1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP: Messi Salip Mbappe dan Kembali Kuasai Persaingan Sepatu Emas Piala Dunia

Lionel Messi kembali menempatkan namanya di puncak persaingan Sepatu Emas Piala Dunia 2026 setelah mencetak gol penting dalam kemenangan dramatis Argentina atas Mesir. Gol tersebut bukan hanya membantu sang juara bertahan membalikkan keadaan, tetapi juga membawa Messi untuk sementara melewati Kylian Mbappé dalam daftar pencetak gol terbanyak turnamen.

Artikel ini mengambil konteks setelah pertandingan babak 16 besar Argentina kontra Mesir pada 7 Juli 2026. Pada laga tersebut, Messi mencetak gol kedelapannya di turnamen dan membawa Argentina menang 3-2 setelah sempat tertinggal dua gol. Dua hari kemudian, Mbappé kembali menyamai torehan delapan gol ketika Prancis mengalahkan Maroko di perempat final. Perubahan cepat itu menunjukkan betapa ketatnya persaingan Sepatu Emas pada fase akhir turnamen.

Bagi Messi, keberhasilan kembali mengambil posisi teratas memiliki arti lebih besar daripada sekadar angka. Pada usia 39 tahun, kapten Argentina itu masih mampu menjadi pusat permainan, sumber kreativitas, sekaligus penyelesai peluang utama timnya. Ketika banyak pemain seusianya telah meninggalkan panggung internasional, Messi justru terus menghasilkan momen yang menentukan arah Piala Dunia.

Kebangkitan Argentina Melawan Mesir

Argentina tidak memperoleh kemenangan dengan mudah saat menghadapi Mesir. Tim asuhan Lionel Scaloni sempat tertinggal 0-2 dan berada dalam ancaman tersingkir dari turnamen. Mesir tampil disiplin, berani menyerang, dan memanfaatkan sejumlah celah di pertahanan Argentina.

Tekanan semakin besar ketika Messi gagal mengeksekusi penalti pada babak pertama. Ia juga sempat mengenai tiang gawang, membuat malam tersebut terlihat akan berakhir dengan kekecewaan. Namun, Argentina tidak berhenti menyerang.

Cristian Romero memperkecil ketertinggalan pada menit ke-79. Empat menit kemudian, Messi mencetak gol penyeimbang yang mengubah seluruh energi pertandingan. Enzo Fernández kemudian melengkapi kebangkitan melalui gol pada masa tambahan waktu dan memastikan kemenangan 3-2. Hasil itu membawa Argentina ke perempat final untuk menghadapi Swiss.

Gol Messi ke gawang Mesir memperlihatkan kualitas yang telah menjadi ciri khasnya selama bertahun-tahun. Ia membaca ruang dengan cepat, menempatkan diri pada posisi yang tepat, lalu menyelesaikan peluang tanpa kehilangan ketenangan. Dalam pertandingan yang penuh tekanan, keputusan sederhana sering menjadi pembeda.

Gol tersebut juga membawa Messi mencatat delapan gol pada Piala Dunia 2026. Sebelum pertandingan, ia berada sejajar dengan Mbappé dan Erling Haaland dengan tujuh gol. Tambahan satu gol membuatnya untuk sementara berdiri sendirian di posisi teratas.

Persaingan yang Mengingatkan pada Qatar 2022

Pertarungan Messi dan Kylian Mbappé dalam perburuan Sepatu Emas membawa kembali kenangan Piala Dunia 2022. Ketika itu, keduanya menjadi tokoh utama dalam salah satu final paling dramatis sepanjang sejarah turnamen.

Mbappé mencetak hat-trick pada final dan menutup turnamen dengan delapan gol. Messi mencetak dua gol dalam pertandingan tersebut dan mengakhiri kompetisi dengan tujuh gol. Prancis akhirnya kalah melalui adu penalti, tetapi Mbappé tetap membawa pulang Sepatu Emas.

Empat tahun kemudian, kedua pemain kembali berada di garis depan. Perbedaannya, Messi kini berusia 39 tahun dan Mbappé memasuki masa keemasan kariernya. Duel mereka bukan lagi sekadar benturan antara dua bintang dari generasi berbeda. Persaingan itu menjadi cerita mengenai daya tahan, ambisi, dan kemampuan mempertahankan standar tertinggi.

