1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP: Media Prancis Murka Usai Les Bleus Tumbang 0-2 dari Spanyol Rating L’Equipe Jadi Sorotan

Kekalahan Prancis dari Spanyol di semifinal Piala Dunia 2026 tidak hanya mengakhiri harapan Les Bleus untuk mencapai final ketiga secara beruntun. Hasil tersebut juga memicu gelombang kritik tajam dari media Prancis, yang menilai Kylian Mbappe dan rekan-rekannya gagal menunjukkan kualitas, keberanian, serta ketenangan yang dibutuhkan dalam pertandingan sebesar semifinal.

Prancis takluk 0-2 dari Spanyol pada pertandingan yang berlangsung di Arlington, Texas, pada 14 Juli 2026. Mikel Oyarzabal membawa La Roja unggul melalui penalti pada menit ke-22 setelah Lucas Digne melanggar Lamine Yamal di dalam kotak terlarang. Pedro Porro kemudian menggandakan keunggulan pada menit ke-58 setelah menyelesaikan kombinasi cepat bersama Dani Olmo.

Hasil akhir memang mengecewakan, tetapi cara Prancis kalah menjadi sumber kemarahan terbesar. Les Bleus datang dengan skuad bertabur bintang dan catatan sempurna dalam enam pertandingan pertama. Mereka juga memiliki salah satu lini serang paling berbahaya di turnamen melalui Mbappe, Ousmane Dembele, dan Michael Olise.

Namun, ketika berhadapan dengan organisasi permainan Spanyol, Prancis terlihat tidak memiliki jawaban. Mereka kesulitan mempertahankan bola, gagal membangun tekanan secara terkoordinasi, serta tidak mampu memberikan pelayanan yang cukup kepada para penyerangnya.

Media Prancis pun tidak menahan kritik. Sejumlah surat kabar nasional menggunakan bahasa keras untuk menggambarkan kegagalan tersebut. L’Equipe memberikan nilai sangat rendah kepada pemain dan pelatih, sementara Le Parisien, Le Figaro, Le Monde, Ouest France, serta berbagai media regional menyoroti buruknya strategi, mentalitas, dan kualitas teknis Les Bleus.

Malam yang Seharusnya Menjadi Perayaan Nasional

Semifinal tersebut dimainkan pada 14 Juli, bertepatan dengan Hari Bastille, hari nasional Prancis. Sebelum pertandingan, atmosfer di berbagai kota dipenuhi optimisme.

Bar, restoran, dan ruang publik dipadati pendukung yang berharap Mbappe membawa Prancis ke final Piala Dunia lainnya. Les Bleus belum pernah kalah dalam turnamen, sedangkan sang kapten telah mencetak delapan gol dan menjadi salah satu kandidat utama peraih Sepatu Emas.

Kombinasi antara momentum nasional dan perjalanan kuat tim menciptakan ekspektasi yang sangat tinggi. Banyak pendukung telah mempersiapkan perayaan, tetapi suasana berubah drastis setelah Prancis gagal memberikan perlawanan berarti.

Laporan dari Prancis menggambarkan jalanan yang kembali sepi lebih cepat daripada perkiraan. Kekecewaan tidak hanya muncul karena tim kalah, tetapi karena Les Bleus dinilai gagal menunjukkan identitas yang sebelumnya membawa mereka mencapai tahap empat besar.

Dalam sepak bola sistem gugur, kekalahan tipis dapat diterima apabila tim telah memberikan seluruh kemampuan. Namun, penampilan Prancis menimbulkan perasaan berbeda. Mereka tidak tersingkir akibat gol keberuntungan, keputusan kontroversial, atau kegagalan memanfaatkan dominasi.

Spanyol terlihat sebagai tim yang lebih siap sejak awal. La Roja menguasai ruang, mengendalikan tempo, dan memaksa Prancis bermain mengikuti ritme mereka.

L’Equipe Menampilkan Sosok Mbappe yang Terpuruk

L’Equipe, surat kabar olahraga terbesar di Prancis, menjadikan Kylian Mbappe sebagai wajah utama kegagalan. Edisi setelah pertandingan menampilkan gambar sang kapten dalam kondisi kecewa, disertai tajuk yang menggambarkannya sebagai bintang yang jatuh.

Media tersebut menilai Prancis tidak berdaya menghadapi Spanyol. Kritiknya tidak terbatas kepada satu pemain, melainkan diarahkan kepada keseluruhan struktur permainan, keputusan pelatih, dan kondisi mental tim.

