Ketika seorang pemain datang sebagai “tambahan” dalam latihan tim nasional, biasanya tidak ada ekspektasi besar. Namun bagi Jonny Campbell, mantan bek Adhyaksa FC, kesempatan singkat bersama Timnas Indonesia justru berubah menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Ia tidak hanya sekadar ikut latihan, tetapi juga merasakan langsung standar tinggi Skuad Garuda era John Herdman.
Di tengah persiapan menuju FIFA Series, momen ini menjadi salah satu cerita menarik yang memperlihatkan bagaimana seriusnya proyek Timnas Indonesia saat ini.
Kesempatan Tak Terduga yang Datang dari Status Free Agent
Cerita Jonny Campbell bersama Timnas Indonesia bermula dari situasi yang cukup sederhana: ia berstatus tanpa klub.
Setelah membela Adhyaksa FC di putaran pertama, bek berusia 34 tahun itu berstatus bebas transfer. Kondisi ini membuka jalan tak terduga baginya.
“Pada dasarnya karena saya berstatus bebas transfer. Saya sebelumnya bermain untuk Adhyaksa FC. Karena saya free agent, saya hanya berlatih sendiri,” ungkap Jonny Campbell.
Saat Timnas Indonesia membutuhkan tambahan pemain untuk pemusatan latihan jelang laga persiapan menghadapi Bulgaria, namanya masuk dalam radar. Kebutuhan akan pemain yang kuat secara fisik membuat Campbell menjadi opsi yang ideal.
Dari situ, undangan TC pun datang. Sebuah kesempatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Berlatih Bersama Bintang Eropa Timnas Indonesia
Hal paling mencolok dari pengalaman Campbell adalah kualitas pemain yang ia temui di lapangan.
Ia berlatih bersama nama-nama besar seperti Jay Idzes, Calvin Verdonk, Kevin Diks, Emil Audero, hingga Maarten Paes. Para pemain yang sebagian besar berkarier di Eropa ini memberikan standar latihan yang sangat tinggi.
“Pengalaman yang luar biasa bisa bermain bersama pemain-pemain dengan CV besar dan banyak talenta hebat di skuad Timnas Indonesia,” ujarnya.
Meski hanya berstatus pemain tambahan, Campbell tetap mendapat kesempatan bermain dalam format 11 vs 11, di mana ia ditempatkan di tim cadangan melawan tim utama.
“Ini pengalaman yang sangat keren. Saya sangat menikmatinya,” tambahnya.
Bagi seorang pemain berpengalaman seperti dirinya, atmosfer latihan ini jelas berbeda dari klub-klub yang pernah ia bela.
Peran Kecil, Pengalaman Besar
Campbell mengakui bahwa perannya di TC tersebut tidak besar. Ia tidak masuk dalam rencana utama tim, melainkan hanya sebagai pelengkap kebutuhan latihan.
Namun justru di situ letak nilai berharga dari pengalamannya.
Ia ikut merasakan intensitas tinggi latihan Timnas Indonesia yang penuh dengan detail taktik dan kedisiplinan. Bahkan, sesi latihan tidak hanya berlangsung di lapangan, tetapi juga menggunakan analisis video secara langsung.
Sentuhan Modern John Herdman yang Mengubah Standar Latihan
Salah satu hal yang paling membuat Campbell terkesan adalah metode latihan yang diterapkan oleh pelatih kepala Timnas Indonesia, John Herdman.
Pelatih asal Kanada yang pernah membawa negaranya tampil di Piala Dunia 2022 itu membawa pendekatan modern yang sangat terstruktur.
“Kesan pertama saya adalah betapa profesional dan terorganisasi dengan baik latihannya,” kata Campbell.
Latihan tidak hanya mengandalkan instruksi verbal, tetapi juga teknologi canggih seperti drone dan layar TV besar di pinggir lapangan. Setiap momen latihan bisa langsung dianalisis secara real time.
“Pelatih bisa menghentikan latihan, lalu kami melihat TV untuk memahami taktik. Itu sangat membantu,” jelasnya.
Metode ini membuat pemain bisa langsung memahami kesalahan dan perbaikan yang harus dilakukan tanpa menunggu sesi evaluasi terpisah.
Teknologi Drone dan Detail Taktis yang Jadi Standar Baru
Menariknya, penggunaan drone dalam latihan bukanlah hal pertama bagi Campbell. Ia mengaku pernah mengalaminya saat bermain di Vietnam bersama Ho Chi Minh City FC.
Namun di Timnas Indonesia, pendekatan tersebut terasa lebih matang dan terintegrasi.
“Ini kedua kalinya saya merasakan penggunaan drone saat latihan. Tapi di sini benar-benar terasa sangat profesional,” ujarnya.
Teknologi ini menunjukkan bahwa Timnas Indonesia tidak lagi berada di level latihan tradisional, tetapi sudah masuk ke era modern football development.
Respek dan Atmosfer Positif di Dalam Tim
Selain aspek teknis, Campbell juga menyoroti suasana tim yang sangat positif.
Meski dirinya hanya pemain tambahan, ia tetap diperlakukan dengan hormat oleh pemain dan staf pelatih.
“Mereka sangat baik. Mereka tahu saya bukan bagian dari tim, tapi tetap menyambut saya dengan hangat,” ungkapnya.
Hal ini menunjukkan bahwa kultur di dalam Timnas Indonesia kini semakin matang, dengan profesionalisme yang dijaga baik oleh pemain lokal maupun diaspora.
Optimisme untuk Masa Depan Timnas Indonesia
Setelah merasakan langsung atmosfer latihan, Campbell tidak ragu memberikan pandangan optimistis terhadap masa depan Timnas Indonesia.
Menurutnya, skuad saat ini memiliki potensi besar untuk berkembang lebih jauh di level Asia.
“Potensinya sangat besar. Banyak pemain bagus. Masa depan timnas sangat cerah,” katanya.
Sebagai seorang bek tengah, ia secara khusus menyoroti kualitas lini pertahanan Indonesia.
“Saya sangat suka bek-beknya. Jay Idzes sangat mengesankan. Dia pemain yang sangat top,” tambahnya.
Bagi Campbell, kombinasi antara pemain diaspora, talenta lokal, dan pelatih berpengalaman membuat Indonesia berada di jalur yang tepat untuk naik level.
Kesimpulan: Pengalaman Singkat yang Bernilai Besar
Pengalaman Jonny Campbell bersama Timnas Indonesia mungkin hanya berlangsung singkat, namun dampaknya sangat besar baginya.
Ia tidak hanya merasakan intensitas latihan level internasional, tetapi juga melihat langsung transformasi sepak bola Indonesia di era modern.
Dengan pendekatan profesional dari John Herdman dan kualitas pemain yang semakin meningkat, Timnas Indonesia kini bukan lagi tim yang bisa dipandang sebelah mata.
Dan bagi Campbell, pengalaman itu akan selalu menjadi salah satu momen paling berkesan dalam kariernya.
BACA JUGA :












