1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP : Ponaryo Astaman Bongkar Momen Tak Terlupakan Saat Tukaran Jersey dengan Bima Sakti

Setiap pesepak bola memiliki sosok yang menjadi inspirasi dalam perjalanan kariernya. Di Indonesia, banyak pemain besar yang tumbuh dengan mengidolakan para legenda sepak bola nasional. Salah satunya adalah Ponaryo Astaman, mantan gelandang andalan Timnas Indonesia yang ternyata memiliki kekaguman mendalam terhadap Bima Sakti.

Kisah ini menjadi menarik karena pada akhirnya Ponaryo tidak hanya mengikuti jejak idolanya sebagai gelandang Timnas Indonesia, tetapi juga pernah merasakan momen spesial bertukar jersey langsung dengan Bima Sakti setelah laga final Divisi Utama Liga Indonesia 1999/2000.

Bagi sebagian pemain, bertemu idola mungkin hanya menjadi kenangan biasa. Namun bagi Ponaryo Astaman, momen tersebut menjadi salah satu pengalaman paling berharga dalam perjalanan karier sepak bolanya.

Bima Sakti, Sosok yang Menjadi Inspirasi Ponaryo Astaman

Sebelum dikenal sebagai salah satu gelandang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, Ponaryo Astaman juga merupakan seorang penggemar sepak bola yang memiliki panutan.

Pilihan hatinya jatuh kepada Bima Sakti. Ada beberapa alasan yang membuat Ponaryo sangat mengidolakan mantan kapten Timnas Indonesia tersebut.

Pertama, keduanya bermain di posisi yang sama, yakni gelandang. Ponaryo banyak melihat bagaimana Bima Sakti mengatur permainan dan menjadi motor tim di lapangan.

Kedua, mereka berasal dari daerah yang sama, yaitu Balikpapan, Kalimantan Timur. Faktor kedekatan daerah membuat Ponaryo merasa lebih dekat dengan sosok Bima Sakti dibanding pemain lainnya.

Menurut pengakuannya, ia bahkan memiliki hubungan yang cukup dekat dengan keluarga Bima Sakti karena pernah satu sekolah dan bermain bersama adik sang legenda saat masih muda.

Beberapa alasan Ponaryo mengidolakan Bima Sakti:

  • Sama-sama berasal dari Balikpapan
  • Bermain di posisi gelandang
  • Memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat
  • Menjadi pemain Timnas Indonesia
  • Sukses menembus level tertinggi sepak bola nasional

Kombinasi faktor tersebut membuat Bima Sakti menjadi sosok panutan bagi Ponaryo sejak usia muda.

Generasi Primavera yang Menginspirasi Indonesia

Nama Bima Sakti tidak bisa dilepaskan dari program Primavera yang sangat terkenal pada era 1990-an.

Program yang digagas PSSI tersebut mengirimkan pemain-pemain muda terbaik Indonesia untuk belajar sepak bola modern di Italia pada periode 1993 hingga 1995.

Saat itu, Primavera menjadi fenomena tersendiri di Indonesia. Banyak anak muda yang menjadikan para pemain Primavera sebagai idola karena mereka dianggap mewakili harapan sepak bola nasional.

Selain Bima Sakti, program tersebut juga melahirkan sejumlah pemain hebat seperti:

  • Kurniawan Dwi Yulianto
  • Yeyen Tumena
  • Kurnia Sandy
  • Supriyono
  • Alex Pulalo
  • Anang Ma’ruf
  • Aris Indarto

Di bawah arahan pelatih legendaris Danurwindo, para pemain Primavera berhasil mencuri perhatian publik sepak bola Indonesia.

Bagi Ponaryo dan generasinya yang lebih muda beberapa tahun, para pemain Primavera merupakan sosok yang sangat dikagumi.

Momen Bersejarah di Final Divisi Utama 1999/2000

Salah satu kenangan paling berharga dalam hidup Ponaryo Astaman terjadi pada 23 Juli 2000.

Saat itu, ia membela PKT Bontang dalam laga final Divisi Utama Liga Indonesia melawan PSM Makassar yang diperkuat oleh idolanya, Bima Sakti.

Pertandingan yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno tersebut berjalan sengit. Namun pada akhirnya PKT Bontang harus mengakui keunggulan PSM Makassar dengan skor tipis 2-3.

