Persela Lamongan mulai mengambil langkah yang lebih serius untuk membangun fondasi finansial klub melalui pengembangan bisnis di luar lapangan. Salah satu strategi yang dijalankan adalah memperkuat lini apparel dengan mengembangkan Octagon, merek perlengkapan olahraga yang menjadi bagian dari bisnis Persela.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya manajemen Laskar Joko Tingkir untuk menciptakan sumber pemasukan baru menjelang bergulirnya Championship Indonesia musim 2026/2027. Persela ingin mengurangi ketergantungan terhadap pemasukan yang selama ini umumnya berasal dari sponsor, penjualan tiket pertandingan, serta dukungan pihak lain.
Octagon tidak hanya ditugaskan untuk memasok jersey pertandingan dan perlengkapan latihan tim. Manajemen juga ingin mengembangkannya sebagai merek komersial yang dapat menjual berbagai produk kepada masyarakat luas. Dengan pendekatan tersebut, apparel tidak lagi dipandang sekadar sebagai kebutuhan operasional tim, tetapi sebagai aset bisnis yang memiliki potensi menghasilkan pendapatan secara berkelanjutan.
Pengembangan bisnis apparel memperlihatkan adanya perubahan cara pandang dalam pengelolaan klub sepak bola. Persela mulai berusaha membangun sistem usaha yang dapat mendukung kebutuhan tim dalam jangka panjang. Langkah ini penting karena biaya untuk mengikuti kompetisi profesional tidak sedikit. Klub membutuhkan dana untuk membayar pemain dan staf, menjalankan program latihan, melakukan perjalanan, menjaga stadion, mengembangkan akademi, serta memenuhi berbagai kebutuhan administratif.
Apabila dikelola dengan tepat, Octagon dapat berkembang menjadi salah satu sumber pendapatan penting bagi Persela. Produk apparel juga dapat menjadi penghubung antara klub dan para pendukung. Setiap jersey, kaus, jaket, atau aksesori yang dibeli suporter bukan hanya menghasilkan pemasukan, tetapi juga memperkuat rasa memiliki terhadap klub.
Membangun Fondasi Ekonomi yang Lebih Kuat
Kondisi finansial merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberlanjutan sebuah klub sepak bola. Tim yang memiliki dukungan dana stabil akan lebih mudah menyusun rencana jangka panjang. Sebaliknya, klub yang terlalu bergantung pada satu atau dua sumber pemasukan akan menghadapi risiko besar ketika pendapatan tersebut menurun.
Sponsor dapat berubah setiap musim. Penjualan tiket juga sangat dipengaruhi oleh performa tim, jadwal pertandingan, kapasitas stadion, dan daya beli masyarakat. Dalam situasi tertentu, pertandingan bahkan bisa digelar dengan pembatasan penonton sehingga pendapatan dari tiket ikut berkurang.
Karena itu, diversifikasi bisnis menjadi kebutuhan penting. Klub perlu mempunyai beberapa sumber pemasukan agar operasional tidak terganggu ketika salah satu sektor mengalami penurunan.
Melalui Octagon, Persela mulai membangun salah satu sumber pendapatan mandiri. Chief Operating Officer Persela, Edy Yunan Achmadi, menjelaskan bahwa merek tersebut merupakan bagian dari bisnis klub dan dikembangkan untuk mendukung fondasi ekonomi Persela dalam jangka panjang. Manajemen juga berharap dapat merambah sektor usaha lain pada masa mendatang.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Persela tidak ingin hanya menunggu datangnya sponsor. Klub berusaha menciptakan produk yang dapat dijual dan dikembangkan menggunakan kekuatan merek sendiri.
Persela mempunyai identitas yang kuat di Lamongan dan dikenal oleh masyarakat sepak bola Indonesia. Modal emosional tersebut dapat diubah menjadi nilai ekonomi apabila dikelola secara profesional. Suporter yang mencintai klub biasanya ingin memiliki produk resmi sebagai simbol dukungan.
Namun, rasa cinta suporter tidak boleh dimanfaatkan secara sembarangan. Klub tetap harus memberikan produk yang berkualitas, nyaman digunakan, memiliki desain menarik, serta dijual dengan harga yang masuk akal.
Kepercayaan konsumen akan menjadi fondasi utama bisnis apparel. Apabila produk Octagon mampu memenuhi harapan pembeli, peluang untuk berkembang akan semakin besar. Sebaliknya, jika kualitas tidak konsisten, reputasi merek dan klub dapat ikut terdampak.
Octagon sebagai Bagian dari Identitas Persela
Dalam sepak bola modern, jersey tidak hanya berfungsi sebagai seragam pertandingan. Jersey telah menjadi bagian dari identitas visual, alat komunikasi, produk fesyen, dan simbol hubungan antara klub dengan pendukungnya.
Warna, motif, lambang, serta cerita di balik desain jersey dapat menciptakan ikatan emosional. Suporter membeli jersey bukan hanya karena membutuhkan pakaian olahraga, tetapi karena ingin menunjukkan kebanggaan terhadap klub.
Inilah salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan oleh Persela melalui Octagon. Sebagai merek yang dikembangkan oleh klub, Octagon memiliki akses langsung terhadap sejarah, nilai, dan budaya Laskar Joko Tingkir.
Desain produk dapat mengambil inspirasi dari identitas Kota Lamongan, Stadion Surajaya, warna kebesaran Persela, budaya lokal, perjalanan klub, atau tokoh-tokoh yang memiliki hubungan kuat dengan tim.
Pendekatan berbasis cerita dapat membuat sebuah produk terasa lebih istimewa. Konsumen tidak hanya membeli kaus, tetapi juga membeli bagian dari sejarah dan identitas klub.
Persela menggandeng desainer Fajar Ramadhan, yang juga dikenal sebagai Fajarrusalem, untuk membantu memperkuat identitas visual produk Octagon. Keterlibatan desainer menjadi langkah penting agar produk tidak hanya berfungsi sebagai perlengkapan olahraga, tetapi juga mempunyai karakter yang mudah dikenali.
Identitas visual yang konsisten akan membantu Octagon membangun posisi di pasar. Konsumen perlu dapat mengenali produk tersebut meskipun tidak selalu melihat logo secara langsung.
Hal ini bisa dilakukan melalui pemilihan warna, bentuk grafis, detail jahitan, gaya tipografi, atau pola yang menjadi ciri khas. Semakin kuat identitasnya, semakin besar peluang Octagon berkembang sebagai merek yang berdiri sendiri.
Tidak Hanya Menyediakan Jersey Tim
Potensi bisnis apparel tidak terbatas pada jersey pertandingan. Octagon dapat mengembangkan berbagai kategori produk sesuai kebutuhan konsumen.
Produk utama tentu meliputi jersey kandang, tandang, dan alternatif. Selain itu, merek tersebut bisa menyediakan jersey latihan, kaus kasual, polo, jaket, celana olahraga, topi, syal, tas, serta aksesori lainnya.
Segmentasi produk juga perlu diperhatikan. Tidak semua pendukung membutuhkan jersey versi pemain dengan spesifikasi tertinggi. Sebagian konsumen mungkin lebih memilih produk dengan harga terjangkau untuk penggunaan sehari-hari.
Karena itu, Octagon dapat menawarkan beberapa tingkatan produk. Versi autentik dapat ditujukan kepada kolektor atau pendukung yang menginginkan spesifikasi seperti yang digunakan pemain. Versi replika dapat dijual dengan harga lebih terjangkau. Produk kasual dapat menyasar masyarakat yang ingin membawa identitas Persela ke dalam gaya berpakaian sehari-hari.
Kategori anak-anak juga mempunyai potensi besar. Banyak keluarga di Lamongan yang memperkenalkan Persela kepada anak-anak mereka sejak usia dini. Produk khusus anak dapat membantu membangun generasi pendukung baru sekaligus membuka pasar tambahan.
Octagon juga dapat membuat koleksi terbatas untuk memperingati ulang tahun klub, pertandingan penting, pencapaian tertentu, atau tokoh legendaris. Produk edisi terbatas biasanya memiliki daya tarik tinggi karena menawarkan unsur eksklusivitas.
Namun, strategi tersebut harus tetap dijalankan dengan perencanaan. Jumlah produksi perlu disesuaikan dengan permintaan agar klub tidak menanggung terlalu banyak stok.
Peran Suporter dalam Pertumbuhan Bisnis
Keberhasilan bisnis apparel Persela akan sangat bergantung pada dukungan para suporternya. LA Mania, Curva Boys 1967, dan berbagai kelompok pendukung lain mempunyai peran penting dalam membentuk pasar awal Octagon.
Suporter merupakan konsumen yang paling dekat dengan klub. Mereka memahami sejarah Persela dan memiliki ikatan emosional yang sulit digantikan oleh merek olahraga biasa.