Messi membawa pengalaman serta kecerdasan luar biasa. Ia tidak lagi bermain dengan intensitas fisik seperti ketika muda, tetapi mampu menghemat tenaga dan memilih momen untuk memberi pengaruh. Mbappé, di sisi lain, menawarkan kecepatan, ledakan, dan kemampuan menyerang ruang yang sulit dihentikan.

Keduanya juga memikul tanggung jawab besar sebagai kapten. Mereka tidak hanya dituntut mencetak gol, tetapi juga menjaga ketenangan rekan setim dan menjadi simbol keyakinan bagi negaranya.

Messi Menolak Tunduk kepada Usia

Salah satu aspek paling mengesankan dari penampilan Messi pada Piala Dunia 2026 adalah kemampuannya tetap produktif meskipun berada pada tahap akhir karier. Banyak pemain mengalami penurunan tajam setelah melewati usia pertengahan 30-an. Messi memilih menyesuaikan permainannya.

Ia bergerak lebih selektif dan tidak selalu mengikuti setiap fase tekanan. Namun, ketika Argentina menguasai bola, Messi masih mampu menemukan ruang di antara lini tengah dan pertahanan lawan. Dari area tersebut, ia dapat menciptakan peluang, mengubah arah serangan, atau melakukan penyelesaian sendiri.

Penyesuaian ini menunjukkan bahwa kecerdasan dapat memperpanjang umur seorang pemain pada level tertinggi. Messi tidak lagi harus memenangkan setiap duel lari. Ia cukup memahami di mana bola akan datang dan tindakan apa yang paling efektif.

Piala Dunia 2026 juga memperlihatkan efisiensi Messi. Ia mencetak hat-trick melawan Aljazair, dua gol menghadapi Austria, kemudian terus menambah koleksi gol pada fase gugur. Setelah mencetak gol melawan Mesir, jumlah golnya di turnamen mencapai delapan dan total golnya sepanjang sejarah Piala Dunia meningkat menjadi 21.

Catatan tersebut semakin memperkuat posisinya dalam sejarah kompetisi. FIFA sebelumnya mencatat Messi melewati rekor Miroslav Klose sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia setelah pertandingan melawan Austria.

Namun, arti penampilan Messi tidak dapat diukur hanya melalui jumlah gol. Cara ia menarik perhatian pemain lawan, membuka ruang bagi rekan setim, dan menjaga kepercayaan Argentina ketika tertinggal juga menjadi bagian penting dari kontribusinya.

Mbappé Tidak Pernah Jauh

Meski Messi sempat mengambil alih posisi pertama, Mbappé tidak pernah berada jauh di belakang. Penyerang Prancis tersebut terus menunjukkan konsistensi luar biasa sejak turnamen dimulai.

Ia mencetak gol dalam fase grup, membukukan dua gol ketika Prancis menyingkirkan Swedia, lalu menjadi penentu kemenangan atas Paraguay melalui penalti. Gol melawan Paraguay merupakan gol ketujuhnya pada turnamen dan membuatnya kembali sejajar dengan Messi pada saat itu.

Setelah Messi mencetak gol kedelapan melawan Mesir, Mbappé menjawab pada pertandingan berikutnya. Ia mencetak gol ketika Prancis menundukkan Maroko 2-0 di perempat final, sehingga kembali menyamai Messi dengan delapan gol. Gol itu juga menjadi gol ke-20 Mbappé dalam 20 penampilan Piala Dunia.

Kemampuan membalas tekanan seperti ini memperlihatkan mentalitas Mbappé. Ia tidak membiarkan kegagalan penalti pada babak pertama melawan Maroko mengganggu permainannya. Ia tetap agresif, terus mencari ruang, dan akhirnya mencetak gol pada babak kedua.

Mbappé sebelumnya juga menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah membawa Prancis meraih trofi, bukan sekadar mengalahkan Messi dalam daftar pencetak gol. Sikap tersebut penting karena fokus berlebihan pada penghargaan individu dapat memengaruhi keputusan seorang pemain di lapangan.

