1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP: Mantan PM Spanyol Dikecam Usai Komentar Rasis tentang Prancis Jelang Semifinal Piala Dunia 2026

Pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Prancis seharusnya menjadi panggung bagi dua kekuatan sepak bola Eropa untuk memperebutkan tiket menuju final. Namun, menjelang duel tersebut, perhatian publik justru tersedot oleh komentar kontroversial mantan Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy, mengenai komposisi pemain tim nasional Prancis.

Rajoy, yang pernah memimpin pemerintahan Spanyol dari 2011 hingga 2018, menulis sebuah kolom yang membahas kekuatan Prancis sebagai calon lawan Spanyol. Ia mengakui kualitas Les Bleus, tetapi kemudian menambahkan pernyataan bahwa tim tersebut tidak memiliki pemain Prancis. Komentar itu segera dianggap mempertanyakan identitas nasional para pemain berdasarkan nama, warna kulit, tempat kelahiran, atau latar belakang keluarga mereka.

Ucapan tersebut memicu kecaman dari pejabat Prancis, pemerintah Spanyol, tokoh sepak bola, hingga masyarakat luas. Pihak-pihak yang mengkritik Rajoy menilai pernyataannya bukan sekadar lelucon menjelang pertandingan, melainkan bagian dari pola lama yang meragukan status kewarganegaraan atlet berdarah imigran.

Di tengah meningkatnya ketegangan sebelum semifinal, kontroversi itu kembali menunjukkan bahwa rasisme dalam sepak bola tidak selalu datang dari tribune stadion atau akun anonim di media sosial. Dalam beberapa kasus, gagasan diskriminatif justru disampaikan oleh tokoh politik yang pernah menduduki posisi tertinggi dalam pemerintahan.

Kolom Rajoy yang Memicu Gelombang Kecaman

Kontroversi bermula dari tulisan Rajoy yang diterbitkan media Spanyol, El Debate, pada 10 Juli 2026. Dalam kolom tersebut, mantan pemimpin Partai Rakyat itu membahas keberhasilan Spanyol menyingkirkan Belgia dan tantangan menghadapi Prancis di semifinal.

Rajoy menyebut Prancis sebagai lawan yang sangat kuat. Ia mengakui bahwa Les Bleus memenangi seluruh pertandingan mereka di Piala Dunia 2026 dan memiliki skuad berkualitas tinggi. Namun, setelah memberikan pujian tersebut, ia menulis bahwa satu hal yang tidak dimiliki tim itu adalah “pemain Prancis”.

Pernyataan tersebut segera memunculkan pertanyaan mengenai apa yang dimaksud Rajoy dengan pemain Prancis. Seluruh anggota skuad yang didaftarkan oleh federasi tentu memenuhi ketentuan kewarganegaraan untuk membela negara tersebut. Karena itu, komentar Rajoy dianggap bukan sedang membahas aturan olahraga, melainkan penampilan fisik dan asal-usul keluarga para pemain.

Sebagian besar pemain Prancis lahir dan dibesarkan di negara tersebut. Beberapa lainnya memiliki latar belakang keluarga dari Afrika, Karibia, atau wilayah bekas koloni Prancis. Keberagaman itu telah menjadi bagian dari identitas sepak bola Les Bleus selama puluhan tahun.

Namun, bagi para pengkritik, Rajoy tampak menggunakan gagasan sempit mengenai identitas nasional: seseorang baru dianggap benar-benar Prancis apabila sesuai dengan gambaran etnis tertentu.

Mengapa Pernyataan Itu Dianggap Rasis

Pernyataan mengenai “tidak adanya pemain Prancis” tidak menyebut ras atau warna kulit secara langsung. Meski demikian, konteksnya membuat banyak pihak menilai ucapan tersebut memiliki muatan rasis dan xenofobik.

Ketika kewarganegaraan pemain yang sah dipertanyakan hanya karena latar belakang keluarganya, terdapat pesan tersirat bahwa tidak semua warga negara mempunyai status yang setara. Sebagian orang dianggap lebih asli, sementara yang lainnya terus diminta membuktikan bahwa mereka benar-benar bagian dari bangsanya.

Logika semacam ini telah lama muncul dalam pembahasan mengenai tim nasional Prancis. Ketika Les Bleus tampil sukses, keberagaman mereka sering dipuji sebagai simbol persatuan. Namun, ketika hasil pertandingan memburuk, pemain keturunan imigran kerap menjadi sasaran dan dianggap tidak cukup loyal kepada negara.

Kritik terhadap Rajoy berangkat dari kekhawatiran bahwa komentarnya memperkuat cara berpikir tersebut. Ia tidak menilai pemain berdasarkan kemampuan, komitmen, atau status kewarganegaraan, tetapi seolah-olah berdasarkan asal-usul biologis.

Dalam sebuah opini yang diterbitkan El País, Wakil Wali Kota Paris Lamia El Aaraje menegaskan bahwa seluruh anggota skuad Les Bleus adalah warga Prancis. Ia juga menyoroti bahwa sebagian besar pemain lahir di Prancis, sedangkan pemain yang lahir di luar negeri tetap memiliki kewarganegaraan yang sah.

Pemerintah Prancis Memberikan Respons Keras

Reaksi dari Prancis datang dengan cepat. Menteri Luar Negeri Jean-Noël Barrot menolak gagasan bahwa identitas Prancis dapat diukur melalui warna kulit. Ia menyebut pandangan yang bertentangan dengan prinsip tersebut sebagai bentuk kebodohan, rasisme, atau kombinasi keduanya.

Presiden Federasi Sepak Bola Prancis, Philippe Diallo, juga mengecam komentar Rajoy. Ia menilai pernyataan tersebut memiliki nuansa rasis yang tidak dapat diterima serta menegaskan bahwa pemain Les Bleus tidak memerlukan pengesahan identitas dari mantan pemimpin negara lain.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez menyampaikan penolakan serupa. Menurutnya, Prancis merupakan negara dengan masyarakat beragam, tempat warga dari berbagai latar belakang dapat berkembang dan memperoleh posisi yang setara.

Sejumlah pemimpin partai politik Prancis turut bereaksi. Mereka menegaskan bahwa tim nasional hanya terdiri dari warga negara Prancis dan bahwa Republik Prancis tidak dibangun atas satu kelompok etnis, agama, maupun warna kulit tertentu.

Kerasnya respons tersebut menunjukkan bahwa kontroversi ini dipandang lebih luas daripada persaingan sepak bola. Bagi banyak pejabat Prancis, komentar Rajoy menyentuh dasar konsep kewarganegaraan dan prinsip kesetaraan republik.

Pedro Sánchez Menegur Tanpa Menyebut Nama

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez ikut merespons kontroversi tersebut. Tanpa menyebut Rajoy secara langsung, Sánchez membandingkan dua cara berbeda dalam memandang identitas nasional.

Ia menyinggung kelompok yang masih mengukur rasa memiliki melalui nama keluarga, tempat kelahiran, atau warna kulit. Sebaliknya, menurut Sánchez, seseorang dapat dinilai dari keterikatannya kepada negara serta kontribusinya dalam kehidupan masyarakat.

Sánchez kemudian mengarahkan pesannya kepada pertandingan semifinal dengan menyampaikan harapan agar tim terbaik menjadi pemenang dan rasisme menjadi pihak yang kalah.

Pernyataan itu mempunyai arti politik yang penting. Rajoy dan Sánchez berasal dari dua kubu berbeda. Rajoy merupakan tokoh senior Partai Rakyat yang berhaluan konservatif, sedangkan Sánchez memimpin Partai Pekerja Sosialis Spanyol.

Meski demikian, kontroversi tersebut tidak semata-mata menjadi perselisihan antarpartai. Pemerintah Spanyol juga ingin menegaskan kepada Prancis dan dunia internasional bahwa komentar seorang mantan perdana menteri tidak mewakili seluruh masyarakat negara tersebut.

Menteri Luar Negeri Spanyol José Manuel Albares bahkan meminta pemimpin Partai Rakyat, Alberto Núñez Feijóo, untuk mengambil jarak secara tegas dari pernyataan Rajoy.

Partai Rakyat Membela Rajoy

Di tengah kritik yang semakin besar, Partai Rakyat memberikan pembelaan. Juru bicara partai, Borja Sémper, mengatakan bahwa kalimat Rajoy bersifat sarkastis dan disampaikan tanpa niat buruk.

Pembelaan itu berusaha menempatkan komentar tersebut sebagai candaan atau gaya penulisan yang tidak dimaksudkan untuk merendahkan siapa pun. Rajoy juga disebut menilai bahwa kata-katanya telah dipisahkan dari konteks keseluruhan kolom.

Namun, penjelasan mengenai niat tidak berhasil menghentikan kritik. Banyak pihak berpendapat bahwa dampak sebuah pernyataan tidak hanya ditentukan oleh maksud pembicara, tetapi juga oleh gagasan yang diperkuatnya.

Humor yang mempertanyakan kewarganegaraan kelompok minoritas tetap dapat menghasilkan kerugian, terutama ketika disampaikan oleh seseorang dengan pengaruh politik besar. Sebagai mantan kepala pemerintahan, Rajoy dianggap memiliki tanggung jawab lebih tinggi dalam memilih bahasa.

Ucapan seorang tokoh biasa mungkin hanya beredar dalam kelompok kecil. Sebaliknya, pernyataan seorang mantan perdana menteri dapat memperoleh liputan internasional dan dipakai untuk membenarkan pandangan diskriminatif yang sudah ada.

Warren Zaïre-Emery Menegaskan Persatuan Les Bleus

Para pemain Prancis berusaha menjaga fokus pada pertandingan. Gelandang muda Warren Zaïre-Emery, ketika ditanya mengenai kontroversi tersebut, mengatakan bahwa ia belum melihat langsung komentar Rajoy.

Namun, ia memberikan jawaban yang menggambarkan sikap internal skuad. Zaïre-Emery menekankan bahwa tim Prancis berisi pemain dari berbagai latar belakang, sama seperti masyarakat negaranya. Hal terpenting bagi mereka adalah tetap menjadi kelompok dan tim yang bersatu.

Respons tersebut menunjukkan bahwa pemain tidak ingin terseret terlalu jauh ke dalam pertikaian politik. Mereka tetap menyadari pentingnya isu yang dibahas, tetapi tugas utama mereka adalah menghadapi Spanyol dan mencapai final Piala Dunia.

Pada saat yang sama, persatuan yang disebut Zaïre-Emery menjadi bantahan paling nyata terhadap pandangan Rajoy. Identitas sebuah tim tidak harus lahir dari kesamaan etnis. Ia dapat dibangun melalui tujuan, pengalaman, tanggung jawab, dan komitmen bersama.

Para pemain Les Bleus mengenakan seragam yang sama, menyanyikan lagu kebangsaan yang sama, dan berjuang untuk negara yang sama. Asal-usul orang tua atau kakek-nenek mereka tidak mengurangi fakta tersebut.

Keberagaman Bukan Fenomena Baru bagi Prancis

Skuad Prancis telah lama mencerminkan perubahan demografi dan sejarah negaranya. Generasi juara Piala Dunia 1998 juga terdiri dari pemain dengan latar belakang keluarga yang beragam.

Zinedine Zidane berasal dari keluarga Aljazair. Marcel Desailly lahir di Ghana, Patrick Vieira lahir di Senegal, dan Lilian Thuram lahir di Guadeloupe. Tim tersebut kemudian dikenang sebagai simbol masyarakat multikultural Prancis.

Dua dekade kemudian, Les Bleus kembali menjadi juara dunia pada 2018 dengan skuad yang sama beragamnya. Namun, keberhasilan olahraga tidak sepenuhnya menghapus perdebatan tentang identitas.

Komentar yang mempertanyakan “keaslian” pemain terus muncul, terutama dari kalangan nasionalis yang menghubungkan kewarganegaraan dengan garis keturunan.

Masalahnya adalah standar tersebut sering diterapkan secara tidak konsisten. Pemain keturunan imigran dapat dirayakan sebagai pahlawan nasional saat membawa kemenangan. Ketika melakukan kesalahan, latar belakang mereka kembali dipersoalkan.

Kontroversi Rajoy memperlihatkan bahwa pemikiran tersebut tidak terbatas pada Prancis. Ia dapat muncul dari negara lain, bahkan dari tokoh yang pernah memimpin salah satu demokrasi terbesar di Eropa.

Komentar Rajoy Juga Berbalik Menyoroti Spanyol

Pernyataan Rajoy menjadi semakin bermasalah karena tim nasional Spanyol sendiri mencerminkan masyarakat yang beragam.

Lamine Yamal, salah satu pemain terpenting La Roja, memiliki ayah berdarah Maroko dan ibu yang berasal dari Guinea Khatulistiwa. Nico Williams lahir di Spanyol dari keluarga Ghana. Robin Le Normand dilahirkan di Prancis sebelum memperoleh kewarganegaraan Spanyol dan memilih membela La Roja.

Apabila latar belakang keluarga atau tempat lahir digunakan untuk menentukan apakah seseorang benar-benar mewakili sebuah negara, maka logika yang diarahkan kepada Prancis juga dapat digunakan untuk meragukan pemain Spanyol.

Lamia El Aaraje menyoroti kontradiksi tersebut dalam tulisannya. Menurutnya, menolak keprancisan pemain Les Bleus berarti membuka ruang bagi orang lain untuk menolak kespanyolan sejumlah pemain La Roja.

Karena itu, kritik terhadap Rajoy juga datang dari dalam Spanyol. Banyak warga tidak ingin tim nasional mereka dikaitkan dengan pandangan yang dapat menyakiti pemain sendiri.

Semifinal seharusnya menjadi perayaan dua tim yang memiliki banyak kemiripan: sama-sama kuat, beragam, dan dibentuk oleh sejarah migrasi panjang.

Bukan Insiden Rasisme Pertama di Turnamen

Kontroversi tersebut muncul setelah kapten Prancis Kylian Mbappé sebelumnya menjadi sasaran komentar diskriminatif dari seorang senator Paraguay.

Komentar itu muncul setelah Prancis mengalahkan Paraguay pada fase gugur. Mbappé diserang melalui pernyataan yang menyinggung asal-usul, pendidikan, penampilan, dan identitasnya. Federasi Sepak Bola Prancis kemudian mengambil langkah hukum, sementara kejaksaan di Paris membuka penyelidikan.

Kemunculan beberapa insiden dalam turnamen yang sama menimbulkan kekhawatiran bahwa keberhasilan tim Prancis selalu diikuti serangan terhadap identitas pemainnya.

Serangan semacam itu mempunyai pola yang mudah dikenali. Pelaku mengabaikan fakta kewarganegaraan dan menggunakan warisan keluarga sebagai alasan untuk menyebut pemain sebagai orang asing.

Dalam konteks sepak bola, strategi tersebut bertujuan merendahkan lawan. Namun, dampaknya melampaui pemain profesional. Anak-anak dari keluarga imigran yang mendengar komentar tersebut dapat merasa bahwa masyarakat tidak akan pernah menganggap mereka sebagai bagian penuh dari negaranya.

Sepak Bola dan Perebutan Makna Kebangsaan

Tim nasional mempunyai posisi unik dalam kehidupan masyarakat. Klub dapat merekrut pemain dari berbagai negara, tetapi tim nasional secara resmi mewakili sebuah bangsa.

Karena itu, pembahasan mengenai siapa yang layak mengenakan seragam negara sering berubah menjadi perdebatan mengenai makna kewarganegaraan.

Terdapat pandangan yang menganggap bangsa sebagai kelompok berdasarkan kesamaan darah, keturunan, atau penampilan. Di sisi lain, konsep kewarganegaraan modern menempatkan bangsa sebagai komunitas politik yang dibentuk melalui hukum, budaya, kehidupan bersama, dan pilihan individu.

Kontroversi Rajoy mempertemukan kedua pandangan tersebut. Secara hukum dan olahraga, pemain Les Bleus adalah warga Prancis. Namun, komentarnya seolah-olah mengatakan bahwa status itu belum cukup apabila pemain tidak sesuai dengan gambaran fisik tertentu.

Inilah alasan kecaman terhadapnya begitu kuat. Persoalannya bukan hanya tentang satu kalimat, tetapi mengenai siapa yang memperoleh hak untuk mendefinisikan identitas orang lain.

Tokoh Politik Memiliki Tanggung Jawab Lebih Besar

Rajoy bukan pendukung biasa yang berbicara spontan setelah pertandingan. Ia merupakan mantan perdana menteri dan tokoh senior dalam politik Spanyol.

Meskipun tidak lagi memimpin pemerintahan, kata-katanya tetap mempunyai bobot. Ia memiliki pengalaman panjang dalam urusan negara dan mengetahui bahwa hubungan Spanyol-Prancis melibatkan lebih dari persaingan sepak bola.

Tokoh publik mempunyai kebebasan untuk bercanda, mengkritik, atau mendukung timnya. Namun, kebebasan tersebut disertai tanggung jawab untuk tidak memperkuat prasangka terhadap kelompok tertentu.

Pembelaan bahwa suatu pernyataan hanya sarkasme juga perlu diperiksa secara kritis. Lelucon tidak hadir dalam ruang kosong. Sebuah candaan dapat mengulang stereotip yang telah digunakan selama puluhan tahun untuk mengecualikan warga keturunan imigran.

Ketika stereotip itu disampaikan oleh pemimpin berpengaruh, batas antara humor dan normalisasi diskriminasi menjadi semakin tipis.

Baca Juga:

TAGS:
CLOSE