Kylian Mbappé berada di posisi terdepan dalam persaingan menjadi pencetak gol terbanyak Piala Dunia 2026. Kapten tim nasional Prancis tersebut menutup perjalanannya di turnamen dengan koleksi sepuluh gol setelah mencetak dua gol ke gawang Inggris dalam pertandingan perebutan tempat ketiga.
Tambahan dua gol itu membuat Mbappé unggul dua gol atas kapten Argentina, Lionel Messi, yang mengoleksi delapan gol sebelum menjalani pertandingan final melawan Spanyol. Karena laga puncak belum dimainkan, posisi Mbappé masih berstatus sementara. Messi tetap mempunyai kesempatan mengejar atau bahkan melewati jumlah gol penyerang Prancis tersebut.
Meski Prancis harus mengakhiri turnamen tanpa medali setelah kalah 4-6 dari Inggris, pencapaian individu Mbappé tetap menjadi salah satu cerita terbesar Piala Dunia kali ini. Ia bukan hanya memimpin daftar top skor edisi 2026, tetapi juga mengambil alih posisi teratas dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.
Mbappé kini mempunyai 22 gol dari 22 penampilan dalam tiga edisi turnamen. Catatan itu menempatkannya di atas Messi, yang mengoleksi 21 gol sebelum memainkan final Piala Dunia 2026.
Dua Gol dalam Kekalahan Dramatis dari Inggris
Mbappé memasuki pertandingan perebutan tempat ketiga dengan delapan gol. Jumlah tersebut sama dengan koleksi Messi, sehingga laga melawan Inggris menjadi kesempatan terakhirnya menambah angka sebelum nasib Sepatu Emas ditentukan dalam final.
Babak pertama tidak berjalan sesuai harapan Prancis. Inggris mencetak empat gol tanpa balas melalui Declan Rice, Ezri Konsa, serta dua gol Bukayo Saka. Les Bleus terlihat kehilangan keseimbangan dan gagal mengimbangi kecepatan serangan lawan.
Situasi berubah setelah turun minum. Mbappé memperkecil ketertinggalan pada menit ke-48 dan mencetak gol keduanya pada menit ke-66. Bradley Barcola juga mencetak gol sehingga Prancis sempat mendekat menjadi 3-4 setelah sebelumnya tertinggal empat gol.
Inggris akhirnya mempertahankan keunggulan dan menang 6-4. Saka melengkapi hat-trick melalui penalti, sementara Jude Bellingham mencetak gol terakhir The Three Lions pada masa tambahan waktu. Ousmane Dembélé menyumbangkan gol keempat Prancis.
Walaupun gagal membawa Prancis meraih medali perunggu, dua gol Mbappé mempunyai dampak besar terhadap persaingan individu. Ia mengakhiri turnamen dengan sepuluh gol dan memberikan tekanan besar kepada Messi menjelang final.
Mbappé Unggul Dua Gol atas Messi
Dengan koleksi sepuluh gol, Kylian Mbappé berada dua langkah di depan Messi. Kapten Argentina tersebut harus mencetak setidaknya dua gol dalam final untuk menyamai jumlah gol pemain Prancis itu.
Apabila Messi mencetak tiga gol atau lebih, ia akan melewati Mbappé secara langsung. Jika Messi hanya mencetak satu gol, Mbappé tetap memimpin dengan keunggulan satu gol. Situasi menjadi lebih rumit apabila Messi mencetak tepat dua gol karena keduanya akan sama-sama memiliki sepuluh gol.
Aturan FIFA menyatakan bahwa jumlah assist menjadi faktor pembeda pertama ketika dua pemain atau lebih memiliki jumlah gol yang sama. Jika jumlah assist juga sama, pemain dengan menit bermain lebih sedikit akan berada di posisi lebih tinggi.
Dengan demikian, persaingan belum sepenuhnya selesai. Mbappé telah menyelesaikan seluruh pertandingannya, sedangkan Messi masih memiliki satu kesempatan terakhir dalam final Argentina melawan Spanyol.
Kondisi tersebut membuat laga puncak tidak hanya menentukan juara dunia. Pertandingan itu juga dapat menentukan siapa yang membawa pulang penghargaan Sepatu Emas.
Arti Penting Kata “Sementara”
Penggunaan kata “sementara” sangat penting dalam membahas posisi Mbappé. Penyerang Real Madrid itu memang memimpin daftar pencetak gol, tetapi turnamen belum resmi selesai.