L’Equipe juga menggunakan istilah yang dapat diterjemahkan sebagai “dihancurkan” untuk menggambarkan penampilan Les Bleus. Dalam analisis pertandingan, media tersebut menilai perjalanan Prancis di turnamen seharusnya tidak berakhir melalui permainan seburuk itu.

Kritik paling tajam diarahkan kepada strategi dan emosi pemain. Prancis disebut mengalami banyak kesalahan teknis, tidak cukup kuat secara fisik, serta terlihat tenggelam oleh besarnya tekanan pertandingan.

Penilaian tersebut terasa keras karena Les Bleus sebenarnya memiliki pengalaman besar. Sebagian pemain telah tampil dalam final Piala Dunia, Liga Champions, dan pertandingan elite Eropa lainnya.

Mereka seharusnya memahami cara menghadapi tekanan. Namun, menghadapi Spanyol, pengalaman tersebut tidak terlihat memberikan keunggulan.

Ketika La Roja menekan, pemain Prancis sering mengambil keputusan terburu-buru. Ketika berhasil merebut bola, mereka kesulitan menyelesaikan tiga atau empat operan untuk membawa permainan keluar dari wilayah sendiri.

Rating L’Equipe Tidak Memberikan Ampun

Sorotan terbesar datang dari penilaian individu yang diterbitkan L’Equipe. Tidak satu pun pemain Prancis mendapatkan nilai lebih tinggi dari 5 dari 10.

Nilai tersebut memperlihatkan bahwa media tidak melihat adanya pemain yang benar-benar mampu menyelamatkan reputasi tim. Bahkan sejumlah nama terbesar menerima penilaian yang biasanya hanya diberikan setelah penampilan sangat buruk.

Lucas Digne mendapat nilai 2 dari 10. Bek kiri tersebut dianggap melakukan kesalahan penting ketika gagal mengontrol bola dengan sempurna, lalu melanggar Lamine Yamal di area penalti. Oyarzabal mengubah kesempatan itu menjadi gol pembuka Spanyol.

Digne bukan satu-satunya pemain dengan nilai 2. Dembele dan Olise juga menerima penilaian serupa setelah gagal memberikan ancaman konsisten dalam serangan.

Kedua pemain tersebut datang dengan reputasi besar. Dembele berstatus pemenang Ballon d’Or, sedangkan Olise menjadi salah satu kreator paling produktif Prancis sepanjang turnamen. Akan tetapi, keduanya tidak mampu menemukan ruang di antara pertahanan dan lini tengah Spanyol.

Mbappe mendapat nilai 3 dari 10. Angka tersebut memperlihatkan betapa jauh penampilannya dari harapan. Sebagai kapten sekaligus pencetak gol utama, ia diharapkan menjadi sumber inspirasi ketika Prancis berada dalam kesulitan.

Mbappe memang mencoba bergerak ke berbagai area untuk mendapatkan bola, tetapi tidak satu pun dari tiga tembakannya mengarah tepat ke gawang. Spanyol berhasil memaksanya menerima bola dalam posisi yang tidak ideal dan jauh dari ruang yang biasanya menjadi kekuatannya.

Didier Deschamps juga mendapatkan nilai 3 dari 10. Pelatih yang membawa Prancis menjadi juara dunia pada 2018 itu dinilai gagal menemukan solusi taktis untuk menghentikan dominasi Spanyol.

Digne Menjadi Simbol Awal Keruntuhan

Kesalahan Lucas Digne menjadi titik perubahan pertama pertandingan. Dalam upayanya mengatasi bola di dalam kotak penalti, sentuhan awal Digne kurang sempurna. Yamal kemudian bergerak cepat dari belakang dan mendapatkan posisi lebih dahulu.

Digne mencoba melakukan sapuan, tetapi kakinya mengenai pemain muda Spanyol tersebut. Wasit menunjuk titik putih, dan Oyarzabal menjalankan tugasnya dengan tenang.

Satu kesalahan tidak semestinya menghancurkan tim dengan kualitas sebesar Prancis. Namun, setelah tertinggal, Les Bleus tidak menunjukkan respons meyakinkan.

Mereka justru semakin sulit mengembangkan permainan. Spanyol menggunakan keunggulan untuk mengontrol tempo, memindahkan bola dari satu sisi ke sisi lain, dan membuat pemain Prancis terus berlari tanpa mendapatkan hasil.

Nilai 2 kepada Digne memang terasa brutal, tetapi kritik tersebut juga menggambarkan betapa mahalnya satu kesalahan dalam pertandingan sistem gugur. Ia tidak hanya kehilangan duel, melainkan memberikan kesempatan bagi Spanyol menjalankan pertandingan sesuai rencana yang mereka inginkan.

