1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP: Gary Neville Soroti Krisis Bek Kanan Inggris dan Nilai Peran Darurat Declan Rice Bukan Solusi Ideal

Perjalanan Inggris di Piala Dunia 2026 kembali memperlihatkan satu persoalan klasik yang sering muncul di turnamen besar: posisi bek kanan. Di tengah ambisi besar untuk menjuarai dunia, Thomas Tuchel justru harus menghadapi masalah yang seharusnya bisa diantisipasi sejak awal. Cedera, pilihan skuad yang diperdebatkan, dan eksperimen darurat membuat sektor kanan pertahanan Inggris menjadi bahan pembicaraan serius.

Gary Neville, mantan bek kanan Inggris dan Manchester United, menjadi salah satu suara paling keras dalam menyoroti masalah ini. Ia menilai Inggris seperti kembali “meremehkan” posisi full-back, sesuatu yang menurutnya sudah beberapa kali terjadi dalam 15 sampai 20 tahun terakhir. Neville menegaskan bahwa membawa terlalu sedikit opsi natural di posisi full-back adalah perjudian besar, terutama di turnamen sebesar Piala Dunia.

Komentar Neville menjadi semakin relevan setelah Declan Rice dipaksa bermain sebagai bek kanan darurat dalam kemenangan Inggris atas DR Congo. Rice memang pemain elite, kuat secara fisik, cerdas membaca permainan, dan punya mental besar. Namun, menempatkan gelandang bertahan utama di posisi bek kanan tetap terasa seperti solusi sementara, bukan jawaban jangka panjang.

Bagi Neville, persoalannya bukan hanya soal Rice bisa atau tidak bisa bermain di sana. Masalah utamanya adalah mengapa Inggris sampai berada dalam situasi yang membuat Rice harus bergeser dari posisi terbaiknya.

Rice Dipaksa Keluar dari Zona Terbaik

Declan Rice adalah jantung lini tengah Inggris. Ia menjadi penghubung antara pertahanan dan serangan, pelindung bek tengah, serta pemain yang menjaga keseimbangan saat Inggris kehilangan bola. Karena itu, ketika ia harus dipindahkan ke bek kanan, Inggris bukan hanya mengisi lubang di pertahanan, tetapi juga menciptakan lubang baru di tengah.

Dalam laga melawan DR Congo, Tuchel melakukan perubahan taktik pada menit-menit akhir dengan menggeser Rice ke sisi kanan pertahanan. Keputusan itu muncul setelah Inggris kesulitan membongkar pertahanan lawan dan membutuhkan jalur serangan yang lebih hidup dari sisi kanan. Menurut laporan Goal, asisten pelatih Anthony Barry memberi ide untuk memainkan Rice di posisi tersebut, dan Tuchel kemudian memuji keputusan itu karena membantu Inggris membalikkan keadaan.

Secara hasil, perubahan itu berhasil. Inggris menang 2-1, Harry Kane mencetak dua gol, dan The Three Lions melangkah ke babak berikutnya. Namun, keberhasilan satu pertandingan tidak selalu berarti sebuah solusi layak diulang. Rice sendiri mengakui bahwa bermain di posisi tersebut bukan kekuatan utamanya, meski ia siap melakukan apa pun untuk tim. TNT Sports melaporkan bahwa Rice bahkan bermain dalam kondisi kesakitan, dengan Tuchel menyebut sang gelandang mengalami nyeri saraf dan sempat berada dalam kondisi “terrible pain”.

Itulah yang membuat kritik Neville terasa masuk akal. Mengandalkan pemain yang sedang kesakitan untuk menutup posisi yang bukan peran aslinya jelas bukan fondasi ideal bagi tim yang ingin menjadi juara dunia.

Neville Tidak Menolak Fleksibilitas Tapi Meminta Perencanaan

Gary Neville memahami bahwa turnamen besar menuntut fleksibilitas. Cedera bisa datang kapan saja. Kartu merah bisa mengubah pertandingan. Lawan bisa memaksa tim mengubah bentuk permainan dalam hitungan menit. Namun, fleksibilitas tidak boleh menjadi alasan untuk perencanaan skuad yang kurang seimbang. Neville sebelumnya pernah mengkritik keputusan Mikel Arteta ketika memainkan Rice sebagai bek kanan di level klub. Menariknya, saat Inggris kesulitan melawan DR Congo, Neville mengaku justru berharap Rice ditempatkan di sana karena situasi pertandingan memang membutuhkan perubahan. Namun, ia tetap melihat keputusan itu sebagai tanda darurat, bukan sesuatu yang seharusnya menjadi rencana utama.

Di sinilah letak perbedaannya. Menggunakan Rice sebagai bek kanan selama 10 atau 15 menit ketika tim membutuhkan momentum berbeda adalah satu hal. Menjadikannya solusi utama dalam fase gugur Piala Dunia adalah hal lain. Neville ingin Inggris menyadari batas antara eksperimen taktis dan kelemahan struktural.

