1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP: Mimpi Buruk Jerman di Piala Dunia Berlanjut, Kegagalan Kembali Menghantui

Jerman kembali harus menelan pil pahit di Piala Dunia 2026. Tim yang pernah empat kali mengangkat trofi juara dunia itu dipastikan tersingkir lebih cepat setelah kalah dramatis dari Paraguay pada babak 32 besar. Kekalahan tersebut semakin memperpanjang tren negatif Die Mannschaft di turnamen terbesar sepak bola dunia.

Bermain di hadapan ribuan penonton dengan harapan besar untuk melangkah jauh, skuad asuhan Julian Nagelsmann sebenarnya mampu mendominasi jalannya pertandingan. Namun, dominasi penguasaan bola tidak cukup untuk menghindarkan mereka dari eliminasi.

Laga berakhir imbang 1-1 selama 120 menit sebelum Paraguay tampil lebih tenang dalam adu penalti dan menang 4-3. Hasil ini sekaligus mengakhiri perjalanan Jerman di Piala Dunia 2026 sekaligus mempertegas bahwa mereka masih belum mampu keluar dari bayang-bayang kejayaan masa lalu.

Paraguay Jadi Mimpi Buruk Baru bagi Die Mannschaft

Sepanjang pertandingan, Paraguay menunjukkan disiplin bertahan yang luar biasa. Tim besutan Gustavo Alfaro tampil sangat terorganisir, mampu meredam kreativitas lini serang Jerman, dan memanfaatkan setiap peluang yang dimiliki dengan efektif.

Meski Die Mannschaft menguasai mayoritas jalannya laga dan terus menekan hingga babak tambahan waktu, rapatnya pertahanan Paraguay membuat Kai Havertz dan kolega kesulitan menciptakan peluang bersih.

Drama pun berlanjut ke babak adu penalti. Di momen penentuan, Paraguay tampil tanpa rasa gugup, sedangkan Jerman justru kehilangan ketenangan. Kegagalan Jonathan Tah pada penalti keenam menjadi titik balik yang memastikan La Albirroja melaju ke babak berikutnya.

Lebih menyakitkan lagi, ini menjadi kekalahan adu penalti pertama Jerman dalam sejarah penampilan mereka di Piala Dunia, sebuah catatan yang semakin menambah daftar hasil mengecewakan tim berjuluk Die Mannschaft tersebut.

Performa Jerman Sudah Menunjukkan Tanda-Tanda Penurunan

Sebenarnya, alarm bahaya bagi Jerman sudah terlihat sejak fase grup.

Mereka memang membuka turnamen dengan kemenangan meyakinkan atas Curacao yang sempat membangkitkan optimisme publik. Namun, performa tersebut gagal dipertahankan ketika menghadapi lawan yang lebih tangguh.

Kekalahan 1-2 dari Ekuador pada laga terakhir fase grup memperlihatkan sejumlah kelemahan, terutama dalam efektivitas penyelesaian akhir dan koordinasi lini belakang saat menghadapi serangan balik cepat.

Paraguay memanfaatkan celah tersebut dengan sangat baik. Tim asal Amerika Selatan itu membiarkan Jerman menguasai bola, tetapi mampu mematikan ruang-ruang berbahaya sebelum melancarkan serangan balik yang efektif.

Strategi tersebut terbukti sukses mengakhiri perjalanan salah satu raksasa sepak bola dunia.

Kutukan Piala Dunia Sejak Menjadi Juara Tahun 2014

Kesuksesan Jerman menjuarai Piala Dunia 2014 di Brasil kini terasa semakin jauh.

Alih-alih mempertahankan dominasi, Die Mannschaft justru mengalami penurunan yang cukup drastis dalam tiga edisi berikutnya.

Pada Piala Dunia 2018, status sebagai juara bertahan tidak mampu menyelamatkan mereka dari kegagalan memalukan di fase grup setelah kalah dari Meksiko dan Korea Selatan.

Empat tahun kemudian di Piala Dunia 2022 Qatar, cerita serupa kembali terjadi. Kekalahan mengejutkan dari Jepang dan hasil imbang melawan Spanyol membuat kemenangan atas Kosta Rika tidak cukup membawa mereka lolos ke babak gugur.

Harapan baru sempat muncul pada Piala Dunia 2026, terutama setelah awal turnamen yang cukup menjanjikan. Namun, mimpi itu kembali sirna setelah mereka gagal mengatasi Paraguay pada laga pertama fase gugur.

Artinya, sejak menjadi juara dunia pada 2014, Jerman belum sekalipun mampu memenangkan pertandingan fase gugur di Piala Dunia.

Jika tren tersebut terus berlanjut, mereka harus menunggu hingga edisi 2030 untuk mencoba mengakhiri kutukan tersebut. Saat turnamen itu digelar, sudah 16 tahun berlalu sejak kemenangan terakhir mereka di fase knockout.

Dari Tim Paling Konsisten Menjadi Raksasa yang Kehilangan Identitas

Selama puluhan tahun, Jerman dikenal sebagai simbol konsistensi di panggung Piala Dunia.

Antara tahun 1954 hingga 2014, mereka berhasil mencapai babak semifinal dalam 12 dari 16 penampilan, sebuah pencapaian yang hanya mampu ditandingi oleh sedikit negara di dunia.

Mental juara, kedalaman skuad, serta kemampuan tampil maksimal dalam pertandingan besar menjadikan Jerman selalu masuk daftar favorit juara di setiap edisi.

Namun, kenyataan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan cerita yang sangat berbeda.

Tiga edisi Piala Dunia berturut-turut berakhir dengan kegagalan besar. Prestasi yang dulu menjadi kebanggaan kini berubah menjadi rentetan hasil yang memunculkan pertanyaan mengenai arah perkembangan sepak bola Jerman.

Jerman Bukan Satu-Satunya Juara Dunia yang Mengalami Kemunduran

Fenomena yang dialami Die Mannschaft sebenarnya juga pernah menimpa beberapa mantan juara dunia lainnya.

Italia, misalnya, belum pernah lagi memenangkan pertandingan fase gugur sejak mengangkat trofi Piala Dunia 2006. Bahkan, Gli Azzurri gagal lolos ke tiga edisi Piala Dunia secara beruntun setelah itu.

Sementara itu, Spanyol, yang menjadi juara dunia pada 2010, juga belum mampu mengulang kesuksesan mereka. La Roja beberapa kali tampil menjanjikan, tetapi selalu gagal melangkah jauh di babak knockout.

Meski demikian, catatan sejarah tetap menempatkan Jerman sebagai salah satu negara tersukses sepanjang sejarah Piala Dunia.

Dengan 68 kemenangan dari 112 pertandingan, Die Mannschaft masih berada di jajaran elite sepak bola dunia. Namun, statistik yang lebih baru menunjukkan adanya penurunan signifikan, di mana mereka hanya mampu meraih empat kemenangan dalam 10 pertandingan terakhir di Piala Dunia.

Angka tersebut menjadi gambaran nyata bahwa kejayaan masa lalu tidak lagi menjamin kesuksesan saat ini. Jika ingin kembali menjadi kekuatan utama dunia, Jerman membutuhkan lebih dari sekadar regenerasi pemain. Mereka memerlukan evaluasi menyeluruh, pembaruan strategi, serta identitas permainan yang mampu membawa Die Mannschaft kembali ke level yang pernah mereka kuasai.

BACA JUGA :

CLOSE