Argentina datang ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 dengan status juara bertahan, rekor sempurna di fase grup, dan satu nama yang kembali menjadi pusat gravitasi permainan: Lionel Messi. Pada usia 39 tahun, Messi masih menjadi wajah utama Albiceleste, bukan hanya karena reputasi panjangnya, tetapi karena kontribusinya tetap terasa sangat menentukan di setiap fase serangan.
Sebelum menghadapi Tanjung Verde di Miami pada 3 Juli 2026, Lionel Scaloni sudah harus menjawab pertanyaan klasik yang tidak pernah benar-benar hilang dari tim nasional Argentina: apakah tim ini terlalu bergantung kepada Messi? Pertanyaan itu semakin relevan karena Messi mencetak enam gol di fase grup, sementara Argentina menyapu tiga pertandingan awal dengan kemenangan atas Aljazair, Austria, dan Yordania. GOAL melaporkan bahwa Scaloni menepis kekhawatiran soal beban gol Messi, sambil menegaskan bahwa kemenangan tim tetap menjadi hal paling penting meskipun ia tentu berharap gol bisa lebih merata.
Namun, pertandingan melawan Tanjung Verde kemudian menunjukkan bahwa kekhawatiran itu tidak sepenuhnya tanpa dasar. Argentina memang menang 3-2 setelah extra time, tetapi mereka harus melewati salah satu ujian paling menegangkan di turnamen ini. Reuters melaporkan bahwa Tanjung Verde dua kali menyamakan kedudukan sebelum Argentina lolos berkat sundulan Cristian Romero yang berbelok masuk setelah mengenai Diney Borges.
Scaloni Percaya tetapi Tidak Buta terhadap Risiko
Kepercayaan Scaloni terhadap timnya bukanlah kepercayaan kosong. Ia telah membangun Argentina menjadi tim juara dunia, juara Copa America, dan skuad yang terbiasa menang dalam tekanan besar. Itulah sebabnya ketika pertanyaan tentang ketergantungan kepada Messi muncul, Scaloni tidak terlihat panik. Baginya, Messi memang pusat permainan, tetapi Argentina tetap memiliki struktur kolektif yang bisa membuat tim berjalan.
Sebelum laga melawan Tanjung Verde, Scaloni mengatakan bahwa Messi telah bermain dalam berbagai kondisi bersama Argentina dan bahwa kehadirannya akan bergantung pada pertandingan serta kondisi sang pemain. Ia juga menyebut bahwa peluang sebenarnya datang kepada pemain lain, tetapi Messi adalah salah satu penyerang yang mampu mengubah peluang itu menjadi gol. Dalam konteks itu, ketergantungan kepada Messi bukan dilihat sebagai kelemahan, melainkan sebagai konsekuensi alami dari memiliki pemain paling menentukan dalam skuad.
Tetapi keyakinan Scaloni tetap disertai kewaspadaan. Ia tidak pernah menganggap Tanjung Verde sebagai lawan ringan. Sebelum pertandingan, ia mengingatkan bahwa Tanjung Verde bukan kebetulan berada di babak gugur. Mereka belum kalah, mampu menahan Spanyol dan Uruguay, serta memiliki kemampuan bertahan rendah yang disiplin dan serangan balik berbahaya.
Pernyataan itu terbukti benar. Tanjung Verde bukan hanya bertahan hidup melawan Argentina; mereka benar-benar membuat juara bertahan menderita.
Messi Sekali Lagi Menjadi Jawaban Pertama
Ketika Argentina membutuhkan inspirasi, bola kembali mengarah kepada Messi. Pada babak pertama melawan Tanjung Verde, ia mencetak gol yang kemudian disebut Reuters sebagai gol Piala Dunia ke-20 dalam kariernya. Gol itu memperpanjang rekornya dan memperkuat posisinya dalam perebutan top skor turnamen.
The Daily Star menggambarkan bahwa sejak awal laga, hampir semua serangan Argentina mengalir melalui Messi. Ia menjadi titik awal, penghubung, sekaligus eksekutor. Saat Tanjung Verde kehilangan fokus sejenak, Messi menghukum mereka dengan sentuhan pertama yang lembut dan penyelesaian dari sudut sempit.
Inilah dilema terbesar Argentina. Di satu sisi, memiliki Messi adalah kemewahan yang tidak dimiliki negara lain. Ia mampu menciptakan solusi dari ruang yang nyaris tertutup. Ia bisa mengubah tempo, menarik banyak lawan, memenangkan tendangan bebas, mengirim umpan mati berbahaya, dan tetap menjadi pencetak gol utama. Namun di sisi lain, ketika terlalu banyak alur serangan bergantung kepadanya, Argentina menjadi lebih mudah dibaca: hentikan Messi, atau setidaknya perlambat ritmenya, maka tim bisa kehilangan kelancaran.