Jika Inggris ingin bertahan sampai akhir turnamen, mereka tidak bisa terus bergantung pada improvisasi. Tim juara biasanya memiliki struktur yang jelas, peran yang stabil, dan pemain yang bermain di posisi terbaiknya. Ketika pemain kunci harus dipindahkan terlalu sering, keseimbangan tim bisa terganggu.

Cedera Reece James Membuka Rantai Masalah

Masalah Inggris di bek kanan tidak muncul tiba-tiba. Reece James, yang semula menjadi salah satu opsi utama, mengalami masalah hamstring dan absen dalam beberapa pertandingan penting. Ia melewatkan laga melawan DR Congo dan masih diragukan menjelang duel melawan Meksiko. Di sisi lain, Jarell Quansah juga sempat mengalami masalah pergelangan kaki, sementara Djed Spence tidak sepenuhnya fit setelah laga melawan DR Congo.

Situasi itu membuat Tuchel kehabisan pilihan natural di posisi kanan. Inggris memang punya banyak pemain serba bisa, tetapi serba bisa tidak selalu sama dengan spesialis. Di level Piala Dunia, detail kecil seperti posisi tubuh saat bertahan, waktu naik membantu serangan, dan cara menutup ruang di belakang winger bisa menentukan nasib pertandingan.

Tuchel kemudian menegaskan bahwa Rice tidak akan menjadi starter di bek kanan melawan Meksiko. Ia menyebut Rice lebih mungkin digunakan di posisi itu pada akhir pertandingan jika Inggris membutuhkan opsi menyerang tambahan, tetapi sang gelandang akan kembali ke lini tengah.

Keputusan itu menunjukkan bahwa Tuchel sendiri tahu Rice bukan solusi ideal sejak awal laga. Namun, fakta bahwa ia sampai harus mempertimbangkan opsi tersebut tetap memperlihatkan betapa rapuhnya perencanaan Inggris di sektor full-back.

Trent Alexander-Arnold dan Pertanyaan yang Menghantui

Krisis bek kanan Inggris juga membuat nama Trent Alexander-Arnold kembali dibicarakan. Tuchel sebelumnya memilih tidak memanggil Trent setelah Tino Livramento mundur dari skuad. Keputusan itu menjadi semakin dipertanyakan ketika Inggris kemudian mengalami masalah di posisi bek kanan.

Trent memang bukan bek kanan konvensional. Ia sering dikritik dalam aspek bertahan, terutama ketika menghadapi winger cepat. Namun, kualitas distribusinya, kemampuan crossing, umpan diagonal, dan kreativitas dari area dalam tetap sangat berharga. Dalam pertandingan knockout yang ketat, pemain seperti Trent bisa membuka pertahanan lawan dengan satu umpan.

Neville, sebagai mantan bek kanan, tentu melihat persoalan ini dari sudut yang lebih luas. Ia tidak hanya menilai siapa yang paling terkenal, tetapi bagaimana sebuah skuad seharusnya dibangun. Jika Inggris membawa pemain sayap, gelandang, dan penyerang dalam jumlah besar, tetapi kurang siap di posisi bek kanan, maka masalah seperti ini hampir pasti muncul ketika cedera datang.

Tuchel mungkin memiliki alasan taktis untuk tidak memilih Trent. Tetapi saat Rice harus bermain di luar posisi, publik wajar bertanya apakah Inggris sebenarnya sudah kehilangan solusi sebelum masalah itu benar-benar muncul.

Quansah Menjadi Jawaban Sementara

Menjelang laga melawan Meksiko, Tuchel akhirnya memilih Jarell Quansah sebagai starter di bek kanan. Reuters melaporkan bahwa Quansah dimainkan di sisi kanan pertahanan dalam duel babak 16 besar di Estadio Azteca, sementara Rice kembali mengisi lini tengah bersama Elliot Anderson dan Jude Bellingham.

Keputusan itu masuk akal secara struktur. Quansah mungkin lebih dikenal sebagai bek tengah, tetapi ia memberi stabilitas defensif, tinggi badan, dan kekuatan duel. Tuchel tampaknya ingin menghindari risiko memainkan Rice dari awal di posisi yang bukan peran alaminya, terutama dalam laga penuh tekanan melawan tuan rumah Meksiko.

Namun, Quansah kemudian mendapat kartu merah pada babak kedua. The Guardian mencatat bahwa setelah Quansah diusir keluar, Inggris harus kembali mengatur ulang pertahanan, dengan Ezri Konsa bergeser ke kanan dan John Stones masuk untuk memperkuat lini belakang.

