1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP: Lionel Scaloni Lega Argentina Selamat dari Kejutan Terbesar Piala Dunia Usai Nyaris Dipermalukan Tanjung Verde

Argentina berhasil menghindari salah satu kejutan terbesar dalam sejarah Piala Dunia setelah menang 3-2 atas Tanjung Verde melalui perpanjangan waktu. Di atas kertas, duel ini seharusnya menjadi panggung nyaman bagi sang juara bertahan. Namun kenyataannya, Lionel Messi dan kawan-kawan dipaksa menderita hingga menit-menit akhir oleh tim debutan yang tampil berani, disiplin, dan sama sekali tidak gentar menghadapi nama besar Argentina.

Lionel Scaloni, pelatih Argentina, terlihat lega setelah peluit panjang berbunyi. Ia tahu betul bahwa kekalahan dari Tanjung Verde akan menjadi bencana sepak bola nasional dan mungkin salah satu hasil paling mengejutkan sepanjang sejarah turnamen. Scaloni bahkan mengakui bahwa akan terasa “gila” bila Argentina tersingkir dalam laga tersebut, apalagi pertandingan itu juga menjadi laga ke-100 dirinya sebagai pelatih Albiceleste.

Kemenangan ini memang membawa Argentina ke babak 16 besar, tetapi performa mereka meninggalkan banyak pertanyaan. Tim yang sebelumnya melewati fase grup dengan relatif meyakinkan tiba-tiba terlihat rapuh ketika menghadapi lawan yang bermain tanpa beban. Tanjung Verde dua kali tertinggal, dua kali menyamakan kedudukan, dan hampir menyeret pertandingan ke adu penalti sebelum gol penentu lahir dari situasi bola mati pada babak tambahan.

Tanjung Verde Datang Bukan untuk Menjadi Korban

Salah satu kesalahan terbesar sebelum pertandingan adalah menganggap Tanjung Verde hanya sebagai kisah romantis sementara. Mereka memang debutan, berasal dari negara kecil, dan tidak punya sejarah panjang di Piala Dunia. Namun perjalanan mereka menuju fase gugur membuktikan bahwa tim ini bukan sekadar pelengkap. Mereka sudah menunjukkan ketangguhan dengan menahan Spanyol dan Uruguay di fase grup, sehingga Scaloni sebenarnya sudah memberi peringatan bahwa lawan ini tidak boleh diremehkan.

Tanjung Verde bermain dengan keberanian luar biasa. Mereka tidak hanya bertahan dalam blok rendah dan berharap keajaiban. Mereka menekan pada momen tertentu, berani menguasai bola, dan memaksa Argentina berlari lebih banyak daripada yang mereka inginkan. Messi sendiri mengakui bahwa Argentina kesulitan melakukan pressing dengan baik karena jarak antarlini terlalu jauh, membuat Tanjung Verde mampu memindahkan bola dan membuat sang juara bertahan kelelahan.

Itulah yang membuat laga ini terasa begitu berbahaya bagi Argentina. Tanjung Verde tidak bermain seperti tim yang hanya bangga bisa sampai di fase gugur. Mereka bermain seperti tim yang benar-benar percaya mampu mengalahkan juara dunia. Keyakinan itu terlihat dari cara mereka bangkit setelah kebobolan, cara mereka tetap tenang saat tertinggal, dan cara mereka menciptakan tekanan sampai perpanjangan waktu.

Messi Membuka Jalan tetapi Argentina Tidak Tenang

Argentina sempat merasa laga berada dalam kontrol mereka ketika Messi membuka skor pada babak pertama. Gol itu menjadi gol ke-20 Lionel Messi sepanjang karier Piala Dunia, memperpanjang catatan luar biasa sang kapten di panggung terbesar sepak bola. Namun gol awal tersebut tidak membuat Argentina semakin nyaman. Justru setelah unggul, mereka kehilangan ritme, gagal mempertahankan tekanan, dan membiarkan Tanjung Verde masuk kembali ke pertandingan.

Inilah bagian yang paling mengkhawatirkan bagi Scaloni. Tim besar biasanya menggunakan gol pertama untuk mengunci laga, memaksa lawan keluar, lalu mencari celah tambahan. Argentina gagal melakukan itu. Mereka tidak cukup rapi dalam menjaga bola, tidak cukup agresif dalam menekan setelah kehilangan penguasaan, dan terlalu sering membiarkan Tanjung Verde menemukan ruang untuk keluar dari tekanan.

Messi juga mengakui bahwa Argentina sempat berpikir gol pertama akan membuat permainan lebih mudah. Namun kenyataannya, yang terjadi justru sebaliknya. Tanjung Verde bangkit, memanfaatkan kelemahan Argentina, dan membuktikan bahwa laga knockout tidak pernah memberi hadiah secara gratis.

Dua Kali Terkejut oleh Lawan yang Sama

Tanjung Verde menyamakan skor melalui Deroy Duarte, membuat Argentina harus kembali membangun keunggulan dari awal. Lisandro Martínez kemudian membawa Argentina unggul lagi pada masa tambahan waktu normal. Namun lagi-lagi, keunggulan itu tidak cukup untuk memberi rasa aman. Pada babak tambahan, Sidny Lopes Cabral kembali menyamakan kedudukan dan membuat Argentina berada di ambang mimpi buruk terbesar mereka.

Bayangkan tekanan di bench Argentina saat skor menjadi 2-2 pada perpanjangan waktu. Mereka bukan hanya menghadapi lawan yang sedang penuh energi, tetapi juga menghadapi bayangan sejarah. Jika pertandingan berlanjut ke adu penalti, segala kemungkinan bisa terjadi. Tanjung Verde akan bermain dengan mental tanpa beban, sementara Argentina membawa tekanan sebagai juara bertahan, favorit, dan tim yang dipimpin Messi.

Dalam situasi seperti itu, kualitas teknis saja tidak cukup. Argentina membutuhkan karakter, pengalaman, dan keberanian mengambil alih momen. Scaloni menekankan bahwa timnya mampu “mengambil tanggung jawab” ketika keadaan sulit, meski ia juga mengakui masih banyak ruang untuk memperbaiki performa.

Romero Borges dan Gol yang Menyelamatkan Argentina

Gol kemenangan Argentina akhirnya datang pada menit ke-111. Dari sepak pojok Messi, Cristian Romero menyundul bola yang kemudian berbelok mengenai Diney Borges dan masuk ke gawang Tanjung Verde. Gol itu mungkin tidak seindah penyelesaian solo Messi atau kombinasi serangan terbuka, tetapi dalam pertandingan seperti ini, cara gol tidak lagi penting. Yang penting adalah Argentina selamat.

Romero menjadi simbol ketahanan Argentina. Ia sebelumnya sempat bermasalah dengan cedera lutut, tetapi tetap memberi kontribusi besar saat tim paling membutuhkannya. Lisandro Martínez juga memiliki cerita serupa setelah melewati masa sulit akibat cedera panjang, lalu tampil penting dengan gol yang sempat membawa Argentina unggul.

Bagi Scaloni, kontribusi dua bek ini memberi makna lebih dalam. Argentina tidak hanya diselamatkan oleh Messi, meski sang kapten tetap menjadi pusat permainan. Mereka diselamatkan oleh pemain-pemain yang mampu bangkit dari kesulitan pribadi dan tetap hadir dalam momen besar. Itulah ciri tim juara: bukan selalu bermain sempurna, tetapi mampu menemukan pahlawan dari berbagai posisi.

Scaloni Lega tetapi Tidak Menutup Mata

Reaksi Scaloni setelah pertandingan menarik karena ia tidak mencoba menutupi masalah. Ia bisa saja hanya memuji mental tim dan mengatakan kemenangan adalah yang terpenting. Namun ia memilih memberi pengakuan kepada Tanjung Verde dan mengingatkan bahwa tidak ada lawan mudah di Piala Dunia. BeIN Sports mencatat bahwa Scaloni menilai pertandingan ini membuktikan betapa kompetitifnya turnamen, bahkan bagi tim unggulan seperti Argentina.

Sikap itu penting. Pelatih yang hanya melihat hasil akhir bisa terjebak dalam rasa aman palsu. Argentina memang menang, tetapi mereka juga memberi terlalu banyak ruang, kehilangan kontrol, dan terlihat kelelahan saat lawan menaikkan intensitas. Jika masalah ini tidak diperbaiki, lawan berikutnya bisa menghukum mereka dengan lebih kejam.

Messi pun mengatakan hal serupa. Ia mengakui bahwa Argentina harus memperbaiki banyak hal setelah pertandingan ini. Dalam fase gugur, satu penampilan buruk bisa langsung mengakhiri perjalanan. Tidak ada kesempatan kedua. Karena itu, kemenangan atas Tanjung Verde harus dibaca bukan sebagai bukti bahwa Argentina aman, melainkan sebagai alarm keras bahwa mereka tidak boleh mengulang kesalahan yang sama.

Tanjung Verde Pulang dengan Kepala Tegak

Meskipun tersingkir, Tanjung Verde meninggalkan turnamen dengan rasa hormat besar. Mereka hampir menumbangkan juara bertahan, memaksa Argentina bermain sampai perpanjangan waktu, dan menunjukkan bahwa ukuran negara bukan batas mutlak dalam sepak bola. Times of India mencatat bahwa Tanjung Verde menjadi negara terkecil yang mencapai fase gugur Piala Dunia, dengan populasi sekitar 525.000 orang.

Kisah mereka menjadi salah satu narasi terindah Piala Dunia 2026. Di tengah format turnamen yang lebih luas, banyak orang sempat mempertanyakan apakah kualitas kompetisi akan turun. Tanjung Verde justru memberi jawaban sebaliknya. Kehadiran tim-tim baru bisa menghadirkan cerita segar, kejutan, dan warna kompetitif yang membuat Piala Dunia semakin hidup.

Mereka tidak hanya bertahan. Mereka bermain, bersaing, dan hampir membuat sejarah. Para pemain Tanjung Verde mungkin pulang dengan kekecewaan besar, tetapi mereka juga pulang dengan kebanggaan. Mereka telah membuat dunia sepak bola menoleh.

Argentina Harus Belajar dari Rasa Takut

Kadang, sebuah tim besar membutuhkan rasa takut untuk kembali fokus. Argentina mungkin mendapat pelajaran paling berharga justru dari pertandingan yang nyaris berubah menjadi bencana. Mantan pemain Argentina Marcelo Gallardo bahkan menilai pengalaman ini bisa menjadi peringatan penting dan memicu reaksi positif dari tim.

Pelajaran pertama adalah soal pressing. Argentina tidak boleh membiarkan jarak antarlini terbuka seperti saat melawan Tanjung Verde. Ketika lini depan gagal menekan dan lini tengah terlambat naik, lawan bisa dengan mudah keluar dari tekanan. Itu membuat Argentina harus berlari mundur, kehilangan energi, dan membuka ruang di area berbahaya.

Pelajaran kedua adalah soal manajemen keunggulan. Dua kali unggul dan dua kali disamakan menunjukkan bahwa Argentina belum cukup tajam dalam mengunci momentum. Tim juara harus tahu kapan memperlambat tempo, kapan menekan lebih tinggi, dan kapan menjaga bola untuk membunuh ritme lawan.

Pelajaran ketiga adalah soal ketergantungan pada Messi. Sang kapten masih luar biasa, tetapi Argentina tidak bisa terus-menerus berharap ia menjadi solusi utama dalam setiap krisis. Pemain lain harus mengambil lebih banyak tanggung jawab, terutama di lini tengah dan depan.

Egypt Menunggu di Babak 16 Besar

Setelah lolos dari ancaman besar, Argentina akan menghadapi Mesir di babak 16 besar. Reuters melaporkan bahwa laga berikutnya akan dimainkan di Atlanta, dan Argentina kembali berlatih di Miami sebelum menghadapi tantangan tersebut.

Mesir bukan lawan yang boleh dipandang ringan. Jika Tanjung Verde bisa menyulitkan Argentina dengan organisasi, energi, dan keberanian, Mesir berpotensi memberi ancaman berbeda melalui pengalaman dan kualitas individu. Argentina harus memperbaiki transisi bertahan, memperpendek jarak antarlini, dan memastikan mereka tidak kehilangan kontrol setelah unggul.

Scaloni punya pekerjaan besar dalam waktu singkat. Ia harus menjaga kepercayaan diri pemain, tetapi juga tidak boleh membiarkan mereka merasa kemenangan atas Tanjung Verde cukup untuk membuktikan segalanya. Dalam turnamen seperti Piala Dunia, evaluasi harus cepat dan tajam. Tim yang gagal belajar dari satu laga biasanya tidak punya waktu untuk memperbaiki diri di laga berikutnya.

Messi Masih Jadi Pusat Harapan

Di tengah semua masalah, satu hal tetap jelas: Messi masih menjadi pusat harapan Argentina. Ia mencetak gol, menciptakan momen, dan terlibat dalam gol kemenangan melalui sepak pojok. Pada usia yang tidak lagi muda, ia tetap menjadi pemain yang paling bisa mengubah arah pertandingan. Namun justru karena itu, Argentina harus lebih bijak mengelola beban fisiknya.

Messi mengaku kelelahan setelah laga karena Argentina kesulitan menekan dan harus berlari lebih banyak. Itu menjadi sinyal penting. Jika Argentina ingin melangkah jauh, mereka harus membuat permainan lebih efisien untuk Messi. Bukan berarti ia harus dilindungi secara berlebihan, tetapi tim harus menciptakan struktur yang membuatnya tidak perlu selalu turun terlalu dalam atau mengejar bola terlalu jauh.

Argentina terbaik adalah Argentina yang memberi Messi ruang untuk menjadi penentu, bukan Argentina yang memaksa Messi memadamkan semua kebakaran.

Baca Juga:

TAGS:
CLOSE