1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP Kung Fu Kick yang Berujung Petaka: Fadly Alberto Hengga Diskors 3 Tahun

Insiden panas di Elite Pro Academy (EPA) Super League U-20 musim 2025/2026 akhirnya berbuntut panjang. Bhayangkara FC U-20 resmi menerima surat keputusan dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI terkait kasus tendangan “kung fu” yang sempat viral dan memicu kontroversi besar. Bukan hanya satu pemain yang dihukum, total ada tujuh sanksi yang dijatuhkan—termasuk larangan bermain selama tiga tahun untuk Fadly Alberto Hengga.

Kabar ini langsung menyita perhatian publik sepak bola nasional. Pasalnya, hukuman yang diberikan tergolong berat, bahkan untuk level kompetisi usia muda. Lantas, bagaimana kronologi kejadian, siapa saja yang terkena sanksi, dan apa langkah Bhayangkara FC selanjutnya?

Kronologi Insiden Tendangan Kung Fu

Peristiwa ini terjadi dalam laga EPA Super League U-20 antara Bhayangkara FC dan Dewa United di Stadion Citarum, Semarang, pada 19 April 2026. Pertandingan yang seharusnya menjadi ajang pembinaan pemain muda justru berubah menjadi keributan di lapangan.

Puncaknya terjadi ketika Fadly Alberto Hengga melakukan aksi tendangan keras bergaya “kung fu” yang mengarah ke pemain Dewa United, Rakha Nurkholis. Aksi tersebut langsung memicu ketegangan antar pemain hingga situasi memanas.

Rekaman kejadian dengan cepat menyebar di media sosial dan menuai reaksi keras dari publik. Banyak pihak menilai tindakan tersebut berbahaya dan tidak mencerminkan sportivitas dalam sepak bola.

Daftar Lengkap Sanksi Komdis PSSI

Setelah melakukan investigasi, Komite Disiplin PSSI akhirnya menjatuhkan hukuman kepada sejumlah pihak dari Bhayangkara FC U-20. Berikut daftar sanksi yang diberikan:

  • Fadly Alberto Hengga: larangan bermain 3 tahun
  • Aqilah Lissunnah Aljundi: larangan bermain 2 tahun
  • Afrizal Riqh: larangan bermain 2 tahun
  • Ahmad Catur: larangan bermain 2 tahun
  • M. Mufdi Iskandar: larangan bermain 1 tahun
  • Muklis Hadi Ning (ofisial): larangan mendampingi tim selama 4 pertandingan

Total ada tujuh hukuman yang dijatuhkan, menunjukkan bahwa Komdis PSSI melihat insiden ini sebagai pelanggaran serius yang melibatkan banyak pihak.

Hukuman 3 Tahun untuk Fadly Jadi Sorotan

Dari seluruh sanksi yang diberikan, hukuman terhadap Fadly Alberto Hengga menjadi yang paling menyita perhatian. Larangan bermain selama tiga tahun di bawah naungan PSSI tentu menjadi pukulan besar bagi karier pemain muda tersebut.

Dalam dunia sepak bola, masa tiga tahun bisa berarti kehilangan momentum penting dalam perkembangan pemain. Apalagi di usia U-20, periode tersebut adalah fase krusial untuk naik ke level profesional.

Banyak pengamat menilai hukuman ini sebagai bentuk ketegasan federasi dalam menjaga disiplin. Namun, tidak sedikit pula yang mempertanyakan apakah durasi tersebut sudah proporsional dengan pelanggaran yang terjadi.

Respons Bhayangkara FC U-20

Manajer Bhayangkara FC U-20, Yongky Pamungkas, menyatakan bahwa pihak klub menghormati keputusan Komdis PSSI. Meski demikian, ia juga menilai ada beberapa hal yang perlu dikaji ulang secara lebih mendalam.

“Kami menghormati keputusan Komite Disiplin PSSI. Namun, kami menilai ada beberapa hal yang masih perlu dikaji ulang secara lebih komprehensif dan proporsional, terutama terkait durasi sanksi yang dijatuhkan kepada pemain,” ujar Yongky dalam pernyataan resminya.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa klub tidak sepenuhnya puas dengan hasil keputusan tersebut, khususnya terkait lamanya hukuman yang diberikan kepada para pemain.

Bhayangkara FC Siap Ajukan Banding

Tak butuh waktu lama, Bhayangkara FC U-20 memastikan akan mengambil langkah lanjutan dengan mengajukan banding. Menurut Yongky, langkah ini diambil demi mendapatkan penilaian yang lebih objektif dan menyeluruh.

“Kami melihat ada fakta-fakta di lapangan yang perlu menjadi pertimbangan lebih dalam, termasuk kondisi di mana beberapa pemain kami juga berada dalam posisi sebagai pihak yang terdampak,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa proses banding merupakan bagian dari upaya klub untuk memastikan keputusan yang diambil benar-benar adil dan berimbang bagi semua pihak.

“Kami memastikan akan mengajukan banding. Ini adalah bagian dari upaya kami untuk mendapatkan penilaian yang lebih objektif, menyeluruh, dan berimbang,” lanjut Yongky.

Dampak Besar bagi Tim dan Kompetisi

Sanksi yang dijatuhkan tentu membawa dampak besar bagi Bhayangkara FC U-20. Kehilangan beberapa pemain inti dalam jangka panjang bisa memengaruhi performa tim di kompetisi EPA Super League U-20.

Selain itu, kasus ini juga menjadi pengingat keras bagi seluruh klub peserta mengenai pentingnya menjaga disiplin dan sportivitas. Kompetisi usia muda seharusnya menjadi wadah pembinaan, bukan ajang konflik yang berujung sanksi berat.

Dari sisi federasi, keputusan tegas ini bisa dilihat sebagai langkah untuk memperbaiki kualitas kompetisi dan membangun budaya fair play sejak dini.

Pelajaran dari Insiden di EPA U-20

Kasus tendangan kung fu yang melibatkan Fadly Alberto Hengga menjadi salah satu insiden paling disorot di EPA musim ini. Tidak hanya karena aksinya yang ekstrem, tetapi juga karena dampak hukuman yang sangat besar.

Insiden ini menegaskan bahwa emosi di lapangan harus tetap dikendalikan, terutama bagi pemain muda yang sedang dalam proses pembentukan karakter. Kesalahan satu momen bisa berujung konsekuensi panjang yang memengaruhi masa depan karier.

Kini, publik menunggu hasil banding yang akan diajukan Bhayangkara FC U-20. Apakah hukuman akan dikurangi, atau tetap sesuai keputusan awal Komdis PSSI? Yang jelas, kasus ini sudah menjadi pelajaran penting bagi dunia sepak bola Indonesia.

BACA JUGA :

TAGS:
CLOSE