Momen itu memperlihatkan betapa “terkutuknya” posisi bek kanan Inggris di turnamen ini. Setiap kali Tuchel menemukan solusi, masalah baru muncul. Rice menjadi solusi darurat melawan DR Congo. Quansah menjadi starter melawan Meksiko. Lalu kartu merah memaksa perubahan berikutnya.

Tuchel Tetap Mendapat Kredit

Meski masalah bek kanan terus menjadi sorotan, Tuchel tetap layak mendapat pujian atas cara ia mengelola kekacauan saat menghadapi Meksiko. Inggris menang 3-2 meski bermain dengan 10 pemain, dan The Guardian menggambarkan keputusan Tuchel setelah kartu merah Quansah sebagai salah satu contoh kecerdasan taktisnya. Ia mengubah struktur, memperkuat pertahanan, dan membuat Inggris bertahan dari tekanan besar Meksiko.

Setelah kartu merah, Inggris tidak langsung runtuh. Mereka sempat menambah gol melalui penalti Harry Kane, lalu bertahan dalam tekanan berat setelah Raúl Jiménez memperkecil skor dari titik putih. Tuchel kemudian beralih ke bentuk pertahanan yang lebih aman, memasukkan pemain seperti Djed Spence dan Dan Burn untuk memperkuat blok pertahanan.

Kemenangan itu menunjukkan bahwa Tuchel bukan pelatih yang panik ketika pertandingan berubah. Ia membaca situasi, menyesuaikan peran pemain, dan menjaga Inggris tetap hidup. Namun, keberhasilan mengatasi masalah tidak berarti masalah itu hilang. Justru, kemenangan dramatis atas Meksiko membuktikan bahwa Inggris punya karakter, tetapi juga masih punya celah struktural yang bisa dimanfaatkan lawan lebih kuat.

Neville mungkin akan mengakui kerja Tuchel dalam laga tersebut. Tetapi kritik dasarnya tetap berdiri: Inggris tidak boleh terus berada dalam kondisi harus “memadamkan api” di posisi bek kanan.

Rice Lebih Berharga di Tengah

Alasan utama mengapa Rice tidak ideal sebagai bek kanan adalah karena nilainya jauh lebih besar di lini tengah. Dalam sistem Inggris, Rice bukan hanya pemain bertahan. Ia adalah pengatur keseimbangan. Ia membantu bek tengah keluar dari tekanan, menutup area di depan pertahanan, memenangkan duel, dan memberi platform bagi Bellingham serta pemain menyerang lain untuk bergerak lebih bebas.

Saat melawan Meksiko, The Guardian mencatat bahwa Rice memainkan peran penting dari sisi kanan lini tengah, membantu melindungi Quansah dan kemudian membuat pergerakan kuat yang berkontribusi pada gol pertama Inggris.

Itu adalah bukti bahwa Rice paling berguna ketika ia berada di area yang memungkinkannya memengaruhi banyak fase permainan. Sebagai bek kanan, ia mungkin bisa bertahan dengan disiplin dan memberi crossing dari sisi luar. Tetapi sebagai gelandang, ia bisa mengendalikan tempo, memutus serangan, dan membantu transisi.

Memindahkan Rice ke bek kanan terlalu lama berarti mengurangi kekuatan utama Inggris di tengah. Dalam fase gugur, ketika duel lini tengah sering menentukan siapa yang menguasai pertandingan, keputusan seperti itu terlalu mahal.

Masalah yang Bisa Mengganggu Ambisi Juara

Inggris kini melaju ke perempat final untuk menghadapi Norwegia setelah kemenangan atas Meksiko. Berdasarkan jadwal turnamen, duel tersebut menjadi ujian berikutnya bagi Tuchel dan skuadnya.

Pertandingan melawan Norwegia akan menghadirkan tantangan berbeda. Norwegia memiliki kekuatan fisik besar, ancaman langsung, dan tentu saja Erling Haaland sebagai pusat serangan. Dalam laga seperti itu, stabilitas bek kanan akan kembali menjadi sangat penting. Jika Inggris kembali melakukan eksperimen, Norwegia bisa mencoba menyerang sisi tersebut secara agresif.

Neville melihat masalah bek kanan bukan sebagai isu kecil, melainkan sesuatu yang dapat memengaruhi peluang Inggris memenangkan turnamen. Ketika lawan semakin kuat, kelemahan struktural akan semakin sering diuji. Tim seperti Norwegia, Prancis, Spanyol, Portugal, atau Argentina tidak membutuhkan banyak peluang untuk menghukum kesalahan.

Kualitas Inggris di lini depan memang besar. Bellingham sedang menjadi pemain kunci, Kane tetap berbahaya, dan Saka maupun Gordon memberi variasi serangan. Tetapi turnamen besar sering dimenangkan oleh tim yang paling seimbang, bukan hanya yang paling berbakat.

Baca Juga:

TAGS:
CLOSE