1920x600-TOP-ID
ID
ID
previous arrow
next arrow

SBOTOP : Shin Tae-yong Pernah Juara Liga Champions Asia, Tapi Juga Pernah Dipecat Jejaknya Bikin Kaget

Nama Shin Tae-yong kembali jadi sorotan besar di dunia sepak bola Indonesia. Jelang kabar dirinya dikaitkan dengan kursi pelatih Persija Jakarta, publik mulai menengok kembali perjalanan panjang pelatih asal Korea Selatan ini di level klub maupun tim nasional.

Meski lebih dikenal sebagai pelatih tim nasional, Shin Tae-yong ternyata memiliki rekam jejak yang menarik di level klub. Dari keberhasilan menjuarai Liga Champions Asia hingga periode singkat dan penuh tekanan di Ulsan HD, perjalanan kariernya menunjukkan sisi naik-turun yang cukup ekstrem.

Awal Karier: Dari Asisten di Australia hingga Seongnam Ilhwa Chunma

Sepanjang karier kepelatihannya, Shin Tae-yong lebih banyak berkutat di level tim nasional. Namun, awal perjalanannya dimulai dari dunia klub.

Pada Juli 2005 hingga Juni 2008, ia menjabat sebagai asisten pelatih Brisbane Roar di Australia. Pengalaman ini menjadi fondasi penting dalam memahami sepak bola modern di luar Korea Selatan.

Setelah itu, Shin Tae-yong kembali ke negaranya dan mulai dipercaya menangani Seongnam Ilhwa Chunma (sekarang Seongnam FC). Awalnya ia menjadi pelatih interim pada Desember 2008 hingga Februari 2010, sebelum akhirnya diangkat menjadi pelatih permanen hingga Desember 2012.

Puncak Karier Klub: Juara Liga Champions Asia 2010

Masa kejayaan Shin Tae-yong di level klub terjadi saat bersama Seongnam Ilhwa Chunma. Di sinilah ia mencatat sejarah besar yang membuat namanya dikenal di level Asia.

Prestasi yang berhasil diraih antara lain:

  • Juara Liga Champions Asia (ACL) 2010
  • Juara Piala FA Korea 2011
  • Membangun tim kompetitif di level domestik dan Asia
  • Mengembangkan banyak pemain muda berbakat

Kesuksesan tersebut membuat Shin Tae-yong dipandang sebagai pelatih muda potensial di Asia. Gaya bermainnya yang disiplin, modern, dan taktis menjadi ciri khas yang melekat hingga sekarang.

Namun menariknya, setelah periode sukses itu, Shin Tae-yong justru lebih banyak berkutat di dunia tim nasional dibanding melanjutkan karier panjang di klub.

Dominasi di Tim Nasional Korea Selatan

Setelah sukses di Seongnam, Shin Tae-yong lebih sering dipercaya menangani berbagai level tim nasional Korea Selatan.

Perjalanannya cukup panjang dan berlapis:

  • Asisten pelatih Timnas Korea Selatan (2014)
  • Pelatih interim Timnas Korea Selatan (2014)
  • Asisten pelatih kembali (2014–2017)
  • Pelatih Timnas Korea Selatan U-23 (2015–2016)
  • Pelatih Timnas Korea Selatan U-20 (2017)
  • Pelatih utama Timnas Korea Selatan (2017–2018)

Puncak dari karier internasionalnya terjadi di Piala Dunia 2018. Di turnamen tersebut, Shin Tae-yong mencatat kemenangan sensasional atas Jerman dengan skor 2-0, yang kala itu berstatus juara bertahan dunia.

Kemenangan tersebut menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah sepak bola Korea Selatan.

Perjalanan 5 Tahun di Timnas Indonesia

Pada Januari 2020, Shin Tae-yong menerima tantangan besar dari PSSI untuk menangani Timnas Indonesia di berbagai level sekaligus: senior, U-23, dan U-20.

Selama lima tahun, ia menjadi figur penting dalam transformasi sepak bola Indonesia. Banyak perubahan dilakukan mulai dari fisik pemain, taktik modern, hingga mental bertanding.

Namun pada Januari 2025, PSSI memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengan alasan dinamika kepemimpinan, komunikasi, dan aspek taktik.

Meski begitu, kontribusinya tetap dianggap besar dalam membangun fondasi sepak bola Indonesia modern.

Karier Singkat di Ulsan HD yang Penuh Tekanan

Setelah berpisah dengan Timnas Indonesia, Shin Tae-yong sempat kembali ke dunia klub. Pada Agustus 2025, ia ditunjuk sebagai pelatih Ulsan HD, klub kuat di Korea Selatan yang sedang dalam masa sulit.

Awalnya, debutnya berjalan positif dengan kemenangan 1-0 atas Jeju SK. Namun setelah itu, performa tim justru menurun drastis.

Catatan singkatnya bersama Ulsan HD:

  • Total 10 pertandingan
  • 2 kemenangan
  • 4 hasil imbang
  • 4 kekalahan
  • Hanya bertahan sekitar 2 bulan

Situasi semakin rumit dengan munculnya laporan konflik internal dengan beberapa pemain senior. Hal ini membuat posisinya semakin sulit hingga akhirnya ia diberhentikan dari jabatan pelatih.

Periode ini menjadi salah satu fase tersulit dalam karier kepelatihan Shin Tae-yong di level klub.

Kandidat Kuat Pelatih Persija Jakarta

Kini, Shin Tae-yong kembali dikaitkan dengan dunia sepak bola Indonesia. Pada Senin (8/6/2026), Persija Jakarta dikabarkan akan mengumumkan pelatih baru untuk menggantikan Mauricio Souza, dan nama Shin Tae-yong masuk dalam daftar kandidat utama.

Jika benar terjadi, tantangan besar sudah menanti.

Persija Jakarta menuntut prestasi tinggi, apalagi dengan status sebagai salah satu klub terbesar di Indonesia. Target juara Super League musim depan menjadi beban utama yang harus dipikul pelatih baru.

Beberapa tantangan yang mungkin dihadapi Shin Tae-yong di Persija:

  • Menyatukan skuad dengan tekanan tinggi
  • Mengembalikan konsistensi performa tim
  • Menghadapi ekspektasi besar suporter
  • Menyeimbangkan taktik modern dengan karakter pemain lokal
  • Menjawab keraguan setelah pengalaman singkat di Ulsan HD

Antara Rekam Jejak Emas dan Keraguan

Secara reputasi, Shin Tae-yong adalah pelatih dengan CV mentereng. Juara Liga Champions Asia 2010 bersama Seongnam Ilhwa Chunma menjadi bukti kualitasnya di level tertinggi klub Asia.

Namun di sisi lain, pengalaman singkatnya di Ulsan HD juga menimbulkan tanda tanya tentang konsistensinya di level klub dalam era terbaru.

Kini, jika benar ia menangani Persija Jakarta, publik akan kembali menilai apakah Shin Tae-yong mampu mengulang kesuksesan masa lalu atau justru menghadapi tantangan berat di panggung sepak bola Indonesia.

Satu hal yang pasti, kehadirannya selalu membawa ekspektasi besar di mana pun ia melatih.

BACA JUGA :

TAGS:
CLOSE