PSIM Yogyakarta menghadapi awal musim yang jauh berbeda di BRI Super League 2026/2027. Jika musim lalu mampu langsung bersaing setelah promosi ke kasta tertinggi, kali ini Laskar Mataram justru kesulitan menemukan konsistensi dan terjebak di zona degradasi.
Empat pertandingan pertama belum memberikan hasil yang diharapkan. PSIM belum meraih kemenangan setelah hanya mengumpulkan satu poin dari satu hasil imbang dan tiga kekalahan. Situasi tersebut menempatkan mereka di peringkat ke-16 klasemen sementara.
Kekalahan telak 0-4 dari Persija Jakarta di Stadion Sultan Agung, Bantul, pada akhir pekan lalu semakin memperpanjang periode sulit yang harus dihadapi tim asal Yogyakarta tersebut.
Kondisi ini tentu mengundang perbandingan dengan pencapaian PSIM pada awal musim 2025/2026. Namun, gelandang Ze Valente mengingatkan bahwa perjalanan setiap musim memiliki dinamika tersendiri dan tidak bisa dinilai hanya berdasarkan hasil awal kompetisi.
Start PSIM Musim Ini Jauh Berbeda
Pada musim 2025/2026, PSIM menjalani awal kompetisi yang cukup menjanjikan sebagai tim promosi. Mereka berhasil melewati empat pertandingan pembuka tanpa kekalahan, dengan catatan dua kemenangan dan dua hasil imbang.
Hasil tersebut membuat Laskar Mataram mengoleksi delapan poin dari empat laga. Pencapaian itu menjadi modal positif untuk bersaing di kompetisi yang level persaingannya lebih tinggi.
Situasinya berbeda pada musim 2026/2027. PSIM baru mengantongi satu poin dari empat pertandingan dan belum berhasil mengamankan kemenangan.
Perbandingan awal musim PSIM menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok:
- Musim 2025/2026: dua kemenangan, dua hasil imbang, dan delapan poin dari empat pertandingan.
- Musim 2026/2027: satu hasil imbang, tiga kekalahan, dan satu poin dari empat pertandingan.
- Posisi saat ini: PSIM berada di peringkat ke-16 klasemen sementara berdasarkan data yang diberikan.
Rentetan hasil tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi tim pelatih dan para pemain. PSIM perlu segera memperbaiki performa agar tidak semakin tertinggal dalam persaingan BRI Super League.
Meski demikian, empat pertandingan awal belum menggambarkan keseluruhan perjalanan satu musim. Konsistensi dalam pertandingan berikutnya akan menjadi faktor penting untuk menentukan arah perjalanan Laskar Mataram.
Ze Valente Tak Ingin Terjebak Perbandingan dengan Musim Lalu
Gelandang PSIM Yogyakarta, Ze Valente, menilai membandingkan pencapaian musim lalu dengan situasi sekarang tidak selalu memberikan gambaran yang utuh.
Pemain asal Portugal itu mengingatkan bahwa setiap musim memiliki tantangan berbeda. Menurutnya, hasil pertandingan pada awal musim sebelumnya juga dipengaruhi sejumlah momen yang bisa saja berakhir dengan hasil lain.
“Saya pikir setiap musim itu berbeda. Jadi saya tidak suka memikirkan musim lalu. Musim lalu sudah selesai. Saya tahu orang-orang suka membandingkan,” ujar Ze.
Ia kemudian menyinggung beberapa pertandingan awal PSIM pada musim lalu. Menurut Ze, hasil positif yang diraih saat itu tidak selalu berarti tim tampil dominan sepanjang pertandingan.
Ia mencontohkan pertandingan melawan Persebaya yang hampir menghasilkan gol pada menit-menit akhir, serta laga kontra Arema yang berakhir imbang melalui gol bunuh diri.
Ze juga mengingat pertandingan melawan Persib di kandang, ketika lawan gagal mengeksekusi dua penalti. Menurutnya, sejumlah momen tersebut turut memengaruhi hasil akhir pertandingan.
Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa sepak bola tidak hanya ditentukan oleh kualitas permainan, tetapi juga efektivitas penyelesaian peluang dan situasi yang muncul sepanjang laga.
Namun, hal itu bukan berarti PSIM bisa mengabaikan hasil buruk pada musim ini. Sebaliknya, tim tetap perlu mengevaluasi performa dan mencari cara untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
Masalah Mental Jadi Perhatian PSIM
Di tengah hasil yang belum memuaskan, Ze Valente menilai aspek mental perlu mendapatkan perhatian lebih. Ia ingin seluruh pemain menunjukkan kemampuan terbaik dan tidak kehilangan kepercayaan diri ketika menghadapi tekanan kompetisi.
Menurut Ze, para pemain memahami situasi yang sedang dihadapi PSIM. Target tim musim ini bukan sekadar mengulang pencapaian musim lalu, melainkan memastikan mereka mampu bersaing dan bertahan di kasta tertinggi.
“Jadi saya pikir ini lebih ke masalah mental yang harus kami tingkatkan sebagai pemain. Kami harus menunjukkan kemampuan diri dan mencoba bermain. Di klub ini kami tidak merasakan tekanan apa pun,” ucapnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa evaluasi PSIM tidak hanya berkaitan dengan strategi di lapangan. Kepercayaan diri, ketenangan saat mengambil keputusan, dan kemampuan merespons situasi sulit juga menjadi bagian penting dalam proses pembenahan.
Ze mengakui timnya realistis terhadap target yang harus diperjuangkan musim ini.
“Kami realistis. Di internal, kami tahu sedang berjuang agar tidak terdegradasi dan target kami sangat jelas. Namun, kami tahu jangan berharap musim ini akan sama seperti musim lalu. Musim lalu sudah berbeda, sudah selesai, dan sekarang memulai dari awal lagi,” jelasnya.
Kesadaran terhadap situasi tersebut bisa menjadi langkah awal bagi PSIM untuk menentukan prioritas. Tim membutuhkan performa yang lebih stabil agar mampu mengumpulkan poin dan memperbaiki posisi klasemen.
Kekalahan dari Persija Jadi Bahan Evaluasi
Kekalahan 0-4 dari Persija Jakarta menjadi salah satu hasil yang perlu dievaluasi PSIM. Meski mampu memberikan perlawanan pada sejumlah fase pertandingan, Laskar Mataram akhirnya kesulitan menghadapi kualitas lawan, terutama ketika pertandingan memasuki menit-menit akhir.
Ze Valente mengakui bahwa Persija merupakan tim dengan target, anggaran, dan kualitas pemain yang berbeda. Ia menilai timnya sudah berusaha memberikan kemampuan terbaik sebelum akhirnya harus menerima kekalahan.
“Kami memberikan segalanya yang kami bisa sampai gol pertama terjadi, tidak pernah mudah bertanding melawan Persija. Mereka tim besar di Indonesia dengan target, anggaran, dan level pemain yang berbeda,” tutur Ze.
Ia juga menyoroti semangat rekan-rekannya meski hasil akhir tidak berpihak kepada PSIM. Namun, semangat saja belum cukup jika tim ingin memperbaiki posisi di klasemen.
PSIM perlu meningkatkan efektivitas permainan, menjaga konsentrasi sepanjang laga, serta memperbaiki respons ketika menghadapi tekanan lawan.
PSIM Harus Segera Bangkit di BRI Super League
Dengan baru mengoleksi satu poin dari empat pertandingan, PSIM tidak memiliki banyak ruang untuk terus kehilangan poin jika ingin menjauh dari zona degradasi.
Setiap pertandingan berikutnya menjadi kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Persiapan yang matang, evaluasi terhadap kesalahan, dan peningkatan mental pemain akan menjadi bagian penting dalam upaya tersebut.
Ze Valente memastikan bahwa tim memahami aspek yang perlu diperbaiki dan akan terus bekerja keras untuk mendapatkan hasil positif.
“Kami tahu ada pertandingan yang harus kami usahakan untuk dimenangkan dan ada laga yang kami tahu sangat sulit untuk meraih poin. Sekarang kami harus bersiap untuk pertandingan berikutnya dan saya sangat yakin kami akan mulai meraih poin sesegera mungkin,” tegasnya.
Start PSIM Yogyakarta pada BRI Super League 2026/2027 memang kontras dengan musim lalu. Namun, perjalanan kompetisi masih panjang dan peluang untuk memperbaiki posisi tetap terbuka.
Kini, tantangan terbesar bagi Laskar Mataram adalah mengubah evaluasi menjadi hasil nyata di lapangan. Konsistensi, ketahanan mental, dan kemampuan memanfaatkan peluang akan sangat menentukan apakah PSIM mampu segera bangkit dari periode sulit ini.
BACA JUGA :