Tanjung Verde tidak sepenuhnya menghentikan Messi. Tetapi mereka cukup sukses membuat Argentina bekerja keras di luar zona nyaman.
Tanjung Verde Membuktikan Tidak Ada Lawan Mudah
Laga ini menjadi bukti paling kuat dari peringatan Scaloni. Tanjung Verde datang sebagai debutan Piala Dunia, tetapi mereka tampil seperti tim yang sudah lama mengerti panggung besar. Reuters melaporkan bahwa negara kepulauan berpenduduk sekitar 500.000 jiwa itu datang ke turnamen dengan peringkat ke-67 dunia, namun mampu menahan Spanyol dan Uruguay di fase grup sebelum menyulitkan Argentina sampai extra time.
Secara reputasi, Argentina unggul jauh. Secara sejarah, jaraknya bahkan seperti dua dunia berbeda. Tetapi sepak bola babak gugur tidak selalu mengikuti peta kekuatan di atas kertas. Tanjung Verde bermain dengan keberanian, identitas, dan disiplin yang membuat Argentina tidak bisa mengalirkan permainan sesuka hati.
Deroy Duarte menyamakan kedudukan setelah Messi membawa Argentina unggul. Kemudian, saat Argentina kembali memimpin pada extra time, Sidny Lopes Cabral mencetak gol spektakuler untuk membuat skor kembali imbang. Reuters mencatat bahwa gol Cabral membuat Scaloni semakin cemas karena potensi kejutan besar benar-benar terasa nyata.
Bagi Tanjung Verde, kekalahan ini tetap menjadi sejarah. Bagi Argentina, kemenangan ini menjadi peringatan keras.
Ketergantungan atau Keunggulan
Perdebatan soal Messi sering kali terjebak pada satu kata: ketergantungan. Jika Argentina menang karena Messi, mereka dianggap terlalu bergantung. Jika Messi tidak mencetak gol, Argentina dianggap kehilangan arah. Tetapi kenyataannya lebih rumit.
Setiap tim besar memiliki pusat permainan. Prancis memiliki Kylian Mbappe, Norwegia memiliki Erling Haaland, Portugal memiliki Cristiano Ronaldo, dan Argentina memiliki Messi. Masalahnya bukan sekadar apakah Argentina bergantung kepada Messi, melainkan apakah mereka masih mampu menemukan jalan lain ketika Messi dikurung atau kelelahan.
Melawan Tanjung Verde, jawabannya campuran. Argentina tetap mendapat kontribusi penting dari pemain belakang seperti Lisandro Martinez dan Cristian Romero. The Daily Star melaporkan bahwa Martinez memanfaatkan bola dari situasi sepak pojok, sementara gol penentu datang setelah kiriman Messi dari sepak pojok menemukan pergerakan Romero sebelum bola berbelok masuk.
Di sini terlihat dua hal sekaligus. Pertama, Argentina punya pemain lain yang bisa menentukan. Kedua, bahkan ketika pemain lain mencetak atau memaksa gol, Messi tetap terlibat dalam momen kuncinya. Itulah mengapa persepsi ketergantungan tidak mudah hilang.
Namun, bagi Scaloni, selama Argentina menang dan tim tetap bermain dengan karakter, ketergantungan itu tidak perlu menjadi kepanikan. Yang penting adalah memastikan Messi tidak menjadi satu-satunya rencana.
Scaloni Mengubah Tekanan Menjadi Keyakinan
Pertandingan melawan Tanjung Verde juga menjadi laga ke-100 Scaloni sebagai pelatih Argentina. Dalam kondisi ideal, momen seperti itu bisa dirayakan dengan kemenangan nyaman. Namun yang terjadi justru sebaliknya: Argentina harus bertahan dari potensi salah satu kejutan terbesar dalam sejarah Piala Dunia.
GOAL melaporkan bahwa Scaloni mengakui akan terasa “gila” jika Argentina kalah pada pertandingan ke-100-nya, tetapi ia juga menegaskan bahwa timnya tidak pernah menyerah dan selalu mengambil sisi positif dari situasi sulit.
Setelah pertandingan, Scaloni tidak menutupi penderitaan timnya. Reuters melaporkan bahwa ia menyebut laga itu sebagai pengingat bahwa tidak ada pertandingan mudah di babak gugur. Ia juga mengatakan para pemain sangat lelah karena harus bermain hingga extra time, tetapi mereka menunjukkan ketahanan, karakter, dan nilai sebenarnya sebagai tim.
Pernyataan itu penting karena Scaloni tidak hanya membela timnya. Ia sedang membangun ulang narasi. Daripada melihat kemenangan dramatis ini sebagai tanda kelemahan, ia ingin menjadikannya bukti karakter. Argentina tidak bermain sempurna, tetapi mereka tidak hancur. Mereka ditekan, tetapi tetap menemukan jalan. Mereka goyah, tetapi tidak jatuh.
Messi Juga Menyadari Ada Banyak yang Harus Diperbaiki
Messi sendiri tidak menutup mata. Setelah pertandingan, ia mengakui bahwa Argentina harus memperbaiki banyak hal. Reuters melaporkan bahwa Messi merasa timnya kesulitan menekan karena jarak antarlini terlalu jauh, sehingga Tanjung Verde bisa menguasai bola dan membuat Argentina berlari lebih banyak.
Komentar itu menunjukkan bahwa Messi bukan hanya simbol romantis Argentina. Ia juga membaca masalah taktis dengan jernih. Argentina bukan sekadar hampir tersingkir karena Tanjung Verde bermain heroik; mereka juga hampir tersingkir karena ada celah nyata dalam struktur tekanan, jarak lini, dan kemampuan menjaga kontrol setelah unggul.
Inilah hal yang harus menjadi perhatian Scaloni sebelum menghadapi Mesir di babak 16 besar. Argentina tidak bisa terus berharap bahwa Messi akan selalu menemukan jawaban. Pada titik tertentu, lawan yang lebih klinis bisa menghukum celah yang sama dengan lebih kejam.
Namun, justru karena Messi menyadari masalah itu, Argentina masih punya alasan untuk optimistis. Tim yang berbahaya bukan hanya tim yang menang, tetapi tim yang menang sambil memahami kekurangannya.
Tanjung Verde Memberi Pelajaran Besar
Tanjung Verde meninggalkan Piala Dunia dengan kepala tegak. The Guardian melaporkan bahwa pelatih Bubista memuji keberanian, martabat, dan identitas para pemainnya setelah mereka kalah 3-2 dari Argentina. Ia menegaskan bahwa timnya telah membuat sejarah untuk negaranya dan menunjukkan bahwa negara kecil pun bisa bersaing jika memiliki karakter dan fokus.
Bagi Argentina, pujian terhadap Tanjung Verde tidak boleh dianggap sebagai basa-basi. Mereka benar-benar dibuat menderita. Bahkan Reuters menyebut kampanye Tanjung Verde sebagai salah satu cerita paling mengesankan di turnamen ini, karena mereka mampu menandingi negara besar dan keluar dengan respek dari dunia sepak bola.
Dalam konteks itu, kemenangan Argentina menjadi lebih bernilai. Ini bukan kemenangan mudah atas tim debutan. Ini kemenangan sulit atas tim yang memiliki keberanian luar biasa, organisasi kuat, dan rasa percaya diri tinggi. Argentina harus menguras mental, fisik, dan pengalaman untuk melewati mereka.
Kemenangan seperti ini sering kali lebih berguna daripada kemenangan besar. Ia memaksa tim melihat kenyataan.
Mesir Menanti dan Argentina Harus Lebih Seimbang
Argentina kini melangkah ke babak 16 besar untuk menghadapi Mesir di Atlanta. Reuters melaporkan bahwa kemenangan atas Tanjung Verde membuat Argentina lolos ke putaran berikutnya, tetapi juga membawa pertanyaan baru setelah performa yang penuh tekanan.
Pertanyaan utama tetap sama: bagaimana Argentina bisa mengurangi beban Messi tanpa mengurangi pengaruhnya?
Jawabannya bukan dengan menjauhkan bola dari Messi. Itu justru akan menjadi kesalahan. Messi tetap pemain paling kreatif, paling tenang, dan paling tajam dalam mengambil keputusan. Yang harus dilakukan Argentina adalah menciptakan lebih banyak jalur serangan di sekelilingnya. Julian Alvarez, Lautaro Martinez, Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister, dan pemain-pemain sayap harus lebih berani mengambil tanggung jawab saat ruang terbuka.
Argentina juga harus memperbaiki jarak antarlini. Jika mereka kembali gagal menekan secara kompak, Mesir bisa memanfaatkan ruang yang sama seperti Tanjung Verde. Dalam babak gugur, satu kesalahan struktur bisa mengubah seluruh turnamen.
Scaloni tahu itu. Messi tahu itu. Dan justru karena mereka tahu, Argentina masih punya peluang besar untuk memperbaiki diri sebelum masalah menjadi bencana.
Baca Juga:












