1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP : Mauricio Souza Ungkap Alasan 7 Pemain Baru Persija Belum Mendapat Banyak Menit Bermain

Sorotan terhadap tujuh pemain baru Persija Jakarta di paruh musim BRI Super League 2025/2026 terus menguat. Minimnya menit bermain sejumlah rekrutan anyar memicu pertanyaan publik dan media. Pelatih Persija, Mauricio Souza, akhirnya memberikan penjelasan komprehensif terkait alasan belum sering dimainkannya tujuh pemain baru tersebut.

Dalam beberapa kesempatan, arsitek asal Brasil itu terlihat mulai gerah dengan pertanyaan yang terus berulang. Ia menegaskan bahwa keputusan memainkan atau tidak memainkan pemain sepenuhnya didasarkan pada performa, kesiapan fisik, serta kebutuhan taktik tim.

Tujuh Pemain Baru Persija Jadi Sorotan

Persija Jakarta mendatangkan tujuh wajah baru pada bursa transfer paruh musim BRI Super League yang berlangsung 10 Januari hingga 6 Februari 2026. Ketujuh pemain tersebut adalah Fajar Fathur Rahman, Alaeddine Ajaraie, Shayne Pattynama, Paulo Ricardo, Mauro Zijlstra, Cyrus Margono, dan Jean Mota.

Namun dari tujuh nama itu, baru Alaeddine Ajaraie yang relatif sering mendapat kesempatan bermain sejak menit awal. Sementara yang lain lebih banyak tampil sebagai pemain pengganti, bahkan beberapa masih menunggu kesempatan debut.

Khusus Cyrus Margono dan Jean Mota, keduanya baru bergabung di hari terakhir bursa transfer. Mereka sudah masuk daftar susunan pemain saat Persija menang 1-0 atas Bali United pada 15 Februari 2026, tetapi belum diturunkan.

Situasi tersebut membuat publik mempertanyakan strategi Mauricio Souza, terutama menjelang laga melawan PSM Makassar di Jakarta International Stadium.

Mauricio Souza Tegaskan Tidak Ada Kewajiban Memainkan Pemain Baru

Mauricio Souza menilai sorotan yang terus diarahkan kepada pemain baru seolah mengesampingkan kontribusi pemain lama. Ia menegaskan bahwa Persija adalah tim besar dengan banyak pemain berkualitas, bukan sekadar tempat eksperimen rekrutan anyar.

Menurut Souza, siapa pun yang mengenakan jersey Persija harus membuktikan kualitasnya lewat performa di lapangan. Tidak ada jaminan bermain hanya karena status sebagai pemain baru atau memiliki nama besar.

Ia juga menegaskan bahwa dirinya adalah sosok yang setiap hari bekerja bersama para pemain. Ia mengetahui kondisi kebugaran, adaptasi, dan kesiapan masing-masing individu. Karena itu, keputusan terkait debut atau menit bermain sepenuhnya menjadi wewenangnya sebagai pelatih kepala.

Bagi Souza, tekanan untuk langsung memainkan pemain baru demi memuaskan ekspektasi publik bukanlah pendekatan profesional.

Faktor Kebugaran dan Ritme Bermain Jadi Pertimbangan

Dalam penjelasannya, Mauricio Souza menyoroti faktor kebugaran dan ritme bermain sebagai aspek penting. Ia mencontohkan kondisi Jean Mota yang terakhir kali bermain pada November 2025 bersama klub lamanya di Brasil.

Menurutnya, publik sering kali hanya melihat nama besar tanpa memahami detail kondisi fisik dan kesiapan pertandingan. Padahal, pemain yang lama tidak tampil membutuhkan waktu untuk kembali ke level kompetitif.

Begitu pula dengan Shayne Pattynama yang baru pulih dari cedera hamstring panjang. Memaksakan pemain yang belum sepenuhnya bugar justru bisa berdampak negatif bagi tim.

Souza menekankan bahwa proses adaptasi dalam sepak bola profesional membutuhkan waktu. Adaptasi bukan hanya soal teknik, tetapi juga taktik, chemistry tim, dan pemahaman sistem permainan.

Persaingan Internal di Skuad Persija

Mauricio Souza juga mengangkat contoh persaingan di posisi bek kiri antara Shayne Pattynama dan Dony Tri Pamungkas. Dony saat ini menjadi pilihan utama berkat performa konsisten sepanjang musim.

Menurut Souza, tidak ada alasan untuk mencadangkan pemain yang tampil stabil hanya demi memberi ruang kepada pemain baru. Prinsipnya sederhana: siapa yang tampil terbaik dalam latihan dan pertandingan, dialah yang bermain.

Ia juga menyinggung nama-nama seperti Gustavo Almeida dan Andritany Ardhiyasa yang sempat mendapat kritik. Souza menilai penilaian terhadap pemain tidak bisa didasarkan pada satu pertandingan saja.

Contoh nyata adalah Alaeddine Ajaraie. Setelah dinilai kurang maksimal dalam satu laga, ia justru tampil impresif pada pertandingan berikutnya melawan Bali United. Hal ini menjadi bukti bahwa konsistensi dan evaluasi menyeluruh lebih penting daripada reaksi sesaat.

Apakah Rekrutan Baru Permintaan Mauricio Souza?

Muncul pula pertanyaan apakah tujuh pemain baru tersebut sepenuhnya merupakan permintaan Mauricio Souza. Meski tidak menjawab secara eksplisit, ia menegaskan satu hal penting: keputusan akhir terkait siapa yang bermain tetap berada di tangannya.

Ia kembali menekankan bahwa tidak ada pemain yang diturunkan hanya karena reputasi atau tekanan eksternal. Semua keputusan didasarkan pada kebutuhan taktik dan performa aktual.

Bagi Souza, membangun tim yang solid jauh lebih penting daripada sekadar memenuhi ekspektasi jangka pendek. Ia mengajak publik untuk menghormati pemain lama yang telah berjuang sejak awal musim.

Kesimpulan

Penjelasan Mauricio Souza soal tujuh pemain baru Persija yang belum sering dimainkan menunjukkan pendekatan profesional dalam mengelola skuad. Faktor kebugaran, adaptasi, ritme bermain, hingga persaingan internal menjadi pertimbangan utama dalam menentukan susunan pemain.

Di tengah tekanan publik dan sorotan media, Souza tetap konsisten dengan prinsipnya: pemain bermain karena performa, bukan karena nama besar. Dengan jadwal kompetisi BRI Super League yang masih panjang, peluang bagi para rekrutan anyar untuk menunjukkan kualitasnya tetap terbuka.

Kini, waktu akan menjawab kapan tujuh pemain baru Persija benar-benar mendapat panggung utama. Yang jelas, keputusan tetap berada di tangan Mauricio Souza, dan semua itu demi menjaga stabilitas serta target prestasi Persija Jakarta musim ini.

BACA JUGA :

TAGS:
CLOSE