Sebagai kapten, Mbappé harus menyeimbangkan ambisi pribadi dengan kepentingan tim. Ia dapat mengambil tembakan ketika peluang terbuka, tetapi juga harus mengalirkan bola kepada rekan yang berada dalam posisi lebih baik.

Haaland dan Kane Masih Mengintai

Persaingan Sepatu Emas tidak hanya melibatkan Messi dan Mbappé. Erling Haaland juga berada sangat dekat setelah mencetak tujuh gol untuk Norwegia. Dua golnya membantu Norwegia mengejutkan Brasil pada babak 16 besar dan melangkah ke perempat final.

Haaland memiliki profil berbeda dari dua pesaing utamanya. Ia tidak terlalu banyak terlibat dalam pembangunan serangan, tetapi sangat berbahaya di dalam kotak penalti. Pergerakannya, kekuatan fisik, dan kemampuan menyelesaikan peluang membuatnya dapat mengubah persaingan hanya dalam satu pertandingan.

Harry Kane juga belum dapat diabaikan. Penyerang Inggris tersebut mengoleksi enam gol menjelang laga perempat final melawan Norwegia. Apabila Inggris melangkah jauh dan Kane mempertahankan ketajamannya, selisih satu atau dua gol dapat dengan cepat terhapus.

Keberadaan Haaland dan Kane membuat perburuan Sepatu Emas semakin kompleks. Messi dan Mbappé tidak hanya saling mengawasi. Mereka juga menghadapi dua penyerang tengah yang berpotensi memainkan beberapa pertandingan tambahan.

Haaland sangat berbahaya apabila Norwegia mampu mengirimkan umpan silang atau bola langsung ke dalam kotak penalti. Kane menawarkan kemampuan lebih lengkap karena dapat turun menjemput bola, menciptakan peluang, dan tetap muncul sebagai penyelesai akhir.

Pentingnya Perjalanan Tim

Sepatu Emas merupakan penghargaan individu, tetapi peluang memenangkannya sangat dipengaruhi perjalanan tim. Semakin jauh sebuah negara melangkah, semakin banyak kesempatan yang diperoleh pemain untuk menambah gol.

Messi membutuhkan Argentina terus bertahan. Setelah melewati Mesir, sang juara bertahan menghadapi Swiss di perempat final. Swiss menunjukkan pertahanan kuat dengan menahan Kolombia tanpa gol selama 120 menit sebelum menang melalui adu penalti.

Pertandingan seperti itu dapat menjadi ujian berat bagi Messi. Swiss kemungkinan akan menjaga ruang dengan rapat dan berusaha memutus aliran bola menuju dirinya. Argentina harus menciptakan variasi agar Messi tidak dikelilingi banyak pemain setiap kali menerima bola.

Mbappé sudah membantu Prancis mencapai semifinal. Dengan demikian, ia memiliki setidaknya dua pertandingan tersisa karena tim yang kalah pada semifinal tetap memainkan perebutan tempat ketiga. Situasi tersebut memberinya keuntungan dalam jumlah kesempatan dibandingkan pemain yang timnya belum memastikan tempat di empat besar.

Haaland dan Kane saling berhadapan di perempat final. Salah satu dari mereka akan kehilangan peluang melanjutkan perburuan setelah pertandingan itu, sementara pemenangnya akan mendapatkan dua laga tambahan.

Karena itu, daftar pencetak gol dapat berubah pada setiap pertandingan. Keunggulan satu gol belum memberikan jaminan apa pun.

Peran Messi Lebih Besar daripada Statistik

Meski perhatian tertuju pada jumlah gol, pengaruh Messi terhadap Argentina jauh melampaui statistik. Ia menjadi pemain yang menentukan tempo, menghubungkan lini tengah dengan serangan, dan menarik perhatian beberapa pemain lawan sekaligus.

Ketika dua pemain menjaga Messi, ruang terbuka bagi rekan setimnya. Ketika lawan memilih menjaga area lain, Messi dapat menerima bola dan langsung menciptakan ancaman. Dilema inilah yang membuatnya tetap berbahaya.