Setelah unggul, La Roja tidak perlu mengambil risiko besar. Mereka dapat menunggu Prancis maju, kemudian menggunakan ruang yang terbuka di belakang.

Mbappe Gagal Menjadi Penyelamat

Setiap kekalahan besar Prancis hampir selalu membawa perhatian menuju Mbappe. Statusnya sebagai kapten, pencetak gol utama, dan pemain paling terkenal membuat ia memikul tanggung jawab lebih besar dibandingkan rekan-rekannya.

Mbappe memasuki semifinal dengan delapan gol di Piala Dunia 2026 dan total 20 gol dalam 20 pertandingan Piala Dunia sebelum menghadapi Spanyol. Catatan tersebut menempatkannya di jalur menuju sejarah.

Namun, reputasi tidak cukup untuk membongkar sistem pertahanan Spanyol.

La Roja tidak menggunakan satu pemain untuk menjaga Mbappe sepanjang pertandingan. Mereka membatasi sang penyerang melalui koordinasi seluruh tim.

Ketika Mbappe menerima bola di sisi kiri, Pedro Porro mendapatkan dukungan dari gelandang serta bek tengah. Ketika ia bergerak ke dalam, Rodri dan pemain belakang menutup jalur menuju gawang. Ketika mencoba berlari di belakang pertahanan, Unai Simon siap keluar dari areanya.

Mbappe kemudian mengakui bahwa Prancis membiarkan Spanyol mengontrol pertandingan. Menurutnya, Les Bleus tidak mampu mengubah jalannya permainan dan gagal menjalankan tekanan tinggi secara efektif.

Sebagai kapten, ia menerima tanggung jawab atas hasil tersebut. Namun, penerimaan tanggung jawab setelah pertandingan tidak menghapus kritik terhadap penampilannya.

Media mengharapkan Mbappe memberikan energi ketika tim mulai kehilangan keyakinan. Sebaliknya, bahasa tubuhnya pada beberapa fase pertandingan terlihat frustrasi. Ia tidak memperoleh pelayanan yang baik, tetapi juga gagal memberikan pengaruh tanpa bola yang dapat membantu tim mengganggu ritme Spanyol.

Dembele dan Olise Menghilang dari Permainan

Nilai 2 yang diterima Dembele dan Olise mencerminkan kegagalan lini depan Prancis secara keseluruhan.

Dembele memiliki kemampuan menggiring bola, bergerak menggunakan kedua kaki, dan menciptakan ruang dari situasi satu lawan satu. Namun, Spanyol jarang membiarkannya menghadapi bek dalam kondisi tanpa perlindungan.

Setiap kali menerima bola, Dembele segera dikelilingi dua pemain. Jalur menuju dalam ditutup, sedangkan ruang di sisi lapangan dipersempit. Akibatnya, ia lebih sering mengembalikan bola atau kehilangan penguasaan daripada menciptakan ancaman.

Olise menghadapi masalah serupa. Ia biasanya efektif ketika bermain di antara garis pertahanan dan lini tengah. Menghadapi Spanyol, ruang tersebut dijaga dengan sangat disiplin.

Rodri mengontrol area di depan bek, sedangkan gelandang lain menekan penerima bola dari belakang. Olise tidak mendapatkan waktu untuk berbalik dan mengirim umpan kepada Mbappe.

Kegagalan ketiga penyerang tersebut bukan semata-mata kesalahan individual. Mereka menjadi korban dari buruknya hubungan antarlini Prancis.

Ketika gelandang kesulitan mengalirkan bola, penyerang terpaksa turun terlalu jauh. Ketika mereka turun, tidak ada cukup pemain yang menyerang ruang di belakang pertahanan Spanyol.

Le Parisien Menyebutnya Kebangkitan yang Kasar

Le Parisien menggunakan tajuk yang menggambarkan kekalahan tersebut sebagai sebuah “kebangkitan kasar”. Media itu menilai Prancis tidak pernah menemukan kunci untuk membongkar pertahanan Spanyol.

Penggunaan istilah tersebut menggambarkan perubahan besar antara harapan sebelum pertandingan dan kenyataan di lapangan. Sebelum semifinal, Prancis dianggap memiliki peluang besar menjadi juara.

Mereka datang sebagai tim nomor satu dunia, belum pernah kalah, dan memiliki pemain-pemain dengan pengalaman tinggi. Namun, pertandingan melawan Spanyol menunjukkan bahwa status favorit tidak menjamin kemampuan mengontrol laga.