Prancis sudah tidak memiliki pertandingan lagi setelah kalah dalam perebutan tempat ketiga. Mbappé tidak dapat menambah jumlah golnya. Ia hanya bisa menunggu hasil final dan melihat apakah keunggulan dua gol cukup untuk mempertahankan posisi teratas.
Messi berada dalam situasi berbeda. Ia masih akan bermain bersama Argentina di pertandingan terbesar turnamen. Selain berusaha mempertahankan gelar juara dunia, sang kapten juga mempunyai peluang mengejar penghargaan individu yang belum pernah diraihnya.
Mbappé sendiri menyadari kemungkinan tersebut. Setelah pertandingan melawan Inggris, ia mengatakan bahwa Messi selalu memiliki kemampuan mencetak gol dan masih berpeluang mengubah persaingan dalam final. Namun, Mbappé juga menegaskan bahwa catatan individu bukan hal utama yang dipikirkannya setelah Prancis gagal meraih hasil yang diinginkan.
Sikap itu menunjukkan perbedaan antara pencapaian pribadi dan keberhasilan tim. Seorang pemain dapat mencetak banyak gol, tetapi kekecewaan tetap terasa apabila negaranya gagal meraih trofi.
Berpeluang Meraih Sepatu Emas Kedua
Mbappé sebelumnya telah memenangkan Sepatu Emas pada Piala Dunia 2022. Saat itu, ia mencetak delapan gol dan mengungguli Messi yang mengoleksi tujuh gol.
Puncak penampilannya terjadi dalam final melawan Argentina. Mbappé mencetak hat-trick dan menjadi pemain kedua dalam sejarah yang mampu membuat tiga gol dalam satu final Piala Dunia. Ia juga mengeksekusi penalti dalam adu penalti, tetapi Prancis tetap gagal mempertahankan gelar.
Jika tetap berada di posisi teratas setelah final 2026, Mbappé akan menjadi pemain pertama yang dua kali memimpin daftar pencetak gol dalam sejarah Piala Dunia. Daftar pencetak gol terbanyak dari setiap edisi menunjukkan bahwa belum ada satu pemain yang memenangkan penghargaan tersebut lebih dari sekali.
Pencapaian itu akan terasa semakin luar biasa karena diraih dalam dua turnamen beruntun. Mbappé bukan sekadar tampil konsisten, tetapi mampu meningkatkan jumlah golnya dari delapan pada 2022 menjadi sepuluh pada 2026.
Perjalanan Gol Mbappé di Tiga Piala Dunia
Mbappé menjalani debut Piala Dunia pada 2018 ketika usianya masih 19 tahun. Ia mencetak empat gol dan membantu Prancis menjadi juara setelah mengalahkan Kroasia pada final.
Empat tahun kemudian, ia mencetak delapan gol di Qatar. Prancis kembali mencapai final, tetapi dikalahkan Argentina melalui adu penalti setelah pertandingan berakhir 3-3.
Pada Piala Dunia 2026, Mbappé menghasilkan sepuluh gol. Dengan demikian, jumlah golnya terus meningkat dalam setiap edisi: empat pada 2018, delapan pada 2022, dan sepuluh pada 2026. Totalnya mencapai 22 gol dalam 22 penampilan.
Peningkatan tersebut memperlihatkan perkembangan perannya di tim nasional. Pada 2018, Mbappé merupakan pemain muda yang memberi kecepatan dan kejutan. Pada 2022, ia menjadi pusat serangan. Pada 2026, ia tampil sebagai kapten sekaligus sumber gol utama Prancis.
Tidak banyak pemain yang mampu mempertahankan produktivitas pada tiga turnamen besar. Perubahan lawan, pelatih, rekan setim, dan kondisi fisik sering membuat seorang penyerang sulit menjaga konsistensi. Mbappé justru semakin produktif.
Mengambil Alih Rekor Gol Sepanjang Masa
Dua gol ke gawang Inggris tidak hanya membawa Mbappé memimpin persaingan Sepatu Emas 2026. Gol tersebut juga membuatnya melewati jumlah gol Messi dalam sejarah Piala Dunia.
Sebelum pertandingan perebutan tempat ketiga, Mbappé mempunyai 20 gol. Dua gol pada babak kedua membawa totalnya menjadi 22, sementara Messi berada di angka 21 sebelum final.
Rekor itu semakin mengesankan karena Mbappé baru berusia 27 tahun dan baru memainkan tiga edisi Piala Dunia. Reuters mencatat bahwa ia kemungkinan masih mempunyai kesempatan tampil dalam setidaknya satu turnamen lagi.
