1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP : Tak Bisa Santai, Timnas U-17 Dihadapkan Grup Gila Jelang Piala Asia 2026

Harapan besar kini bertumpu pada bahu muda. Namun, jalan yang harus dilalui tidak mudah. Timnas Indonesia U-17 justru dihadapkan pada ujian berat sejak langkah pertama.

Alih-alih mendapat grup yang “ramah”, Garuda Muda malah masuk ke dalam grup yang disebut banyak pihak sebagai “grup gila”. Lawan-lawan kuat sudah menunggu. Dan, kesalahan kecil bisa langsung berujung petaka.

Awal yang Langsung Panas

Turnamen Piala Asia U-17 2026 akan digelar pada 5 hingga 22 Mei di Arab Saudi. Sejak laga pembuka, tekanan sudah terasa.

Indonesia dijadwalkan menghadapi China U-17. Ini bukan sekadar pertandingan biasa. China punya sejarah kuat di level ini. Bahkan, mereka sudah dua kali menjadi juara.

Selain China, ada juga Jepang U-17 dan Qatar U-17. Kombinasi ini jelas tidak memberi ruang untuk lengah.

Dengan kata lain, setiap pertandingan akan terasa seperti final.

Bayang-Bayang Kegagalan AFF

Namun, tantangan tidak hanya datang dari lawan. Masa lalu juga ikut membayangi.

Di ajang Piala AFF U-17, performa Indonesia jauh dari harapan. Meski sempat menang telak 4-0 atas Timor Leste U-17, konsistensi menjadi masalah utama.

Setelah itu, Indonesia justru kalah 0-1 dari Malaysia U-17. Padahal sebelumnya, Malaysia dihajar empat gol tanpa balas oleh Vietnam U-17.

Kemudian, di laga penentuan, Indonesia hanya bermain imbang tanpa gol melawan Vietnam. Hasil itu memastikan langkah Garuda Muda terhenti lebih cepat.

Situasi ini tentu menjadi alarm keras. Sebab, jika pola yang sama terulang, hasil di Piala Asia bisa lebih buruk.

Masalah Klasik: Dominasi Tanpa Gol

Pengamat sepak bola, Gita Suwondo, menyoroti satu masalah krusial. Indonesia memang mampu menguasai bola. Namun, mereka kesulitan saat masuk ke area berbahaya.

“Kita memainkan ball possession tanpa kemampuan finishing di final third,” ujarnya.

Masalah ini bukan hal baru. Bahkan, terlihat jelas saat menghadapi Malaysia. Indonesia mendominasi permainan. Akan tetapi, tidak ada gol yang tercipta.

Sebaliknya, Malaysia tampil lebih efektif. Mereka bertahan disiplin. Lalu, memanfaatkan serangan balik dan situasi bola mati.

Akibatnya, Indonesia harus menelan kekalahan.

Kemenangan yang Menipu?

Di sisi lain, kemenangan besar atas Timor Leste ternyata tidak bisa dijadikan patokan. Menurut Gita, kualitas lawan saat itu memang jauh di bawah.

“Timor Leste bermain terbuka tanpa memikirkan pertahanan,” jelasnya.

Artinya, performa impresif di laga tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan tim. Ketika menghadapi lawan dengan organisasi permainan yang baik, Indonesia justru kesulitan.

Ini yang kemudian menjadi pekerjaan rumah besar bagi tim pelatih.

Mentalitas Dipertanyakan

Lebih jauh, ada hal lain yang mengundang tanda tanya. Mentalitas saat menghadapi laga krusial.

Ketika melawan Vietnam, Indonesia sebenarnya wajib menang. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Alih-alih tampil menyerang, tim malah bermain lebih bertahan.

“Untuk tim yang harus menang, kita malah bertahan,” kritik Gita.

Pendekatan ini menimbulkan dilema. Di satu sisi, tim ingin aman. Namun di sisi lain, target kemenangan tidak tercapai.

Jika hal ini kembali terjadi di Piala Asia, peluang lolos bisa langsung tertutup.

Ancaman Nyata dari China

Salah satu lawan paling berbahaya adalah China. Rekam jejak pertemuan menunjukkan betapa besar jarak kualitas yang masih harus dikejar.

Dalam uji coba sebelumnya, Indonesia kalah telak 0-5 saat China tampil dengan kekuatan penuh. Bahkan, ketika China tidak bermain maksimal, Indonesia tetap kalah 2-3.

Fakta ini memperjelas satu hal: Indonesia tidak boleh hanya mengandalkan semangat. Dibutuhkan strategi matang dan eksekusi yang presisi.

Keterbatasan Skuad Jadi Tantangan

Di balik semua itu, ada persoalan lain yang tidak kalah penting. Kedalaman skuad.

Gita mengungkapkan bahwa materi pemain yang dimiliki saat ini tidak sebanyak era sebelumnya. Hal ini berbeda ketika tim masih ditangani Nova Arianto.

Kala itu, Indonesia bahkan mampu menembus Piala Dunia U-17.

Kini, pelatih Kurniawan Dwi Yulianto harus bekerja ekstra. Ia perlu memaksimalkan pemain yang ada, meski opsi yang dimiliki terbatas.

Situasi ini tentu tidak ideal. Namun, di sinilah tantangan sebenarnya.

Harapan di Tengah Tekanan

Meski penuh tekanan, peluang tetap ada. Sepak bola selalu menyimpan kejutan. Tim yang dianggap lemah bisa saja bangkit.

Namun, syaratnya jelas. Indonesia harus belajar dari kesalahan di AFF. Selain itu, efektivitas di depan gawang wajib ditingkatkan.

Di saat yang sama, mental bertanding juga harus diperkuat. Setiap laga harus dimainkan dengan keberanian, bukan keraguan.

Jika tidak, “grup gila” ini bisa benar-benar menjadi mimpi buruk.

Sebaliknya, jika mampu bangkit, ini bisa menjadi titik awal kebangkitan generasi muda Indonesia di panggung Asia.

BACA JUGA :

TAGS:
CLOSE