Hasil pahit kembali menghantam PSM Makassar pada lanjutan pekan ke-24 BRI Super League 2025/2026. Bermain di Stadion Gelora BJ Habibie, Senin (3/3/2026) malam WIB, Pasukan Ramang harus mengakui keunggulan Persita Tangerang dengan skor 2-4. Kekalahan telak di kandang sendiri itu bukan hanya menyakitkan, tetapi juga mempertegas situasi genting yang tengah dihadapi Juku Eja musim ini.
Di tengah tekanan hasil buruk yang terus berulang, pernyataan tegas disampaikan asisten pelatih Ahmad Amiruddin. Ia menegaskan bahwa PSM tidak ingin tercatat dalam sejarah sebagai tim yang terdegradasi.
Kekalahan Menyesakkan di Depan Publik Sendiri
PSM Makassar sebenarnya datang ke laga ini dengan harapan bangkit setelah serangkaian hasil minor. Dukungan ribuan suporter di Stadion Gelora BJ Habibie diharapkan menjadi suntikan motivasi tambahan.
Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Persita Tangerang tampil efektif dan berani menekan sejak awal laga. Empat gol yang bersarang ke gawang PSM menjadi pukulan telak, meskipun tuan rumah sempat mencetak dua gol balasan.
Kekalahan ini terasa semakin pahit karena terjadi di kandang sendiri. Dalam sepak bola, bermain di rumah sendiri biasanya menjadi keuntungan besar. Namun bagi PSM, justru tekanan semakin terasa ketika hasil tak kunjung membaik.
Tren Buruk yang Mengkhawatirkan
Kekalahan dari Persita menambah panjang daftar hasil negatif PSM Makassar di BRI Super League musim ini. Dari 12 pertandingan terakhir, Yuran Fernandes dan kawan-kawan hanya mampu meraih satu kemenangan.
Catatan tersebut menjadi alarm serius bagi tim kebanggaan Sulawesi Selatan itu. Konsistensi yang dulu menjadi kekuatan PSM kini sulit ditemukan. Lini pertahanan kerap rapuh, sementara efektivitas serangan belum cukup untuk menutup kelemahan tersebut.
Situasi ini membuat suporter mulai kehilangan kesabaran. Seusai pertandingan, sejumlah pendukung terlihat meluapkan kekecewaan mereka kepada pemain dan ofisial tim. Tekanan psikologis jelas menjadi tantangan tambahan bagi skuad Juku Eja.
Posisi Klasemen Kian Mengkhawatirkan
Hingga pekan ke-24, PSM Makassar berada di posisi ke-13 klasemen sementara dengan koleksi 23 poin. Jarak mereka dengan zona degradasi hanya terpaut lima angka dari PSBS Biak yang menghuni batas atas zona merah.
Dengan kompetisi yang semakin ketat, selisih poin tipis tersebut sangat rawan terkejar. Jika tidak segera bangkit, PSM berisiko terperosok lebih dalam ke papan bawah.
Ancaman degradasi bukan sekadar bayangan. Dalam persaingan BRI Super League musim ini, tim-tim papan bawah juga menunjukkan semangat juang tinggi untuk bertahan.
Ahmad Amiruddin: “Kami Tidak Mau Terdegradasi”
Asisten pelatih PSM, Ahmad Amiruddin, tidak menutup mata terhadap situasi sulit yang tengah dihadapi timnya. Dalam konferensi pers usai laga, ia menyampaikan permohonan maaf kepada suporter atas hasil buruk tersebut.
“Saya mewakili pelatih, pemain, dan manajemen memohon maaf sebesar-besarnya. Saya tidak akan membela diri atau melindungi pemain,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan tekad tim untuk keluar dari tekanan dan menghindari degradasi.
“Kami tidak mau tercatat sebagai skuad yang membawa PSM degradasi. Insya Allah kami akan berjuang,” tegas Ahmad Amiruddin.
Pernyataan tersebut mencerminkan kesadaran penuh bahwa tanggung jawab besar berada di pundak seluruh tim, bukan hanya pemain, tetapi juga staf pelatih dan manajemen.
Evaluasi dan Perbaikan Mendesak
Ahmad Amiruddin mengaku tidak menyangka timnya harus kebobolan empat gol dalam satu pertandingan. Padahal dalam sesi latihan, tim telah melakukan analisis mendalam terhadap kekuatan Persita.
“Saat latihan kami analisa semuanya dan merasa yakin bisa perform di pertandingan. Tapi kenyataannya berbeda,” jelasnya.
Ia mengakui ada progres dari sisi produktivitas gol karena PSM mampu mencetak dua gol. Namun kebobolan empat kali jelas menjadi catatan serius.
“Yang kami butuhkan sekarang poin,” tambah mantan striker tersebut.
Evaluasi menyeluruh menjadi langkah yang tak terelakkan. PSM harus segera memperbaiki koordinasi lini belakang, meningkatkan konsentrasi, serta memperbaiki transisi permainan agar tak mudah ditembus lawan.
Tekanan Suporter dan Mentalitas Tim
Dalam situasi sulit seperti ini, dukungan suporter sangat berarti. Namun kekecewaan yang memuncak juga menjadi cerminan betapa besar ekspektasi terhadap PSM Makassar.
Tim pelatih dituntut mampu menjaga mentalitas pemain agar tidak runtuh oleh tekanan. Fokus pada laga demi laga menjadi kunci untuk perlahan keluar dari situasi sulit.
Masih ada beberapa pertandingan tersisa yang bisa dimaksimalkan. Setiap poin kini bernilai sangat krusial dalam perjuangan bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Kesimpulan
Kekalahan 2-4 dari Persita Tangerang di kandang sendiri menjadi pukulan berat bagi PSM Makassar dalam lanjutan BRI Super League 2025/2026. Tren negatif yang terus berlanjut membuat posisi Juku Eja semakin dekat dengan zona degradasi.
Namun di tengah tekanan besar, tekad untuk bangkit tetap digaungkan. Ahmad Amiruddin menegaskan bahwa PSM tidak ingin terdegradasi dan akan berjuang habis-habisan demi menyelamatkan musim ini.
Perjalanan masih panjang, tetapi waktu semakin sempit. Jika mampu memperbaiki kesalahan dan menjaga konsistensi, peluang untuk bertahan tetap terbuka. Kini, yang dibutuhkan PSM Makassar bukan sekadar janji, melainkan pembuktian nyata di lapangan demi menjaga nama besar klub dan kebanggaan suporter setianya.
BACA JUGA :












