Memasuki bulan suci Ramadan, dinamika persiapan tim di kompetisi BRI Super League ikut mengalami perubahan. Namun bagi PSIM Yogyakarta, perubahan bukan berarti penurunan standar. Laskar Mataram justru menunjukkan komitmen tinggi dengan melakukan penyesuaian jadwal latihan demi menjaga keseimbangan antara performa dan ibadah para pemain.
Manajemen PSIM memastikan bahwa latihan tetap berjalan intens, meski ada pergeseran waktu agar para pemain yang menjalankan puasa tetap bisa berlatih secara optimal. Langkah ini dinilai sebagai strategi adaptif yang penting di tengah jadwal kompetisi yang padat.
Penyesuaian Jadwal Latihan Selama Ramadan
Manajer PSIM, Razzi Taruna, menjelaskan bahwa sebelumnya tim sempat memindahkan jadwal latihan ke pagi hari. Keputusan tersebut diambil bukan tanpa alasan. Intensitas hujan yang cukup tinggi di Yogyakarta pada sore hari membuat sesi latihan kerap terganggu.
“Kemarin kami banyak latihan pagi dikarenakan sore biasanya hujan di Jogja. Jadi untuk mengantisipasi latihan dalam kondisi hujan deras, makanya banyak dipindahkan ke pagi,” ujar Razzi.
Namun, memasuki Ramadan, manajemen kembali melakukan evaluasi. Jadwal latihan resmi dikembalikan ke sore hari agar lebih kondusif bagi pemain yang menjalankan ibadah puasa. Perubahan ini menjadi bagian dari strategi PSIM dalam menghadapi ketatnya persaingan BRI Super League tanpa mengabaikan aspek kebugaran dan spiritual para pemain.
Keputusan tersebut juga mencerminkan fleksibilitas manajemen dalam membaca situasi. Ramadan bukan hanya soal fisik, tetapi juga kesiapan mental. Karena itu, pengaturan waktu dinilai menjadi solusi paling rasional.
Jam Latihan Digeser Demi Kenyamanan Pemain
Tak hanya hari latihan yang dikembalikan ke sore, jam mulai latihan pun mengalami sedikit pergeseran. Jika sebelumnya sesi dimulai pukul 15.30 WIB, kini diundur menjadi pukul 16.00 WIB.
Menurut Razzi, pergeseran ini bertujuan agar sesi latihan bisa selesai mendekati waktu berbuka puasa. Dengan demikian, para pemain dapat langsung membatalkan puasa setelah aktivitas fisik yang cukup berat di lapangan.
“Jika biasanya kami mulai pukul 15.30 WIB, sekarang kami geser menjadi pukul 16.00 WIB untuk mengakomodasi teman-teman yang sedang menjalankan ibadah puasa. Sehingga saat sesi latihan berakhir waktunya bisa langsung bertepatan dengan jam buka puasa,” jelasnya.
Penyesuaian ini diharapkan mampu menjaga stabilitas kondisi fisik dan mental pemain. Dalam sepak bola profesional, aspek pemulihan (recovery) dan manajemen energi sangat krusial, terutama ketika pemain menjalani puasa. Oleh sebab itu, pengaturan waktu menjadi elemen penting dalam menjaga kualitas latihan.
Meski ada perubahan jadwal, manajemen menegaskan bahwa intensitas latihan tidak dikurangi. Program yang telah disusun oleh tim pelatih tetap dijalankan sesuai rencana.
Jadwal Padat di BRI Super League, PSIM Tetap Tancap Gas
Ramadan kali ini datang di tengah jadwal kompetisi yang cukup padat. PSIM Yogyakarta dipastikan tidak mendapatkan libur di awal bulan puasa karena harus menghadapi dua pertandingan penting dalam waktu berdekatan.
Dalam lanjutan BRI Super League, PSIM dijadwalkan menjamu Bali United pada Senin (23/2/2026) pukul 20.30 WIB di Stadion Sultan Agung, Bantul. Laga ini menjadi ujian berat bagi Laskar Mataram mengingat Bali United dikenal sebagai salah satu tim kuat di kompetisi.
Empat hari berselang, tepatnya Jumat (27/2/2026), PSIM kembali bertanding melawan PSBS Biak pada pukul 20.30 WIB. Jarak antarpertandingan yang hanya empat hari tentu menuntut kesiapan fisik maksimal.
Razzi menegaskan bahwa manajemen tidak melakukan pengurangan porsi latihan meski berada di bulan puasa. “Kami hanya melakukan penyesuaian pada jam latihan agar teman-teman yang berpuasa tetap bisa menjalankan ibadahnya dengan baik, tapi tetap mampu mengikuti porsi latihan secara maksimal di lapangan,” tegasnya.
Langkah ini menunjukkan bahwa PSIM tetap serius memburu hasil positif di BRI Super League. Ramadan tidak dijadikan alasan untuk menurunkan standar performa.
Keuntungan Tanpa Perjalanan Jauh
Di tengah jadwal padat tersebut, PSIM sedikit diuntungkan karena tidak perlu melakukan perjalanan jauh untuk laga tandang. PSBS Biak musim ini berkandang di Stadion Maguwoharjo, Sleman.
Kondisi tersebut membantu tim dalam menjaga kebugaran pemain. Minimnya waktu perjalanan memungkinkan fokus lebih besar pada pemulihan dan persiapan taktik. Bagi skuad seperti Reva Adi Utama dan rekan-rekan, faktor ini bisa menjadi keuntungan signifikan.
Manajemen berharap kondisi ini mampu membantu pemain menjaga stamina selama Ramadan. Dengan jadwal latihan yang sudah disesuaikan dan minim perjalanan, peluang mempertahankan performa tetap terbuka lebar.
Komitmen PSIM Jaga Profesionalisme di Bulan Suci
Penyesuaian jadwal latihan selama Ramadan menjadi bukti bahwa PSIM Yogyakarta mengedepankan profesionalisme sekaligus empati terhadap kebutuhan pemain. Manajemen tidak hanya fokus pada hasil di BRI Super League, tetapi juga memperhatikan keseimbangan fisik dan spiritual tim.
Dengan strategi yang terukur, Laskar Mataram tetap menjaga intensitas latihan, disiplin program, serta kesiapan menghadapi jadwal padat. Ramadan bukan hambatan, melainkan momentum untuk menunjukkan konsistensi dan komitmen.
Jika adaptasi ini berjalan efektif, PSIM berpeluang mempertahankan performa stabil di tengah ketatnya persaingan BRI Super League. Dukungan suporter serta manajemen yang responsif menjadi modal penting dalam mengarungi kompetisi.
Pada akhirnya, langkah penyesuaian jadwal latihan ini memperlihatkan bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kerja keras, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi. Dan di bulan Ramadan ini, PSIM Yogyakarta berusaha membuktikan bahwa kedisiplinan dan profesionalisme tetap menjadi fondasi utama mereka di BRI Super League.
BACA JUGA :