Namun, posisi rekor tersebut juga belum sepenuhnya aman. Messi masih dapat menambah koleksinya dalam final. Apabila mencetak satu gol, Messi akan kembali menyamai Mbappé. Jika mencetak dua gol atau lebih, ia dapat mengambil kembali posisi teratas.
Apa pun hasil akhirnya, persaingan ini memperlihatkan betapa tingginya tingkat produktivitas kedua pemain. Mereka tidak hanya mencetak gol dalam fase grup, tetapi juga tampil menentukan dalam pertandingan gugur dan final.
Sepuluh Gol dalam Satu Turnamen
Mencetak sepuluh gol dalam satu edisi Piala Dunia merupakan pencapaian yang sangat langka. Sejarah turnamen menunjukkan hanya sedikit pemain yang pernah mencapai angka dua digit.
Just Fontaine masih memegang rekor gol terbanyak dalam satu edisi setelah mencetak 13 gol untuk Prancis pada 1958. Sándor Kocsis mencetak 11 gol pada 1954, sedangkan Gerd Müller menghasilkan sepuluh gol pada 1970.
Dengan sepuluh gol pada 2026, Mbappé menyamai jumlah yang dicetak Müller dalam satu turnamen. Walaupun belum mencapai rekor Fontaine, performanya tetap menempatkan dirinya dalam kelompok penyerang paling produktif sepanjang sejarah kompetisi.
Format Piala Dunia 2026 memang memberikan jumlah pertandingan lebih banyak karena turnamen diperluas menjadi 48 peserta dan memperkenalkan babak 32 besar. Namun, setiap gol tetap membutuhkan kualitas penyelesaian, konsistensi, dan kemampuan menghadapi tekanan.
Mbappé berhasil mencetak gol di berbagai tahap kompetisi. Ia tidak hanya memanfaatkan pertandingan awal, tetapi terus memberikan kontribusi ketika tingkat kesulitan meningkat.
Ketajaman yang Tidak Bergantung pada Satu Cara
Salah satu kekuatan utama Mbappé adalah variasi dalam mencetak gol. Ia dapat menyerang ruang di belakang pertahanan, menggiring bola dari sisi kiri, menyelesaikan peluang dari jarak dekat, atau melepaskan tembakan cepat sebelum lawan sempat menutup sudut.
Kecepatannya membuat pertahanan lawan sulit bermain dengan garis tinggi. Apabila bek maju terlalu jauh, Mbappé dapat berlari menuju ruang kosong. Namun, bertahan terlalu dalam juga bukan solusi karena ia mampu menerima bola di sekitar kotak penalti dan menciptakan peluang.
Peran sebagai kapten tidak mengurangi ketajamannya. Sebaliknya, tanggung jawab tersebut membuat Prancis semakin bergantung kepada kontribusinya.
Dalam pertandingan melawan Inggris, Mbappé menunjukkan kemampuan beradaptasi. Setelah kesulitan pada babak pertama, ia menemukan ruang dan mencetak dua gol setelah jeda. Prancis memang gagal menyelesaikan kebangkitan, tetapi performanya memperlihatkan bahwa ia tetap berbahaya dalam situasi paling sulit.
Kegagalan Prancis Tidak Menghapus Prestasi Individu
Prancis datang ke Piala Dunia 2026 sebagai salah satu kandidat utama juara. Mereka berusaha mencapai final untuk ketiga kalinya secara beruntun setelah menjadi juara pada 2018 dan runner-up pada 2022.
Perjalanan tersebut terhenti ketika Les Bleus kalah 0-2 dari Spanyol pada semifinal. Mereka kemudian gagal meraih medali perunggu setelah kalah 4-6 dari Inggris.
Hasil tim tentu memengaruhi cara publik menilai turnamen Mbappé. Sepuluh gol tidak menghasilkan trofi atau medali. Bagi pemain dengan ambisi sebesar Mbappé, kondisi tersebut kemungkinan terasa kurang memuaskan.
Namun, kegagalan tim tidak dapat menghilangkan kualitas pencapaian individunya. Mencetak sepuluh gol dan mengambil alih rekor sepanjang masa tetap merupakan prestasi besar.
Sepak bola adalah permainan kolektif. Seorang penyerang dapat mencetak gol, tetapi hasil pertandingan ditentukan oleh seluruh tim. Prancis kebobolan enam gol dari Inggris, sehingga dua gol Mbappé tidak cukup memberikan kemenangan.