Setiap pembelian produk resmi dapat dipandang sebagai bentuk dukungan langsung terhadap keberlanjutan klub. Uang yang dibelanjakan konsumen dapat kembali digunakan untuk mendukung operasional, pengembangan tim, atau program jangka panjang Persela.
Namun, klub perlu menjelaskan hubungan tersebut secara transparan. Suporter akan lebih terdorong membeli produk resmi apabila memahami bahwa pembelian mereka memberikan manfaat nyata kepada tim.
Persela juga perlu melibatkan pendukung dalam pengembangan produk. Klub dapat meminta masukan mengenai desain, ukuran, jenis barang, atau rentang harga.
Keterlibatan tersebut tidak berarti semua keputusan harus ditentukan melalui voting. Namun, mendengarkan suara konsumen dapat membantu Octagon menghasilkan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.
Komunitas suporter juga dapat menjadi mitra promosi. Anggota komunitas yang menggunakan produk Octagon dalam kegiatan sehari-hari secara tidak langsung membantu memperkenalkan merek kepada masyarakat.
Konten yang dibuat suporter melalui media sosial bisa menghasilkan jangkauan yang luas tanpa memerlukan biaya pemasaran besar. Karena itu, hubungan dengan komunitas perlu dibangun secara positif dan berkelanjutan.
Memerangi Peredaran Produk Tidak Resmi
Salah satu tantangan terbesar dalam bisnis merchandise sepak bola adalah peredaran barang tidak resmi. Produk tiruan biasanya dijual dengan harga lebih murah dan mudah ditemukan di berbagai tempat.
Kondisi tersebut dapat mengurangi potensi pendapatan klub. Konsumen mungkin memilih produk tiruan karena harga produk resmi dianggap terlalu tinggi atau sulit diperoleh.
Persela tidak cukup hanya mengimbau suporter untuk membeli barang resmi. Klub juga perlu memahami alasan mengapa sebagian konsumen memilih produk tidak resmi.
Akses dan harga menjadi dua faktor utama. Apabila produk Octagon hanya tersedia di lokasi terbatas, konsumen dari luar Lamongan akan kesulitan melakukan pembelian. Jika harganya terlalu jauh dari kemampuan pasar lokal, barang tiruan akan tetap menjadi pilihan.
Karena itu, strategi distribusi dan variasi harga sangat penting. Persela perlu memastikan bahwa produk resmi tersedia melalui toko fisik, toko daring, platform perdagangan elektronik, dan jaringan penjualan yang aman.
Kehadiran toko resmi dapat memudahkan suporter mendapatkan barang asli sekaligus menjadi pusat pengalaman merek. Persela juga dapat menyediakan sistem verifikasi produk melalui label khusus, kode digital, atau kemasan resmi.
Edukasi kepada suporter harus dilakukan dengan pendekatan yang positif. Klub dapat menjelaskan bahwa pembelian produk resmi membantu mendukung kegiatan Persela.
Pada saat yang sama, Octagon harus bersaing melalui kualitas. Konsumen akan lebih bersedia membeli produk resmi apabila mereka merasakan perbedaan nyata dalam bahan, kenyamanan, desain, dan daya tahan.
Peluang Menjangkau Pasar di Luar Lamongan
Meskipun lahir dari ekosistem Persela, Octagon tidak harus membatasi diri hanya pada pasar pendukung klub. Dalam jangka panjang, merek tersebut dapat menawarkan produk kepada komunitas olahraga, sekolah sepak bola, klub amatir, perusahaan, dan masyarakat umum.
Banyak tim lokal membutuhkan penyedia jersey dan perlengkapan olahraga dengan kualitas baik. Octagon dapat masuk ke pasar tersebut dengan menawarkan layanan desain, produksi, dan personalisasi.
Pengalaman menyediakan perlengkapan untuk Persela bisa menjadi bukti kemampuan merek. Klub profesional dapat menjadi portofolio utama yang meningkatkan kepercayaan calon pelanggan.
Octagon juga dapat mengembangkan pakaian olahraga umum yang tidak selalu menampilkan logo Persela. Langkah ini memungkinkan merek menjangkau konsumen yang lebih luas.
Namun, ekspansi harus dilakukan secara bertahap. Fokus awal sebaiknya tetap pada kualitas produk, stabilitas produksi, dan pelayanan pelanggan.
