Inggris akan memasuki semifinal Piala Dunia 2026 dengan satu persoalan yang sudah menghantui banyak tim selama lebih dari dua dekade: bagaimana menghentikan Lionel Messi. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya hampir tidak pernah benar-benar ditemukan.
The Three Lions dijadwalkan menghadapi Argentina di Atlanta pada Rabu, 15 Juli 2026 waktu setempat. Pertandingan tersebut bukan hanya mempertemukan dua negara dengan sejarah rivalitas panjang, tetapi juga menghadirkan pertemuan pertama Messi melawan tim nasional senior Inggris sepanjang karier internasionalnya. Pada usia 39 tahun, kapten Argentina itu akhirnya akan menambahkan Inggris ke dalam daftar lawan besar yang pernah dihadapinya.
Mantan bek Inggris Micah Richards memperingatkan bahwa memberikan penjagaan khusus kepada Messi nyaris mustahil. Alasannya bukan hanya kemampuan menggiring bola atau melepaskan umpan, tetapi juga pola pergerakannya yang tidak mengikuti kebiasaan pemain lain. Messi dapat terlihat tidak aktif selama beberapa menit, lalu tiba-tiba muncul di ruang yang menentukan pertandingan.
Bagi Thomas Tuchel, tantangannya bukan mencari satu pemain yang mampu mematikan Messi. Inggris harus membangun sistem kolektif yang mengurangi jumlah sentuhan berbahaya sang megabintang tanpa kehilangan keseimbangan menghadapi pemain Argentina lainnya.
Pertemuan yang Seolah Ditunggu Takdir
Messi telah menjalani karier internasional selama lebih dari 20 tahun dan menghadapi hampir semua negara besar. Ia pernah bermain melawan Brasil, Uruguay, Jerman, Italia, Spanyol, Prancis, Belanda, Kroasia, dan berbagai kekuatan sepak bola dunia lainnya.
Namun, Inggris selalu menjadi pengecualian. Pertemuan terakhir Inggris dan Argentina sebelum Piala Dunia 2026 berlangsung dalam laga persahabatan pada November 2005. Messi tidak bermain karena baru saja menjalani hukuman setelah kartu merah pada debut internasionalnya melawan Hungaria. Argentina kalah 2-3 setelah Michael Owen mencetak dua gol dan Wayne Rooney menyumbangkan satu gol untuk Inggris.
Asosiasi Sepak Bola Argentina menggambarkan semifinal 2026 sebagai pertandingan yang seolah “dihutang” oleh takdir kepada Messi. Ungkapan tersebut terasa tepat karena sang pemain telah melewati begitu banyak panggung besar, tetapi belum pernah merasakan atmosfer duel Inggris melawan Argentina.
Messi sendiri menyebut pertandingan ini spesial karena Inggris merupakan tim besar. Namun, ia juga mengingatkan bahwa Argentina datang dari rangkaian laga sistem gugur yang sangat menguras tenaga. Sang juara bertahan membutuhkan pemulihan terbaik sebelum menghadapi salah satu tim paling atletis di turnamen.
Mengapa Messi Begitu Sulit Dijaga
Banyak pemain hebat dapat dikurangi pengaruhnya dengan penjagaan ketat. Seorang penyerang cepat dapat dipaksa menjauh dari ruang terbuka. Pemain target dapat ditahan melalui duel fisik. Gelandang kreatif dapat ditekan sebelum sempat mengangkat kepala. Lionel Messi menghadirkan persoalan berbeda. Ia tidak terus bergerak mengikuti ritme pertandingan. Ia sering berjalan, berdiri di antara lini, dan mengamati bentuk pertahanan lawan. Ketika pemain bertahan mulai merasa aman, ia berpindah beberapa meter menuju ruang yang tidak terjaga.
Inilah alasan Richards menilai penjagaan terhadap Messi hampir mustahil. Bek tidak selalu dapat mengikutinya karena hal itu akan merusak struktur. Jika seorang gelandang terus menempel, Argentina dapat menggunakan ruang yang ditinggalkan pemain tersebut. Bila Inggris memilih bertahan secara zonal, Messi mempunyai kecerdasan untuk menemukan celah di antara dua penjaga.
Bahaya terbesar muncul ketika Messi menerima bola sambil menghadap ke depan. Dari posisi itu, ia dapat menggiring, mengirim umpan terobosan, memindahkan permainan, atau melepaskan tembakan. Inggris tidak perlu membiarkannya melakukan banyak aksi. Satu keputusan tepat dapat cukup untuk menentukan semifinal.
Inggris Tidak Bisa Hanya Menugaskan Satu Penjaga
Strategi menggunakan satu pemain sebagai pengawal pribadi mungkin terlihat menarik, tetapi risikonya terlalu besar. Messi bergerak terlalu bebas dan dapat turun hingga mendekati lini tengah. Mengikutinya ke setiap area akan membuka ruang bagi Julián Álvarez, Lautaro Martínez, Alexis Mac Allister, atau pemain Argentina lainnya.
Tuchel lebih mungkin meminta beberapa pemain berbagi tanggung jawab. Gelandang bertahan harus menutup jalur umpan ketika Messi berada di antara lini. Bek tengah perlu maju pada waktu yang tepat tanpa kehilangan posisi. Bek sayap juga harus memperhatikan pergerakannya menuju area antara sisi luar dan tengah lapangan.
Kunci utamanya bukan merebut bola setiap kali Messi menyentuhnya. Inggris harus memaksanya menerima bola dalam posisi yang kurang nyaman, jauh dari gawang, dan dengan tubuh menghadap ke belakang.
Sistem tersebut membutuhkan komunikasi sempurna. Keterlambatan satu detik dapat membuka jalur umpan. Tekanan yang terlalu agresif dapat dilewati. Sikap terlalu pasif memberi Messi waktu untuk membaca seluruh lapangan.
Inggris juga harus menghindari pelanggaran di sekitar kotak penalti. Memberikan tendangan bebas kepada Messi berarti menciptakan ancaman tanpa memerlukan Argentina membangun serangan terbuka.
Memutus Pasokan Lebih Masuk Akal daripada Mengejar Messi
Salah satu pendekatan paling realistis adalah mengurangi jumlah bola yang sampai kepada Messi. Inggris dapat menekan para pengumpan Argentina dan menutup jalur menuju area favorit sang kapten.
Mac Allister, Enzo Fernández, dan Leandro Paredes memiliki kemampuan mengirim bola vertikal. Jika ketiganya mendapatkan waktu, Messi dapat menerima operan di ruang sempit sebelum lini pertahanan siap bereaksi.
Karena itu, pekerjaan Harry Kane dan para pemain sayap juga menjadi penting. Mereka tidak cukup hanya menunggu serangan. Inggris harus mengarahkan proses pembangunan Argentina menuju sisi lapangan dan mencegah umpan mudah ke tengah.
Tekanan tidak boleh dilakukan tanpa koordinasi. Argentina berpengalaman melewati pressing melalui kombinasi pendek atau umpan langsung dari Emiliano Martínez. Bila lini pertama Inggris bergerak tetapi lini tengah terlambat mengikuti, ruang besar akan muncul.
Swiss sempat memperlihatkan bahwa Argentina dapat dibuat tidak nyaman oleh organisasi yang disiplin dan kekuatan fisik. Namun, sang juara bertahan tetap menang 3-1 setelah babak tambahan, sementara Messi menyumbangkan assist untuk gol pembuka Mac Allister.
Pelajaran bagi Inggris jelas: membatasi Messi mungkin dilakukan selama beberapa periode, tetapi konsentrasi harus dijaga hingga detik terakhir.
Kekuatan Atletis Inggris Bisa Menjadi Senjata
Richards menilai Inggris memiliki kemampuan untuk berlari lebih kuat daripada Argentina. The Three Lions mempunyai banyak pemain dengan kecepatan, stamina, dan kapasitas duel yang dapat mengganggu ritme sang juara bertahan.
Keunggulan atletis itu harus digunakan secara cerdas. Inggris dapat menaikkan intensitas di lini tengah, menyerang ruang di belakang bek sayap, dan memaksa Argentina bertahan lebih dalam.
Bukayo Saka, Anthony Gordon, Noni Madueke, Eberechi Eze, atau pemain cepat lainnya dapat menjadi ancaman melalui area lebar. Jika Argentina harus terus menghadapi serangan dari sayap, Messi akan menerima bola lebih jauh dari gawang Inggris.
Namun, bermain cepat tidak sama dengan bermain terburu-buru. Inggris dikritik Tuchel karena terlalu banyak membuat kesalahan teknis ketika mengalahkan Norwegia 2-1 setelah babak tambahan. Sang pelatih mengakui mentalitas timnya luar biasa, tetapi menegaskan bahwa mereka harus memainkan sepak bola yang lebih baik.
Kehilangan bola secara ceroboh melawan Argentina dapat menjadi bencana. Ketika struktur Inggris terbuka, Messi tidak memerlukan waktu lama untuk menemukan pelari di belakang pertahanan.
Peran Declan Rice dan Jude Bellingham
Kondisi Declan Rice akan menjadi salah satu perhatian terbesar menjelang semifinal. Tuchel mengungkapkan bahwa gelandang tersebut menghabiskan sebagian besar tiga hari sebelum pertandingan Norwegia di tempat tidur karena sakit dan tidak bermain pada babak kedua.
Rice merupakan pemain yang paling alami untuk melindungi ruang di depan bek tengah. Ia mampu membaca bahaya, memenangkan duel, dan menutup jalur umpan. Kesiapannya sangat penting untuk membantu Inggris menghadapi Messi.
Namun, tanggung jawab tersebut tidak boleh hanya dibebankan kepada Rice. Jude Bellingham juga harus ikut menjaga keseimbangan. Gelandang Real Madrid itu menjadi kekuatan serangan terbesar Inggris setelah mencetak empat gol dalam dua pertandingan terakhir dan enam gol sepanjang turnamen. Ia serta Kane menyumbangkan 12 dari 13 gol Inggris.
Bellingham perlu memilih kapan harus maju dan kapan harus tetap dekat dengan lini tengah. Jika ia terlalu cepat menyerang, Inggris dapat kehilangan jumlah pemain di area tempat Messi bergerak.
Tuchel mungkin harus mengorbankan sebagian kebebasan ofensif Bellingham demi stabilitas. Tantangannya adalah melakukan itu tanpa menghilangkan ancaman gol pemain paling produktifnya.
Argentina Bukan Hanya Lionel Messi
Kesalahan terbesar yang dapat dilakukan Inggris adalah membangun seluruh rencana hanya untuk Messi. Argentina telah berkali-kali membuktikan bahwa mereka dapat menang melalui kontribusi pemain lain.
Álvarez memiliki pergerakan agresif dan kemampuan menyelesaikan peluang. Lautaro dapat menjadi ancaman di kotak penalti, sedangkan Mac Allister sering muncul dari lini kedua. Enzo mampu mengatur tempo, dan Emiliano Martínez memberikan ketenangan sekaligus distribusi langsung dari belakang.
Seluruh pemain Argentina juga memahami cara mendukung Messi. Mereka bergerak untuk membuka ruang, menawarkan jalur umpan, dan mengambil pekerjaan defensif yang tidak selalu dilakukan sang kapten.
Richards menilai tim Argentina bermain untuk Messi. Pernyataan itu bukan berarti mereka sekadar bergantung pada satu pemain, tetapi sistemnya dirancang agar Messi dapat menyimpan energi untuk momen yang paling menentukan.
Jika Inggris mengirim terlalu banyak pemain ke arah Messi, Argentina akan menyerang ruang lain. Apabila mereka terlalu takut kepadanya, The Three Lions dapat menjadi pasif.
Rencana terbaik adalah menghormati kualitas Messi tanpa memperlakukannya seolah seluruh pertandingan hanya melibatkan satu lawan.
Tekanan Sejarah Tidak Boleh Menguasai Pertandingan
Inggris melawan Argentina selalu membawa cerita yang lebih besar daripada sepak bola biasa. Kedua negara bertemu pada Piala Dunia 1966, 1986, 1998, dan 2002, dengan berbagai momen yang terus dibicarakan hingga kini.
Pertemuan 1986 dikenang melalui gol “Tangan Tuhan” dan aksi individual legendaris Diego Maradona. Pada 1998, Argentina menang melalui adu penalti setelah pertandingan yang diwarnai kartu merah David Beckham. Empat tahun kemudian, penalti Beckham membantu Inggris meraih kemenangan 1-0.
Lionel Scaloni berusaha meredam seluruh beban tersebut. Pelatih Argentina menegaskan bahwa semifinal ini harus dilihat sebagai pertandingan sepak bola melawan tim hebat dan pelatih yang ia hormati.
Tuchel juga harus memastikan pemain Inggris tidak memasuki lapangan dengan keinginan membalas masa lalu. Mereka tidak sedang menghadapi Maradona atau generasi 1998. Mereka menghadapi tim Argentina 2026 yang mengejar gelar beruntun.
Emosi dapat memberikan energi, tetapi juga dapat merusak disiplin. Pelanggaran tidak perlu, perdebatan dengan wasit, atau reaksi berlebihan hanya akan menguntungkan Argentina.
Tuchel Menghadapi Ujian Taktis Terbesarnya
Tuchel dikenal sebagai pelatih yang mampu menyusun rencana khusus untuk pertandingan besar. Namun, sepak bola internasional memberikan waktu latihan lebih sedikit dibandingkan level klub.
Ia harus menentukan apakah Inggris akan menggunakan empat bek, tiga bek, tekanan tinggi, atau blok menengah. Setiap pilihan mempunyai konsekuensi terhadap ruang yang dapat dimanfaatkan Messi.
Blok rendah dapat menutup area di belakang pertahanan, tetapi memberikan Argentina penguasaan bola. Tekanan tinggi dapat menjauhkan Messi dari gawang, tetapi meninggalkan ruang besar bila lawan berhasil melewati garis pertama.
Tuchel juga harus mempertimbangkan kondisi fisik pemain setelah laga 120 menit melawan Norwegia. Inggris mencapai semifinal berkat ketahanan mental yang dipuji sang pelatih, tetapi kelelahan dapat memengaruhi kecepatan reaksi.
Pergantian pemain mungkin menjadi faktor penentu. Messi tetap berbahaya ketika lawan mulai lelah, sehingga Inggris membutuhkan energi baru di lini tengah dan pertahanan.
Tidak ada rencana yang menjamin Messi akan hilang dari pertandingan. Keberhasilan Tuchel akan ditentukan oleh kemampuan timnya mengelola risiko lebih baik daripada Argentina.
Baca Juga:
- SBOTOP: Harry Kane Bongkar Pesan Tegas Thomas Tuchel di Ruang Ganti usai Inggris Singkirkan Norwegia
- SBOTOP: Jude Bellingham Bantah Kritik Thomas Tuchel Nilai Kemenangan Inggris atas Norwegia Tak Layak Disebut Ceroboh
- SBOTOP: Piala Dunia Penuh Sejarah Kanada Kini Hadapi Pertanyaan Besar soal Masa Depan Jesse Marsch dan Generasi Mudanya