Meski mengalami kekalahan, Ponaryo mendapatkan pengalaman yang tidak akan pernah ia lupakan.

Setelah pertandingan berakhir, seperti tradisi yang umum terjadi dalam sepak bola, para pemain saling bertukar jersey.

Ponaryo tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Ia langsung menghampiri Bima Sakti untuk melakukan tukaran jersey.

Momen sederhana itu memiliki makna besar bagi dirinya karena bisa berinteraksi langsung dengan sosok yang selama ini menjadi panutannya.

Bertahun-tahun kemudian, Ponaryo masih mengingat kejadian tersebut sebagai salah satu momen paling spesial dalam kariernya.

Dari Mengidolakan hingga Mengikuti Jejak Sang Panutan

Menariknya, perjalanan karier Ponaryo Astaman kemudian berkembang dengan cara yang hampir mirip dengan idolanya.

Jika Bima Sakti sukses menjadi kapten Timnas Indonesia, Ponaryo juga akhirnya dipercaya mengenakan ban kapten Tim Merah Putih.

Karier Ponaryo bersama Timnas Indonesia berlangsung cukup panjang. Selama periode 2003 hingga 2013, ia menjadi salah satu pemain yang nyaris tidak tergantikan di lini tengah.

Beberapa pencapaian Ponaryo bersama Timnas Indonesia antara lain:

  • Runner-up Piala AFF 2004
  • Runner-up Pestabola Merdeka 2006
  • Juara Indonesian Independence Cup 2008
  • Kapten Timnas Indonesia
  • Tampil dalam berbagai turnamen internasional

Prestasi tersebut menunjukkan bahwa Ponaryo berhasil mengubah inspirasi yang ia dapatkan dari Bima Sakti menjadi motivasi untuk meraih kesuksesan.

Karier Klub yang Penuh Prestasi

Selain sukses di Timnas Indonesia, Ponaryo Astaman juga memiliki perjalanan klub yang sangat mengesankan.

Setelah membela PKT Bontang, ia melanjutkan karier bersama sejumlah klub besar Indonesia seperti PSM Makassar, Arema Malang, Persija Jakarta, dan Sriwijaya FC.

Masa paling gemilang terjadi saat ia memperkuat Sriwijaya FC.

Bersama klub asal Palembang tersebut, Ponaryo berhasil meraih berbagai gelar bergengsi, antara lain:

  • Juara Indonesia Super League 2011/2012
  • Juara Piala Indonesia 2010
  • Juara Indonesian Community Shield 2010
  • Juara Indonesian Inter Island Cup 2010
  • Juara Indonesian Inter Island Cup 2012

Deretan trofi tersebut semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu gelandang terbaik dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Dari Lapangan Hijau ke Kursi Manajemen

Ponaryo Astaman mengakhiri karier profesionalnya sebagai pemain pada tahun 2017 bersama Borneo FC.

Namun kecintaannya terhadap sepak bola tidak berhenti setelah gantung sepatu.

Saat ini, pria kelahiran Balikpapan tersebut masih menjadi bagian penting dari Borneo FC dengan menjabat sebagai direktur utama atau CEO klub berjuluk Pesut Etam tersebut.

Perjalanan kariernya menjadi bukti bahwa mimpi seorang anak yang mengidolakan pemain besar bisa berubah menjadi kenyataan.

Kisah Inspiratif yang Layak Dikenang

Kisah Ponaryo Astaman dan Bima Sakti menunjukkan bahwa setiap pemain hebat juga pernah menjadi penggemar yang memiliki idola.

Dari seorang remaja asal Balikpapan yang mengagumi Bima Sakti, Ponaryo tumbuh menjadi salah satu gelandang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Bahkan, ia berhasil mengikuti jejak idolanya sebagai kapten Timnas Indonesia.

Momen tukaran jersey usai final Divisi Utama Liga Indonesia 1999/2000 mungkin terlihat sederhana bagi banyak orang. Namun bagi Ponaryo Astaman, peristiwa itu menjadi simbol perjalanan panjang dari seorang penggemar menjadi sosok yang akhirnya sejajar dengan idolanya di panggung sepak bola nasional.

BACA JUGA :

TAGS:
CLOSE