Pertumbuhan yang terlalu cepat tanpa kesiapan dapat menimbulkan masalah. Keterlambatan pengiriman, perbedaan ukuran, atau kualitas yang tidak konsisten dapat merusak kepercayaan konsumen.
Karena itu, Persela perlu membangun sistem produksi dan distribusi yang kuat sebelum memperluas pasar.
Pentingnya Pemasaran Digital
Media digital akan menjadi salah satu alat utama dalam pengembangan Octagon. Sebagian besar konsumen saat ini mencari informasi produk melalui media sosial, situs web, dan platform perdagangan elektronik.
Persela mempunyai keuntungan karena telah memiliki basis pengikut yang tertarik terhadap klub. Kanal resmi Persela dapat digunakan untuk memperkenalkan desain baru, memperlihatkan proses produksi, menjelaskan filosofi produk, dan memberikan informasi pembelian.
Konten pemasaran sebaiknya tidak hanya berupa foto produk. Klub dapat membuat video di balik layar, wawancara dengan desainer, cerita mengenai inspirasi motif, atau penampilan pemain saat menggunakan apparel.
Pemain memiliki daya tarik kuat sebagai wajah produk. Foto dan video mereka dapat membantu konsumen melihat bagaimana produk digunakan dalam situasi nyata.
Meski demikian, kampanye tidak harus selalu bergantung kepada pemain. Suporter, pelatih, staf, pekerja lokal, dan masyarakat Lamongan juga dapat dilibatkan untuk memperkuat kesan bahwa Octagon merupakan bagian dari komunitas.
Pemasaran digital juga memungkinkan Persela memperoleh data mengenai konsumen. Klub dapat mengetahui produk yang paling diminati, lokasi pembeli, ukuran yang paling banyak dicari, dan periode penjualan tertinggi.
Data tersebut dapat digunakan untuk menyusun produksi dengan lebih efisien. Keputusan bisnis tidak lagi hanya berdasarkan perkiraan, tetapi menggunakan pola permintaan yang nyata.
Kolaborasi dengan Pelaku Ekonomi Lokal
Pengembangan Octagon juga berpotensi memberikan dampak kepada ekonomi lokal. Persela dapat bekerja sama dengan produsen tekstil, penjahit, percetakan, fotografer, desainer, pengelola toko, serta pelaku usaha kecil di Lamongan dan wilayah sekitarnya.
Kolaborasi tersebut dapat menciptakan lapangan kerja dan memperluas manfaat ekonomi dari kegiatan klub sepak bola.
Persela tidak hanya menjadi tim yang bertanding pada akhir pekan, tetapi juga menjadi pusat aktivitas bisnis yang melibatkan banyak pihak.
Produk kolaborasi dengan usaha lokal dapat menjadi salah satu strategi menarik. Octagon dapat bekerja sama dengan seniman, merek makanan, komunitas kreatif, atau produsen kerajinan untuk menghasilkan koleksi khusus.
Kolaborasi yang tepat dapat mempertemukan dua kelompok konsumen sekaligus. Pendukung Persela mengenal mitra lokal, sementara pelanggan mitra tersebut ikut mengenal Octagon.
Namun, setiap kerja sama perlu diseleksi dengan baik. Mitra harus memiliki nilai yang sesuai dengan Persela dan mampu menjaga kualitas.
Investasi untuk Hasil Jangka Panjang
Manajemen Persela menyatakan telah melakukan investasi yang cukup besar untuk mengembangkan Octagon. Klub berharap merek tersebut dapat menjadi salah satu aliran pendapatan utama pada masa mendatang.
Investasi dalam bisnis apparel tidak hanya berkaitan dengan pembelian bahan atau proses produksi. Dana juga diperlukan untuk desain, riset pasar, pemasaran, teknologi penjualan, pengemasan, distribusi, dan pelayanan pelanggan.
Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat dalam waktu singkat. Sebuah merek membutuhkan waktu untuk membangun reputasi dan loyalitas konsumen.
Persela harus menjalankan bisnis ini dengan kesabaran dan konsistensi. Keputusan produksi perlu dilakukan secara profesional, bukan hanya berdasarkan antusiasme sesaat.
Pengelolaan keuangan Octagon juga harus transparan dan terukur. Klub perlu mengetahui biaya produksi, margin keuntungan, tingkat penjualan, serta kontribusi bersih terhadap operasional Persela.
Tanpa pencatatan yang baik, bisnis bisa terlihat ramai tetapi sebenarnya tidak menghasilkan keuntungan signifikan.
Baca Juga:












