Situasi panas tengah menyelimuti PSBS Biak jelang laga penting pekan ke-32 BRI Super League 2025/2026. Di tengah tekanan performa dan isu internal, pelatih kepala Marian Mihail akhirnya angkat bicara secara terbuka dalam konferensi pers menjelang pertandingan kontra Dewa United.
Laga yang akan digelar di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, Jumat (8/5/2026) pukul 19.00 WIB ini bukan sekadar pertandingan biasa. Di baliknya, ada drama internal yang mulai mencuat ke publik, ditambah status PSBS Biak yang sudah dipastikan terdegradasi ke Liga 2 musim depan.
Mihail Pilih Tegas: Tidak Ada Sesi Tanya Jawab Media
Dalam konferensi pers tersebut, Marian Mihail mengambil langkah yang cukup berbeda dari biasanya. Ia tidak membuka sesi tanya jawab dengan media, dan memilih menyampaikan pernyataan secara langsung terkait situasi klub.
Langkah ini menunjukkan bahwa ada hal serius yang ingin ia sampaikan tanpa distorsi atau spekulasi tambahan dari luar.
Pelatih asal Rumania tersebut menegaskan bahwa dirinya tetap berada dalam koridor profesionalisme meski situasi klub sedang tidak stabil.
Tegaskan Kontrak hingga 2027, Mihail Tolak Spekulasi
Salah satu poin paling penting dari pernyataan Mihail adalah penegasan mengenai masa depannya di klub. Ia memastikan masih terikat kontrak resmi dengan PSBS Biak hingga akhir musim 2027.
“Saya memiliki kontrak yang sah dengan PSBS Biak hingga akhir musim 2027, dan saya sepenuhnya berniat untuk menghormati serta menjalankan kontrak tersebut secara profesional,” ujar Mihail.
Pernyataan ini sekaligus menepis berbagai rumor yang menyebutkan adanya potensi perpisahan lebih cepat antara kedua pihak.
Mihail juga menegaskan bahwa sejak awal kedatangannya, ia ditugaskan untuk menangani situasi sulit di klub, termasuk penurunan performa dan kebutuhan akan pelatih berlisensi UEFA Pro.
“Sejak kedatangan saya, saya selalu menjalankan tanggung jawab saya dengan profesionalisme, keseriusan, dan komitmen terhadap klub serta tim,” tambahnya.
Singgung Gangguan Internal yang Pengaruhi Performa Tim
Lebih jauh, Marian Mihail tidak menutup mata terhadap kondisi internal PSBS Biak yang dinilainya cukup kompleks. Ia menyebut adanya beberapa faktor non-teknis yang memengaruhi performa tim di lapangan.
Di antaranya adalah gangguan internal yang berkelanjutan, intervensi pihak luar, hingga masalah disiplin yang belum terselesaikan.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat lingkungan kerja menjadi tidak ideal dan berdampak langsung pada hasil pertandingan.
Situasi ini semakin diperparah dengan kondisi klub yang sudah dipastikan terdegradasi serta isu finansial berupa penunggakan gaji pemain selama beberapa bulan.
PSBS Biak dalam Masa Sulit di Musim 2025/2026
Musim ini menjadi salah satu periode paling berat dalam sejarah PSBS Biak. Selain terdegradasi ke Liga 2, klub juga menghadapi masalah non-teknis yang cukup serius.
Beberapa laporan menyebutkan adanya tunggakan gaji pemain hingga empat bulan, yang tentu berpengaruh terhadap stabilitas tim.
Bahkan dalam beberapa laga sebelumnya, Mihail sempat tidak mendampingi tim secara langsung, termasuk saat menghadapi Malut United pada 28 April lalu.
Kondisi ini menggambarkan betapa beratnya tantangan yang dihadapi klub asal Papua tersebut sepanjang musim berjalan.
Degradasi Bukan Akhir, Tapi Titik Evaluasi
Meski situasi klub sedang terpuruk, Marian Mihail mencoba memberikan perspektif yang lebih konstruktif. Menurutnya, degradasi bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan kesempatan untuk melakukan evaluasi besar-besaran.
Ia mencontohkan bahwa beberapa klub lain yang pernah terdegradasi, seperti PSS Sleman, mampu bangkit kembali ke level tertinggi dengan perbaikan struktur yang tepat.
“Degradasi harus dipahami sebagai momen untuk melakukan evaluasi, refleksi, dan restrukturisasi,” ujar Mihail.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa ia masih mencoba menjaga fokus jangka panjang klub, meski kondisi saat ini sedang tidak ideal.
Sikap Profesional di Tengah Situasi Panas
Di tengah berbagai masalah yang terjadi, Mihail menegaskan bahwa dirinya tidak mendukung tindakan yang dapat memperburuk situasi, seperti aksi mogok atau penolakan bermain.
Ia menilai bahwa hal tersebut justru dapat merusak citra klub, daerah Papua, dan sepak bola Indonesia secara keseluruhan.
Sebaliknya, ia memastikan bahwa PSBS Biak akan tetap menurunkan pemain-pemain yang memiliki komitmen tinggi untuk menjalani sisa musim dengan profesional.
Langkah ini diambil agar klub tetap menjaga integritas kompetisi meski sudah tidak lagi bersaing di papan atas.
Laga Kontra Dewa United Jadi Ujian Mental Terakhir
Pertandingan melawan Dewa United menjadi salah satu laga penting bagi PSBS Biak di sisa musim BRI Super League 2025/2026.
Meski tidak lagi berpengaruh terhadap posisi klasemen, laga ini menjadi ujian mental dan profesionalisme bagi seluruh elemen tim.
Bagi Mihail, pertandingan ini bukan hanya soal hasil, tetapi juga soal bagaimana tim tetap menunjukkan karakter di tengah tekanan.
Penutup: Masa Depan PSBS di Titik Persimpangan
Pernyataan Marian Mihail membuka gambaran lebih jelas tentang situasi internal PSBS Biak yang selama ini tidak sepenuhnya terlihat ke publik.
Dengan kontrak yang masih panjang hingga 2027, Mihail tampaknya masih ingin menjadi bagian dari proses pembenahan klub.
Namun, tantangan besar masih menanti. Mulai dari masalah internal, kondisi finansial, hingga kebutuhan membangun kembali mental tim setelah degradasi.
Yang jelas, perjalanan PSBS Biak belum selesai. Justru dari titik terendah inilah arah masa depan klub akan mulai ditentukan.
BACA JUGA :












