Ada sesuatu yang terasa janggal dari perjalanan Oxford United musim ini. Satu musim penuh harapan justru berakhir dengan kepedihan. Klub milik Erick Thohir itu resmi terdegradasi ke League One 2026/2027 setelah gagal keluar dari zona tiga terbawah Championship. Namun yang membuat cerita ini semakin panas, penyebab kejatuhan mereka kini mulai dibongkar dari dalam Inggris sendiri.
Meski menang telak 4-1 atas Sheffield Wednesday di laga terakhir kandang, itu tidak lagi cukup. Oxford tetap terjebak di posisi degradasi. Bahkan, dengan satu laga tersisa, nasib mereka sudah tak bisa diselamatkan. Dan di balik itu semua, muncul pertanyaan besar: apa yang sebenarnya terjadi pada The U’s musim ini?
Kemenangan Terlambat yang Tak Lagi Menyelamatkan
Stadion Kassam sempat bergemuruh ketika Oxford United mencetak kemenangan besar. Namun demikian, suasana cepat berubah menjadi campuran antara bangga dan kecewa.
Kemenangan itu hanya menjadi catatan statistik, bukan penyelamat. Dengan selisih poin yang sudah tak terkejar, Oxford dipastikan turun kasta. Situasi ini terasa pahit, terutama bagi para pemain seperti Ole Romeny dan Marselino Ferdinan yang menjadi bagian dari proyek ambisius klub.
Namun demikian, masalah Oxford ternyata tidak sesederhana hasil di satu pertandingan. Sebaliknya, ini adalah akumulasi dari banyak faktor sepanjang musim.
BBC Ungkap Penyebab Utama: Kehabisan Tenaga Sejak Awal
Jurnalis BBC Radio Oxford, Jerome Sale, memberikan gambaran yang cukup tajam mengenai kondisi klub. Menurutnya, Oxford United sudah terlihat kehabisan tenaga sejak awal musim.
Ia menilai bahwa tekanan di Championship sudah terasa sejak Oxford baru saja promosi. Bahkan, beban itu seperti tidak pernah benar-benar hilang.
“Rasanya seperti mereka telah memainkan pertandingan-pertandingan penting selama berbulan-bulan,” ujar Jerome Sale.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa Oxford tidak pernah benar-benar mampu beradaptasi dengan intensitas tinggi Championship. Akibatnya, mereka selalu berada dalam tekanan yang konstan.
Piala Presiden 2025 Jadi Sorotan Mengejutkan
Namun demikian, ada satu faktor lain yang ikut disorot dan cukup mengejutkan. Jerome Sale menyinggung tur pramusim Oxford United ke Indonesia dalam ajang Piala Presiden 2025.
Turnamen tersebut memang menjadi bagian dari persiapan klub. Namun, dampaknya justru dianggap negatif terhadap kesiapan tim menghadapi musim baru.
Oxford United tampil dengan skuad utama dan berhasil menjadi runner-up. Akan tetapi, ada konsekuensi besar di balik itu. Striker utama Ole Romeny mengalami cedera serius yang membuatnya harus naik meja operasi.
Kondisi ini kemudian berdampak panjang. Performa Romeny menurun drastis sepanjang musim, dan lini depan Oxford kehilangan salah satu tumpuan utamanya.
“Apa yang salah? Banyak hal, tur pramusim yang gagal di Indonesia dan jendela transfer yang tersendat,” kata Jerome Sale.
Awal Musim yang Buruk dan Efek Domino
Masalah Oxford tidak berhenti di sana. Mereka mengawali musim dengan tiga kekalahan beruntun. Portsmouth, Hull City, dan Birmingham City menjadi mimpi buruk awal yang sulit dilupakan.
Sejak saat itu, kepercayaan diri tim mulai goyah. Mereka terus terjebak di papan bawah dan kesulitan keluar dari tekanan.
Situasi ini akhirnya memicu perubahan besar di kursi pelatih. Gary Rowett dipecat, dan Matt Bloomfield didatangkan pada Januari 2026. Namun demikian, perubahan itu datang terlambat.
Hasil tetap tidak berubah. Konsistensi tidak pernah benar-benar ditemukan.
Konflik Fokus dan Proyek Stadion Baru
Selain masalah di lapangan, Jerome Sale juga menyinggung faktor lain yang lebih struktural. Salah satunya adalah proyek pembangunan stadion baru.
Meski manajemen menegaskan bahwa proyek tersebut tidak mengganggu tim, tetap ada kekhawatiran soal fokus klub secara keseluruhan.
Namun Sale menilai bahwa masalah utama bukan di sana. Menurutnya, Oxford hanya kurang stabil dalam pengambilan keputusan teknis dan transfer.
“Perubahan manajerial mungkin datang terlalu terlambat,” tambahnya.
Dengan anggaran yang tidak terlalu buruk di Championship, kegagalan ini semakin terasa menyakitkan.
Dari Championship ke League One: Babak Baru yang Penuh Tanda Tanya
Kini, Oxford United harus kembali ke League One. Sebuah langkah mundur yang tentu tidak diinginkan sejak awal proyek ambisius mereka dimulai.
Namun demikian, kompetisi kasta ketiga Inggris bukan tempat yang mudah. Mereka akan bersaing dengan klub-klub besar seperti Leicester City, Luton Town, hingga Wigan Athletic.
Di sinilah pertanyaan besar muncul. Apakah Oxford akan kembali menjadi kandidat promosi? Ataukah mereka akan kesulitan bangkit?
Masa Depan yang Masih Kabur
Dengan skuad yang ada saat ini, masa depan Oxford masih penuh tanda tanya. Ole Romeny dan Marselino Ferdinan menjadi bagian dari proyek jangka panjang. Namun arah tim belum jelas.
Jerome Sale bahkan mempertanyakan identitas baru klub ini.
“Apakah dua tahun di Championship telah mengubah mereka untuk selamanya atau hanya sementara?” ujarnya.
Pertanyaan itu kini menggantung tanpa jawaban pasti.
Penutup: Kejatuhan yang Lebih dari Sekadar Skor
Kisah Oxford United musim ini bukan hanya soal degradasi. Ini adalah cerita tentang kelelahan, keputusan yang terlambat, dan dampak dari banyak faktor yang saling bertabrakan.
Dari pramusim di Indonesia hingga pergantian pelatih yang tidak tepat waktu, semuanya membentuk satu pola besar: ketidakseimbangan.
Dan kini, saat mereka bersiap memulai kembali di League One, satu hal menjadi jelas. Oxford tidak hanya perlu bangkit secara teknis, tetapi juga secara mental dan struktural.
Karena di sepak bola, jatuh bukan masalah terbesar. Yang paling penting adalah bagaimana cara bangkit kembali.
BACA JUGA :












