada Juli 2025 sempat mengundang tanda tanya. Ekspektasi publik Papua terhadap kebangkitan Mutiara Hitam begitu tinggi. Kegagalan promosi bisa berujung kekecewaan besar.
Namun, Owen menegaskan bahwa keputusannya bukan tanpa pertimbangan matang. Targetnya jelas: membawa Persipura kembali ke Liga 1 atau kini dikenal sebagai BRI Super League.
“Kalau saya masuk hanya bertahan di Liga 2, itu bukan hal yang tepat untuk saya,” tegasnya.
Ia mengaku memahami risiko besar yang dihadapi. Bahkan, keluarga dan kerabatnya sempat mempertanyakan keberaniannya menerima tantangan tersebut. Namun, pengalaman sebelumnya bersama klub Papua lain, PSBS Biak, memberinya keyakinan bahwa potensi Persipura masih sangat besar untuk dikembangkan.
Strategi Komersialisasi dan Peran Suporter
Owen Rahadiyan menilai bahwa kekuatan terbesar Persipura bukan hanya pada sejarah atau prestasi masa lalu, melainkan pada basis suporter yang loyal. Menurutnya, suporter adalah jantung klub.
“Kalau klub tidak ada fans, saya tidak akan berani masuk,” ujarnya.
Ia percaya, melalui komersialisasi tiket, pengembangan merchandise, aktivitas komunitas, hingga akademi usia muda, Persipura bisa membangun fondasi finansial yang lebih kokoh. Pendekatan ini tidak instan, tetapi diyakini mampu memberikan stabilitas jangka panjang.
Bagi Owen, membangun klub bukan sekadar mengejar posisi klasemen, melainkan menciptakan sistem yang sehat dan berkelanjutan. Ia sadar bahwa proses tersebut membutuhkan waktu, konsistensi, dan dukungan semua pihak.
Asa Promosi dan Kebangkitan Mutiara Hitam
Dengan posisi kedua di klasemen sementara Grup Timur Pegadaian Championship 2025/2026, peluang Persipura untuk promosi kembali ke BRI Super League terbuka lebar. Kombinasi pengalaman Rahmad Darmawan di kursi pelatih dan kepemimpinan Boaz Solossa di lapangan menjadi fondasi penting dalam upaya tersebut.
Namun, perjalanan masih panjang. Persaingan ketat dan tekanan ekspektasi publik menjadi ujian tersendiri bagi Owen dan timnya.
Pada akhirnya, kisah suka duka Owen Rahadiyan bersama Persipura mencerminkan realitas sepak bola Indonesia: ambisi besar harus diimbangi manajemen profesional dan keuangan yang sehat. Tekad promosi bukan sekadar mimpi, melainkan target yang diperjuangkan dengan strategi dan perhitungan matang.
Jika stabilitas finansial terus dibenahi dan performa tim tetap konsisten, bukan tidak mungkin Mutiara Hitam segera kembali bersinar di kasta tertinggi. Bagi Owen Rahadiyan, tantangan ini memang berat, tetapi di sanalah letak kebanggaan dan makna perjuangannya bersama Persipura Jayapura.
BACA JUGA :