Spanyol membuat Prancis terlihat seperti tim yang baru menyadari perbedaan antara memiliki pemain hebat dan memiliki sistem yang bekerja.

Les Bleus dapat memasukkan penyerang lain dari bangku cadangan, tetapi pergantian individu tidak menyelesaikan masalah struktural. Mereka tetap gagal melewati tekanan, tidak mampu menciptakan keunggulan jumlah di lini tengah, dan jarang menempatkan pemain dalam posisi berbahaya.

Le Monde Melihat Kegagalan Kolektif

Le Monde tidak memusatkan kritik hanya kepada Mbappe, Digne, atau Deschamps. Media tersebut menyebut hasil itu sebagai kegagalan kolektif dan menggambarkan jatuhnya Prancis sebagai sesuatu yang brutal sekaligus menyakitkan.

Sudut pandang ini terasa lebih tepat untuk memahami pertandingan.

Kesalahan Digne menghasilkan penalti, tetapi masalah Prancis sudah terlihat sebelum insiden tersebut. Mereka kesulitan melakukan tekanan dan tidak mampu menguasai lini tengah.

Mbappe gagal mencetak gol, tetapi ia juga tidak menerima aliran bola yang cukup baik. Deschamps membuat keputusan yang dipertanyakan, tetapi para pemain pun melakukan terlalu banyak kesalahan sederhana.

Kekalahan tersebut lahir dari berbagai kegagalan kecil yang terjadi secara bersamaan. Bek tidak nyaman memainkan bola, gelandang terlambat menutup ruang, penyerang tidak kompak menekan, dan tim gagal bereaksi setelah tertinggal.

Karena itu, menempatkan seluruh kesalahan kepada satu pemain akan menyederhanakan persoalan.

Prancis kalah sebagai tim. Spanyol juga menang sebagai tim.

Le Figaro Mengakui Kualitas Lawan

Di tengah kemarahan dan kekecewaan, Le Figaro memberikan pengakuan terhadap superioritas Spanyol.

Media tersebut menilai Les Bleus dicekik, dipukul, serta tidak mampu menyelesaikan rangkaian operan sederhana. Namun, mereka juga menegaskan bahwa hasil itu terjadi karena Prancis berhadapan dengan tim yang lebih kuat pada malam tersebut.

Pengakuan tersebut penting karena kritik kepada Prancis tidak boleh menghapus kualitas La Roja.

Spanyol menjalankan salah satu penampilan terbaik di Piala Dunia 2026. Mereka mencatatkan clean sheet keenam dalam tujuh pertandingan dan berhasil menghentikan lini serang yang sebelumnya mencetak banyak gol.

Rodri menjaga keseimbangan, Dani Olmo membantu menciptakan gol kedua, Yamal memenangi penalti, dan Porro berani bergerak dari pertahanan menuju kotak lawan.

Setiap pemain Spanyol memahami tugasnya. Mereka tidak menunggu seorang bintang menyelesaikan masalah, melainkan menggunakan struktur untuk menciptakan kondisi yang menguntungkan.

Prancis mungkin tampil buruk, tetapi banyak kesalahan mereka terjadi karena tekanan lawan. Operan terlihat tidak akurat karena pemain tidak memiliki waktu. Penyerang tampak pasif karena jalur bola tertutup. Bek terlihat gugup karena Spanyol terus mengubah arah serangan.

Ouest France: Mimpi Amerika Berakhir

Ouest France menggunakan tajuk “akhir dari mimpi Amerika” untuk menggambarkan tersingkirnya Prancis. Gambar Mbappe dengan kepala tertunduk menjadi simbol dari perjalanan yang berakhir jauh dari harapan.

Sebelum semifinal, turnamen Prancis terlihat seperti awal dari penutupan sempurna era Deschamps.

Pelatih tersebut telah mengumumkan bahwa Piala Dunia 2026 menjadi turnamen terakhirnya bersama tim nasional. Setelah 14 tahun memimpin, ia berharap mengakhiri masa jabatannya dengan gelar dunia kedua sebagai pelatih.

Deschamps membawa Prancis menjadi juara pada 2018, mencapai final pada 2022, dan menembus tiga semifinal Piala Dunia secara beruntun. Rekor itu menegaskan konsistensi luar biasa Les Bleus di bawah kepemimpinannya.

Namun, akhir yang diharapkan tidak terwujud. Laga terakhir Deschamps bukan final, melainkan pertandingan perebutan tempat ketiga melawan Inggris.

Pertandingan tersebut tetap memiliki arti, tetapi secara emosional jauh berbeda dari peluang mengangkat trofi.

Baca Juga:

TAGS:
CLOSE