1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP: Pelatih PSIM Akui Ada Kekosongan Usai Ditinggal Manajer Tim, Minta Skuad Segera Bangkit

Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul van Gastel, secara terbuka mengakui bahwa kepergian manajer tim Razzi Taruna meninggalkan dampak cukup besar di internal klub. Menurutnya, ada kekosongan dalam struktur teknis tim yang kini harus segera diatasi oleh manajemen Laskar Mataram.

Razzi Taruna resmi mengundurkan diri pada 30 April 2026, tak lama setelah PSIM menelan kekalahan tipis 0-1 dari Persita Tangerang pada pekan ke-30 BRI Super League 2025/2026. Keputusan tersebut cukup mengejutkan karena Razzi selama ini memegang peran penting dalam pengelolaan aspek teknis tim.

Van Gastel Akui Ada Celah dalam Struktur Tim PSIM

Dalam keterangannya, Van Gastel menegaskan bahwa Razzi memiliki kontribusi besar selama masa kerjanya di PSIM Yogyakarta. Terutama saat klub berhasil meraih tiket promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia pada musim sebelumnya.

Menurut pelatih asal Belanda tersebut, peran Razzi tidak bisa dianggap kecil karena ia terlibat langsung dalam berbagai aspek penting di balik layar tim.

“Sulit untuk dikatakan. Razzi terlibat dalam promosi musim lalu, kemudian dia pergi. Saya tidak tahu alasan mengapa dia pergi,” ujar Van Gastel pada Selasa (12/5/2026).

“Tapi sekarang ada celah karena dia terlibat dalam bagian teknis organisasi. Dia sudah pergi, jadi kami harus mengisi kekosongan itu,” lanjutnya.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa PSIM kini sedang berada dalam fase transisi yang membutuhkan penyesuaian cepat, terutama dalam struktur manajemen tim.

Sosok Penting di Balik Kebangkitan PSIM Yogyakarta

Selama kurang lebih tiga tahun menjabat sebagai manajer tim, Razzi Taruna dikenal sebagai salah satu figur kunci dalam perkembangan PSIM Yogyakarta. Ia berperan besar dalam membangun fondasi tim yang solid hingga akhirnya sukses menjuarai Liga 2 musim 2024/2025.

Gelar tersebut menjadi pencapaian bersejarah bagi Laskar Mataram, karena sekaligus mengakhiri penantian panjang selama 18 tahun untuk kembali tampil di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Tidak hanya itu, di musim debut mereka di BRI Super League, PSIM juga mampu menunjukkan performa cukup stabil dan dipastikan bertahan untuk musim berikutnya.

Van Gastel Beri Apresiasi dan Doa untuk Karier Razzi

Meski menyayangkan kepergian sang manajer tim, Van Gastel tetap memberikan apresiasi tinggi atas kontribusi Razzi Taruna selama ini. Ia menilai Razzi adalah sosok muda yang memiliki potensi besar untuk berkembang lebih jauh di dunia sepak bola.

“Jika Anda bekerja bersama orang-orang, selalu disayangkan ketika seseorang pergi karena alasan apa pun. Tapi klub harus berterima kasih karena dia terlibat dalam promosi musim lalu, seperti banyak orang lainnya,” kata Van Gastel.

“Saya berharap dia tetap bekerja di dunia sepak bola karena dia masih muda. Dia akan mendapatkan lebih banyak pengalaman dan saya yakin dia bisa menjadi manajer yang sangat bagus di masa depan,” tambahnya.

PSIM Fokus Menatap Akhir Musim BRI Super League

Di tengah situasi perubahan internal tersebut, PSIM Yogyakarta masih harus menyelesaikan dua pertandingan tersisa di BRI Super League 2025/2026.

Saat ini, Laskar Mataram menempati posisi ke-11 klasemen sementara dengan raihan 42 poin, hasil dari 10 kemenangan, 12 imbang, dan 10 kekalahan dari 32 pertandingan.

Pada laga terakhir, PSIM berhasil meraih kemenangan penting 2-0 atas Malut United di Stadion Sultan Agung, Bantul (10/5/2026). Hasil tersebut sekaligus mengakhiri tren delapan pertandingan tanpa kemenangan yang sempat membayangi tim.

Ke depan, PSIM akan menjamu Madura United pada 17 Mei 2026, sebelum menutup musim dengan laga tandang melawan Arema FC pada 22 Mei 2026.

Dengan kondisi tim yang mulai membaik di lapangan namun mengalami perubahan di struktur internal, PSIM kini dituntut untuk tetap menjaga stabilitas demi mengakhiri musim dengan hasil terbaik.

BACA JUGA :

CLOSE