Pada laga melawan Mesir, Messi tidak menjalani pertandingan sempurna. Ia gagal mengeksekusi penalti dan beberapa kali kehilangan bola. Namun, ia terus meminta bola dan tidak bersembunyi ketika keadaan memburuk.

Kemampuan untuk tetap terlibat setelah melakukan kesalahan menunjukkan kekuatan mental. Banyak pemain menjadi ragu setelah gagal penalti. Messi justru merespons dengan mencetak gol penyeimbang dan membantu Argentina menjaga harapan.

Bagi Argentina, kualitas tersebut sama pentingnya dengan gol. Pemain muda melihat kapten mereka tetap tenang, sehingga keyakinan tim tidak runtuh meskipun tertinggal.

Messi juga membantu rekan-rekannya melalui bola mati. Umpan dari tendangan bebas atau sepak pojok dapat menjadi sumber gol penting ketika lawan bertahan rapat. Artinya, ia masih dapat menentukan pertandingan meskipun tidak mencetak gol sendiri.

Tekanan Memenangkan Sepatu Emas Pertama

Menariknya, Messi belum pernah memenangkan Sepatu Emas Piala Dunia. Ia pernah menjadi pemain terbaik turnamen dan mengangkat trofi, tetapi penghargaan pencetak gol terbanyak belum masuk dalam koleksi pribadinya.

Pada 2022, ia kalah satu gol dari Mbappé. Pada edisi 2014, Messi membawa Argentina ke final dan memenangkan Bola Emas sebagai pemain terbaik, tetapi bukan pencetak gol terbanyak.

Piala Dunia 2026 karena itu menawarkan kesempatan langka. Messi dapat menambahkan penghargaan individu yang belum pernah diraihnya sekaligus membantu Argentina mempertahankan gelar.

Namun, ia kemungkinan tidak akan menjadikan Sepatu Emas sebagai tujuan utama. Pengalaman menunjukkan bahwa Messi menempatkan keberhasilan Argentina di atas pencapaian pribadi. Apabila ia harus memilih antara mencetak gol atau memberikan umpan kepada rekan yang berada dalam posisi lebih baik, kebutuhan tim akan tetap menjadi prioritas.

Justru pendekatan itu dapat meningkatkan peluangnya. Pemain yang terlalu memaksakan tembakan sering kehilangan efisiensi. Messi cenderung membaca situasi dan memilih opsi terbaik, sehingga gol muncul secara alami dari permainan.

Tekanan terbesar bukan datang dari keinginan mengumpulkan penghargaan, melainkan dari harapan untuk membawa Argentina kembali ke final. Setiap lawan akan berusaha mempersempit ruang dan memaksa pemain lain menjadi penentu.

Aturan Penentu Jika Jumlah Gol Sama

Persaingan yang sangat ketat membuat aturan penentu pemenang menjadi penting. Apabila dua atau lebih pemain memiliki jumlah gol sama, jumlah assist digunakan sebagai pembeda. Jika mereka juga memiliki jumlah assist sama, pemain dengan menit bermain lebih sedikit akan berada di posisi lebih tinggi.

Aturan ini memberi nilai tambahan kepada pemain yang tidak hanya mencetak gol, tetapi juga menciptakan peluang bagi rekan setim. Mbappé sempat memiliki keunggulan tiebreak karena jumlah assistnya ketika dirinya, Messi, dan Haaland sama-sama mengoleksi tujuh gol.

Messi juga memiliki kemampuan mencatat assist, terutama melalui umpan terobosan dan bola mati. Persaingan karena itu tidak dapat dinilai hanya dari gol. Satu umpan penentu dapat mengubah susunan klasemen pencetak gol.

Jumlah menit bermain juga dapat menjadi faktor. Pelatih terkadang menarik pemain lebih awal untuk menjaga kebugaran. Keputusan semacam itu dapat memengaruhi tiebreak apabila seluruh angka lainnya sama.

Pada fase akhir turnamen, setiap detail mempunyai arti. Sebuah assist yang tampak sederhana atau keputusan pelatih mengganti pemain sepuluh menit lebih awal dapat ikut menentukan siapa yang membawa pulang penghargaan.

Baca Juga:

TAGS:
CLOSE