Laga panas antara Persija Jakarta melawan Persib Bandung kembali menjadi sorotan utama di pekan ke-32 BRI Super League 2025/2026. Duel klasik yang selalu menyedot perhatian publik sepak bola nasional itu sejatinya dijadwalkan berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Minggu (10/5/2026).
Namun, harapan Jakmania untuk menyaksikan langsung laga akbar di ibu kota harus kembali pupus. Demi alasan keamanan, operator kompetisi memutuskan memindahkan pertandingan ke Stadion Segiri pada hari yang sama.
Keputusan tersebut membuat Persija lagi-lagi gagal menjamu rival abadinya di Jakarta. Situasi ini sekaligus mengingatkan publik pada fakta menarik: terakhir kali Macan Kemayoran benar-benar menjamu Persib di Jakarta ternyata sudah terjadi tujuh tahun lalu.
Kenangan Persija vs Persib di GBK Tahun 2019
Bagi banyak pencinta sepak bola Indonesia, duel Persija kontra Persib di Jakarta selalu punya atmosfer berbeda. Rivalitas panjang kedua tim membuat setiap pertandingan terasa emosional, baik di dalam maupun luar lapangan.
Terakhir kali Persija menjamu Persib di Jakarta terjadi pada 10 Juli 2019. Saat itu, laga berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno dan berjalan sangat sengit sejak menit awal.
Pertandingan berakhir imbang 1-1, tetapi drama yang terjadi di lapangan masih membekas hingga sekarang.
Marko Simic sempat membawa Persija unggul pada menit ke-75 lewat gol yang membuat stadion bergemuruh. Jakmania yang memenuhi tribun kala itu sudah mulai percaya kemenangan akan menjadi milik tuan rumah.
Namun, Persib berhasil mematahkan harapan tersebut di masa injury time. Artur Gevorkyan mencetak gol penyama kedudukan pada menit pertama tambahan waktu babak kedua.
Gol itu membuat laga berakhir imbang dan menjadi salah satu momen dramatis dalam sejarah rivalitas Persija kontra Persib.
Atmosfer Persija vs Persib Selalu Sulit Digantikan
Rivalitas Persija dan Persib bukan sekadar pertandingan biasa. Duel ini sering disebut sebagai “El Clasico Indonesia” karena memiliki sejarah panjang dan basis suporter yang sangat besar.
Atmosfer pertandingan selalu terasa spesial. Tekanan tinggi, gengsi besar, hingga sorotan nasional membuat laga ini berbeda dibanding pertandingan lainnya di kompetisi domestik.
Karena itu, ketika pertandingan tidak digelar di Jakarta, banyak pihak merasa ada sesuatu yang hilang.
Suporter Persija tentu ingin menyaksikan tim kesayangannya tampil di rumah sendiri dengan dukungan penuh dari tribun GBK. Di sisi lain, laga di Jakarta juga selalu menghadirkan nuansa rivalitas yang begitu kuat dan emosional.
Persija Kecewa Berat Venue Dipindah
Keputusan memindahkan pertandingan ke Samarinda mendapat respons kecewa dari kubu Persija Jakarta. Ketua panitia pelaksana pertandingan Persija, Ferry Indrasjarief, mengaku sangat menyayangkan keputusan tersebut.
Menurut Ferry, pihak Persija sebenarnya sudah melakukan banyak upaya agar pertandingan bisa tetap digelar di Jakarta dengan aman.
Ia menyebut komunikasi dengan Jakmania berjalan cukup baik dan ada perkembangan positif terkait perilaku suporter dalam beberapa waktu terakhir.
“Wah, kecewa sekali, padahal kita sudah berupaya bekerja sama dengan Jakmania, berupaya untuk menunjukkan bahwa perilaku suporter kita sudah bagus,” ujar Ferry.
Pernyataan itu menggambarkan bagaimana Persija merasa sudah berusaha memenuhi berbagai syarat agar pertandingan tetap bisa berlangsung di ibu kota.
Kerugian Besar bagi Persija dan Jakmania
Bagi Persija Jakarta, pemindahan venue tidak hanya berdampak secara teknis, tetapi juga dari sisi finansial dan emosional.
Ferry Indrasjarief menilai Macan Kemayoran menjadi pihak yang paling dirugikan dalam situasi ini. Sebab, Persija kehilangan kesempatan bermain di kandang sendiri dan harus menanggung biaya tambahan untuk menggelar laga di luar kota.
Selain itu, Jakmania juga kehilangan kesempatan mendukung langsung tim kebanggaannya dalam pertandingan terbesar musim ini.
“Jelas kerugian. Yang pertama kerugian finansial ya karena kita nggak bisa menyelenggarakan di kandang sendiri, kita harus ke sana. Tapi yang paling penting adalah kerugian suporter kita,” jelas Ferry.
Menurutnya, hal paling menyakitkan bukan hanya soal lokasi pertandingan, tetapi hilangnya momen kebersamaan antara tim dan suporter di stadion kandang sendiri.
Maurizio Souza Juga Ikut Kecewa
Rasa kecewa ternyata tidak hanya datang dari pihak manajemen. Pelatih Persija Jakarta, Maurizio Souza, juga disebut merasa sedih karena timnya gagal tampil di depan pendukung sendiri.
Ferry mengungkapkan bahwa sang pelatih sebenarnya sangat ingin merasakan atmosfer pertandingan melawan Persib di Jakarta bersama Jakmania.
“Kita kecewa nggak bisa main di rumah, kita kecewa enggak bisa main di depan pendukung kita,” kata Ferry menirukan ucapan Maurizio Souza.
Meski demikian, Persija tetap berusaha profesional menerima keputusan tersebut. Mereka memastikan siap bermain di mana pun pertandingan digelar.
Bagi tim pelatih, fokus utama saat ini adalah menjaga mental pemain agar tetap siap menghadapi laga penuh tekanan melawan rival abadi mereka.
Duel di Samarinda Tetap Diprediksi Panas
Walaupun digelar jauh dari Jakarta, pertandingan Persija kontra Persib dipastikan tetap berlangsung panas dan penuh tensi tinggi.
Kedua tim masih memiliki motivasi besar untuk meraih kemenangan di pekan-pekan akhir kompetisi. Selain faktor rivalitas, hasil pertandingan juga bisa memengaruhi posisi klasemen musim ini.
Persija tentu ingin membuktikan bahwa mereka tetap mampu tampil maksimal meski kehilangan keuntungan bermain di kandang sendiri. Sementara Persib datang dengan ambisi mencuri kemenangan dalam duel penuh gengsi tersebut.
Sorotan publik sepak bola Indonesia kini tertuju ke Samarinda. Meski bukan Jakarta, laga klasik ini tetap memiliki daya tarik luar biasa yang sulit ditandingi pertandingan lain di Liga Indonesia.
BACA JUGA :