Persaingan Besar dengan Lionel Messi
Persaingan Mbappé dan Messi dalam Piala Dunia 2026 memiliki latar belakang yang menarik. Keduanya pernah berhadapan dalam final 2022, ketika Argentina mengalahkan Prancis melalui adu penalti.
Dalam pertandingan tersebut, Messi mencetak dua gol, sedangkan Mbappé menghasilkan hat-trick. Argentina mengangkat trofi, tetapi Mbappé membawa pulang Sepatu Emas dengan delapan gol.
Empat tahun kemudian, keduanya kembali bersaing dalam daftar top skor. Mbappé mempunyai sepuluh gol, sedangkan Messi memasuki final dengan delapan gol.
Perbedaan utama terletak pada posisi tim. Perjalanan Prancis telah berakhir, sedangkan Argentina masih berpeluang menjadi juara. Messi mempunyai kesempatan memenangi trofi tim sekaligus mengejar penghargaan individu.
Mbappé hanya dapat menunggu. Ia telah melakukan seluruh hal yang mampu dilakukannya di lapangan dan menutup turnamen dengan dua gol.
Skenario Penentuan Sepatu Emas
Terdapat beberapa skenario yang dapat terjadi dalam final. Apabila Messi tidak mencetak gol atau hanya menghasilkan satu gol, Mbappé akan tetap menjadi top skor Piala Dunia 2026.
Apabila Messi mencetak dua gol, keduanya akan mempunyai sepuluh gol. FIFA kemudian akan melihat jumlah assist sebagai penentu pertama. Jika tetap sama, jumlah menit bermain menjadi pembeda berikutnya, dengan pemain yang bermain lebih sedikit berada di posisi lebih tinggi.
Apabila Messi mencetak hat-trick, ia akan mencapai sebelas gol dan melewati Mbappé tanpa memerlukan perhitungan tambahan.
Skenario tersebut membuat final semakin menarik. Spanyol tentu akan berusaha membatasi ruang Messi, sementara Argentina akan memprioritaskan kemenangan daripada mengejar statistik pribadi.
Bagi Mbappé, hasil ideal dari sisi individu adalah final berakhir tanpa Messi mencetak dua gol atau lebih. Namun, sang pemain telah menegaskan bahwa dirinya lebih memikirkan kegagalan Prancis daripada rekor pribadi.
Mbappé dan Warisan Piala Dunia
Piala Dunia sering menjadi ukuran penting dalam menilai warisan seorang pemain. Kompetisi ini berlangsung empat tahun sekali, sehingga setiap kesempatan memiliki nilai sangat besar.
Mbappé telah memanfaatkan tiga kesempatan pertamanya secara luar biasa. Ia menjadi juara pada 2018, mencetak hat-trick di final 2022, memenangkan Sepatu Emas, dan kini memimpin daftar top skor 2026.
Total 22 gol dalam 22 pertandingan menunjukkan konsistensi yang jarang terlihat. Rata-rata satu gol per pertandingan di panggung terbesar dunia merupakan catatan yang sulit dicapai.
Ia juga telah mencetak empat gol dalam dua final Piala Dunia, masing-masing satu pada 2018 dan tiga pada 2022. FIFA mencatatnya sebagai pencetak gol terbanyak dalam sejarah pertandingan final Piala Dunia.
Semua pencapaian tersebut membuat Mbappé tidak lagi hanya dibicarakan sebagai bintang generasinya. Ia mulai menempati posisi penting dalam pembahasan mengenai pemain terbesar dalam sejarah turnamen.
Masih Ada Kesempatan Memperpanjang Rekor
Usia Mbappé memberikan peluang untuk terus menambah koleksi golnya. Pada 2030, ia akan berusia 31 tahun, usia yang masih memungkinkan seorang penyerang tampil di level tinggi.
Kemungkinan tersebut tidak menjamin apa pun. Kondisi fisik, performa klub, persaingan dalam tim nasional, dan keberhasilan Prancis lolos akan menentukan apakah ia kembali bermain.
Namun, apabila tampil pada edisi berikutnya, Mbappé akan memiliki kesempatan memperlebar rekor sepanjang masa. Bahkan tambahan beberapa gol dapat membuat catatannya semakin sulit dikejar oleh generasi berikutnya.
Messi kemungkinan sedang menjalani Piala Dunia terakhirnya, sedangkan Mbappé masih memiliki ruang untuk melanjutkan perjalanan. Reuters menilai perbedaan usia itu memberi penyerang Prancis peluang besar tampil dalam setidaknya satu turnamen lagi.
Baca Juga:












