Insiden tidak menyenangkan kembali mencoreng dunia sepak bola Indonesia. Gelandang Dewa United, Ricky Kambuaya, menjadi korban serangan rasial usai pertandingan melawan Persib Bandung dalam pekan ke-28 BRI Super League 2025/2026. Peristiwa ini memicu perhatian publik sekaligus membuka kembali diskusi panjang tentang rasisme yang masih menghantui kompetisi sepak bola nasional.
Melalui akun Instagram pribadinya, Kambuaya secara terbuka membagikan sejumlah komentar bernada rasis yang ia terima dari warganet. Unggahan tersebut langsung viral dan menuai berbagai reaksi, mulai dari dukungan hingga kecaman terhadap pelaku.
Ricky Kambuaya Ungkap Serangan Rasial di Media Sosial
Pada Selasa (21/4/2026), Kambuaya mengunggah tangkapan layar komentar dan pesan langsung (DM) yang berisi ujaran rasial. Dalam unggahan itu, ia juga menyampaikan kekecewaan sekaligus sindiran tajam terhadap pelaku.
“Bagaimana bisa? Monyet bermain sepak bola di level profesional,” tulis Kambuaya, mengutip salah satu komentar yang diterimanya.
Ia kemudian menambahkan pernyataan bernada sarkastik untuk menggambarkan betapa seriusnya masalah tersebut. “Dan bahkan sampai perwakilan membela negara yang dihuni para manusia. Masih kurang rasialnya. Ayo tambah lagi saudaraku,” lanjutnya.
Unggahan ini menjadi bukti nyata bahwa pemain profesional masih harus menghadapi perlakuan diskriminatif, bahkan di era modern ketika kampanye anti-rasisme semakin gencar digaungkan.
Bukan Kasus Pertama di Dewa United
Kambuaya bukan satu-satunya pemain Dewa United yang mengalami serangan rasial dalam waktu dekat. Sebelumnya, bek asal Brasil, Johnathan Carlos Pereira, juga mengungkap hal serupa melalui media sosialnya.
Dalam unggahannya pada Senin (20/4/2026), Johnathan merespons serangan tersebut dengan kalimat singkat namun penuh makna. “Semoga Tuhan memberkatimu,” tulisnya.
Dua kasus yang terjadi secara beruntun ini memperlihatkan bahwa rasisme bukanlah insiden tunggal, melainkan masalah sistemik yang masih sulit dihapus dari lingkungan sepak bola Indonesia. Banyak pelaku yang berani melontarkan ujaran kebencian karena bersembunyi di balik akun anonim, sehingga sulit untuk dilacak identitasnya.
Jalannya Pertandingan Dewa United vs Persib
Di balik kontroversi tersebut, pertandingan antara Dewa United dan Persib Bandung sebenarnya berlangsung sengit dan penuh drama. Dewa United sempat menunjukkan performa impresif dengan unggul dua gol lebih dahulu.
Ricky Kambuaya menjadi salah satu aktor penting dalam laga tersebut. Ia mencetak gol kedua timnya pada menit ke-61 setelah menerima umpan matang dari Noah Sadaoui. Gol itu sempat membawa Dewa United berada di atas angin.
Namun, situasi berubah drastis hanya dua menit berselang. Dewa United harus bermain dengan sepuluh orang setelah Alex Martins menerima kartu merah pada menit ke-63. Kondisi ini memaksa pelatih melakukan penyesuaian taktik, termasuk menarik keluar Kambuaya untuk digantikan oleh Nick Kuipers.
Keputusan tersebut berdampak besar pada jalannya pertandingan. Kehilangan satu pemain membuat Dewa United kesulitan mempertahankan keunggulan. Persib Bandung memanfaatkan situasi itu dengan baik dan berhasil mencetak dua gol balasan.
Pertandingan pun berakhir dengan skor imbang 2-2, hasil yang terasa seperti kekalahan bagi Dewa United yang sebelumnya sudah unggul dua gol.
Dampak Hasil Imbang bagi Klasemen
Hasil imbang ini membuat Dewa United harus puas berada di peringkat ketujuh klasemen sementara dengan koleksi 41 poin dari 28 pertandingan. Sementara itu, Persib Bandung tetap kokoh di puncak klasemen dengan raihan 63 poin dari jumlah laga yang sama.
Bagi Dewa United, kehilangan poin di laga ini menjadi pukulan tersendiri, terutama karena mereka sudah berada dalam posisi unggul sebelum kartu merah mengubah jalannya pertandingan.
Namun, di luar hasil pertandingan, sorotan utama justru tertuju pada insiden rasisme yang menimpa para pemain.
Rasisme Masih Jadi Ancaman di Sepak Bola Indonesia
Kasus yang dialami Ricky Kambuaya kembali menegaskan bahwa rasisme masih menjadi masalah serius di sepak bola Indonesia. Meski berbagai kampanye anti-diskriminasi telah dilakukan, kenyataannya perilaku tersebut masih sering muncul, terutama di media sosial.
Fenomena ini menunjukkan perlunya langkah tegas dari berbagai pihak, mulai dari operator liga, klub, hingga aparat penegak hukum. Edukasi kepada suporter juga menjadi kunci penting untuk mengubah pola pikir dan budaya yang masih permisif terhadap ujaran kebencian.
Selain itu, platform media sosial diharapkan dapat lebih aktif dalam menindak akun-akun yang menyebarkan konten rasis. Tanpa tindakan konkret, kasus serupa berpotensi terus berulang dan merugikan para pemain.
Kesimpulan
Insiden yang menimpa Ricky Kambuaya usai laga Dewa United vs Persib bukan sekadar kontroversi biasa, melainkan cerminan masalah mendalam yang masih mengakar dalam sepak bola Indonesia. Di tengah persaingan kompetitif di lapangan, para pemain seharusnya tidak lagi dibebani dengan serangan diskriminatif di luar pertandingan.
Performa Kambuaya yang turut menyumbang gol seharusnya menjadi sorotan utama, bukan justru tertutup oleh ujaran kebencian yang tidak pantas. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan rasisme belum selesai.
Diperlukan komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan sepak bola yang lebih sehat, inklusif, dan penuh rasa hormat. Tanpa itu, prestasi di lapangan akan selalu dibayangi oleh masalah yang seharusnya sudah lama ditinggalkan.
ALSO READ :












