1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP : Doni Zola Kini Lebih Nyaman Jadi Komentator Dibanding Pelatih Futsal

Di dunia futsal Indonesia, nama Doni Zola atau akrab disapa Donzol sudah sangat dikenal. Ia dikenal luas sebagai pelatih futsal bertangan dingin sekaligus komentator yang piawai menganalisis pertandingan.

Namun sedikit yang tahu, Donzol bukan mantan pemain profesional ataupun eks pemain timnas futsal. Kariernya di dunia olahraga dimulai sebagai pelatih di almamater SMA-nya, sebelum akhirnya meniti karier di berbagai klub futsal di Jakarta.

Awal Karier dan Jejak di Futsal Jakarta

Anak Tanah Abang, Jakarta Pusat ini memiliki jaringan pertemanan kuat dengan sejumlah legenda futsal Indonesia, termasuk Vennard Hutabarat dan Justinus Lhaksana. Dari mereka, Donzol banyak belajar mengenai taktik, mental, dan profesionalisme di lapangan futsal.

Ia menceritakan bahwa sejak awal, ia memilih jalur sebagai pelatih. “Kalau kita bicara futsal, saya sudah merasakan semua lapisan. As a coach, as a player, mungkin bukan liga pro ya, bukan pemain timnas juga. Tapi saya memilih jalan sebagai pelatih agar bisa menekuni profesi ini lebih awal,” ujarnya dalam kanal YouTube Dens.TV.

Nyaman di Kursi Komentator

Kini, Donzol mengaku lebih nyaman berada di balik kamera sebagai komentator ketimbang kembali menukangi tim. “Sekarang kan sudah berkembang, saya lebih santai sebagai komentator. Kalau pelatih bisa kalah di delapan besar atau semifinal, kalau komentator sampai final terus. Aman,” katanya sambil tertawa.

Ia menambahkan, menjadi komentator juga memiliki tekanan berbeda dibanding menjadi pelatih. “Enggak semua pelatih bisa ngomong di depan kamera. Cara bicara di depan kamera berbeda dengan di depan pemain. Tekanannya juga berbeda, tapi menurut saya menyenangkan,” tambahnya.

Pernah Menyasar Sepak Bola

Sebelum jatuh cinta dengan futsal, Donzol sempat mengejar karier di sepak bola. Ia mengikuti seleksi di ASIOP pada 1997 dan berhasil lolos dari 1.200 peserta yang disaring menjadi 300 orang.

“Awalnya saya sepak bola, mulai main di SMP tahun 1994. Seleksi di ASIOP di Menteng, saya lolos. Sayangnya, sekolah saya di SMA Negeri 35 fokus pada akademis, jadi saya hanya bertahan dua bulan. Akhirnya, saya memutuskan fokus pendidikan dulu,” ceritanya.

Awal Cinta pada Futsal

Minat Donzol terhadap futsal mulai tumbuh ketika ia menonton Piala AFC Futsal 2002 di Istora Senayan. Saat itu, Indonesia menjadi tuan rumah, menghadapi tim-tim kuat seperti Iran dan Jepang. Walaupun Indonesia kalah telak, Donzol melihat potensi dan semangat yang ada di futsal.

“Pemainnya masih banyak berasal dari sepak bola, tapi ada almarhum Listianto Raharjo, Vennard Hutabarat, Francis Wewengkang, Chairil Anwar, dan Yeyen Tumena. Saya melihat peluang dan akhirnya memutuskan untuk menekuni futsal,” ujarnya.

Sejak saat itu, ia fokus membangun karier sebagai pelatih, menimba ilmu dari senior, dan menapaki jenjang di klub-klub futsal Jakarta. Pengalaman ini pula yang membuatnya memiliki perspektif luas ketika kini menjadi komentator futsal.

Dari Pelatih ke Komentator: Perspektif Berbeda

Menjadi komentator memberi Donzol sudut pandang baru dalam dunia futsal. Ia bisa menganalisis strategi tim, gerak pemain, dan dinamika pertandingan tanpa tekanan hasil yang dirasakan pelatih. Hal ini memberinya kenyamanan sekaligus kesempatan untuk tetap berkontribusi pada perkembangan futsal di Indonesia.

“Sebagai komentator, saya bisa tetap dekat dengan futsal, tetap berbagi insight, tapi tekanan menang-kalah tidak seberat ketika jadi pelatih. Itu yang membuat saya nyaman,” jelasnya.

Kontribusi dan Inspirasi untuk Generasi Muda

Kini, Donzol tidak hanya menjadi pengamat futsal yang berwawasan luas, tetapi juga inspirasi bagi generasi muda. Ia menunjukkan bahwa karier di olahraga tidak melulu soal bermain, tapi juga bisa melalui jalur pelatih dan analis pertandingan. Fleksibilitas dan kemampuan beradaptasinya menjadi contoh bagi mereka yang ingin berkarier di dunia futsal maupun sepak bola.

Kesimpulan

Doni Zola atau Donzol merupakan sosok unik di dunia futsal Indonesia. Meski bukan mantan pemain profesional, pengalaman sebagai pelatih dan komentator membuatnya memiliki perspektif luas dan kontribusi nyata terhadap olahraga ini. Kini, ia merasa lebih nyaman dan berpengaruh di kursi komentator, sekaligus tetap mewarnai perkembangan futsal Tanah Air.

BACA JUGA :

TAGS:
CLOSE